Fahri benar-benar tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Tepat pukul 04.30 sore, dia tiba di rumah dan langsung menanyakan Alira pada semua orang. Karena Alira belum juga pulang, dia mulai berpikir kalau Alira sudah pulang ke Bandung. Tapi tidak berapa lama, dia pun dikejutkan dengan nada panggilan masuk di ponselnya. Dan itu ternyata panggilan telepon dari Ibu mertuanya.
Karena sejak pagi tidak bisa menghubungi putrinya, Ibu Vivi pun mulai khawatir, dan memutuskan untuk menghubungi Fahri. Tanpa berpikir panjang, Fahri terpaksa berbohong kalau Alira sedang tertidur. Dan setelah mengakhiri pembicaraan dengan Ibu mertuanya, dia pun bergegas ingin mencari Alira walaupun dia sendiri tidak tahu harus mencari kemana. Tapi belum sempat dia keluar rumah, Alira sudah muncul dari balik pintu, melangkah menuju tangga tanpa mempedulikannya.
"Dari mana saja kamu?? Tanya Fahri dengan tampang datarnya.
"Bukan urusan kamu." Jawab Alira tanpa menoleh dan terus melangkah naik ke kamarnya, yang membuat Fahri semakin kesal.
"Apa kamu bilang?? Bukan urusanku??" Tanya Fahri yang mengikutinya ke dalam kamar.
"Kamu anggap apa aku ini??"
"Kamu adalah orang asing bagiku, begitupun sebaliknya. Kita nggak saling kenal sebelum dan sesudah menikah. Itu kan yang kamu katakan di depan wanita itu?? Kalau kamu tidak mengenaliku."
"Dan menurutku, lebih baik kita mengakhiri semuanya. Aku tidak mau sakit hati menjalani hidup bersama pria yang tidak mengenaliku, walaupun sudah menikahi ku. Aku memang sudah terlanjur mencintaimu. Tapi rasa itu akan musnah seiring berjalannya waktu."
"Maksud kamu apa?? Kamu pikir perceraian adalah sesuatu yang baik?? Apa kamu mau menjadi janda di usia muda??"
"Tidak ada satupun wanita yang ingin menjadi janda di usia muda ataupun tua. Tapi itu lebih baik, daripada punya suami yang bisa dipeluk setiap wanita."
"kamu kalau bicara jangan sembarangan,,
Bella itu bukan wanita sepertimu, yang genit sama semua laki laki." Ucapan Fahri yang semakin menyakiti perasaan Alira.
Betapa kecewanya Alira, saat Fahri lebih membela wanita lain dan merendahkan dirinya. Dengan berlinang air mata, dia berlari masuk ke dalam kamar tamu dan mengunci diri di sana. Dia bahkan tidak keluar kamar sampai cahaya matahari hampir menghilang di ufuk barat. Sementara Fahri yang sudah selesai mandi, sedang termenung di balkon kamar, sambil menikmati sebatang rokok. Dan tiba-tiba ponselnya berdering dan itu panggilan telepon dari Bella.
Bela mengajak Fahri untuk menemaninya nonton. Awalnya Fahri menolak karena sedang pusing dengan masalah pribadinya. Tapi Bella tetap memaksa yang membuat pria dingin itu akhirnya menerima ajakannya.
Mereka berdua pergi ke sebuah bioskop untuk menonton film romantis yang baru ditayangkan. Karena itu malam minggu, sehingga banyak sekali orang-orang yang datang dengan pasangan masing-masing. Dengan suasana yang begitu mendukung, tanpa ragu Bella menyandarkan kepalanya pada pundak Fahri. Dan saat itu juga seseorang menjatuhkan cemilan tepat di depan kaki Fahri. Serentak Fahri mengangkat muka, dan betapa terkejutnya dia melihat Alira dengan beberapa orang temannya.
Perlahan Fahri pun bergeser sedikit menjauh dari Bella, sambil melepaskan tangan Bella yang sedang melingkar pada lengannya. Sementara Alira hanya bersikap tenang duduk di bagian pojok. Dengan semua hati dia berusaha tersenyum menanggapi candaan beberapa sahabatnya, walaupun hatinya benar-benar hancur melihat kedekatan Fahri dan Bella, yang sudah seperti sepasang kekasih.
Setelah film selesai, Alira dan teman-temannya segera pergi meninggalkan bioskop. Begitupun dengan Fahri yang memutuskan untuk mengantarkan Bella pulang terlebih dulu. Sebenarnya dia ingin segera pergi setelah Bella sudah masuk ke dalam apartemennya. Tapi Bella malah menahannya dengan berbagai macam alasan.
"Aku harus pulang." Ujar Fahri hendak melangkah keluar dari apartemen Bella. Tapi dengan cepat Bella menariknya, memeluknya erat kemudian ******* bibirnya, bahkan menggigitnya sampai terluka.
"Apa yang kamu lakukan??" Teriak Fahri sambil memegang bibirnya yang sudah terluka, setelah mendorong Bella untuk menjauh darinya.
"Fahri,, aku masih mencintaimu sampai saat ini." Bella mengungkapkan perasaannya untuk kesekian kali. Namun Fahri malah memilih pergi tanpa peduli padanya.
Fahri pulang ke rumah dengan perasaan serba salah. Dia melangkah menuju kamar tamu sambil mengingat apa yang dilakukan oleh Bella. Dan itu membuatnya sangat menyesal, karena sudah menggapainya lebih baik dari pada Alira. Perlahan dia meraih tangan Alira yang sudah tertidur pulas, setelah duduk di sampingnya. Tapi Alira tiba-tiba terbangun, dan sangat terkejut melihat bibirnya yang terluka.
"Pergi kamu dari sini!! Apa maksud kamu datang dengan keadaan seperti itu? Karena kamu ingin aku tahu, kalau kamu dan wanita baru saja selesai bercinta??" Alira berkata-kata dengan suara bergetar menahan sakit hatinya.
"Alira,, aku bisa jelasin semuanya."
"Tidak ada yang perlu dijelasin! Karena aku bukan wanita yang muda untuk dibodohi. Lebih baik kamu pergi dari sini! Dan memikirkan cara agar bisa secepatnya menceraikan aku!"
Karena tidak tahu bagaimana caranya menghadapi Alira yang sudah kembali meneteskan air mata, Fahri akhirnya pergi meninggalkannya. Sesampainya di dalam kamar, dia langsung mengobati luka dibibirnya, karena tidak ingin dilihat orang. Baik itu teman-temannya, ataupun pegawai di kantornya.
Baik Fahri maupun Alira tidur di kamar masing-masing dengan suasana hati yang semakin kacau. Setelah terbangun di pagi hari, Fahri langsung beranjak menuju kamar mandi. Dia membersihkan tubuh, juga mengibati luka di bibirnya sambil mengingat permintaan Alira untuk bercerai. Entah sadar ataupun tidak, dia pun mulai berkata-kata di dalam hati.
'Aku tidak akan pernah menceraikannya. Karena aku tak akan rela bila dia menjadi milik pria lain.'
"Ya ampun.. Apa yang terjadi denganku?? Mengapa aku jadi seperti ini?? Aku tidak ingin kehilangannya, tapi aku sudah melukai hatinya, sampai dia tak mau lagi menjalani hidup bersamaku. Aku benar-benar pria yang bodoh." Fahri berkata-kata sendirian, saat menyadari perasaan yang dimilikinya terhadap Alira.
Pagi itu Fahri sarapan seorang diri. Selesai sarapan dia memutuskan untuk bersantai di ruang nonton yang berada dekat dengan kamar tamu. Dia tidak ingin mengganggu Alira karena telah menyadari kesalahannya. Namun keyakinannya akhirnya goyah, saat melihat Alira keluar dari dalam kamar, dengan mengenakan dress pendek tanpa lengan berwarna putih. Alira melangkah menuju dapur tanpa mempedulikannya. Dan saat dia kembali, Fahri yang sudah tak tahan tetap diam, segera mengikutinya.
"Sampai kapan kamu akan tidur di kamar tamu??" Tanya Fahri setelah menghampiri Alira.
"Sampai aku pergi meninggalkan rumah ini. Cepat ceraikan aku biar aku bisa segera pergi." Jawab Alira tanpa menatap Fahri.
"Pokoknya aku nggak mau tahu. Nanti malam kamu harus ke kamar kita! Kalau tidak aku yang akan kemari." Ujar Fahri dan segera pergi meninggalkan Alira.
Seharian penuh Aliran menangis di dalam kamar. Dia tidak bisa membayangkan apa yang telah terjadi antara Fahri dan Bella semalam. Prasangka buruk telah menguasai pikirannya. Bayangan Bella makin menghantui pikirannya. Di balik ketenarannya, dia benar-benar hancur, setiap kali melihat luka di bibir suaminya. Dan setelah pukul 06.30 sore, baru dia keluar menuju dapur, menghampiri Bi Ina yang sedang menyiapkan makan malam.
"Bi,, Bibi sakit ya? Wajah Bibi pucat banget." Ucap Alira setelah melihat wajah Bi Ina yang sepertinya nggak terlalu sehat.
"Iya Non,, semalam Bibi demam." Jawab Bi Ina.
"Ya ampun Bi,, kalau lagi sakit kenapa nggak istirahat?"
"Bibi harus siapkan makan malam Non. Bi Ir lagi esuk saudaranya di Rumah Sakit."
"Kalau untuk masak biar aku saja Bi. Sini Bibi duduk dulu. Biar aku yang masak." Ucap Alira sembari meraih pundak Bi Ina, membawanya menuju meja makan.
"Bibi makan sup ini. Dan setelah itu minum obat. Bibi ada persediaan obat nggak?"
"Nggak ada Non." Jawab Bi Ina, dan saat itu juga muncul Fahri dengan kotak obat.
"Ini obatnya. Bibi makan dan langsung minum obat ya! Setelah itu istirahat!" Ujar Fahri yang ternyata sejak tadi mendengar percakapan Alira dan Bi Ina.
Fahri semakin mengagumi sosok Alira, yang begitu perhatian pada pembantu di rumah itu. Dan tanpa sepengetahuan Alira dan Bi Ina, Fahri sudah sejak tadi berada di balik pintu dapur, mendengar obrolan mereka. Dan dia segera pergi mengambil kotak obat, setelah tahu kalau tidak ada obat untuk Bi Ina. Begitu pula dengan Alira, yang seketika kagum melihat perhatian Fahri terhadap wanita paruh baya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Saima Harahap
Udah gak enak baca nya,,,,udah kepotong22 ceritaNya,,,jadi malas
2025-03-06
0
Erna Susanti
cerita nya byk yg dipotong
2024-04-27
3
Keysha Adreena
kenapa cerita berubah total gini.. dari mulai umur fahri trs langsung lompat2 ceritanya.. bagus cerita yang dulu ceritanya 🙏
2024-03-18
2