"Ya, Violet. Titik koordinatnya sudah sesuai berdasarkan analisis saya," jawab AI Elara dengan tegas.
Violet menjelajahi area tersebut dengan cermat, mencoba mencari tanda-tanda keberadaan tempat yang dicarinya. Namun, kekecewaan menyelimuti dirinya saat tidak menemukan apa pun kecuali batuan yang tak bernyawa.
Tiba-tiba, langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja dia menginjak bebatuan yang retak, membuka lubang besar di tanah. Di dalamnya, dia menemukan sebuah oasis tersembunyi: tumbuhan hijau yang segar dan sebuah sungai kecil yang mengalir dengan gemericik air yang menenangkan.
Violet merasa lega dan bahagia menemukan tempat ini di tengah-tengah badai dan hujan yang menyelimuti planet ini. Dia merasa bersyukur pada Elara atas bantuan dalam menemukan tempat ini dan tak sabar untuk menjelajahi lebih jauh lagi.
Violet melayang perlahan ke dalam lubang yang terbuka, menggunakan kekuatan telekinesisnya untuk mengatur penurunan dengan hati-hati. Begitu dia memasuki oasis tersembunyi itu, dia dikejutkan oleh pemandangan yang begitu berbeda dari permukaan yang kasar dan penuh badai. Di sini, di bawah tanah, tumbuhan hijau yang segar tumbuh subur, dan sebuah sungai kecil mengalir dengan damai, gemericik airnya menciptakan melodi yang menenangkan.
"Elara, ini luar biasa. Tempat ini terasa seperti surga tersembunyi di tengah kekacauan di permukaan," ujar Violet dengan kekaguman yang tulus.
"Analisis awal menunjukkan bahwa kondisi mikroklimat di sini sangat stabil dan mendukung kehidupan. Tumbuhan dan buah-buahan ini mungkin memiliki nutrisi yang sangat diperlukan untuk keberlangsungan hidup Anda dan anak-anak Anda di masa depan," jawab Elara.
Violet melangkah lebih jauh ke dalam oasis, menyentuh dedaunan hijau yang lembut dan menghirup udara segar yang terasa begitu berbeda dari atmosfer di luar.
"Elara, aku perlu tahu lebih banyak tentang tanaman dan buah-buahan di sini. Bisakah kamu menganalisisnya untuk melihat apakah ada yang memiliki khasiat khusus?" tanya Violet sambil memetik salah satu buah yang tampak matang dan berair.
"Saya sedang melakukan pemindaian sekarang, Violet. Analisis menunjukkan bahwa buah-buahan ini kaya akan vitamin dan mineral. Beberapa di antaranya mungkin memiliki sifat penyembuhan atau meningkatkan kekuatan fisik," jawab Elara setelah beberapa detik.
Violet menggigit buah itu, merasakan rasa manis yang langsung memenuhi mulutnya. Dia merasa energinya pulih dengan cepat, hampir seperti buah itu memberikan kekuatan tambahan.
"Ini luar biasa. Tempat ini bisa menjadi tempat yang sempurna untuk membesarkan anak-anak kita, setidaknya untuk sementara," kata Violet dengan suara penuh harapan.
"Saya setuju, Violet. Dengan sumber daya yang ada di sini, kita bisa memastikan kebutuhan dasar Anda terpenuhi. Saya akan terus memantau dan menganalisis area ini untuk memastikan tidak ada ancaman yang tersembunyi," Elara menanggapi dengan tenang.
Violet melanjutkan penjelajahannya, menikmati setiap momen di oasis ini. Di tengah-tengah badai dan hujan yang terus-menerus melanda permukaan Planet Biru, tempat ini memberikan secercah harapan dan ketenangan.
"Elara, kita harus memastikan tempat ini tetap tersembunyi dan aman. Ini adalah tempat yang sempurna untuk memulai kehidupan baru," ujar Violet dengan penuh tekad.
"Setuju, Violet. Saya akan membantu Anda memastikan tempat ini tetap terlindungi," jawab Elara.
