Bab 3

"Elena!!" Seorang gadis yang semula termenung langsung terlonjak kaget karena mendengar namanya disebut. "Iya bu?" Guru dengan perawakan tinggi dan gemuk itu sudah berada di depan matanya saat ini. "Kamu gak dengerin saya ya" Kedua tangannya sudah berkacak pinggang seolah sudah siap menghabisi Elena.

"Sekarang kerjakan soal nomor 10 di papan tulis" titah guru itu dan menatap Elena dengan tajam.

Bisa-bisanya gue ngelamun di jamnya guru killer ini gerutu Elena dalam hati

"Baik bu" Elena menatap buku matematikanya dan langsung menarik nafas panjang saat melihat soal yang diberikan untuknya. What? Gila!! Ia paling lemah soal matematika dan harus di hadapkan dengan soal HOTS?

Guru itu kembali duduk di meja guru menatap Elena yang tampak ragu-ragu untuk maju karena tak paham dengan soal yang diberikan untuknya.

"Psstt" Medina menoleh ke arah Elena dan paham dengan kode yang diberikan oleh sahabatnya itu yang sedang meminta bantuan. Sialnya mereka sama-sama tak paham dengan matematika.

"Lo minta tolong ke orang yang salah" Medina menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Gue juga tolol sama soal matematika" Medina meringis menatap Elena yang semakin pucat pasi karena tak bisa menjawab soal itu.

"Ayo Elena" teriak guru itu dengan kencang menggemparkan seluruh isi kelas. "Iya iya iya bu sabar ya gausah teriak-teriak. Ini seluruh isi kelas bergetar karena suara ibu" ucap Elena dengan meringis menatap guru dengan wajah garang itu.

"Oh my God gimana ini"

Suara ketukan pintu membuat seluruh penduduk kelas menoleh secara bersamaan hingga pintu itu terbuka dan memunculkan wajah seseorang. "Eh Aaron ada apa nak?" tanya guru itu dan langsung tersenyum sumringah setelah melihat wajah Aaron yang muncul di balik pintu.

"Ih Iirin idi ipi nik" cibir Elena yang kesal melihat guru itu yang semula galak seolah langsung tunduk hanya dengan melihat wajah Aaron yang sangat tampan rupawan itu.

"Elena!! Lanjutkan soalnya" ucapnya dengan garang.

"Sok kecantikan. Cowok gue tuh" cibir Elena kesal dan menatap sinis gurunya itu yang sekarang semakin melebarkan senyuman saat Aaron berjalan mendekat.

"Ada apa nak?" tanyanya dengan lemah lembut yang membuat telinga Elena gatal dan ingin menampar mulut itu jika tidak mengingat bahwa yang berbicara seperti itu adalah gurunya sendiri.

"Mau ngasih ini tadi disuruh nganterin kesini sama pak kepala sekolah" ucap Aaron dan memberikan sebuah buku besar dan langsung diterima dengan senyuman.

"Terima kasih ya" Aaron berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar. Pria itu menempelkan secarik kertas kecil di tangan Elena membuat wanita itu terkejut.

Elena tersenyum riang saat melihat sebuah jawaban dari soal yang diberikan gurunya itu yang sudah ditulis oleh Aaron untuknya. Setelah menulis jawaban di papan tulis, Elena berbalik kembali ke bangkunya lagi.

"Kok bisa?" Guru itu keterangan dengan jawaban Elena yang benar dan sesuai dengan cara yang ia ajarkan. "Ibu aja yang suka ngremehin orang. Padahal saya tuh aslinya bisa cuma ibu aja yang gak percayaan" cibir Elena

"Oke kali ini kamu saya maafkan. Tapi ingat jangan diulangi lagi" Elena mengangguk dan tersenyum senang karena akhirnya ia terbebas dari omelan guru itu. "Lain kali fokus cantik!!" Sebuah notes kecil di kertas yang diberikan Aaron tadi membuat Elena tersenyum-senyum seperti orang gila.

"Tau dari mana lo?" Medina bertanya dengan berisik agar tidak terdengar oleh guru mereka yang mulai menulis di papan tulis. "Dari cowok gue lah" ucap Elena dengan bangga menunjukkan kertas kecil tadi yang berhasil menyelamatkan dirinya.

Terpopuler

Comments

🍁🅐🅝🅖🅔🅛🅐❣️

🍁🅐🅝🅖🅔🅛🅐❣️

jgn ngelamun fokuss

2025-03-28

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!