Kemudian Violet terbang dengan elegan, diikuti oleh Elara yang menggunakan wujud robotiknya. Anak-anak Violet, kecuali Orion yang bisa terbang dengan memanipulasi angin, menaiki punggung Zorak, naga besar yang setia. Mereka semua menuju tepi pantai untuk melihat Violet memulai perjalanan berbahayanya.
Setibanya di tepi pantai, mereka melihat Violet melayang di udara, membentuk perisai emas melingkar di sekelilingnya. Perisai itu berputar dengan kencang, menciptakan kilatan cahaya yang memukau. Cahaya dari perisai menyinari sekitarnya, membuat pemandangan pagi yang indah semakin menakjubkan. Anak-anak Violet memandang dengan kagum, sementara Zorak dan Elara tetap waspada.
Violet menoleh ke belakang untuk melihat anak-anaknya dan sahabat-sahabatnya sekali lagi. Dengan senyuman penuh keyakinan, dia melambai kepada mereka. "Jaga diri kalian, ibu akan segera kembali," katanya dengan suara yang penuh tekad.
Kemudian, dengan gerakan anggun, Violet memasuki lautan, perisai emasnya berputar semakin cepat, menciptakan kilatan cahaya yang lebih terang sebelum dia menghilang ke dalam air.
Orion terbang mendekati tepi pantai, melayang rendah di atas air, sementara Zorak dan anak-anak Violet memandang dari punggung naga besar itu. Elara tetap terbang dengan setia di samping mereka, mengawasi keadaan.
"Semoga ibu baik-baik saja," kata Astra dengan suara kecil namun penuh harapan.
Zorak mengangguk. "Ibumu kuat, dia akan kembali dengan selamat."
Dengan itu, mereka menunggu dengan penuh harap dan keyakinan, mengetahui bahwa Violet sedang dalam perjalanan untuk menyelamatkan Zafir dan mengembalikan kedamaian di Kerajaan Thalassia.
***
Violet memasuki lautan yang gelap dengan penuh kewaspadaan. Untuk menerangi jalannya, dia menciptakan bola-bola cahaya yang berpendar di sekelilingnya, menyingkap kegelapan bawah laut dan memperlihatkan pemandangan menakjubkan dari kehidupan laut di sekitarnya. Dia kemudian menyalakan peta hologram yang telah disalin Elara, menunjukkan rute menuju Kerajaan Thalassia.
Rute itu menunjukkan bahwa Violet harus melewati sarang siren yang terletak di kedalaman palung. Meskipun berbahaya, itu adalah satu-satunya jalan menuju Kerajaan Thalassia. Violet memahami bahwa bangsa duyung Kerajaan Thalassia bisa menggunakan arus badai untuk mencapai permukaan, yang tidak cocok dengan dirinya sebagai alien humanoid. Namun, dengan kekuatan barunya dan kemiripan dengan spesies manusia, Violet merasa lebih siap menghadapi tantangan ini.
Violet berenang dengan hati-hati, bola-bola cahaya di sekelilingnya memberikan cukup penerangan untuk melihat jalan yang akan dilaluinya. Air laut semakin dingin dan tekanan semakin kuat seiring dengan semakin dalamnya Violet menyelam.
Saat mencapai pintu masuk palung, Violet melihat sekilas bayangan-bayangan yang bergerak cepat di sekelilingnya. Dia tahu ini adalah siren, makhluk legendaris yang sering dikaitkan dengan keindahan memikat namun mematikan. Dia menyiapkan diri, menjaga bola-bola cahaya tetap terang untuk mengusir kegelapan yang mengintai.
Dengan tekad bulat, Violet melanjutkan perjalanannya ke dalam palung. Dia merasakan arus kuat yang berusaha menariknya ke dalam, namun dengan kekuatannya, dia berhasil melawan arus tersebut. Perlahan-lahan, Violet mulai melihat cahaya di kejauhan, menandakan adanya kehidupan dan mungkin jalan menuju Kerajaan Thalassia.
Ketika Violet mendekati sarang siren, dia bisa mendengar nyanyian mereka, suara yang indah namun mematikan, berusaha menariknya lebih dalam. Violet menutup telinga dengan kekuatan mentalnya, memfokuskan dirinya pada peta hologram dan bola-bola cahaya di sekelilingnya.
Nyanyian semakin keras, dan siren mulai muncul dari kegelapan, menampilkan wujud mereka yang menakjubkan namun berbahaya. Violet menguatkan dirinya, tahu bahwa dia harus tetap tenang dan fokus untuk melewati sarang ini. Dengan bola-bola cahaya yang semakin terang, dia berhasil mengusir beberapa siren yang mendekat.
Ketika Violet hendak menuju sebuah lubang gua yang menjadi jalan menuju Thalassia, tiba-tiba dia dihadang oleh ratu siren yang dikenal dengan julukan Dewi Nyanyian, Seraphine Sang Pemikat. Seraphine menghunuskan trisulanya, menatap Violet dengan mata yang memancarkan ancaman.
"Mau kemana buru-buru, gadis cantik?" tanya Seraphine dengan suara merdu namun penuh ancaman.
"Siapa kau? Tolong beri saya lewat, saya harus menolong sahabatku," jawab Violet, berusaha tetap tenang.
"Di Kerajaan Thalassia? Benarkan?" Seraphine tersenyum licik.
Violet terkejut, "Kenapa kau bisa tahu? Apakah kau bawahan Proteus?"
Seraphine tertawa dengan nada yang menggetarkan air di sekitarnya. "Haha, mana mungkin seorang yang dijuluki Dewi menjadi bawahan Proteus. Kami adalah rekan. Proteus memintaku untuk menjaga jalan ini dan mencegah alien asing memasuki lautan Planet Biru!"
Violet menguatkan dirinya, mengetahui bahwa dia harus menghadapi Seraphine untuk bisa melanjutkan perjalanannya. "Aku tidak akan mundur. Aku harus menyelamatkan Zafir dan mengembalikan kedamaian di Thalassia."
Seraphine mengayunkan trisulanya, menciptakan gelombang air yang menggetarkan. "Kalau begitu, kau harus melewati aku dulu, gadis kecil."
Violet bersiap, bola-bola cahayanya berpendar semakin terang. "Baiklah, kalau itu yang kau inginkan. Aku tidak akan menyerah."
Pertempuran antara Violet dan Seraphine pun dimulai, dengan air laut menjadi medan pertempuran yang penuh ketegangan.
***
Pertempuran di dalam laut yang gelap itu dimulai dengan intensitas tinggi. Seraphine, dengan kekuatan nyanyiannya yang memanipulasi arus air dan menciptakan ilusi, mencoba mengganggu fokus Violet. Setiap ayunan trisula Seraphine menciptakan gelombang yang mengancam menggulung Violet.
Violet, di sisi lain, menggunakan bola-bola cahayanya untuk menerangi sekitarnya dan memecah ilusi Seraphine. Dia memanipulasi air di sekitarnya dengan kemampuan barunya, menciptakan perisai dan serangan balik.
Seraphine tersenyum sinis. "Kau pikir bisa mengalahkanku dengan trik cahaya itu? Aku adalah penguasa lautan ini!"
"Dan aku adalah pelindung teman-temanku!" balas Violet dengan tegas, mengerahkan kekuatannya untuk menciptakan pusaran air yang menghalangi serangan Seraphine.
Seraphine menyerang dengan trisulanya, mencoba menusuk Violet. Violet dengan gesit menghindar dan menciptakan semburan air yang kuat, menghantam Seraphine dan memaksanya mundur.
Merasa kesal, Seraphine mengeluarkan seluruh kemampuannya, menciptakan badai bawah laut yang mengamuk. Violet berjuang keras untuk tetap tegak di tengah arus yang kuat, namun tidak mundur sedikit pun.
Menggunakan seluruh kekuatannya, Violet mengumpulkan energi dari bola-bola cahayanya, menciptakan sebuah ledakan cahaya yang menyilaukan, membutakan Seraphine sejenak. Momen itu dimanfaatkan Violet untuk menyerang balik dengan serangan air yang kuat, menghantam Seraphine dan membuatnya terlempar ke belakang.
Terengah-engah, Seraphine berusaha bangkit. "Kau... kau lebih kuat dari yang aku kira..."
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi jalanku untuk menyelamatkan teman-temanku," ujar Violet dengan tekad.
Seraphine, yang mulai merasa kalah, akhirnya tertawa lemah. "Baiklah, kau menang kali ini, gadis asing. Tapi ingatlah, Proteus tidak akan membiarkanmu begitu saja."
Violet melangkah mendekati Seraphina yang tampak terengah-engah namun masih memancarkan aura keagungan. Seraphina menatapnya dengan mata yang penuh makna dan berkata, "Gadis kecil, aku merasakan ada benih kosmik di dalam dirimu. Suatu hari nanti, kau akan menjadi seseorang yang sangat kuat. Bawa trisula ini, senjataku akan berguna di sarang peri parasit laut."
Violet awalnya ragu, namun setelah merasakan bahwa Seraphina tidak memiliki niat jahat, ia menerima trisula itu dengan anggukan terima kasih. "Baiklah, terima kasih. Aku akan pergi sekarang."
Violet menyimpan trisula itu di dalam tas pengecil miliknya yang berteknologi canggih, yang dapat menampung barang apapun. Setelah memastikan trisula itu aman, Violet melesat menuju kedalaman lautan, tubuhnya dikelilingi oleh kilauan kuning keemasan akibat efek prisainya.
Saat Violet berbalik untuk melanjutkan perjalanannya, Seraphina berteriak dengan suara lemah namun penuh semangat, "Hey, kita serang besty kan!"
Violet berhenti sejenak, menunjukkan ekspresi keheranan. "Hadeh, kenapa orang itu," gumamnya, sedikit tersenyum sebelum melanjutkan perjalanannya.
***
Violet melanjutkan perjalanannya, menembus arus kuat gua dengan prisai cahaya yang memancar dari tubuhnya. Dengan hati-hati, ia mengaktifkan peta hologramnya dan meliuk-liuk melewati lorong gua yang amat deras. Setiap belokan dan celah gua dihadapinya dengan kewaspadaan tinggi, menavigasi jalan yang semakin menantang.
Gua tersebut semakin gelap dan penuh dengan bebatuan tajam serta arus yang makin deras. Namun, berkat cahaya yang dipancarkan dari prisainya, Violet bisa melihat jalannya dengan cukup jelas. Ia terus maju, menolak untuk membiarkan rasa takut atau ragu menghentikannya.
Di tengah perjalanan, arus semakin kuat dan mendorongnya ke segala arah. Violet berjuang keras untuk tetap fokus dan menjaga kestabilan prisainya. Pikirannya terus terpaku pada tujuan akhir: menyelamatkan Zafir dan membawa kedamaian kembali ke Thalassia.
Beberapa saat kemudian, ia melihat ujung lorong gua yang mulai melebar dan arus air yang mulai mereda. Dengan tekad yang semakin bulat, Violet mempercepat laju perjalanannya. Sesaat sebelum mencapai akhir lorong, ia merasakan ada sesuatu yang besar dan bergerak di dalam kegelapan. Meskipun terkejut, Violet tetap tenang dan bersiap untuk menghadapi apapun yang ada di depan.
Dengan hati yang berdebar, Violet akhirnya keluar dari lorong gua yang deras dan memasuki ruangan bawah laut yang lebih tenang. Ia menatap sekeliling, mencari tanda-tanda bahaya atau petunjuk yang dapat membawanya lebih dekat ke Thalassia.
Saat keluar dari lorong, Violet dihadapkan dengan lautan dalam yang amat gelap, membuatnya merasa sedikit gentar. Namun, tekadnya yang kuat untuk menolong Zafir membuatnya terus maju tanpa ragu. Ia melesat ke kedalaman lautan, menghadapi tekanan yang semakin kuat. Violet memperkuat prisainya, menjaga agar cahaya cahayanya tetap terang.
Sambil terus bergerak, ia melihat peta hologramnya dan menyadari bahwa ia semakin mendekati titik sarang Kraken. Rasa cemas mulai merayapi pikirannya, tetapi ia tidak membiarkan itu menghentikannya. Setiap kali merasa gentar, Violet mengingatkan dirinya akan tujuan akhir: menyelamatkan Zafir dan mengembalikan kedamaian ke Thalassia.
Semakin dalam ia menyelam, tekanan air semakin kuat, menekan tubuhnya dari segala arah. Namun, Violet tetap teguh dan terus memperkuat prisainya untuk melindungi dirinya. Cahaya dari prisainya menembus kegelapan, memberi sedikit penerangan di sekitarnya.
Akhirnya, Violet melihat sebuah bayangan besar yang bergerak di kejauhan. Ia tahu bahwa itu pasti Kraken, penjaga sarang yang terkenal kejam dan tak kenal ampun. Violet menyiapkan dirinya, meneguhkan hati, dan memperkuat prisainya lebih lagi, bersiap menghadapi rintangan terbesar dalam perjalanannya sejauh ini.
Kemudian bayangan itu semakin besar, mengeluarkan tentakel raksasa dari berbagai arah yang amat besar. Violet terlihat seperti semut di hadapan makhluk itu, dan yang dilihatnya hanyalah mata raksasa yang amat besar.
Violet tetap tenang dan mengamati sebelum menyerang, selalu dalam keadaan siaga.
Kemudian sosok itu berkata, "Hai gadis kecil, apakah kau teman Zafir? Perkenalkan namaku Leviathan."
Violet terkejut karena makhluk itu tahu tentang Zafir dan membalas, "I... i.. iya, wahai makhluk raksasa. Namaku violet, tunggu Kenapa kau tahu Zafir?"
Kemudian makhluk raksasa sebesar pesawat Elara mendekat yang ternyata itu adalah anaknya. "Namaku Thalor dan aku kenal karena kami berteman dengannya."
Dan mata lain muncul, yaitu Kraken lain yang lebih besar di banding kraken jantan dan ternyata itu adalah ibu dari Kraken tersebut. Mereka adalah sebuah keluarga.
"Tetapi sudah lama Zafir tak ke sini," ujar Kraken betina, bernama Tethra.
Alangkah terkejutnya Violet mengetahui bahwa makhluk-makhluk raksasa ini adalah sebuah keluarga dan teman Zafir.
Kemudian Violet bertanya, "Apa kalian tidak mendapat kabar tentang Zafir?"
"Kabar? Kami tidak tahu," ujar Kraken kecil yang bernama Thalor.
"Kerajaan Thalassia, tempat Zafir berada, sudah digulingkan oleh Proteus dan Zafir ditawan. Aku sedang menuju ke sana untuk menyelamatkannya," jawab Violet.
Mendengar itu, Kraken besar yang bernama Leviathan marah, membuat air di sekitar mereka bergetar. "Apa? Zafir ditawan? Kurang ajar! Aku akan menyelamatkannya!"
Kemudian sang istri, Tethra, menahan dan mengingatkannya, "Pa... Kita ditugaskan oleh Penguasa Semesta untuk menjaga lautan. Kita tidak bisa melakukan hal semacam itu."
Violet melihat Leviathan meredam amarahnya, namun tetap dengan wajah yang serius. "Jika kamu bertekad menyelamatkan Zafir, maka kami akan membantu dengan cara kami sendiri. Tethra, tunjukkan jalannya."
Tethra mengangguk dan menyuruh Thalor menunjukkan jalan yang aman ke Violet. "Ikuti Thalor, dia akan menunjukkan jalan yang lebih aman menuju Kerajaan Thalassia. Hati-hati di sana, gadis kecil."
Violet tersenyum penuh terima kasih. "Terima kasih, Tethra, Leviathan, dan Thalor. Aku akan berhati-hati dan memastikan Zafir selamat."
Leviathan tiba-tiba tersadar dan bertanya, "Kau berhasil melewati Seraphine? Apakah dia masih hidup?"
Violet mengangguk, "Dia masih hidup."
Leviathan menghela napas lega. "Syukurlah. Seraphine adalah salah satu penjaga lautan di planet biru ini. Terima kasih karena tidak membunuhnya."
Violet tersenyum dan mengangguk. "Aku hanya ingin menyelamatkan Zafir dan tidak ingin membuat lebih banyak musuh."
Leviathan mengangguk dengan bijaksana. "Jalanmu masih panjang, gadis kecil. Semoga kau berhasil."
Dengan itu, Violet melanjutkan perjalanannya, melambaikan tangan kepada keluarga Kraken sebagai tanda terima kasih. Dengan tekad kuat dan peta hologram sebagai panduan, dia menyusuri lautan dalam yang semakin gelap, menuju Kerajaan Thalassia dan misi penyelamatan Zafir.
Dalam perjalanan, Violet terheran-heran saat menyaksikan sisi lain dari spesies Kraken yang sebelumnya hanya dikenal dalam catatan sejarah sebagai makhluk yang menakutkan. “Ternyata, mereka tidak sejahat yang tertulis di buku sejarah peradaban planet lain,” gumam Violet pada dirinya sendiri, masih terpesona oleh kebaikan dan sikap ramah yang ditunjukkan oleh Leviathan dan keluarga Kraken.
Dia merasa semakin jelas bahwa banyak informasi dalam buku sejarah tersebut mungkin bias atau tidak lengkap. Pandangan Violet terhadap makhluk-makhluk laut ini berubah, menambah rasa hormatnya terhadap keberagaman dan kompleksitas kehidupan di planet biru.
Violet melanjutkan perjalanannya dengan semangat baru, semakin yakin bahwa banyak hal yang dia pelajari dan alami akan membantunya dalam misi penyelamatan Zafir dan memahami lebih dalam tentang dunia yang dia tinggali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments