Fahri hampir berbuat kasar pada Alira karena emosi yang sudah menguasai diri. Dia keluar dari dalam kamar itu menuju ruang kerjanya, dengan kedua tangan dikepal menahan amarah. Beberapa kali dia membenturkan tangannya pada dinding meluapkan kekesalannya. Dan seketika dia pun terdiam, saat menyadari keanehannya.
'Apa yg terjadi?? Mengapa aku sangat murka di saat melihat laki-laki lain menatapnya dan memberi penilaian terhadapnya? Apa mungkin aku cemburu? Tidak-tidak, aku nggak mungkin cemburu.' Dia mulai bertanya-tanya di dalam hati, dengan kedua tangan menopang pada dinding.
"Wajar kalau aku marah, apalagi dia menerima pemberian laki-laki lain. Karena kalau diketahui orang tuaku atau orang tuanya, aku juga yang akan disalahkan.' Fahri berkata-kata dengan kepala tertunduk.
"Pak,, pak,, bapak." Suara Sinta sekretaris Fahri yang sudah berdiri di depan pintu.
"Mengapa tidak ketuk dulu sebelum masuk??" tanya Fahri dengan tampang datarnya.
"Sudah saya ketuk ulang-ulang Pak. Tapi Bapak tidak menjawab. Makanya saya langsung masuk."
"Ada apa??" tanya Fahri.
"Rapat 3 menit lagi akan dimulai. Beberapa klien penting sudah ada di ruangan," jawab Sinta.
"Oke,, mana Refan?"
"Pak Refan sudah duluan ke ruang rapat Pak."
"Ya sudah, saya ganti baju dulu baru ke sana." Fahri kembali masuk ke dalam kamar.
Selama beberapa jam Fahri berada di ruang rapat, membahas tentang proyek besar bersama beberapa klien bisnisnya. Tapi dia tidak bisa berkonsentrasi penuh, karena memikirkan masalah pribadinya. Di lubuk hati yang paling dalam, dia sangat merasa bersalah telah berbuat kasar pada Alira. Tapi dia pun tidak bisa mengendalikan emosi menghadapi Alira yang menurutnya sangat keras kepala.
Setelah mendengarkan penjelasan beberapa klien bisnisnya, Fahri langsung mengakhiri rapat dan kembali ke ruang kerjanya. Dia membuka pintu kamar dan melangkah perlahan mendekat ke arah Alira yang masih saja menangis di atas tempat tidur.
"Ayo turun!," seru Fahri sambil melepaskan jas yang dikenakannya.
Dia mengikat jas itu di pinggang Alira, untuk menutupi bagian pahanya yang terlihat. Tapi Alira yang sudah terlanjur sakit hati, segera mendorongnya dan melepaskan jas di lantai hendak melangkah pergi.
"Mau kemana kamu??" Buru-buru Fahri menarik tangan Alira.
"Aku mau pulang," jawab Alira tampa menatap Fahri.
"Kamu mau keluar pulang dengan penampilan seperti ini?? Dasar wanita tidak tahu malu."
"Aku memang sengaja ingin berjalan dengan keadaan seperti ini di depan karyawan kamu. Biar mereka tahu kelakuan atasan yang sangat mereka hormati." Alira malah mengancam.
"Alira,, kamu jangan coba-coba memancing kemarahan ku. Aku bisa berbuat lebih kejam dari pada itu."
"Aku benar-benar menyesal menikah denganmu. Karena di luar sana ada banyak laki-laki yang mau memperlakukan aku dengan baik. Bukan seperti kamu." Kata-kata Alira sontak memancing emosi Fahri.
Dengan tampang yang menakutkan dia kembali mengikat jas di pinggang Alira, dan menariknya keluar dari dalam kamar.
"Lepaskan aku!! Lepaskan!!," teriak Alira.
"Diamlah! Dan jangan coba-coba melawan!! Aku sudah sangat sabar menghadapimu," ujar Fahri sambil mencengkram tangan Alira.
Semua pegawai di kantor itu sangat terkejut melihat sikap Fahri terhadap Alira. Beberapa di antara mereka yang sudah mengetahui pernikahan Fahri hanya berpura-pura cuek. Dan sebagian besar yang belum mengetahuinya, mulai sibuk berbisik satu sama lain mempertanyakan wanita cantik yang sedang bersama atasan mereka.
Fahri melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi melintasi jalur yang jarang dilalui kendaraan, karena sering terjadi pembegalan di sekitar situ. Tapi tidak berapa lama dia langsung menepikan mobil di samping jalan, saat menyadari kalau Alira tidak menggunakan sabuk pengaman.
"Pakai sabuk pengamanannya!! Kalau kamu mau mati, jangan di mobil aku."
"Apa,, mati?? Siapa kamu sampai berani menyumpah ku??" Alira benar-benar geram mendengar ucapan Fahri.
"Aku suami kamu. Ternyata kamu bukan hanya wanita yang bodoh. Tapi kamu juga pelupa seperti orang yang sudah tua."
"Iya,, kamu suami aku. Suami yang tidak bertanggung jawab terhadap istrinya. Sampai-sampai laki-laki lain yang memberi makan istrinya." Alira benar-benar mencari masalah.
"Keluar dari mobilku!! Aku memang tidak sudi bertanggung jawab pada wanita seperti kamu. Bukan kamu saja wanita di dunia ini."
Tanpa menunggu lama, Alira melepaskan jas yang terikat di pinggangnya, dan melemparkannya pada Fahri kemudian berbalik hendak membuka pintu mobil. Tapi Fahri kembali menariknya sambil berujar.
"Alira.. Apa kamu benar-benar mau mati?? Di sekitar sini banyak begal yang sering belalul lalang."
"Lebih baik aku mati, dari pada hidup bersama pria tak punya hati sepertimu," jawab Alira sambil menatap wajah Fahri yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Dan di saat dia ingin kembali bersuara, mulutnya langsung dibungkam oleh Fahri dengan ciuman yang sangat bernafsu.
Amarah dan hasrat bergejolak di dalam hati pria dingin itu. Dia ******* bibir Nadira, menyedot lehernya yang putih dengan sangat rakus, sambil meraba kedua bukit kembar yang masih sangat padat secara bergantian. Alira yang sudah terjepit di bawah tubuh kekarnya hanya menangis tanpa bisa berbuat apa-apa. Dan tidak berapa lama, dia pun berteriak kencang, karena Fahri mengigit salah satu bukit kembarnya.
"Aaaaaa… Sakit…"
Serentak Fahri menghentikan kegilaannya, dan betapa terkejutnya dia melihat darah yang keluar dari sebelah bukit kembar yang sudah terpampang nyata di hadapannya. Perlahan Alira pun bangkit, duduk bersandar sambil merintih kesakitan.
Fahri yang semakin kebingungan dengan sikapnya, kembali menjalankan mobil tanpa berucap satu katapun. Dan hanya dalam hitungan menit mereka pun tiba di rumah. Alira yang masih terus menangis segera keluar dari dalam mobil melangkah pergi tanpa mempedulikan penampilannya.
"Tutupi paha kamu!!," seru Fahri sembari menarik tangan Alira.
"Aku nggak mau.. Biarin saja seperti ini!!," reriakan Alira yang di dengar oleh kedua mertuanya.
"Alira… Mengapa kamu begitu keras kepala." Fahri kembali menarik tangan Alira dengan sangat kasar, dan disaksikan oleh kedua orang tuanya yang baru saja keluar dari dalam rumah.
"Fahri…" Papa Indra langsung menampar Fahri di depan Alira.
"Ya ampun Fahri.. Apa yang kamu lakukan sama istrimu??" Mama Rita begitu kaget melihat rok Alira, juga leher dan bagian dadanya yang terdapat banyak tanda merah.
"Dasar anak kurang ajar.." Fahri kembali ditampar, sampai bibirnya berdarah.
"Bawa Alira masuk!," seru Papa Indra pada Istrinya.
"Pergi kamu dari sini!" Fahri langsung diusir oleh Papanya.
Mama Rita membawa Alira masuk ke dalam kamarnya. Dan sesampainya di kamar, dia langsung memeluk Alira dan menangkan apa yang terjadi.
"Apa sebenarnya yang terjadi sayang?"
"Mas Fahri tadi mau memperkosa ku dijalan Ma," jawaban Alira yang membuat Ibu mertuanya emosi.
"Mengapa dia bisa melakukan itu?"
"Aku juga nggak tahu Ma. Tiba-tiba dia marah dan berbuat kasar padaku."
"Ya sudah,, lebih baik sekarang kamu mandi, terus makan dan beristirahat! Nanti Mama yangu kasih pelajaran buat dia. Tapi kamu jangan kasih tahu sama orang tuamu, atas apa yang dilakukan Fahri," ujar Mama Rita dan hanya mengangguk.
Fahri yang diusir oleh Papa Indra, memilih pergi ke rumah Refan untuk menenangkan diri. Tapi dia yang tidak suka banyak bicara, malah merasa terganggu dengan berbagai macam pertanyaan Refan. Akhirnya dia langsung pergi meninggalkan apartemen Refan tanpa mau menceritakan masalahnya.
Sesampainya di rumah, Fahri segera melangkah menuju kamarnya di lantai atas. Kepulangannya tidak diketahui Alira juga kedua orang tuanya yang sudah tertidur. Buru-buru dia langsung mandi dan beranjak naik ke atas tempat tidur. Dan tiba-tiba diapun kebingungan mendengar hembusan nafas Alira yang tidak teratur. Perlahan dia mulai meraba kening Alira, dan menyadari kalau wanita cantik itu sedang sakit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Nah
kyk ada yg kepotong deh ceritanya ini udh ke sekian kalinya aku baca
2025-02-08
2
Alvika cahyawati
ya emg seru nich ceritanya padahal aku udah baca nich novel untuk kesekian x nya tp ngk bosen2 baca nya
2024-06-26
4
Sofik 1
anjrottt
2024-04-20
0