Beberapa hari kemudian, Violet mulai menyadari sesuatu yang luar biasa tentang anak-anaknya. Pertumbuhan mereka jauh lebih cepat dari yang ia duga. Sedikit demi sedikit, mereka mulai bisa berbicara sepatah dua patah kata, meski dengan cara yang lucu dan menggemaskan.
"Astra, bisa bilang 'Mama'?" tanya Violet sambil tersenyum lembut pada putrinya yang sulung.
"Mama," jawab Astra, suaranya masih cadel tapi penuh semangat. Violet tertawa kecil, merasa hatinya menghangat mendengar suara anaknya.
Orion, Lyria, dan Zenith tidak kalah cepat dalam perkembangan mereka. Mereka mulai meniru kata-kata sederhana yang diucapkan Violet dan Elara, mengisi ruangan dengan suara-suara kecil mereka yang ceria.
Setelah satu bulan, anak-anak Violet sudah bisa berjalan dengan langkah-langkah kecil yang lucu dan imut. Mereka berlarian di sekitar ruangan dengan tawa yang riang, menjelajahi dunia kecil mereka dengan penuh antusiasme.
"Orion, hati-hati," kata Violet sambil melihat putranya yang berusaha mengambil mainan dari meja rendah.
Zenith, dengan rambutnya yang mulai terlihat berkilau seperti petir, tertawa saat berhasil memanjat sebuah bantal dan duduk di atasnya dengan bangga. "Mama, lihat!"
Lyria, dengan matanya yang cerah, tersenyum manis saat dia berhasil berjalan beberapa langkah menuju Violet. "Mama!"
Violet tertawa melihat tingkah laku anak-anaknya. "Kalian luar biasa," ujarnya dengan suara lembut, penuh kasih sayang.
Elara, yang selalu siaga, tersenyum melihat kebahagiaan di mata Violet. "Mereka berkembang sangat cepat, Violet. Kekuatan mereka mungkin juga berkontribusi pada pertumbuhan ini."
Zorak, meski dari luar tidak bisa masuk ke dalam kapal, tetap memantau dan mengawasi dengan mata yang penuh perhatian dan perlindungan. Dia merasa tenang mengetahui bahwa Violet dan anak-anaknya aman dan bahagia.
Melihat anak-anaknya sudah bisa berjalan, Violet merasa saatnya untuk melatih dan mencoba semua kemampuannya. Sambil mengamati anak-anaknya yang bermain, dia merenung bagaimana bisa menggunakan kekuatannya untuk membantu mereka dan dunia di sekitar mereka.
Elara, yang selalu berpikir ke depan, memberikan ide cemerlang, "Violet, bagaimana jika kau gunakan elemen tumbuhan agar permukaan planet ini menjadi lebih baik? Dan juga, kau bisa mencoba mengendalikan badai agar hilang dan tenang."
Violet memandang Elara dengan mata berbinar. "Menurutku itu ide bagus! Bagaimana denganmu, Zorak?"
Zorak, yang sedang berbaring dengan leher besarnya terangkat sedikit, mengangguk setuju. "Ya, cobalah. Aku akan mendukungmu."
Dengan semangat baru, Violet memutuskan untuk mencoba ide tersebut. Dia mengemudikan pesawatnya keluar dari gua, sementara Zorak terbang mengikuti dari belakang. Pesawat meluncur dengan kecepatan tinggi, membawa Violet menuju permukaan planet yang selalu diliputi badai.
Setelah mencapai permukaan, Violet mendaratkan pesawatnya di sebuah dataran yang tandus. Angin kencang dan hujan lebat menyambut mereka, tetapi Violet merasa yakin dengan kekuatannya. Dia turun dari pesawat seorang diri, merasakan tanah yang dingin dan basah di bawah kakinya.
Zorak mendarat tidak jauh darinya, mengawasi dengan cermat. "Ingat, Violet. Fokus dan percayalah pada kekuatanmu."
Violet mengangguk dan menutup matanya. Dia mulai merasakan aliran energi di dalam tubuhnya, mengarahkan kekuatan elemen tumbuhan untuk meresapi tanah di sekitarnya. Perlahan, tunas-tunas kecil mulai muncul dari tanah, tumbuh menjadi tanaman hijau yang subur. Bunga-bunga bermekaran, dan pohon-pohon tinggi mulai muncul di tengah dataran yang sebelumnya tandus.
Elara, yang mengamati dari dalam pesawat, tersenyum. "Luar biasa, Violet! Sekarang coba kendalikan badai."
Violet membuka matanya dan mengarahkan tangannya ke langit. Dia merasakan kekuatan angin dan hujan di sekitar dirinya, mengarahkan elemen-elemen tersebut dengan pikiran dan kekuatannya. Perlahan, badai mulai mereda. Angin kencang berkurang, dan hujan lebat berubah menjadi gerimis yang menenangkan. Langit yang gelap mulai cerah, memperlihatkan sinar matahari yang hangat.
Zorak mengaum dengan kagum. "Kau berhasil, Violet!"
Violet tersenyum lebar, merasa bangga dan puas dengan pencapaiannya. "Terima kasih, Zorak. Terima kasih, Elara. Dengan kekuatan ini, kita bisa membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik untuk anak-anak kita."
Elara mengangguk. "Dan ini baru permulaan, Violet. Masih banyak yang bisa kita lakukan bersama."
Violet memandang langit yang cerah dan tumbuhan hijau di sekitarnya. Dengan kekuatan baru dan dukungan dari teman-temannya, dia merasa siap menghadapi masa depan yang penuh tantangan dan harapan.
Violet melambai ke arah anak-anaknya dengan senang dari luar kapal, merasa bangga atas pencapaiannya. Melihat daerah sekitar yang sudah aman, Violet memerintahkan Elara untuk membuka pintu kapal dan mengantar anak-anaknya turun.
"Elara, buka pintunya. Ayo, anak-anak, kalian bisa turun sekarang," kata Violet dengan suara lembut.
Pintu kapal terbuka perlahan, dan Elara membantu Astra, Orion, Lyria, dan Zenith turun dengan hati-hati. Anak-anaknya berlari kecil menghampirinya dengan wajah ceria.
"Mama! Mama!" teriak mereka serempak, penuh kebahagiaan.
Violet tertawa, membungkuk untuk memeluk mereka satu per satu. "Anak-anak, lihat apa yang sudah kita lakukan. Kita telah membuat tempat ini lebih baik untuk kita semua."
Astra, dengan rambut hijau seperti tanaman, menatap sekeliling dengan takjub. "Mama, tempat ini jadi indah sekali."
Orion, dengan mata yang berkilauan seperti angin dan petir, mengangguk setuju. "Kau hebat, Mama!"
Lyria, yang selalu tenang dan penuh cahaya kegelapan, tersenyum manis. "Kami sangat bangga padamu, Mama."
Zenith, yang bersemangat dengan energi petir, melompat kegirangan. "Ayo kita main di sini, Mama!"
Violet merasakan air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. "Tentu saja, sayang. Kita semua bisa bermain dan menikmati tempat yang indah ini bersama-sama."
Elara, yang mengamati dengan penuh kasih dari dekat, berkata, "Kalian benar-benar keluarga yang luar biasa."
Zorak, yang selalu setia, terbang rendah mendekati mereka dan mengangguk dengan leher besarnya. "Kau telah melakukan hal yang luar biasa, Violet."
Violet tersenyum pada Zorak. "Terima kasih, Zorak. Ini semua berkat kalian juga."
Putra bungsu, Zenith, dengan malu-malu mendekati Violet dan menarik ujung bajunya. "Mama, aku boleh nanya sesuatu?"
Violet berjongkok agar sejajar dengan Zenith. "Tentu saja, sayang. Apa yang ingin kamu tanyakan?"
Zenith menunjuk ke arah Zorak yang sedang beristirahat tak jauh dari mereka. "Itu makhluk apa, Ma? Meski kami sudah lama melihat Zorak, kami tidak takut. Tapi kami penasaran karena dia selalu menemani kami di luar kapal saat di dalam gua. Dan Elara, kenapa dia bisa berubah wujud? Kadang dia ada di kapal sebagai sistem, kadang keluar menggunakan tubuh robot."
Violet tertawa melihat kegemasan anak-anaknya. "Baik, mama jelaskan, ya. Zorak adalah paman naga baik. Dia teman mama yang sangat setia. Zorak selalu ada untuk membantu kita dan melindungi kita."
Zorak mendengar pembicaraan itu dan mengangguk dengan leher besarnya, mengeluarkan suara rendah yang penuh kasih sayang.
Violet melanjutkan, "Dan Elara adalah void. Bentuk tubuhnya tidak menentu, sehingga dia membutuhkan objek unik sebagai wadah. Itu sebabnya dia bisa berubah wujud menjadi sistem kapal atau tubuh robot. Elara juga sahabat mama yang sangat baik."
Anak-anak mendengarkan dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. Astra bertanya, "Jadi kita harus sayang sama mereka juga, ya Ma?"
Violet mengangguk sambil tersenyum. "Iya, kalian juga harus menyayangi mereka. Mereka adalah sahabat dan pelindung kita. Mama sangat sayang kepada mereka, dan mama ingin kalian juga merasakan hal yang sama."
Orion, Lyria, dan Zenith mengangguk serempak. "Kami akan menyayangi mereka, Ma," kata mereka dengan suara bersemangat.
Elara, yang berada di dekat mereka dalam bentuk tubuh robot, tersenyum dan berkata, "Terima kasih, anak-anak. Kalian semua adalah anugerah bagi kami."
Zorak mengeluarkan suara rendah yang menandakan persetujuannya. Violet merasakan kebahagiaan yang mendalam melihat keharmonisan antara anak-anaknya dan sahabat-sahabatnya.
"Terima kasih, teman-temanku dan anak-anaku yang sangat aku sayangi," kata Violet lembut sambil memeluk anak-anaknya. "Kita adalah keluarga yang kuat, dan bersama-sama, kita akan menghadapi apa pun yang datang."
***
Disislain di kediaman Raja Proteus yang amat kesal karena kekalahan pasukan Zira, melangkah dengan langkah yang berat di sepanjang koridor istananya. Wajahnya teramat kesal, dan melampiaskan kekesalannya kepada kakaknya yang amat dia benci.
Di depan mereka, sekelompok ilmuwan istana berjalan dengan tergesa-gesa, mencoba mengikuti langkah cepat Raja Mereka menuju ke arah penjara kerajaan, tempat raja sebelumnya, kaka dari Raja Proteus, dan ratu sebelumnya masih ditahan.
"Apa maumu? Kenapa kau mau melakukan ini, kau dasar pengkhianat !" Kaka Proteus melepaskan kata-kata itu dengan suara gemuruh, suaranya bergema di penjara istana yang sunyi.
Proteus menyahut dengan tenang, "Haha, sudahlah, Kak. Diamlah sejenak. Aku akan melihat sendiri hasil dari sedikit percobaan yang telah lama kami teliti serum mutasi."
Wajah Kaka proteus sangat memerah, matanya memancarkan kemarahan yang hampir tak tertahankan. "Kau berani memeperlalukan Kaka sekaligus raja dan ratumu seperti ikan percobaan."
Kemudian sang ratu, istri kakaknya, memohon ampun. "Proteus, kumohon, ampunilah kami," ratapnya. Namun, Proteus menghiraukan permohonannya, menyeret kakak dan kakak iparnya menuju dunia bawah tanah, disaksikan oleh rakyat yang menjadi budak.
"Saksikanlah, rakyatku tercinta! Aku akan menunjukkan maha karyaku yang akan dicoba langsung oleh kakak dan kakak iparku, yang merupakan raja dan ratu sebelumnya, sebelum aku mengkudeta mereka. Huahaha!" seru Raja Proteus dengan tawa menggelegar.
Kakak dan kakak ipar Proteus memohon ampun atas nyawa mereka, namun Proteus hanya tersenyum sinis. "Kalian ingat, kenapa aku menjadi seperti ini? Karena ulahmu, Kak."
"Aku melihat sendiri, kau yang telah meracuni ayah kita karena kau, gila akan kekuasaan."
"Selain itu Kakak, membuat ibu menjadi gila dan depresi hingga meninggal karena kau menuduhnya dalang di balik kematian ayahanda."
"Karena takut persaingan tahta denganku. Kau mengasingkanku di pinggiran kerajaan Thelessia."
"Tapi untungnya keajaiban dendamku yang akhirnya menuntunku, menghimpun kekuatan selama bertahun-tahun dan akhirnya berhasil menaklukkan kalian, menaklukan kerajaan Thelessia! Hahahaha...." ujar proteus mengungkap kebusukan raja sebelumnya di masalalu.
Para rakyat tercengang mendengar kenyataan ini. Kakak Proteus membela diri, "Aku melakukan itu demi kerajaan yang lebih baik! Lihatlah, kerajaan kita memiliki teknologi canggih."
"Tapi diskriminasi antar ras sangat kental dimana ras yang memiliki evolusi lebih tinggi menjadi sepsial dan memiliki evolusi rendah di pandang hina selain itu perbudakan di mana-mana! Kerajaan Thelessia sangat kotor dan harus dibersihkan!" jawab Proteus.
"Kau pikir kau tak sama kotornya?!" bentak kakaknya.
"Ya, karena aku kotor, aku akan melakukan apapun tanpa belas kasih demi tujuanku. Aku seperti ini karena ulahmu, Kak!" Proteus menatap kakaknya dengan dingin. "Cepat ikat mereka dan suntikkan serumnya!"
Kakak dan kakak ipar Proteus diikat di sebuah altar, sementara ilmuwan mendekat dengan suntikan di tangan. Sang ratu histeris, memohon ampunan. "Tolong, ampuni kami, Proteus! Ampuni!"
Dengan tatapan kosong, Proteus tetap memerintahkan ilmuwannya untuk menyuntikkan serum itu kepada kakak dan kakak iparnya. Setelah disuntik, tubuh keduanya gemetar hebat, muncul sisik-sisik berwarna biru, dan mereka bermutasi menjadi naga laut yang hampir sebesar naga Zira. Mereka mengaum sekeras mungkin, membuat rakyat yang menyaksikan itu panik dan ketakutan.
Proteus tertawa puas, mengambil alat penunduk, dan akhirnya kedua naga itu tunduk di hadapannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments