Saat menikmati keindahan oasis, tiba-tiba Elara mendeteksi adanya beberapa pasukan yang mendekat dari arah lautan.
"Violet, ada pasukan mendekat. Mereka datang dari arah lautan," kata Elara, suaranya tegang.
Zafir langsung menyadari itu adalah pasukan dari negerinya. "Itu pasti pasukan dari negeriku," gumamnya dengan cemas.
Violet memandang Zafir dengan khawatir. "Apa yang harus kita lakukan?"
Zafir menatap Violet dan Zorak. "Aku harus pergi sendiri untuk menemui mereka. Ini bisa membahayakan kalian."
"Tapi, Zafir," Violet mencoba menghentikannya, tetapi Zafir sudah berbalik dan berenang cepat menuju pasukan yang mendekat.
Ketika Zafir tiba di hadapan pasukan tersebut, komandan pasukan segera memberi hormat dan berkata dengan nada serius, "Zafir, kami datang dengan kabar buruk."
"Apa yang terjadi?" tanya Zafir dengan tegang.
"Negeri kita sedang dalam kekacauan. Sekelompok teroris berhasil menaklukkan kerajaan, dan keluarga kerajaan sedang ditawan. Kami ditugaskan untuk mengamankanmu, putra dari bangsawan Aril, dari target teroris," jelas sang komandan.
Emosi Zafir memuncak. Dia merasa marah dan putus asa mendengar berita itu. "Aku harus menyelamatkan keluargaku," katanya dengan tekad bulat.
Komandan mengangguk. "Kami akan membantumu, Zafir. Kami harus segera bertindak."
Tanpa berpikir panjang, Zafir memutuskan untuk berangkat menolong keluarganya. Dia tidak memberitahu Violet dan yang lainnya karena tidak ingin membahayakan mereka. Dengan cepat, dia dan pasukannya menyusun rencana dan bersiap untuk berangkat.
Saat mereka mulai bergerak, Zafir memandang ke arah oasis untuk terakhir kalinya. "Maafkan aku, Violet," bisiknya pelan. "Aku harus melakukannya sendiri."
Dengan tekad yang kuat, Zafir dan pasukannya menyelam ke kedalaman lautan, menuju kerajaan yang sedang dikuasai oleh teroris. Dia tahu risikonya tinggi, tetapi demi keluarganya dan negerinya, dia siap menghadapi bahaya apa pun yang menanti di depan.
Zafir, yang ternyata seorang bangsawan, memimpin pasukannya melintasi lautan yang dalam. Sesampainya di rumahnya, Zafir memasuki ruangan dengan hati yang berdebar-debar. Di depannya, ayahnya, Bangsawan Kael, terikat kuat di hadapan Komandan Zira yang berdiri dengan sikap angkuh. Zafir menahan napasnya saat ia melihat keadaan ayahnya yang terlihat lemah namun masih penuh dengan martabat.
" Ayah " lirih Zafir suaranya gemetar, dipenuhi dengan kekhawatiran yang mendalam
"Zafir, anakku... Kenapa kau datang kesini cepat pergi!!" bentak bangsawan Kael.
Zafir melangkah maju dengan langkah mantap, matanya penuh dengan tekad yang bulat.
"Tidak ayah, Aku akan menyelamatkanmu, aku tidak akan pergi!" timpal Zafir
"Dasar bodoh, cepat pergi!" bentak bangsawan Kael yang semakin marah.
Zira, dengan sikap sombongnya, menyela pertemuan ini
"Zafir," sapa Komandan Zira dengan suara dingin, "akhirnya kau datang juga. Sayangnya, terlambat bagi mereka."
Zafir menatap Ayah dan keluarganya dengan penuh kekhawatiran. Tidak pernah ia membayangkan bahwa mereka akan jatuh ke tangan kejam pemberontak ini.
"Demi kehormatan kami," gumam Zafir, "kalian akan membayar harga atas tindakan ini."
Komandan Zira hanya tersenyum sinis. "Zafir, kau naif. Kekuatan kami tak terbantahkan. Serahkan dirimu atau keluargamu akan menderita lebih banyak lagi."
Dengan pedang lasernya terhunus, Zafir dan pasukannya menyerbu dengan berani. Pertempuran sengit pun meletus di dalam ruang kediaman bangsawan, cahaya laser memantulkan kilatan yang memenuhi ruangan dengan gemerlap.
Namun, meskipun Zafir dan pasukannya bertempur dengan gigih, kekuatan Zira terlalu besar. Rakan dan Vinarta dengan keahlian taktis mereka berhasil mengalahkan beberapa anggota pasukan Zafir. Zafir sendiri terlibat dalam duel sengit dengan Komandan Zira, dalam upaya putus asa untuk melindungi keluarganya.
"Dengan kekuatan kami, Zafir, keluargamu akan menjadi milik kami," kata Zira dengan nada mengejek.
Zafir tidak mengenal kata menyerah. Dengan tekad yang kuat, dia melawan dengan penuh semangat, namun akhirnya terdesak
Zafir kelelahan, napasnya terengah-engah dan tubuhnya penuh luka. Zafir dengan kekuatan terakhirnya menyerang ke arah Zira, akan tetapi Vinarta dengan mudah menangkis serangan terakhirnya dan menjatuhkan pedang dari tangan Zafir.
Zafir jatuh berlutut di tanah, tubuhnya gemetar. Vinarta menendangnya dengan keras, membuat Zafir terjatuh ke belakang.
"Ini sudah cukup, Vinarta," perintah Zira dengan nada otoritatif. Vinarta mengangguk, menangkap Zafir dan mengikatnya dengan rantai besi.
Zafir mencoba melawan, tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak. Dia dipaksa berdiri dan ditarik ke samping, dekat dengan keluarganya yang juga tertawan.
Di dalam hati, Zafir merasa bersalah. "Maafkan aku, Violet," pikirnya, matanya berkabut dengan kesedihan dan penyesalan. "Sepertinya aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi."
Zira mendekat, menatap Zafir dengan tatapan tajam. "Sekarang, kau akan melihat keluargamu dalam keadaan tertawan, Zafir. Ini adalah akhir dari perlawananmu."
Zafir hanya bisa diam, menahan rasa sakit dan keputusasaan. Dalam keheningan, dia hanya bisa berharap bahwa Violet dan yang lainnya di oasis akan tetap aman.
Di sisi lain, Violet merasa khawatir karena Zafir pergi mendadak tanpa memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia berjalan mondar-mandir di sekitar oasis, sesekali melirik ke arah langit yang mulai gelap.
"Zafir, ke mana kau pergi?" gumamnya, cemas.
Zorak, yang sedang beristirahat di dekatnya, mengangkat kepalanya dan mencoba menenangkan Violet. "Jangan terlalu khawatir, Violet. Zafir adalah duyung yang cerdas dan tangguh. Dia pasti tahu apa yang dia lakukan."
Elara ikut menyuarakan pendapatnya melalui sistem komunikasi, "Benar, Violet. Analisis saya menunjukkan bahwa Zafir memiliki peluang besar untuk selamat. Dia tidak akan bertindak gegabah tanpa alasan yang kuat."
Meskipun begitu, perasaan cemas masih menyelimuti hati Violet. "Aku tahu kalian berusaha menenangkanku, tapi tetap saja, aku merasa ada yang tidak beres."
Zorak mendekat, menempatkan sayapnya yang besar di atas bahu Violet sebagai tanda dukungan. "Kami akan tetap waspada. Jika ada sesuatu yang buruk terjadi, kita akan siap."
Violet mengangguk pelan, merasa sedikit lebih tenang dengan kehadiran teman-temannya. "Terima kasih, Zorak, Elara. Kita harus bersiap untuk segala kemungkinan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."
Elara menambahkan, "Kami akan memantau situasi dengan saksama. Jika ada tanda-tanda bahaya, kita akan segera bertindak."
Dengan begitu, meski kekhawatiran masih ada, Violet merasa lebih siap menghadapi apa pun yang mungkin datang. Bersama dengan Zorak dan Elara, dia tahu mereka bisa mengatasi tantangan apa pun yang menghadang.
Di sisi lain, Kerajaan Thalassia, kerajaan duyung yang terkenal dengan teknologi canggih dan peradabannya yang maju, kini berada dalam kekacauan. Proteus, adik dari Raja Triton, telah memimpin kudeta yang berhasil menggulingkan kakaknya dan merebut tahta. Di bawah kekuasaan Proteus, Kerajaan Thalassia berubah menjadi tempat yang suram dan penuh penderitaan.
Zafir dan bangsawan lainnya dijadikan budak, dipaksa melayani Proteus dan kroni-kroninya. Rakyat Thalassia dipaksa bekerja keras, menambang sumber daya alam dan membangun pesawat induk yang besar serta senjata-senjata canggih. Di tengah kekacauan itu, Zafir merasakan penderitaan yang mendalam melihat tanah airnya yang dahulu indah dan damai, kini hancur di bawah tirani Proteus.
Zafir, yang biasanya penuh semangat dan optimisme, kini harus menghadapi hari-hari yang suram. Namun, semangat perlawanan tetap ada dalam hatinya. Dia tahu bahwa suatu hari, akan ada kesempatan untuk membebaskan rakyat Thalassia dari cengkeraman Proteus.
Zafir duduk di sudut gelap ruang penjara, memikirkan strategi untuk melawan Proteus dan menyelamatkan keluarganya. Dia juga terus memikirkan Violet dan teman-teman barunya di oasis. "Aku harus kuat," pikirnya. "Demi keluargaku dan Kerajaan Thalassia, aku tidak boleh menyerah."
Setelah tiga bulan kekuasaan Proteus yang tiran, sang penguasa mulai menyadari bahwa Zafir dulu sering keluar ke permukaan, sebuah tindakan yang sangat mencurigakan di planet biru yang penuh dengan badai hujan yang tak pernah berhenti. Kecurigaannya memuncak, dan ia memerintahkan penjaga untuk membawa Zafir dari penjara untuk dihadapkan kepadanya.
Proteus, yang duduk di singgasana tempatnya, menatap Zafir dengan tatapan tajam. "Aku sedikit kepikiran tentang dirimu yang dulu sering keluar ke permukaan. Apa yang kau sembunyikan? Cepat katakan!"
Zafir, yang ketakutan memikirkan Violet dan oasis, memutuskan untuk diam. Dia tahu bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya bisa membahayakan orang-orang yang dia sayangi. Proteus, yang tidak mendapatkan jawaban, mengerutkan keningnya dan mendekati Zafir.
"Diam, ya? Baiklah," bisik Proteus dengan suara mengancam. "Kau harus tahu bahwa aku dapat membaca ingatanmu dengan mudah."
Proteus mengulurkan tangannya, menyentuh kepala Zafir. Menyadari apa yang akan terjadi, Zafir panik dan berteriak, "Tidak! Jangan!"
Dia mencoba melarikan diri, namun para penjaga segera menahannya dengan cengkeraman kuat. Dalam kepanikan, Zafir meronta-ronta, tetapi sia-sia. Proteus menutup matanya, fokus menyelami ingatan Zafir. Gambar-gambar tentang oasis, pertemuannya dengan Violet, dan segala detail tentang kehidupan di permukaan mulai mengalir ke dalam pikiran Proteus.
Proteus tersenyum puas saat menarik kembali tangannya. "Begitu, rupanya. Kau menyembunyikan sesuatu yang berharga di permukaan. Tempat itu dan teman-teman barumu… sangat menarik."
Zafir, yang kini berlutut dengan napas terengah-engah, merasa putus asa. "Apa yang akan kau lakukan pada mereka?" tanyanya dengan suara gemetar.
Proteus tertawa kecil. "Itu bukan urusanmu lagi. Terima kasih atas informasinya, Zafir. Kau akan tetap di sini sementara aku mengirim pasukan untuk menangkap teman-teman barumu. Mungkin aku akan mendapatkan lebih banyak dari mereka."
Dengan perasaan campur aduk antara marah dan takut, Zafir hanya bisa berharap bahwa Violet dan yang lainnya akan siap menghadapi ancaman yang mendekat. Dia berjanji dalam hatinya bahwa dia akan menemukan cara untuk melawan dan melindungi mereka, meskipun keadaannya terlihat sangat suram.
Sementara itu, di oasis, Violet yang tinggal menghitung hari untuk kelahirannya tiba-tiba merasakan firasat buruk. Dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres, seakan ada ancaman besar yang mendekat. Tanpa mengetahui apa yang telah terjadi pada Zafir, dia mulai bersiap-siap, meminta Elara dan Zorak untuk meningkatkan kewaspadaan mereka.
"Elara, Zorak, kita harus siap. Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi," kata Violet dengan suara tegas. "Kita tidak bisa lengah."
Zorak mengangguk, "Kami akan selalu waspada, Violet. Apa pun yang datang, kita akan menghadapinya bersama dan memastikan proses kelahiran mu berjalan dengan lancar dan aman."
Elara menambahkan, "Saya akan memonitor situasi dengan lebih intensif. Kita akan siap untuk segala kemungkinan."
Dengan semangat kebersamaan dan tekad yang kuat, mereka bersiap untuk menghadapi apa pun yang akan datang, tanpa mengetahui bahwa bahaya sudah sangat dekat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments