Derap langkah kaki yang berjalan cepat memasuki gedung pencakar langit. Berbagai sapaan dari para karyawan karyawati yang melewati dirinya ia abaikan begitu saja. Saat ini tujuannya yaitu bertemu papanya. Bagaimana bisa sebuah keputusan diambil begitu saja tanpa persetujuannya?
Pria itu masuk ke dalam lift khusus presdir. Kotak besi itu bergerak naik ke atas setelah pria itu memencet angka 25 yang mana lift itu akan membawanya sampai di lantai paling atas gedung itu.
Jas yang melekat di tubuhnya ia lepas begitu saja. Tangan pria itu beralih pada dasi dan menariknya dengan kasar agar sedikit longgar. Gurat wajahnya yang tampak serius membuatnya tampak semakin menyeramkan. Alis tebalnya bertaut di penuhi dengan kebingungan. Setelah sampai di lantai 25, pintu lift itu terbuka dengan sendirinya.
"Selamat siang tuan, ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang wanita yang menjabat sebagai sekretaris di perusahaan besar itu.
Pria itu melenggang masuk ke dalam ruang kerja papanya dan menghiraukan sapaan wanita itu. "Papa" Tubuhnya yang tinggi dengan bentuk tubuh yang berotot berdiri tepat di hadapan papanya yang tak kalah tampan walaupun di usianya yang tidak lagi muda.
"Tumben sekali kau datang kemari. Tidak sibuk?" tanya Arthur santai
"Kenapa papa memutuskan hal itu tanpa persetujuanku?" tanyanya sebagai bentuk protes karena ia tak mengetahui hal apapun dan baru saja mengetahuinya dari orang lain.
"Perihal apa?"
"Pernikahanku" Arthur tertawa sekilas kemudian menatap putranya dengan serius. "Kau harus menerima pernikahan itu apapun yang terjadi" ucap Arthur dengan nada penekanan di setiap ucapannya.
"Tapi aku sudah menikah. Lalu untuk apa aku harus menikah lagi?"
"Dengan wanita itu? Heh!! Dia hanya wanita jalang yang tidak pantas menjadi bagian dari keluarga William" ucap Arthur.
"Hentikan ucapanmu itu" Cengkraman di kerah baju Arthur sudah dilayangkan oleh putranya. "Aku mencintainya"
"Terserah, tapi kamu gak bisa menolak perintah papa. Jika tidak, seluruh aset yang kamu miliki sekarang.... "
"Itu milikku sendiri. Aku membangunnya dari nol tanpa bantuan harta papa sepeserpun" ucapanya dengan bangga.
"Papa bisa menghancurkannya sekarang juga. Membuatmu bangkrut dan seluruh aset kamu akan disita. Jika kamu tidak ingin hal itu terjadi maka turuti perintah papa" ucap Arthur
Tubuh Arthur sedikit terhuyung ke belakang saat putranya mendorongnya karena kesal. Dengan kasar, pintu ruangannya ditutup dengan sekali bantingan. "Sekarang istrimu itu boleh bersenang-senang karena sebentar lagi aku akan membuatnya hempas dari hidupmu" ucap Arthur.
...****************...
3 jam sudah waktu yang dihabiskan oleh seorang Elena untuk memilih gaun pernikahannya. Meskipun ini bukan pernikahan yang ia harapkan tapi ia tak ingin tampil buruk di hari pernikahannya nanti. Ia harus bisa menunjukkan wibawa putri Anderson. Keluarga Anderson bukanlah keluarga biasa. Anderson dengan kekayaannya yang membuat semua orang iri dibuatnya. Perusahaan yang mendunia, berbagai bisnis sebagai pendukungnya, dan pemimpin perusahaan yang pintar membuat keluarga Anderson semakin jaya.
"Saya memilih yang ini" ucap Elena dan menunjukkan gaun putih yang sangat indah dengan hiasan permata di beberapa titik membuat gaun itu tampak semakin indah di pandang.
"Baiklah"
"Saya mendapatkan amanah untuk menyampaikan ini pada nona Elena"
"Besok nona diminta untuk datang di Beauty Clinic untuk melakukan perawatan kecantikan" ucap sang designer suruhan keluarga calon suami Elena.
"Okey" Elena duduk dengan manis di sofa dan meneguk jus jeruk miliknya. Seragam sekolahnya masih melekat di tubuh indah itu tanpa ada niatan untuk menggantinya dengan pakaian santai.
"Habis ini aku mau keluar sama Aaron" ucap Elena membuat Sandrina menoleh.
"Hati-hati. Jangan pulang terlalu larut malam" ucap Sandrina dan disetujui Elena.
Dan benar, tak lama dari itu suara deru mobil berhenti di pekarangan rumahnya yang luas. "Maaf nona Elena, ada pemuda yang mencari nona" ucap pelayan memberi tahu jika ada tamu yang datang mencari Elena.
"Aaron?" tanya Elena. Namun dugaannya salah karena pelayan itu menyebutnya pemuda. Sedangkan semua pelayan di rumah itu sudah mengetahui jika Aaron adalah pacarnya dan sudah mengetahui namanya pula lantas kenapa harus menyebutnya pemuda?
Elena berjalan ke arah ruang tamu dan melihat siapa tamu yang datang. Gadis itu menghembuskan nafas kesal saat melihat Felix lah yang datang ke rumahnya.
"Ngapain kesini? Aaron mana?" tanya Elena
"Minimal sebagai tamu disuguhin minuman dulu baru di tanya" cibir Felix
"Buatkan minuman buat dia" ucap Elena pada salah satu pelayan yang tak jauh darinya. Gadis itu duduk di seberang Felix menatap pria itu yang sedang mengamati isi rumahnya.
"Gue tanya ngapain lo kesini?" tanya Elena sekali lagi.
"Lo mau ngedate sama Aaron kan?" tebak Felix dan diangguki oleh Elena dengan tatapan mencurigakan. Tumben sekali pria itu mengurusi urusannya dengan Aaron.
"Terus?" Felix cengar-cengir sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lo bisa ajak Medina?" tanya Felix
"Ngapain gue ngedate ngajak Medina" ketus Elena
"Yaelah ajak aja. Entar lo sama Aaron biar gue sama Medina" ucap Felix
"Mau double date?" Elena berkacak pinggang di hadapan Felix membuat pria itu menyengir kuda. "Gatau kenapa gue kangen ngusilin dia. Tadi gak ketemu gara-gara gue dihukum bersihin gudang" ucap Felix
"Salah sendiri ngapain berantem di sekolah" cibir Elena dsn mengambil ponselnya untuk menghubungi Medina, sahabatnya.
"Lo sibuk ga? Ikut gue yuk nonton" ucap Elena mengajak.
"Boleh, jemput gue ya di rumah" ucap Medina dan langsung memutus sambungan teleponnya.
"Jemput gih di rumahnya" ucap Elena
"Dia mau? Terus lo gimana?" tanya Felix
"Habis ini Aaron dateng" ucap Elena
"Okey" Felix menyambar kunci mobilnya dan langsung berlari keluar rumah. "Minuman lo woi!!"
"Habisin aja gue ikhlas" teriak Felix tak memperdulikan minuman yang ia minta tadi. Ia langsung melakukan kendaraannya menuju rumah Medina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments