18

Violet, setelah melewati empat rute berbahaya, merasakan kelelahan yang amat sangat. Energinya hampir habis setelah melawan berbagai tantangan yang menguras fisik dan mentalnya.

“Aku harus mengisi kembali energiku sebelum melanjutkan perjalanan,” pikir Violet, merasa kelemahan merayap di tubuhnya.

Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak agar dapat memulihkan tenaga sebelum menghadapi rute terakhir dan melanjutkan misinya untuk menyelamatkan Zafir di Kerajaan Thelessia.

Ia menggunakan semua kemampuannya untuk menciptakan perlindungan maksimal. Dengan penuh konsentrasi, Violet menumbuhkan akar-akar raksasa yang meresap ke dalam dasar lautan. Akar-akar ini menyebar ke seluruh sekelilingnya, membentuk sebuah kepompong besar yang mirip dengan pohon raksasa. Kepompong ini membungkus Violet dalam pelindung yang terdiri dari berbagai elemen: **Aqua Surge** (air), **Inferno Blaze** (api), **Zephyr Gust** (angin), **Terra Force** (tanah), **Volt Strike** (listrik), **Radiant Light** (cahaya), dan **Shadow Veil** (kegelapan).

Setiap elemen terwujud dalam bentuk bunga-bunga indah yang mekar di sekitar Violet, dengan masing-masing bunga mewakili kekuatan elemen yang berbeda. Cahaya lembut dan warna-warni dari bunga-bunga ini memberikan kehangatan dan perlindungan, sementara energi yang tersisa dari setiap elemen menyatu untuk mengisi ulang kekuatan Violet.

“Aku harus kuat. Untuk menyelamatkan Zafir, untuk teman-temanku dan untuk anak-anakku,” gumam Violet sebelum tertidur dengan tenang di dalam laut yang dingin.

Energinya perlahan-lahan pulih, sementara alam sekitarnya menjaga agar dia tetap aman dari bahaya. Waktu berlalu dengan lambat, dan Violet memanfaatkan momen ini untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk tantangan yang ada di depan.

***

Tak disangka, proses pemulihan memakan waktu tujuh hari penuh. Selama itu, kepompong pohon yang menutupi Violet berkembang pesat, menumbuhkan bunga raksasa yang akhirnya mekar dengan kilauan cahaya memancar ke segala arah. Dari dalam bunga yang mekar itu, keluarlah Violet yang sudah terpasang prisai agar tidak tenggelam, dengan kekuatan yang telah pulih sepenuhnya.

"Aku tertidur berapa lama?" gumam Violet sembari memeriksa pakaian dan peralatannya. Semua masih berfungsi dengan baik, meskipun telah melalui banyak ujian berat.

Violet kemudian mengeluarkan peta hologramnya dan memeriksa rute yang tersisa. "Baiklah, saatnya melanjutkan perjalanan menuju rute terakhir," katanya dengan tekad yang kuat. Dirinya siap menghadapi apa pun yang akan datang di sarang peri parasit laut, tekadnya semakin kuat untuk menyelamatkan Zafir dan mengembalikan kedamaian di Kerajaan Thelessia.

***

Violet melanjutkan perjalanannya dengan kekuatan penuh menuju rute terakhir, sarang peri parasit. Dia melesat meliuk-liuk di kedalaman laut hingga tiba di tempat yang dipenuhi karang indah berwarna-warni dan ikan-ikan kecil yang menawan. Namun, tanda-tanda kehadiran peri parasit belum terlihat, membuat Violet semakin waspada. Menyadari bahwa spesies ini adalah jenis parasit, dia menebalkan perisainya.

“Ini pasti tempatnya,” gumam Violet, mengamati sekeliling dengan seksama.

Saat melewati karang-karang indah itu, tiba-tiba muncul Kraken seukuran pesawat Elara. Kraken muda itu, yang ternyata sudah mati dan dikendalikan oleh peri laut, menyerang dengan tentakel-tentakel besar berusaha menjeratnya. Violet dengan gesit menghindari tentakel-tentakel tersebut.

"Apa itu? Kraken mati dikendalikan peri laut?" Violet terkejut namun tetap fokus. "Aku harus mengatasi ini."

Segerombolan peri laut lainnya juga mulai menyerang. Violet segera menumbuhkan akar-akar kuat dari kekuatan alamnya untuk menjerat peri-peri laut tersebut. "Kalian tidak akan menghalangi jalanku," ucap Violet dengan tegas.

Namun, belum selesai dia mengamati situasi, semburan nuklir dahsyat dari arah belakang, mirip seekor buaya raksasa, menyerangnya. Violet berusaha menahan serangan itu dengan perisainya, tetapi tetap terpental, menabrak karang-karang di sekitarnya. Meskipun terpental, Violet masih mampu mempertahankan perisainya agar tetap utuh.

"Aku tidak akan kalah begitu saja," katanya dengan penuh tekad. "Aku harus menyelamatkan Zafir, apapun yang terjadi!"

Buaya raksasa yang mirip setengah hiu berenang cepat ke arah Violet, berusaha menerkamnya. Violet segera melesat menghindar, membuat buaya itu menabrak karang dengan keras. Sementara itu, segerombolan peri parasit laut mulai mengerumuninya.

Violet meningkatkan cahaya dari tubuhnya, membuat lingkungan sekitarnya terang benderang. Dalam cahaya itu, terlihat jelas sosok peri parasit laut yang menyeramkan. Mereka memiliki gigi-gigi runcing, tubuh sebesar kucing besar, empat sirip, dan wujud mereka seperti monster.

"Entah kenapa makhluk-makhluk ini disebut peri dalam peta," gumam Violet sambil mengamati mereka dengan hati-hati.

Dia melihat Kraken yang sudah mengerikan seperti zombi dengan peri parasit laut yang bersembunyi di dalam tubuhnya. Hati Violet terasa kasihan melihat Kraken muda itu. "Pasti saat-saat terakhirnya sangat menyakitkan, sungguh malang," pikirnya.

Kemudian, dia melihat buaya raksasa yang setengah hiu yang nasibnya juga sama dengan Kraken itu. "Mereka semua adalah korban dari parasit ini. Aku harus menghentikan mereka," kata Violet dengan tekad.

Violet kemudian menyiapkan serangan balasan, memusatkan kekuatannya dan memancarkan energi cahaya yang lebih kuat.

Pertarungan epik pun dimulai. Violet, dengan seluruh kekuatannya, menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan terbesar di sarang peri parasit laut. Dia mengerahkan elemen cahaya dan alam, menumbuhkan akar-akar kuat dari dasar laut yang membelit di sekelilingnya, menciptakan lingkaran perlindungan.

Para peri parasit laut, dengan gigi-gigi runcing dan tubuh monster mereka, bergerak cepat ke arahnya. Mereka berputar-putar, mencoba menembus perisai cahaya Violet. Violet, dengan gesit, menghindar dan melawan dengan serangan balik. Energi cahaya yang dipancarkannya melesat seperti tombak, menembus beberapa peri parasit yang mencoba mendekat.

Namun, peri parasit laut bukanlah lawan yang mudah. Mereka memiliki kecepatan dan kecerdasan, menyerang Violet dari berbagai arah. Kraken yang dikendalikan oleh peri parasit juga tidak tinggal diam. Tentakelnya yang besar menghantam ke arah Violet, mencoba menjebaknya. Violet menghindar dengan gerakan cepat, tetapi satu tentakel berhasil menyentuhnya, membuatnya terlempar beberapa meter ke belakang.

Violet berdiri dengan cepat, menumbuhkan akar-akar besar dari dasar laut untuk menahan tentakel Kraken. Dia mengarahkan akarnya untuk membelit dan menjerat Kraken, sementara dia melesat maju menyerang peri parasit yang mengendalikan Kraken. Namun, serangan tiba-tiba dari buaya raksasa setengah hiu memaksa Violet mundur lagi. Buaya itu, dengan tubuhnya yang besar dan kuat, menghantam Violet dengan kekuatan dahsyat, prisai cahayanya hancur.

Kemudian Violet segera mengenakan helem canggihnya, yang seketika dari kerah bajunya menjalar sebuah nano teknologi yang membuat helem untuk bernafas.

"Makhluk ini terlalu kuat jika dibiarkan bebas," pikir Violet. Dia tahu dia harus menghancurkan peri parasit yang mengendalikan buaya dan Kraken ini. Dengan cepat, dia menggunakan elemen air dan angin, menciptakan badai  yang menghantam buaya setengah hiu tersebut. Buaya itu mengaum kesakitan, tetapi peri parasit di dalamnya tetap mengendalikan gerakannya dengan kejam, melihat kesempatan ini violet segera memasang prisai cahayanya kembali.

Di saat yang sama, para peri parasit laut menyerang dengan gencar, gigi-gigi runcing mereka mencakar dan menggigit perisai cahaya Violet. Violet merasakan tekanan yang semakin berat, tetapi dia tidak menyerah. Dengan tekad yang kuat, dia menggunakan elemen air untuk menciptakan pusaran air yang amat kuat, yang menghisap beberapa peri parasit dan menghancurkan mereka dengan tekanan tinggi.

Kraken yang dikendalikan peri parasit meronta-ronta, tentakel-tentakelnya menghantam dengan liar. Violet berhasil menghindar beberapa serangan, tetapi satu tentakel berhasil melilit dirinya , menariknya ke arah Kraken. Dengan kekuatan yang luar biasa, Violet memusatkan energi cahaya di luar prisai, memotong tentakel itu dan membebaskan dirinya.

Namun, serangan tidak berhenti. Peri parasit laut terus menerus mengerubungi, mengeluarkan suara mengerikan dan serangan mematikan. Violet tahu dia harus segera menemukan cara untuk menghentikan mereka semua sekaligus. Dia memusatkan energinya, menggabungkan elemen cahaya dan alam dalam satu serangan pamungkas yang menggetarkan seluruh lautan.

Serangan gabungan Violet yang dahsyat ternyata belum cukup untuk menghentikan serbuan para peri parasit laut. Mereka terus berdatangan, semakin banyak dan semakin ganas. Violet dengan cepat menghindari setiap serangan, melesat dengan perisai cahayanya, meliuk-liuk di antara tentakel Kraken dan gigitan buaya raksasa.

"Bagaimana cara menghentikan mereka semua sekaligus?" pikir Violet, berusaha mencari celah di tengah serangan gencar itu. Dia menyadari bahwa menyerang satu per satu tidak akan efektif. Dia membutuhkan strategi yang lebih cerdik.

Saat meliuk menghindari tentakel Kraken yang mencoba menjeratnya lagi, Violet melihat ada satu titik di dasar laut yang tampak berbeda. Sebuah struktur kristal besar yang memancarkan cahaya aneh. "Mungkin itu adalah pusat kendali mereka," pikirnya. Dia tahu dia harus mencobanya.

Dengan cepat, Violet melesat menuju struktur kristal itu. Para peri parasit laut dan Kraken berusaha menghalanginya, tetapi dia menggunakan akar-akar raksasa untuk menahan mereka sementara dia mendekati kristal tersebut. Saat dia semakin mendekat, peri parasit semakin ganas menyerangnya, mencoba mencegahnya mencapai kristal.

Dengan tekad kuat, Violet menciptakan ledakan cahaya yang memaksa para peri parasit mundur sejenak. Kesempatan itu digunakan Violet untuk menumbuhkan akar-akar dari dasar laut, mengelilingi kristal dan mencoba menghancurkannya. Tetapi kristal itu dilindungi oleh semacam perisai magis yang kuat.

Violet tidak menyerah. Dia menggunakan elemen cahaya untuk memusatkan energi pada satu titik, mencoba menembus perisai magis itu. Perlahan, retakan mulai muncul di permukaan kristal. Para peri parasit menyadari apa yang dia lakukan dan semakin gencar menyerang, tetapi Violet bertahan.

"Aku harus berhasil!" pikir Violet, mengerahkan seluruh kekuatannya. Dengan teriakan penuh tekad, dia memusatkan seluruh energi cahaya dan alamnya, menciptakan ledakan dahsyat yang memecahkan kristal itu.

Kristal itu hancur berkeping-keping, tetapi para peri laut masih terus hidup dan menyerang. Violet kaget dan terus berpikir, sambil menahan serangan peri parasit laut, Kraken, dan buaya raksasa dengan akar-akar yang diperkuat semakin keras.

Melihat kristal yang hancur, Violet berpikir, "Ini kristal yang mengandung radiasi, jadi para peri ini terkena radiasi dari gelombang yang terpancar dari kristal ini. Tapi percuma saja hancur, para peri ini sudah terkontaminasi dan bermutasi."

Perisai akarnya perlahan mulai terkikis, digrogoti peri parasit laut dan hantaman Kraken serta buaya. Meski beberapa peri terkena tusukan akar, mereka tetap berdatangan.

Tiba-tiba, Violet tersadar atas pemberian trisula dari Seraphine. Dia mengeluarkannya dari tas kecilnya, dan ketika trisula keluar, benda itu membesar menjadi ukuran normal. Dengan sigap, dia mengarahkan trisula itu ke arah peri laut, seketika muncullah putaran air laut di tengah gerombolan peri laut. Pusaran itu amat tajam dan mampu menghancurkan apapun yang terserapnya.

Melihat kesempatan itu, Violet mengerahkan trisula semakin tinggi. Pusaran air semakin kuat, menghisap semua peri laut yang kabur serta telur-telur mereka tanpa tersisa. Kraken dan buaya raksasa yang ikut tertarik dalam pusaran sekilas mengucapkan terima kasih, "Terima kasih telah melepaskan penderitaan kami."

Violet mengangguk dengan tegas, merasa lega telah membantu mereka. Dengan demikian, sarang peri parasit laut berhasil dibersihkan, dan Violet dapat melanjutkan perjalanannya dengan hati yang lebih ringan. Dia mengarahkan pandangannya ke depan, ke arah jalan menuju  Kerajaan Thalassia, siap menghadapi tantangan berikutnya.

Violet memeluk trisula itu dengan erat dan berbisik, "Terima kasih, Seraphine, karena memberikan senjata yang begitu berguna ini. Meski aku mampu menggunakan elemen air, tapi ini air laut berbeda dengan kemampuan ku, pusaran air laut yang dihasilkan trisula ini jauh lebih kuat." Ia tersenyum, merasa bersyukur atas bantuan tak terduga itu.

***

Violet menyimpan trisula itu dan mulai memperbaiki karang-karang yang rusak dengan energi cahayanya, membersihkan efek radiasi yang masih tersisa. Setelah selesai, ia melihat ke sebuah lubang kecil di balik karang yang sedikit bercahaya biru seperti perisai. Mendekatinya, ia membuka perisai itu dengan energi cahayanya, dan keluarlah dua peri laut kecil yang nampaknya lebih indah dan cantik.

"Tolong, jangan makan kami," kata salah satu peri kecil itu.

"Aku tidak makan peri, aku makan buah," jawab Violet lembut.

Violet meredupkan cahaya perisainya dan melepas helmnya. Teknologi nano menjalar kembali ke kerah bajunya, memperlihatkan rambut emasnya terurai dan mata birunya yang begitu indah. Dua peri kecil itu merasa aman dan saling berpandangan, berpegangan tangan dengan erat.

"Apakah kau Dewi?" tanya salah satu peri kecil itu.

"Aku Violet. Aku bukan Dewi, aku alien dari luar planet."

"Alien?" Salah satu peri kecil itu melihat sekitar. "Lihatlah, di mana ayah, ibu, dan peri lain?"

Violet terheran-heran mengapa mereka tidak terpapar radiasi dan tampak tidak tahu apa yang terjadi di sarang itu. "Apakah kalian tidak tahu apa yang terjadi?" tanya Violet.

"Waktu itu kami dihibernasikan secara paksa oleh ayah dan ibu, jadi kami tidak ingat apa yang terjadi," jawab salah satu peri kecil.

Violet menjelaskan situasinya dan kedua peri itu menangis sejadi-jadinya, tak menyangka ras mereka terpapar radiasi dan telah binasa oleh Violet.

"Maafkan aku yang telah membinasakan kaummu," kata Violet dengan tulus.

"Kakak Dewi tidak salah. Memang itu sudah seharusnya terjadi. Jika dibiarkan, mereka sangat berbahaya," jawab salah satu peri kecil sambil menghapus air matanya. "Kami akan menjaga tempat ini dan membangun kehidupan baru di sini."

Violet meninggalkan dua peri kecil itu dalam keadaan memeluk satu sama lain, saling menguatkan atas nasib mereka. Dengan tekad baru dan hati yang lebih ringan.

Violet melesat ke arah tujuan selanjutnya, namun berhenti sejenak dan menoleh ke arah dua peri laut itu. Dengan lembut, ia menghampiri mereka.

"Maafkan aku," kata Violet sambil menumbuhkan buah yang cukup unik, seperti anggur, yang berbuah dari tumbuhan rumput laut. "Mungkin ini dapat meringankan kesedihan kalian."

Kedua peri kecil itu terkejut dan tersenyum saat buah-buah tersebut muncul. Mereka berenang mendekati Violet, berusaha memeluk tubuh besarnya. Violet melepaskan perisainya dan mengenakan helmnya kembali. Mereka saling memeluk dengan penuh rasa terima kasih.

"Semangat ya, jangan putus asa. Aku yakin penguasa semesta akan selalu ada, memberi berkah kepada makhluk-makhluk ciptannya," ujar Violet dengan penuh harapan.

"Iya, Kak Dewi. Terima kasih. Akan aku jaga dan melestarikan pemberianmu," jawab salah satu peri kecil dengan penuh rasa syukur.

Setelah memberikan perpisahan terakhir, Violet berenang menjauh, melambaikan tangan ke arah dua peri laut itu. Ia kemudian membuat perisai cahaya kembali dan melepas helmnya, cahaya perisai bersinar terang saat ia melesat jauh ke dalam lautan, menuju tujuan berikutnya dalam misinya untuk menyelamatkan Kerajaan Thalassia.

***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!