Dengan semangat baru, Violet merasa lebih siap menghadapi masa depan. Di oasis tersembunyi ini, dia menemukan harapan dan keberanian untuk melanjutkan petualangan hidupnya di Planet Biru.
Saat Violet terus menjelajahi oasis yang indah itu, dia merasakan kedamaian yang belum pernah dia rasakan sejak tiba di Planet Biru. Namun, di balik ketenangan itu, sesuatu yang misterius mengintai dari bayangan.
"Violet, deteksi sensor menunjukkan adanya individu asing di dekat Anda. Tampaknya ada yang mengamati kita," kata Elara dengan suara tegang.
Violet berhenti sejenak, memusatkan inderanya. "Di mana lokasinya, Elara?" tanya Violet sambil memperhatikan sekelilingnya dengan cermat.
"Di arah barat laut, sekitar tiga puluh meter dari posisi Anda. Saya akan mengaktifkan protokol siaga," jawab Elara.
Violet mempersiapkan diri, mengumpulkan energi telekinesisnya untuk berjaga-jaga. Dengan langkah hati-hati, dia mulai mendekati arah yang ditunjukkan Elara. Semakin dekat dia mendekat, semakin jelas dia merasakan keberadaan individu itu.
Tiba-tiba, dari balik pepohonan lebat, sosok tinggi dan berotot muncul. Makhluk itu memiliki kulit bersisik berwarna hijau gelap, matanya tajam memancarkan cahaya merah yang misterius. Dia mengeluarkan suara geraman rendah, menandakan ketidaksenangan atas kehadiran Violet.
"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Violet dengan suara tegas, sambil tetap bersiap untuk mempertahankan diri.
Makhluk itu melangkah maju, matanya tetap terkunci pada Violet. "Aku adalah penjaga tempat ini. Tidak ada yang diizinkan masuk tanpa izin," jawabnya dengan suara berat yang bergema di seluruh oasis.
"Penjaga? Aku tidak bermaksud mengganggu. Aku hanya mencari tempat untuk bertahan hidup," jawab Violet dengan tenang, namun tetap waspada.
Alih-alih mendengarkan penjelasan Violet sosok itu tiba-tiba, bersuara gemuruh . Sosok penjaga muncul kembali, dengan wujud seekor naga besar berwarna hijau gelap, dengan sisik keras yang memantulkan cahaya matahari yang menyelinap masuk.
"Naga?!" Violet terkejut dan segera bersiap. "Elara, makhluk itu berubah menjadi naga. Apa yang harus kita lakukan?"
"Siaga penuh, Violet. Gunakan kekuatan telekinesis Anda untuk bertahan dan menyerang. Saya akan memantau dan memberi saran taktis," jawab Elara dengan cepat.
Naga itu mengeluarkan raungan menggelegar dan menyemburkan api dari mulutnya. Violet melompat menghindar dengan gesit, menggunakan telekinesisnya untuk mengangkat batu besar dan melemparkannya ke arah naga.
Naga itu menghindar dengan mudah dan menyerang kembali, menyapu dengan ekor berduri yang besar. Violet terlempar beberapa meter, namun segera bangkit dengan tekad yang kuat. Dia fokus, mengumpulkan energi telekinesisnya untuk menciptakan perisai pelindung.
"Elara, analisis kelemahan naga ini," perintah Violet sambil menahan serangan api dengan perisai telekinesisnya.
"Sekitar sisik di bawah lehernya tampak lebih lembut. Itu mungkin titik lemah yang bisa Anda serang," jawab Elara dengan cepat.
Dengan informasi itu, Violet merencanakan serangan balik. Dia melompat tinggi, menggunakan kekuatan telekinesisnya untuk melayang di udara dan menghindari serangan naga. Dengan gerakan cepat, dia mengarahkan batu-batu tajam langsung ke leher naga.
Naga itu meraung kesakitan, namun tidak mundur. Violet mengambil kesempatan ini untuk melancarkan serangan lebih keras. Dia mengangkat bebatuan besar dari tanah dan menghantamkan langsung ke titik lemah di bawah leher naga.
Naga itu terhuyung, tetapi dengan raungan terakhir, dia menyerang dengan cakar besarnya. Violet menghindar di detik terakhir, menggunakan kekuatan telekinesisnya untuk memutar tubuhnya di udara dan menghantam leher naga dengan kekuatan penuh.
Serangan itu akhirnya membuat naga tumbang, mengeluarkan suara mengerang kesakitan sebelum akhirnya terjatuh ke tanah. Violet, terengah-engah namun tetap waspada, berdiri di atas tubuh naga yang tak berdaya.
"Naga itu sudah tak berdaya. Tapi tetap waspada, Violet. Kita belum tahu apakah ada bahaya lain di sekitar sini," kata Elara dengan tenang namun serius.
Violet mengangguk, merasa lega tapi tetap berjaga-jaga. Dia tahu bahwa Planet Biru penuh dengan misteri dan bahaya yang belum terungkap. Namun, dengan keberanian dan tekadnya, dia siap menghadapi apa pun yang datang.
Violet mendekati tubuh naga yang tergeletak di tanah, masih waspada meskipun naga itu tampak tak berdaya. Dengan hati-hati, dia memeriksa kondisinya dan menyadari bahwa makhluk itu masih hidup, meski dalam keadaan kritis. Matanya yang besar dan bersinar merah perlahan terbuka, menatap Violet dengan pandangan penuh rasa sakit.
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu menyerangku secara tiba-tiba?" tanya Violet dengan suara tenang namun tegas.
Naga itu mengeluarkan suara parau, berusaha berbicara meski kesulitan. "Aku... dulunya penjelajah seperti kamu. Namaku Zorak. Aku berasal dari dunia yang jauh... seperti kamu. Namun, aku tidak sekuat dirimu," katanya dengan suara serak.
Violet mendengarkan dengan cermat, menahan rasa penasaran dan empatinya. "Apa yang terjadi padamu, Zorak?" tanyanya lagi.
"Ketika aku pertama kali tiba di Planet Biru, aku adalah sosok alien humanoid bersisik. Namun, atmosfer planet ini penuh dengan radiasi yang aneh. Tubuhku tidak bisa menahannya, dan aku bermutasi menjadi naga ini. Radiasi itu membuatku liar dan kehilangan kontrol," Zorak menjelaskan dengan susah payah.
Dia melanjutkan, "Dalam kegilaanku, aku terus menjelajahi planet ini dan menemukan oasis ini. Tempat ini... satu-satunya tempat yang memberiku kedamaian. Aku merasa harus menjaganya, meskipun aku telah menjadi makhluk yang kau lihat sekarang."
Mendengar cerita Zorak, hati Violet tersentuh. Dia memahami penderitaan yang dialami Zorak dan merasa simpati padanya. "Elara, kita harus membantunya. Dia tidak bersalah atas apa yang terjadi padanya," kata Violet dengan tekad.
"Aku setuju, Violet. Kita punya peralatan medis yang mungkin bisa membantu," jawab Elara.
Violet segera mengambil alat medis dari tasnya. Dengan cepat dan cekatan, dia mulai memberikan perawatan kepada Zorak. Dia menggunakan alat-alat canggih untuk menstabilkan kondisi Zorak, mengobati luka-lukanya, dan memberikan obat penawar yang mungkin bisa membantu mengurangi efek radiasi.
Zorak mengerang pelan saat alat-alat itu bekerja pada tubuhnya, tetapi pandangan matanya menunjukkan rasa terima kasih yang mendalam. "Terima kasih... Violet," katanya dengan lemah.
"Tidak perlu berterima kasih. Kita semua berjuang untuk bertahan hidup di planet ini," jawab Violet sambil terus bekerja. "Aku akan melakukan apa saja untuk membantu."
Setelah beberapa waktu, kondisi Zorak mulai membaik. Nafasnya menjadi lebih stabil, dan matanya mulai kehilangan kilauan liar mereka. Violet merasa lega melihat kemajuan ini.
"Zorak, tempat ini adalah oasis yang indah. Aku berjanji akan membantumu menjaga tempat ini dan menjadikannya rumah kita," kata Violet dengan suara penuh janji.
Zorak mengangguk pelan. "Aku akan mengawasi... dan membantu... sebisaku," katanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments