Hari pertama masuk Kampus Alira sudah menyita perhatian para kaum pria di sekelilingnya. Terutama para pria yang berada satu ruangan dengannya. Keadaan di dalam ruangan itu seketika heboh dengan kehadiran Alira. Mereka semua saling bergantian berkenalan dengan Alira, laki-laki maupun perempuan. Keramahan juga keceriaan Alira membuatnya tidak sulit untuk mendapatkan teman di Kampus.
Ada beberapa wanita juga pria yang langsung akrab dengan Alira. Mereka adalah Sifa, Ara, Amel, Agus, Baim dan Arif. Selesai menerima mata kuliah pertama, mereka memutuskan untuk makan bersama-sama di kantin. Saat melewati depan gedung yang berada terpisah, Alira langsung diperhatikan oleh beberapa senior salah satunya Fahri.
"Wow... Bodinya mantap bangat tuh."
Anton salah satu kakak senior di Kampus langsung bersuara.
"Siapapun pria yang menikahi wanita itu pasti nggak bisa tidur setiap malam. Bayangin saja bagaimana bentuknya kalau dia melepaskan semua pakaiannya. Pasti menggiurkan banget," sambung Alex teman Fahri yang lainnya.
"Hmmm..." Fahri hanya bisa mendesah.
"Kenapa Bro? Nggak tahan ya loh liatin tuh gitar Spanyol?" tanya Rian salah satu dari mereka.
"Apa-apaan sih kamu?" cetus Fahri sembari menundukkan kepala, dan mulai bergumam di dalam hati.
'Kelewatan banget Alira. Apa dia nggak sadar dengan penampilannya itu?'
"He Bro,, kamu kenapa? Awas jangan berpikir macam-macam melihat yang berisi kaya gitu," ujar Rian lagi yang tidak sengaja melihat ekspresi Fahri.
"Ayo kita pergi!" Fahri malah mengajak pergi.
Fahri dan teman-temannya pun bergegas ke kantin setelah Alira dan teman-temannya sudah tidak terlihat.
"Eh, eh, eh.. Tu lihat. Cowok tertampan di kampus ini juga mau makan di sini," ujar Sifa sambil mencolek lengan Alira.
"Mana, mana?" tanya Amel.
"Astaga Amel. Kok kamu nggak lihat makhluk Tuhan yang paling sempurna itu. Mata itu digunakan untuk melihat yang indah indah seperti Kak Fahri." Sifa berkata sambil menunjuk ke arah Fahri, yang sedang melirik ke arah mereka sekilas.
"Itu kan dia lihatin kita. Kamu sih bikin malu saja," ujar Sifa.
'Apa semua wanita di Kampus ini mengidolakan Mas Fahri? Hmmm,, dia saja sudah seperti gundukan salju," batin Alira sambil merogoh tas, mencari dompetnya yang ternyata ketinggalan di rumah.
"Ya ampun,, dompetku ketinggalan di rumah," ujarnya.
"Itu bukan masalah. Biar aku yang traktir, tapi ada satu syarat. Aku harus mengantarmu pulang," seru Agus yang dikenal playboy.
"Nggak usah lah Gus,, nanti uang kamu berkurang." Alira malah bercanda dengan senyum genitnya, tanpa menyadari tatapan Fahri.
"Aku nggak masalah biar jatuh miskin karena kamu sayang," jawab Agus tidak kalah genit.
"Dasar buaya." Serentak Sifa, Amel dan Ara menyerang Agus.
Selesai makan Alira dan teman-temannya bergegas kembali ke ruangan. Namun setelah melewati sebuah lorong, Alira pun meminta teman-temannya untuk pergi duluan.
"Kalian duluan ya. Aku mau ke toilet sebentar." Alira yang sudah kebelet buru-buru berlari menuju toilet, tanpa menyadari keberadaan seseorang yang sedang memperhatikannya.
"Apa-apaan sih kamu Mas?? Lepasin tangan aku!" Alira yang begitu kaget berusaha menarik pergelangan tangannya dari cengkraman Fahri. Namun Fahri sama sekali tidak peduli dan terus menariknya menuju sebuah lorong sepi.
"Lepas Mas! Sakit.." Alira berkata-kata dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Kamu pulang jam berapa?" tanya Fahri tapi Alira malah terdiam.
"Alira.. Apa kamu nggak dengar..??" teriakan Fahri yang membuat Alira jadi ketakutan.
"Jam dua nanti," jawab Alira singkat dengan suara bergetar menahan tangis.
"Tunggu aku di mobil! Ini kunci mobilnya. Buka pintu dan masuk tunggu aku di dalam," perintah Fahri dengan tatapan yang sangat menakutkan.
Setelah itu Fahri pergi dan tak lama Alira pun ikut pergi. Alira mencuci mukanya terlebih dulu di dalam toilet biar tidak kelihatan sembab oleh teman temannya.
Setelah jam pulang Alira buru-buru meninggalkan ruangan menuju mobil Fahri. Dia melakukan apa yang diperintahkan Fahri karena tidak ingin mencari masalah. Dan tidak berapa lama dia melihat Fahri yang sedang diikuti seorang wanita.
"Fahri..," panggil Tania seorang wanita yang selalu mencari perhatian Fahri.
"Ada apa Tan?"
"Aku mau numpang pulang." Wanita itu langsung memeluk lengan Fahri.
"Maaf ya Tan,, aku ada urusan penting." Fahri pun menolak dan melanjutkan langkahnya.
Tania yang berulang kali di tolak Fahri hanya bisa tersenyum walau hatinya begitu sakit. Fahri menjalankan mobilnya tanpa mempedulikan Alira.
"Turun!," perintah Fahri.
"Kok kita ke Kantor bukannya pulang?" protes Alira saat menyadari kalau mereka berada di depan kantor Fahri.
Tanpa menjawab pertanyaan Alira, Fahri keluar dari dalam mobil menarik tangannya menuju lift.
"Mas,, lepasin tangan aku! Lepasin Mas! Malu diliatin orang."
Fahri sama sekali tidak peduli. Dia terus menarik tangan Alira masuk ke dalam ruang kerjanya. Kemudian dia menyandarkan Alira ke dinding sambil menatapnya tajam.
"Lepaskan aku Maas..! Mengapa kamu seperti ini padaku??" tanya Alira sedikit berteriak.
Teriakan Alira barusan semakin membuat Fahri terlihat menakutkan. Tanpa berkata-kata dia meraih ujung rok Alira dan menariknya kasar. Apa yang dilakukan Fahri sangat mengejutkan Alira. Dia sungguh tak menyangka Fahri akan berbuat sekasar itu. Bagian pahanya kini terpampang nyata karena rok mini yang dikenakannya robek sampai di bagian pinggang.
Menyadari keadaannya, Alira langsung berteriak dan menangis dengan sangat kencang. Tangisan Alira sama sekali tidak berpengaruh pada Fahri. Buru-buru mengangkat tubuh Alira, membawanya masuk ke dalam kamar yang ada di dalam ruang kerjanya, dan melemparnya ke atas tempat tidur.
"Mas... Apa salahku?? Mengapa kamu melakukan ini padaku??" Alira berteriak dan menangis, sambil menutupi bagian pahanya menggunakan selimut.
"Mengapa di tutup?? ha.. Kamu malu sama aku??" teriak Fahri tapi tidak dijawab oleh Alira.
"Kamu itu harusnya malu mengenakan pakaian kaya gini di depan umum. Kenapa di depan aku sendiri baru kamu malu??" Dengan kesal Fahri berkata-kata.
"Aku itu suami kamu yang berhak atas dirimu. Kamu harus tau itu.!!," tambah Fahri dengan nada yang keras.
"Tapi jangan kamu berfikir aku seperti ini karena cemburu. Aku tidak ada rasa apapun sama kamu, karena pernikahan kita hanya atas dasar perjodohan orang tua," lanjut Fahri.
"Kalau menurutmu pernikahan ini tidak ada artinya, untuk apa juga kamu harus marah seperti ini hanya karena penampilanku? Itu bukan urusan kamu." Kata-kata Alira yang membuat Fahri langsung mengangkat tangan hendak menamparnya.
"Ayo tampar!! Tampar aku!! Ayo!! Ayo tampar aku!!" Alira berteriak sambil menarik kerah baju Fahri.
Fahri yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, dengan segera berbalik menghadap pintu hendak keluar. Namun tindakannya malah membuat beberapa kancing kemejanya terlepas, karena tangan Alira masih memegang kencang kerah kemejanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Jisoo
kata' untuk Agus
"fisik bisa dirubah
materi bisa dicari
tapi yg seperti aku tidak datang dua kali"
naziss mending ga dateng aja sekalian
2025-01-31
0
Alvika cahyawati
waah fahri kasar jg ya bisa kali kasih tau nya dngn cara baik2 jgn kasar aplg alira kan baru lulus SMA baru usia 18 thn wajar donk seperti itu
2024-06-26
2
Cah qzx Tekel
huh mantap trus lanjut
2024-05-25
0