Setelah wilayah sekitar sudah stabil dan dapat ditinggali, Violet, anak-anaknya, Zorak, dan Elara memutuskan untuk menetap di tempat itu. Violet tersenyum pada anak-anaknya dan berkata, "Kalian mau makan yang manis-manis, anak-anakku?"
Dengan antusias, anak-anaknya menjawab, dengan pakaian yang lucunya sambil berjingkrak-jingkrak "Mau, Mama! Mau!"
"Tunggu ya," kata Violet.
Dengan kekuatan alam yang dimilikinya, Violet menumbuhkan pohon-pohon yang menghasilkan buah-buahan mirip dengan apel dan berbagai buah lainnya. Anak-anaknya memandang dengan kagum dan gembira.
"Hebat, Mama! Hebat!" seru mereka dengan mata berbinar-binar, berlari-lari kecil ke arah pohon-pohon itu untuk memetik buah-buahan segar.
Violet tersenyum bahagia melihat kegembiraan anak-anaknya, merasa lega dan puas telah mampu menciptakan tempat yang aman dan indah untuk mereka. Zorak mengangguk pelan, puas dengan keputusan mereka untuk menetap, sementara Elara mengamati dengan senyum hangat dari tubuh robotiknya.
Kemudian saat violet sedang memetik buah-buahan Elara dengan kesibukannya memantau dan mengikuti data di sekitar sedangkan naga zorak yang sedang rebahan.
Astra, anak perempuan pertama violet, tiba-tiba mampu mengendalikan tanah di sekitarnya. "Mama, lihat! Aku bisa seperti Mama!" katanya dengan semangat, mengambangkan batu-batu kecil di udara.
Orion, tidak mau kalah, mengangkat tangannya dan mulai terbang dengan menggunakan angin. "Aku juga bisa seperti Kakak! Lihatlah, Mama! Aku bisa terbang!"
Lyria, dengan ekspresi kagum, melihat kedua kakaknya. "Kakakku hebat! Aku hanya bisa mengendalikan bayangan menjadi makhluk lucu," katanya sambil menciptakan bayangan berbentuk kelinci yang terinspirasi dari mainan yang dipegangnya. "Lihat, Mama! Bayangan kelinci!"
Zenith, anak bungsu, berlari-lari dengan kecepatan kilat. "Kalian semua hebat! Aku juga bisa berlari cepat dengan efek kilat," katanya sambil berlari kesana kemari dengan gembira.
Violet, Zorak, dan Elara dalam bentuk robotiknya, mereka bertiga berdecak kagum dan bangga melihat perkembangan pesat anak-anak Violet yang secara mandiri mulai menguasai kemampuan mereka masing-masing.
"Anak-anak kalian luar biasa," kata Zorak dengan suara penuh kebanggaan sembari rebahan.
Elara mengangguk setuju. "Mereka mewarisi kekuatan yang hebat. Ini hanya permulaan dari potensi besar yang mereka miliki."
Violet memeluk anak-anaknya dengan penuh cinta. "Kalian semua hebat, Mama sangat bangga dengan kalian. Teruslah belajar dan kembangkan kemampuan kalian. Kita akan menghadapi segala tantangan bersama-sama."
Anak-anaknya tersenyum bahagia, merasa didukung dan dicintai.
Orion meminta izin kepada ibunya, Violet, untuk mencoba kemampuannya dan belajar terbang lebih tinggi. "Mama, bolehkah aku mencoba terbang lebih tinggi? Aku ingin melihat lebih banyak."
Violet tersenyum. "Silakan, sayang. Mama akan memantau kamu dari sini."
Orion berlari dan perlahan mulai terbang tinggi, mengamati wilayah sekitar. Setelah beberapa saat, ia kembali turun dengan semangat. "Mama, mama! Aku melihat sesuatu di sekitar kita. Ada awan gelap melingkar yang tidak jauh dari sini, dan aku juga melihat pantai dengan tulang raksasa seukuran Paman Zorak!"
Violet menjelaskan, "Ya, Mama sengaja membuat wilayah layak huni hanya seluas itu agar tidak mempengaruhi keseimbangan planet ini. Apa tadi yang kamu lihat? Tulang raksasa di tepi pantai?"
Zorak menggerakkan ekornya dan berdiri dari tidurnya, mendekati Violet dengan langkah perlahan. "Kemungkinan itu tulang dari Naga Zira."
"Naga Zira? Maksudmu Komandan Zira yang menyerang kita malam itu?" tanya Violet dengan terkejut.
"Iya," timpal Zorak.
"Dia meminum serum yang membuatnya bermutasi menjadi naga yang lebih kuat dari Zorak. Jika saja waktu itu aku tidak datang membantu, mungkin zorak akan kalah." Sambung Elara dengan pengeras suara kapalnya.
Violet merenung sejenak. "Ternyata di Planet Biru ini sudah ada senjata biologis yang mengerikan."
Anak-anak Violet mendekat dan memeluknya karena merasa sedikit takut. "Tenang, anak-anakku. Ibu, Paman Zorak, dan Bibi Elara akan menjaga kalian agar tetap aman."
"Tapi, Bu," kata Orion dengan suara kecil, "selain itu, aku juga melihat cahaya berkelip di tepi pantai."
Violet memandang Zorak dan Elara dengan cemas. "Cahaya berkelip? Kita harus menyelidiki ini."
Elara mengangguk. "Aku setuju. Cahaya berkelip bisa berarti banyak hal, termasuk ancaman atau bahkan sesuatu yang bisa membantu kita."
Zorak menggeram pelan. "Kita harus waspada. Tapi pertama-tama, kita pastikan anak-anak aman di sini."
Violet merangkul anak-anaknya. "Kalian tetap di sini dengan Paman Zorak. Mama dan Bibi Elara akan pergi melihat apa yang terjadi di tepi pantai."
Orion, Astra, Lyria, dan Zenith mengangguk patuh. "Hati-hati, Mama."
Violet, Elara keluar dari kapal mengunakan wadah robotiknya, terbang menuju tepi pantai dengan hati-hati, siap menghadapi apa pun yang menunggu mereka di sana.
***
Violet dan Elara terbang di bawah langit biru pagi yang cerah. Angin sepoi-sepoi bertiup, efek dari pengendalian alam yang stabil oleh Violet. Dari kejauhan, mereka melihat tulang naga raksasa yang disebutkan oleh Orion. Cahaya yang berkelip terus menerus semakin jelas terlihat.
"Lihatlah, Violet," kata Elara, menunjuk ke arah cahaya tersebut. "Di sana ada sesuatu yang bercahaya. Ayo kita ke sana."
Mereka mendarat di tepi pantai yang sebelumnya penuh dengan ombak dan badai, namun kini telah menjadi tenang berkat pengaruh Violet. Dengan hati-hati, mereka berjalan menuju benda misterius itu. Saat mereka mendekat, Elara memperhatikan lebih teliti.
"Ternyata ini adalah robot ikan," kata Elara sambil memeriksa benda tersebut.
Rasa penasaran menguasai mereka. Elara menekan salah satu tombol pada robot itu, dan tiba-tiba, sebuah hologram muncul. Sosok Zafir terbentuk di hadapan mereka.
"Zafir!" seru Violet dengan terkejut.
Hologram Zafir berbicara dengan suara yang penuh keprihatinan. "Violet, jika kamu menerima pesan ini, berarti kamu selamat. Kerajaan Thalassia telah jatuh dan aku ditawan oleh Proteus. Dia sangat berbahaya. Aku butuh bantuanmu. Mohon, datanglah secepat mungkin."
Violet merasakan hatinya berdegup kencang. "Zafir... dia butuh bantuan kita."
Elara mengangguk. "Kita harus segera merencanakan langkah berikutnya. Tapi kita juga harus memastikan anak-anakmu aman terlebih dahulu."
Violet memandang ke arah perbukitan di kejauhan, tempat anak-anaknya berada bersama Zorak. "Kita harus bersiap. Sepertinya Proteus bukanlah lawan yang mudah. Tapi kita tidak bisa mengabaikan Zafir begitu saja."
Elara menambahkan, "Aku akan memastikan anak-anak aman bersama Zorak. Kamu bisa berangkat tanpa perlu khawatir"
Dengan tekad yang kuat, Violet dan Elara kembali ke bukit untuk mempersiapkan perjalanan mereka menyelamatkan Zafir dan mengembalikan kedamaian di Kerajaan Thalassia. Mereka tahu bahwa tantangan besar menanti di depan, tetapi dengan kekuatan dan kebersamaan, mereka yakin bisa menghadapinya.
***
Sesampainya di bukit tempat anak-anak Violet dan Zorak berada, Zorak langsung bertanya dengan nada serius, "Apa yang kalian temukan?"
Violet menenangkan dirinya sejenak, lalu menoleh ke anak-anaknya. "Anak-anak, bermainlah di bawah pohon sebentar. Ibu akan berbicara dengan Paman Zorak dan Bibi Elara, ya?"
Astra, putri pertama Violet, dengan cepat mengerti maksud ibunya. "Iya, Bu. Ayo, Orion, Lyria, Zenith, kita main di sana."
"Baik, Kak!" timpal adik-adiknya dengan tawa riang, lalu mereka berlari menuju pohon, mulai bermain dengan gembira.
Setelah memastikan anak-anaknya berada dalam jarak aman, Violet kembali ke Zorak dan Elara. "Kita menemukan pesan dari Zafir," kata Violet dengan suara penuh keprihatinan. "Dia membutuhkan bantuan kita. Kerajaan Thalassia telah jatuh dan dia ditawan oleh Proteus."
Zorak yang kaget dengan keadaan Zafir sedikit mengerang kesal, kuku-kuku naganya keluar dengan tajam. "Kenapa bisa begitu? Siapa Proteus, berani-beraninya dia melakukan hal seperti itu!"
Violet menenangkan Zorak dengan lembut. "Kami mendapati robot ini yang memberi pesan itu," katanya sambil menunjukkan robot ikan yang mereka temukan di pantai.
Elara mendekati robot itu dan memeriksanya. "Coba kita periksa lagi pesan itu, Violet. Coba nyalakan kembali robot itu."
Violet mengangguk. "Baiklah, aku akan menekan sebelah sini."
Dengan hati-hati, Violet menekan tombol pada robot ikan tersebut. Seketika, hologram Zafir muncul kembali, kali ini menjelaskan situasinya lebih detail.
"Violet, Zorak, Elara... Proteus, dia adalah adik dari Raja kerajaan Thalassia, telah melakukan kudeta kepada kakaknya sendiri. Para bangsawan fraksi raja semuanya ditawan dan dijadikan budak, termasuk diriku," suara Zafir terdengar putus asa namun tegas. Hologram itu kemudian memperlihatkan peta lokasi Kerajaan Thalassia, menunjukkan rute yang aman untuk mencapai tempat tersebut.
"Ini adalah peta lokasi kerajaan kami. Aku mohon, maaf melibatkan kalian mahluk asing masuk dalam permasalahan di planet ini tapi kalianlah harapan terkahirku. Jadi aku mohon cepatlah datang. Waktu kita tidak banyak," lanjut Zafir sebelum hologramnya menghilang.
Zorak yang masih marah bertanya, "Siapa yang akan pergi ke sana?"
"Yang pastinya harus ada yang tinggal di sini menjaga anak-anakmu," ujar Elara kepada Violet.
Violet menjawab dengan tegas, "Biar aku saja yang pergi. Dengan kekuatanku, aku yakin cukup kuat untuk pergi ke sana sendirian. Anak-anakku aku titipkan kepada kalian, Zorak dan Elara."
Elara membantah, "Tidak, tuanku, itu sangat berbahaya."
Violet tersenyum. "Sudah lama kau tak memanggilku dengan sebutan itu. Sejak waktu itu aku menyuruhmu anggaplah aku sebagai sahabatmu, Elara."
"Aku hanya tak ingin orang sebaik dirimu yang mau menjadikan Void seperti dirimu sebagai teman meninggalkanku." timpal Elara
Violet meyakinkan Elara "Tenang Elara, aku ini kuat aku kan kembali dengan selamat."
Elara terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah, Violet. Tapi, hati-hatilah. Kami akan menjaga anak-anakmu sebaik mungkin."
Zorak menambahkan, "Jika ada sesuatu yang kau butuhkan, jangan ragu untuk memanggil kami. Kami akan selalu siap membantu."
Violet mengangguk dengan penuh tekad. "Terima kasih, sahabat-sahabatku. Aku akan segera bersiap dan berangkat."
Dengan persiapan yang matang dan dukungan dari sahabat-sahabatnya, Violet siap untuk menghadapi tantangan besar ini demi menyelamatkan Zafir dan mengembalikan kedamaian di Kerajaan Thalassia.
Elara segera menyalin peta yang diberikan oleh hologram Zafir dan mulai menerjemahkan setiap kata pada lokasi yang akan dilewati. Betapa terkejutnya mereka saat melihat ada lima titik berbahaya yang harus dilalui. Elara mengucapkannya satu per satu dengan nada cemas, "Sarang Siren, Sarang Kraken, Lembah Magma, Lembah Naga Laut, dan Lembah Peri Laut Parasit."
Zorak mengerutkan kening. "Semua itu adalah tempat yang sangat berbahaya. Siren dapat memikat siapa pun yang mendengar nyanyiannya, Kraken adalah monster laut raksasa yang tak kenal ampun, dan lembah-lembah itu penuh dengan makhluk berbahaya lainnya."
Violet menghela napas panjang, matanya penuh dengan tekad. "Aku harus melewati semua itu untuk menyelamatkan Zafir dan mengembalikan kedamaian di Kerajaan Thalassia. Tidak ada pilihan lain."
Elara menggenggam tangan Violet dengan erat. "Violet, lihatlah ini sangat berbahaya kau yakin akan pergi!."
"Aku sudah yakin dan karena itu tolong jaga anak anakku" timpal violet
Dengan sedikit sedih Elara memeluk Violet "Percayakan anak-anakmu kepada kami, kami akan menjaganya segenap jiwa raga kami"
Zorak, yang meski terlihat cemas, memberikan dukungan. "Kami akan membantumu dengan segala cara yang kami bisa dari sini."
Violet tersenyum kepada sahabat-sahabatnya. "Terima kasih, Elara dan Zorak. Aku sangat menghargai dukungan kalian. Aku akan berhati-hati dan memastikan aku kembali dengan selamat."
Setelah memastikan semua persiapan telah dilakukan, seperti Elara yang membuatkan baju khusus untuk violet, yang sudah terpasang berbagai alat canggih dan data peta yang telah di salin sudah di masukan pada baju itu. Kemudian memeper baiko robot ikan untuk alat komunikasi mereka saat perjalanan.
Kemudian Violet berpamitan kepada anak-anaknya. "Ibu akan pergi sebentar, anak-anak. Kalian harus mendengarkan Paman Zorak dan Bibi Elara, ya?"
Anak-anaknya mengangguk sambil memeluk Violet erat-erat. "Ibu hati-hati ya, kami akan menunggu ibu kembali," kata Astra, si sulung, mewakili adik-adiknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments