Bab 7

"Elena" Suara bariton yang masuk ke gendang telinga Elena membuat gadis itu muak. "Bebaskan papa" ucap Elena penuh penekanan di setiap kata nya.

"Aku tidak ada hubungannya dengan papa kamu" ucap Delon sembari menghidupkan cerutunya. Tangan kanannya yang terselip rokok itu terangkat menunjuk Elena yang sedang berdiri di hadapannya.

"Gak ada hubungannya? Anda yakin? Tapi kau yang membuat keluargaku hancur hingga sampai di titik terpuruk seperti ini" ucap Elena geram dengan gaya santai Delon seolah ia tak bersalah dan tak melakukan apapun.

"Jadi, kau sudah tau? Baguslah" ucap Delon santai dengan terkekeh pelan membuat Elena semakin naik pitam dibuatnya. Elena mengambil gelas kaca di hadapan Delon dan melempar ke wajah pria itu hingga darah segar menetes dari pelipis pria itu.

"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkanmu, Delon bajingan!!" umpat Elena penuh amarah di dadanya yang sedari tadi ia tahan agar tidak meluap.

"Berani juga" Delon mengusap darah segar di pelipisnya dan tersenyum penuh arti.

"Aku sarankan kau menerima permintaan Arthur agar nyawa papa kamu itu selamat" ucap Delon

"Menikah dengan orang yang tidak aku kenal?"

"Terserah. Semua keputusan ada di tanganmu" Delon menatap Elena yang terdiam mendengar ucapannya. "Kau boleh saja menolak tapi dengan konsekuensi nyawa papa kamu melayang" lanjut pria itu.

"Mungkin kali ini takdir sedang berpihak padamu. Tapi tidak untuk kesempatan lain" Elena mengambil tongkat besi yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri dan memukul punggung Delon dengan keras membuat pria itu memekik kesakitan.

"Ini baru permulaan" Gadis itu membanting tongkat yang ada di tangannya hinga meja kaca di hadapan Delon pecah dan melukai kaki pria itu hingga bercucuran darah.

"Lihat pembalasanku"

Elena berjalan keluar dari rumah milik Delon yang membuatnya semakin muak. "Arthur? Delon?" Elena tersenyum penuh arti menyebut kedua nama itu di bibirnya.

Elena mengendarai mobilnya keluar dari pekarangan rumah Delon dan kembali ke rumahnya sendiri. "Kali ini bukan waktunya marah tapi menyelamatkan nyawa papa" Gadis itu masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru dan langsung disambut oleh mamanya.

"Elena kamu habis dari mana?" tanya sang mama saat melihat Elena memasuki rumah.

"Itu gak penting"

"Ma, aku mau ngomong sama anak buah Arthur" ucap Elena

"Untuk apa?" Elena membawa tubuh mamanya untuk duduk di sofa agar pembicaraan mereka lebih nyaman. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan" ucap Elena

Sandrina, sang mama Elena mengambil ponsel miliknya dan menghubungi nomor anak buah Arthur sesuai permintaan putrinya. Elena mengambil alih ponsel milik mamanya. Setelah panggilan itu terhubung, ia berjalan sedikit menjauh dari sang mama dan berbicara dengan anak buah Arthur secara intens.

"Apa yang akan dia lakukan" gumam Sandrina merasa cemas dengan tindakan yang akan dilakukan Elena. Bagaimana tidak? Sekali salah melangkah maka nyawa yang akan menjadi taruhannya.

"Saya Elena. Putri Anderson" ucap Elena singkat.

"Bisa kita membuat kesepakatan?"

"Kesepakatan apa yang anda maksud? Kau hanya punya jawaban iya atau tidak" ucap pria utusan Arthur.

"Aku akan menyetujui permintaan tuanmu itu tapi dengan beberapa syarat" ucap Elena.

"Kau tidak memiliki hak untuk itu. Kau hanya perlu menuruti perintah tuan Arthur jika ingin nyawa papa mu selamat" ucapnya dengan sombong.

"Bisa aku berbicara langsung dengan tuan Arthur?" tanya Elena

Beberapa detik tak ada perbincangan apapun namun detik berikutnya sebuah suara masuk di pendengaran Elena yang ia yakini jika itu Arthur.

"Bagaimana dengan keputusanmu?" Elena menarik nafas dalam berusaha memendam emosinya saat mendengar suara orang yang ia benci itu. Ia harus pintar bermain dalam situasi seperti ini.

"Aku menyetujuinya" ucap Elena membuat Arthur tertawa karena bonekanya saat ini nurut pada dirinya dan juga perintahnya.

"Tapi jika anda memberikan jaminan jika nyawa papa saya akan selamat" ucap Elena

"Tentu. Nyawa papa kamu pasti selamat jika kau menikah dengan putraku"

"Sebetulnya saya merasa sedikit heran kenapa putra Arthur harus dijodohkan dalam mencari pasangan. Tapi aku tidak peduli hal itu" Elena berbicara tak kalah sombong dengan ucapan yang dilontarkan Arthur pada dirinya.

"Dan satu lagi"

"Kau siapa mengaturku Elena" Nada remeh itu terdengar nyaring di telinga Elena. "Calon menantumu" jawab Elena singkat.

"Tapi kau sama sekali tak memiliki hak untuk mengatur diriku" ucap Arthur angkuh.

"Aku hanya meminta seluruh harta papa saya dialihkan menjadi milik saya. Elena Kazira Anderson" ucap Elena

"Itu suatu hal yang mudah bukan? Anggap saja itu adalah hadiah pernikahanku"

"Ambil saja. Aku tidak membutuhkan hartamu" ucap Arthur

"Baiklah aku hanya ingin mengatakan hal itu. Saya tunggu besok anak buah anda harus datang ke rumah dengan membawa surat pengalihan harta papa saya yang sudah anda ambil paksa" ucap Elena

"Itu mudah. Tapi untuk papamu, aku akan membawanya kembali di hari pernikahanmu nanti agar kau tidak lari dari ucapanmu" ucap Arthur

"Aku bukan orang yang ingkar janji" ucap Elena dan langsung menutup sambungan teleponnya begitu saja.

"Terima kasih ma" Elena mengembalikan ponsel milik mamanya dan berjalan pergi begitu saja. "Elena apa yang baru saja kamu katakan pada anak buah Arthur?"

"Aku hanya bilang kalau aku setuju dengan penawaran mereka" ucap Elena santai dan melenggang masuk ke dalam kamarnya. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah setelah seharian bergulat dengan berbagai masalah.

"Seorang penghianat akan mendapatkan penghianatan pula"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!