"Mas,, kok kita ke kantor?" Alira bertanya saat mobil Fahri sudah memasuki parkiran kantor.
"Aku ingin beristirahat sebentar di sini." Jawab Fahri yang sudah keluar dari dalam mobil, kemudian melangkah memasuki pintu utama.
Alira melangkah bersama Fahri sambil tersenyum menatap setiap pegawai yang menatapnya. Kecantikan dan keindahan tubuhnya benar-benar menyita perhatian semua orang. Mereka pun saling berbisik memuji Alira dan Fahri yang sangat serasi sebagai sepasang suami-istri.
Ternyata pernikahan Fahri sudah diketahui semua pegawai kantornya. Namun mereka dilarang oleh Revan asisten Fahri untuk memberitahukan semua itu pada orang-orang di luar sana, sesuai permintaan Fahri. Sesampainya di dalam kamar yang ada di dalam ruang kerjanya, Fahri segera berbaring di atas tempat tidur setelah melepaskan jas juga kemejanya. Itulah kebiasaan Fahri disaat tidur harus bertelanjang dada.
Alira yang sudah terlanjur mencintai Fahri, tidak dapat mengendalikan perasaan cemburu, saat mengetahui cerita masa lalunya bersama wanita lain. Dia yang tidak bisa tertidur karena gelisah memikirkan semuanya, terus bergerak membolak-balikan tubuhnya. Dan itu benar-benar membuat Fahri terganggu.
"Ayo kita pulang!" Seru Fahri setelah beberapa menit berlalu.
"Loh,, Mas kok sudah bangun?" Tanya Alira yang kebingungan melihat Fahri sudah beranjak turun dari tempat tidur.
"Bagaimana nggak bangun, kalau kamu sudah seperti orang cacingan di atas tempat tidur." Gerutu Fahri dan langsung melangkah pergi, setelah mengenakan baju.
Setelah berada di rumah, Alira yang baru saja berpakaian setelah selesai mandi, langsung menuju dapur. Sedangkan Fahri sudah duluan keluar dari kamar sambil membawa bantal di tangannya.
"Bibi." Panggil Alira yang sudah berdiri di belakang Bi Ina asisten rumah tangga.
"Iya Non. Apa ada yang bisa Bibi bantu?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu tentang Mas Fahri. Apa sebelum menikah dia sering membawa wanita ke rumah ini?"
"Kalau dibawa nggak pernah. Cuman ada seorang wanita yang sering datang ke sini saat tidak ada Nyonya dan Tuan. Kalau nggak salah namanya Bella. Waktu Den Fahri sakit, dia setiap hari datang untuk menjenguk."
"Apa saja yang sering mereka lakukan?"
"Bibi nggak tahu pasti Non. Cuman Bibi pernah lihat wanita itu suapin Den Fahri di dalam kamar. Tapi Non jangan bilang kalau Bibi yang kasih tahu. Takutnya nanti Bibi di maraghi sama Den Fahri."
"Bibi jangan khawatir! Aku nggak akan bawa nama Bibi. Lagian aku juga nggak peduli. Aku hanya ingin tahu saja." Alira bersikap cuek, berusaha memadamkan api cemburu yang semakin membara.
Demi menghibur hati Alira memutuskan untuk membantu Bibi menyiapkan makan malam. Dan setelah keluar dari dalam dapur hendak menuju lantai atas, dia pun berpapasan dengan kedua mertuanya yang baru saja pulang.
"Alira,, sini sayang! Mama belikan sesuatu buat kamu. Ini ada CD, bra, juga beberapa gaun tidur. Cocok di gunakan pengantin baru." Mama Rita begitu tulus menyayangi Alira seperti anak kandungnya.
"Makasih ya Ma. Aku pasti akan rindu sama Mama." Ucap Alira sembari memeluk Mama mertuanya.
"Mama pasti cepat kembali. Kamu dan Fahri jangan bertengkar lagi! Karena kalau kalian bertengkar, nggak ada Mama untuk belain kamu. " Ujar Mama Rita.
"Iya Ma." Alira tersenyum manis, membalas senyuman Mama Rita.
Pancaran purnama di langit luas mulai menghilang dibalik awan hitam. Semilir angin bertiup diiringi rintik hujan mengguyur, menambah kesunyian malam. Alira dan Fahri yang sudah terlelap, saling berpelukan menghangatkan tubuh satu sama lain dari kedinginan malam. Beban dan kegelisahan Alira sedikitpun tidak terlihat. Wajah cantiknya sangatlah tenang menikmati alam mimpinya.
Tepat pukul 06.00 pagi, suara alam pun berbunyi yang mengagetkan Alira dari tidur nyenyak nya. Buru-buru dia langsung mengangkat sebelah kaki Fahri dari bagian perutnya, dan membuangnya kasar karena masih sangat kesal mengingat tentang cerita masa lalunya.
"Alira.. Apa kamu nggak bisa pelan-pelan??" Fahri yang merasa kesakitan karena perbuatan Alira akhirnya terbangun.
"Makanya,, kalau tidur itu jangan sembarangan. Kamu pikir aku ini guling??" Alira berujar sambil melangkah menuju kamar mandi.
"Apa yang terjadi dengannya?" Fahri malah kebingungan.
Tepat pukul 08.30 pagi, Fahri dan Alira berangkat ke Kampus setelah kedua orang tua Fahri di antar supir pribadi menuju Bandara. Fahri menurunkan Alira beberapa meter dari arah kampus seperti biasa. Kemudian dia langsung menjalankan mobil memasuki gerbang meninggalkan Alira. Kedatangan Alira ternyata sudah dinantikan oleh beberapa orang temannya, yakni Sifa, Ara, Amel, dan beberapa orang teman laki-lakinya.
Mereka pun segera melangkah menuju gedung kampus karena ada mata kuliah yang akan dimulai beberapa menit lagi. Tapi tanpa disengaja, Alira malah menabrak seseorang karena terlalu fokus dengan sifa yang sedang membicarakan rencana liburan akhir pekan nanti.
"He… Kalau kalau jalan itu pakai mata." Ujar wanita yang ditabrak Alira.
"Terus kamu kamu jalannya pakai apa sampai bisa menabrak ku??" Alira malah menantang wanita bertubuh kurus yang sedang menatapnya tajam.
"Siapa kamu sampai berani menantang ku?? Mungkin kamu tidak tahu siapa aku."
"Kamu mau tahu siapa aku?? Aku Alira Anastasya, wanita tercantik di Kampus ini. Dan aku tidak peduli siapapun kamu." Ucap Alira dan langsung melangkah pergi bersama teman-temannya, yang begitu bangga dengan sikap Alira.
"Fahri…" Teriakan wanita itu yang membuat langkah kaki Alira terhenti seketika.
"Bella.." Panggil Fahri terhadap wanita itu.
"Kamu kenal nggak sama wanita itu?" Tanya Bella.
"Aku tidak mengenalinya." Jawaban Fahri yang begitu menyakitkan hati Alira.
"Hey,, Alira Anastasya.. Kamu dengar nggak?? Pria terpopuler di kampus ini sama sekali tidak mengenalmu. Sementara kamu bilang kalau kamu adalah wanita tercantik di kampus ini." Ucap Bela sambil memeluk lengan Fahri.
"Oh,, begitu ya?? Tapi aku pun nggak peduli mau dikenal ataupun tidak olehnya. Karena bisa aku simpulkan kalau dia adalah pria berselera rendah. Sampai dia tidak mengenaliku. Dia hanya memperhatikan juga mengenal wanita yang tidak ada bentuknya." Ucap Alira sudah berdiri tepat dihadapan Bella, sambil menatapnya dari ujung kaki sampai kepala.
"Apa maksud kamu??" Bella malah terlihat kesal.
"Kamu akan mengetahui maksud dari ucapanku, saat kamu berdiri di depan cermin besar dan memperhatikan bentuk tubuhmu." Jawab Alira kemudian berbalik melangkah pergi bersama teman-temannya.
Selama beberapa jam Alira berada di dalam ruangan menerima mata kuliah untuk hari itu. Dan setelah selesai, dia dan teman-temannya segera bergegas ke kantin. Di sana mereka kembali bertemu dengan Bella, Fahri, juga teman-teman Fahri. Alira bersikap cuek, walaupun hatinya semakin panas melihat Bella memeluk Fahri untuk yang kedua kalinya di depan umum.
Selesai makan, tanpa menunggu lama, Alira dan teman-temannya segera meninggalkan kantin, bersamaan dengan Fahri juga rombongannya. Fahri yang terlihat begitu tenang, ternyata sedang kebingungan memikirkan sikap juga kata-kata Alira tadi. Dan tidak berapa lama, situasi berubah tegang, saat Alira di panggil oleh seorang Dosen muda bernama Pak Anton.
"Alira.."
"Iya Pak." Jawabnya dengan senyum manis.
"Apa kamu sudah makan?"
"Sudah Pak. Memangnya kenapa ya Pak?" Alira mulai bereaksi, bersikap centil di hadapan Fahri.
"Tadinya mau Bapak ajak makan bersama."
"Ya ampun Pak,, makasih loh. Tapi lain kali saja ya Pak. Soalnya aku sudah kenyang." Jawab Alira, kemudian melanjutkan langkah. Tapi Pak Anton kembali memanggilnya.
"Alira.."
"Iya Pak." Alira kembali berbalik menghadap Pak Anton.
"Kamu cantik banget."
"Makasih banyak atas pujiannya Pak. Bapak juga sangat tampan." Jawabnya dengan tingkah genitnya, yang membuat Pak Anton tersipu malu.
Alira yang begitu kesal karena cemburu melihat kedekatan Fahri dan wanita bernama Bella, memilih untuk ikut bersama Ara, dan ingin menginap di rumahnya. Mereka pergi ke tempat ara, menaiki angkutan umum. Sementara Fahri yang juga tidak kalah kesal melihat sikap Alira saat menanggapi pujian Pak Anton, sudah melajukan mobilnya meninggalkan kampus, tanpa mempedulikan Bella dan teman-temannya.
Sesampainya di rumah, dia langsung menanyakan Alira pada semua pekerja. Baik itu pembantu, tukang kebun, juga supir pribadi. Tapi jawaban semua orang semakin membuatnya kesal. Karena mereka semua belum melihat Alira kembali ke rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Borahe 🍉🧡
alurnya kok kek buru"banget. jd kek ngos ngosan bacanya. seloww dong Thor
2024-07-09
2
Alvika cahyawati
aku nich baca novel ini udah 3x nya bagus ceritanya
2024-06-26
1
Emi Btsuhari
aku membaca cerita ini sudah ke 3 kalinya aku kira akan kembali ke cerita di mana sebelum di potong ternyata masih sama ada yg ilang yhor knapa g di balikin lgi cerita sebelum ada yg di potong
2024-04-25
1