Bab 15

Angin berhembus menerpa wajah Elena yang tengah menikmati udara pagi di balkon kamarnya. Gadis dengan gaun pengantin dan make up pengantin di wajahnya itu sedang duduk termenung mengingat kehidupannya yang sebentar lagi akan berubah. Bahkan di pikirannya terbesit loncat dari gedung pencakar langit berlantai 20 itu. Namun hal itu ia urungkan. Hanya sia-sia dan tidak menyelesaikan masalah apapun.

Pintu kamarnya diketuk hingga atensi gadis cantik itu teralihkan. "Masuk" Seorang wanita cantik masuk ke dalam kamarnya dengan anggun. Ia tak mengenali wanita itu dan mengapa wanita itu datang menemuinya?

"Siapa?" tanya Elena dan melangkah mendekati wanita itu.

"Jasmine Athari Damian" ucapnya memperkenalkan diri.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Elena

"Tidak. Kita tidak pernah kenal atau bertemu sebelumnya" Wanita itu berdiri dan mendekati Elena.

"Aku adalah... "

"Elena" Keduanya dikejutkan oleh Arthur yang tiba-tiba masuk tanpa permisi ke dalam kamar Elena. "Pernikahan akan segera dilaksanakan. Ikut aku turun" Elena mengangguk dan berjalan mengikuti Arthur. Hanya tersisa Jasmine seorang diri di kamar itu dengan wajah yang tak bisa di tebak maksud dari ekspresinya.

"Saya terima nikah dan kawinnya Elena Kazira Anderson dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" Detak jantung Elena berpacu lebih cepat saat mendengar kata sah menggema di sepenjuru ballroom. Ia menoleh pada Arthur yang sedang tersenyum penuh kemenangan sedangkan dirinya kini entah bagaimana kehidupannya nanti.

Dengan langkah pelan, Elena berjalan mendekati pria yang sudah sah menjadi suaminya. Gadis itu menghapus air matanya yang tak sengaja menetes begitu saja. Ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan pria yang menjadi suaminya. Dan pertemuan pertama mereka dilakukan setelah akad nikah mereka selesai.

"Elena" panggil pria itu membuat Elena terkejut bagaimana bisa dia mengetahui namanya? Harusnya gadis itu tak heran karena mungkin saja di beritahu oleh Arthur. Bukankah Arthur adalah ayahnya.

"Bisa kau terlihat bahagia hari ini saja? Jangan sampai menjatuhkan reputasi keluargaku" ucapnya dengan enteng tanpa memikirkan perasaan Elena yang sedang hancur karena ulah ayahnya.

"Bahkan aku saja tidak tau namamu lantas kenapa aku harus mematuhi ucapanmu?" bantah Elena.

Pria itu mengambil kotak cincin dan memasangkannya pada Elena saat semua pasang mata sedang tertuju pada keduanya. Ia tampak memaksakan mengukir senyuman agar semua orang tak curiga pada interaksi keduanya.

"Aku suamimu" Nada penuh penekanan terdengar jelas di pendengaran Elena. Gadis itu memaksakan senyumannya namun langsung ia ganti dengan wajah masam.

"Pasangkan cincin ini pada jariku" titahnya membuat Elena semakin jengkel. Jika bukan di hadapan banyak orang, ia sudah marah-marah pada laki-laki di hadapannya ini.

"Pakai saja sendiri" ketus Elena dan membuang muka. Namun sialnya ia malah bersitatap dengan wajah Arthur yang memasang wajah datar seolah mengancam dirinya jika berani macam-macam.

Elena menarik nafas panjang berusaha menetralkan emosinya yang hampir meledak. Elena mengambil cincin itu dan memasangkannya pada jari manis pria yang tidak ia ketahui namanya itu. "Ada cincin? Kau sudah menikah?" tanya Elena yang terkejut dengan cincin pernikahan yang sudah tersemat di jari pria itu.

"Kita bahas nanti" Dengan cepat pria itu melepas cincinnya dan memindahkannya pada jari lain. Elena memasang wajah penuh waspada sembari memasangkan cincin itu pada jari suaminya.

"Penipuan apa lagi ini" gumam Elena yang merasa dirinya sedang dibohongi lagi. Pria itu mencium kening Elena tanpa aba-aba membuat gadis itu reflek mendorongnya namun tak ada hasil karena tenaganya yang kalah kuat.

"Diamlah!!"

Pria itu menarik pinggang Elena agar lebih mendekat padanya dan menghadap pada seluruh tamu undangan. Wajah keduanya terpasang senyuman palsu yang tidak tulus dari hati mereka. Elena menatap wajah papanya yang berdiri di samping Arthur. Papanya tersenyum pada dirinya. Pria itu tampak terbebas dari apapun dan tak ada sesuatu yang membelenggu tubuhnya. Elena bahagia melihat hal itu.

"Papa" lirihnya yang dapat di dengar oleh suaminya.

"Aku bukan papamu"

"Kau memang bukan papaku. Pria di depan sana itu papaku" ketus Elena.

"Oh"

Jika boleh mengumpat mungkin saat ini Elena sudah mengeluarkannya umpatan-umpatan itu pada pria di sampingnya ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!