10

Disisi lain  Langit planet Biru gelap dan muram, dihiasi kilatan petir yang menyambar tanpa henti. Badai hujan deras menutupi pandangan, menjadikan pertempuran semakin berbahaya. Di tengah badai itu, Naga Zorak berdiri kokoh, tubuh raksasanya menantang musuh demi melindungi Violet.

Pesawat tempur Pasukan Zira berderu keras di atas, mencoba mengelilingi Zorak. Komandan Zira, dengan mata penuh determinasi, memimpin serangan dari kokpit pesawat utama. "Kita harus menghentikannya di sini dan sekarang!" teriaknya ke dalam radio.

Zorak mengaum, suara menggelegar yang mengguncang udara dan memaksa pesawat-pesawat bergetar hebat. Bola-bola api besar meluncur dari mulutnya, menghantam pesawat-pesawat yang terlalu dekat. Beberapa meledak di udara, serpihan-serpihan logam berjatuhan seperti hujan besi.

"Tetap dalam formasi!" Komandan Zira memerintahkan dengan tegas. Dia melihat layar taktis di depannya, menunjukkan posisi Zorak dan pasukannya. "Fokuskan serangan pada sayapnya!"

Misil-misil ditembakkan dari berbagai arah, mengarah pada sayap Zorak yang besar dan kokoh. Beberapa misil berhasil mengenai sasarannya, menciptakan ledakan yang menggetarkan tubuh sang naga. Sisik-sisiknya yang keras sebagian besar memantulkan serangan, tetapi beberapa bagian mulai retak dan berdarah.

Zorak mengibaskan ekornya yang besar, menyapu pesawat-pesawat yang terlalu dekat, menghancurkannya seketika. Komandan Zira menyaksikan dengan cermat, mencari celah untuk serangan yang lebih efektif. "Alihkan serangan ke kakinya! Kita harus membuatnya jatuh!"

Pasukan Zira segera mengubah taktik mereka, menembakkan tembakan terkonsentrasi ke kaki Zorak yang kekar. Zorak mengaum marah, merasakan sakit dari serangan yang terus menerus. Bola-bola api terus ditembakkan, tetapi badai hujan mulai meredam sebagian besar api, memberikan keuntungan taktis kepada pasukan Zira.

Komandan Zira melihat kesempatan itu. "Semua unit, persiapkan serangan terakhir. Kita lumpuhkan dia sekarang!" Misil-misil besar diluncurkan, menghantam kaki dan tubuh Zorak dengan kekuatan yang luar biasa.

Zorak mengeluarkan raungan terakhir yang menggetarkan sebelum jatuh berlutut, kekuatannya habis. Komandan Zira dan pasukannya bergerak cepat, memastikan naga raksasa itu tidak bisa bangkit kembali. Mereka memasang alat-alat pengikat energi pada tubuh Zorak, menahan makhluk itu di tanah.

"Pertempuran ini milik kita," kata Komandan Zira dengan suara tegas, melihat pasukannya yang masih bersorak. Badai hujan masih menderu, tetapi kemenangan sudah di tangan mereka.

Zorak tergeletak tak berdaya di tanah, tubuhnya terluka parah akibat serangan bertubi-tubi dari Pasukan Zira. Hujan deras masih mengguyur, petir sesekali menyambar di kejauhan.

Komandan Zira mendekat dengan langkah mantap, tatapannya penuh kemenangan saat dia menatap Zorak. "Lihat dirimu sekarang, Zorak," ucapnya dengan nada mengejek. "Rela berkorban demi rekan?, dan sekarang kau terbaring di sini, tak berdaya, kemana rekanmu tak menolong mu sekarang hahahah..."

Zorak, meski terluka parah, mengangkat kepalanya perlahan. Matanya yang penuh kebijaksanaan bertemu dengan tatapan Zira. "Kau tidak memahami, Zira," katanya dengan suara tenang meski lemah. "Pengorbankanku tidak sia-sia. Violet berhasil melarikan diri, itulah yang terpenting."

Zira menggelengkan kepala dengan sinis. "Dan kau pikir itu membuatmu menjadi pahlawan? rekanmu tidak akan bisa melawan kita tanpa dirimu."

Zorak tersenyum tipis, seolah tidak terpengaruh oleh ejekan Zira. "Violet lebih kuat daripada yang kau kira. Kau akan menyaksikannya nanti."

Komandan Zira mengangkat senjatanya, mengarahkannya langsung ke kepala Zorak. "Kata-katamu tidak akan mengubah apapun, Zorak. Ini adalah akhir bagi dirimu."

Namun, sebelum nyawa besar naga itu direnggut oleh tembakan terakhir Komandan Zira, datanglah Elara Void yang menyatu dengan pesawat Violet, muncul dengan cepat seperti kilat.

Pasukan Zira yang menyadari kedatangan Elara segera mundur, menyadari ancaman yang datang dengan kedatangan tersebut. Elara tidak ragu, dengan sigap membantu menghancurkan jaring-jaring energi yang mengikat Zorak. Dalam sekejap, Zorak dibebaskan dari ikatan yang membelenggunya.

Zorak terkejut melihat Elara. "Mengapa kau ada di sini? Bagaimana keadaan Violet?" desaknya, suaranya penuh kekhawatiran.

Elara menjawab dengan tenang, "Violet sudah melahirkan 4 anaknya dengan selamat. Saya diperintahkan untuk datang secepat mungkin membantumu, Zorak. Untungnya kita masih punya kesempatan. Ayo, kita menyatu."

Tanpa ragu lagi, Zorak dan Elara bersatu. Transformasi mereka menciptakan gabungan yang mengagumkan: sebuah armor silver yang mengkilap, menyatukan kekuatan naga legendaris dengan kebijaksanaan dan kecerdasan teknologi Elara. Zorak muncul lebih kuat dari sebelumnya, kekuatannya yang baru terpancar jelas dalam bentuk baru ini.

Transformasi Zorak menjadi entitas baru yang mencengangkan memenuhi medan dengan keajaiban teknologi yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Tubuhnya, yang kini dilapisi dengan armor silver mengkilap, menyatu dengan teknologi canggih yang mengintegrasikan nafas api legendarisnya dengan laser teknologi yang mematikan.Dengan gerakan yang lincah dan kuasa yang dahsyat, Zorak menembakkan serangan laser yang menghantam setiap pesawat tempur Pasukan Zira yang tersisa.

Cahaya laser membelah awan badai, menandai kehancuran bagi siapa pun yang berani menantangnya. Serangan Zorak tidak hanya memusnahkan pesawat-pesawat musuh, tetapi juga menanamkan ketakutan mendalam di hati pasukan lawan.

Komandan Zira tidak tinggal diam. Dia segera memerintahkan pesawat-pesawatnya yang tersisa untuk menyerang balik. Namun, upaya mereka segera dipatahkan oleh perisai holografik yang kuat yang melingkupi tubuh Zorak. Prisai holografik ini bukan hanya sekadar pelindung, tetapi juga alat untuk menangkis serangan balik dan mengalihkan energi musuh kembali kepada mereka sendiri.

"Sudah cukup, Zira!" Zorak berseru, suaranya menggelegar di udara. "Kamu tidak bisa menghentikanku. Aku lebih kuat daripada kamu bisa bayangkan!"

Zira tidak mengeluh. Dia memerintahkan pasukannya menuju Zorak, menembak dengan presisi yang dingin. "Kita akan melihat siapa yang akan kalah, dasar monster!" jawabnya dengan tegas.

Sekali lagi, Zorak menghindari serangan pasukan Zira dengan kecepatan kilat. Dia mengejutkan pesawat  pasukan Zira dengan serangan langsung dari atas, menembakkan serangan laser langsung ke mesin pesawat itu. Satu persatu pesawat musuh hancur.

Di tengah kehancuran medan pertempuran dan badai yang mendera, komandan Zira, satu-satunya yang tersisa dari Pasukan Zira, berjuang untuk bertahan hidup. Pesawat utamanya terus dikejar oleh Zorak yang kini menyatu dengan Elara, menciptakan entitas yang lebih kuat dan mematikan. Dalam keputusasaan, Zira memerintahkan dua bawahannya untuk segera kabur dan memberi tahu keadaan di sini.

Kedua bawahannya dengan cepat menaiki pesawat kecil yang tersedia dan meluncur menjauh dari medan pertempuran yang diliputi kekacauan. Sementara itu, Zira sendiri menghadapi pilihan sulit. Dia tahu bahwa melarikan diri adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup, namun dia memiliki rencana lain yang lebih drastis.

Dengan tegas, Zira mengarahkan pesawatnya menuju lautan yang bergelombang tinggi di dekatnya. Dalam serangan panik, dia menembakkan beberapa peluru ke dalam laut, menciptakan ledakan besar yang memicu reaksi kimia dari serum yang dia bawa. Dalam kilatan cahaya dan ledakan, Zira berubah menjadi sosok naga laut yang mengagumkan.

Naga laut Zira memiliki ukuran yang sedikit lebih besar daripada Zorak, dengan sisik-sisik laut yang berkilauan di bawah cahaya petir yang menyambar. Dia meluncur ke dalam air, menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru dengan lancar. Naga lautnya melingkupi medan lautan dengan kemarahan dan kekuatan yang menakutkan, siap untuk menantang Zorak yang mendekat.

Di udara, Zorak dan Elara yang menyatu mengendalikan medan pertempuran dengan serangan laser dan nafas api yang tak terkendali. Mereka merasakan kehadiran naga laut Zira di bawah mereka, mengubah dinamika pertempuran secara dramatis.

Zorak menatap ke bawah, mata yang penuh dengan kebingungan dan keterkejutan. "Sebuah naga laut?" gumamnya, menyadari bahwa tantangan baru telah muncul di medan pertempuran.

Elara, yang menyatu dengan Zorak, menunjukkan ketenangannya. "Kita tidak bisa mengabaikannya, Zorak. Bersiaplah untuk pertempuran yang lebih sulit."

Dalam sekejap, pertempuran meluas dari langit ke dalam lautan, di antara gemuruh badai dan kilatan petir yang terus berkecamuk. Dua naga legendaris, Zorak dan Zira, bersiap untuk pertarungan epik yang akan menentukan nasib dari sisa pertempuran di planet Biru ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!