Rasa kesal dan gengsi Fahri hilang seketika saat itu juga. Buru-buru dia pergi meninggalkan kamar, mengambil baskom berisi air hangat, kain kompres, juga obat untuk Alira. Dan setelah kembali ke kamar, dia langsung menempelkan kain yang sudah dicelupkan ke dalam air hangat pada kening Alira. Serentak Alira pun terbangun, dan langsung bangkit sambil memundurkan posisi sedikit menjauh.
"Ayo berbaring!," seru Fahri dengan nada suara yang begitu berbeda. Tapi Alira malah membuang muka.
"Nggak perlu!," cetus Alira dengan suara bergetar.
"Aku nggak mau tangan kotor kamu itu menyentuhku. Lebih baik aku sakit daripada diobati sama kamu. Aku jijik sama kamu," tambah Alira yang sudah berlinang air mata.
"Apa maksud kamu? Aku tuh baru saja mandi," ujar Fahri.
"Ini sudah sangat larut, tapi kamu tetap mandi. Ngapain saja kamu diluar??"
"Maksud kamu apa??" tanya Fahri dengan tampang kebingungan.
"Kamu yang lebih tahu," cetus Alira.
"Aku nggak ngerti sama kamu Alira. Ayo minum obat ini!" Fahri mengulurkan tangan, memberikan obat pada Alira.
Tanpa menoleh, Alira langsung mendorong kasar tangan Fahri, sehingga obat yang ada di tangannya jatuh berceceran di atas lantai. Hal itu benar-benar memancing emosi Fahri.
"Aliraaaaa," teriak Fahri dengan tatapan yang sangat tajam.
Air mata pun mulai menetes membasahi wajah Alira. Dia benar-benar kecewa dan sakit hati dengan sikap Fahri yang sangat kasar terhadapnya. Dan kekecewaannya telah menggambarkan rasa yang berbeda, tanpa disadarinya. Dia segera turun dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu. Tapi dengan cepat Fahri langsung meraih tangannya sembari berujar.
"Alira,, aku minta maaf atas kejadian tadi siang."
"Tadi siang kamu siksa aku sampai aku jadi sakit seperti ini, setelah itu kamu pergi bersenang senang sama wanita lain dan pulang sampai selarut ini." Alira akhirnya mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya.
"Apaaa?? Bersenang-senang sama siapa??" Fahri semakin kebingungan.
"Sama wanita kening botak, muka pucat yang memeluk lengan kamu di parkiran Kampus tadi siang. Aku jijik sama kamu. Dasar bajingan." Berusaha Alira menarik tangannya dari cengkraman Fahri.
"Kamu gila?? Sejak kapan aku bersenang-senang sama Tania??"
"Stop..!! Aku nggak mau dengar nama itu. Pergi kamu dari sini!! Pergi!!," teriak Alira dan langsung memukuli Fahri dengan sekuat tenaga di bagian dadanya.
"Aku dari apartemen Refan. Sejak tadi aku menenangkan diri di sana." Fahri kembali mencengkram kedua tangan Alira.
"Sama siapa kamu di sana??" Tatapan Alira penuh kecurigaan.
"Ya sama Refan. Mau sama siapa lagi??"
"Siapa kuntilanak itu??" Pertanyaan Alira yang membuat Fahri pun menyadari akan sesuatu.
"Kamu cemburu??" Pertanyaan Fahri sungguh mengejutkan Alira. Dan dia menyadari perasaannya.
"Kalau iya,, memangnya kenapa?? Apa aku salah?? Aku ini istri kamu. Kamu mau terima ataupun tidak, aku berhak atas dirimu," jawab Alira tanpa berpikir panjang.
"Begitupun dirimu. Dan aku tidak suka melihat kamu menerima pemberian laki-laki lain. Apa kata orang tuamu kalau sampai mereka tahu."
Betapa kecewanya Alira mengetahui kalau Fahri melarangnya menerima pemberian pria lain, hanya ingin menjaga nama baik di depan kedua orang tuanya. Bukan karena ada perasaan lain terhadapnya.
"Aduuuh,, sakit.." Alira tiba-tiba merintih.
"Ada apa?? Kamu kenapa??" tanya Fahri setelah Alira sudah duduk di atas tempat tidur, sambil memejamkan mata menahan sakit.
"Luka gigitan kamu tadi siang sakit banget," jawab Alira yang sudah kembali menangis karena kesakitan.
"Aku minta maaf. Lebih baik sekarang kamu minum obat ini dulu!," seru Fahri sambil memberikan obat penurun panas buat Alira, juga segelas air putih.
Selesai minum obat Alira langsung berbaring. Tapi itu membuat luka di sebelah gunung kembarnya semakin terasa nyeri. Dia kembali menjerit dan meminta Fahri untuk memanggil Ibunya. Tapi Fahri pun menolak karena takut dimarahi lagi oleh kedua orang tuanya. Karena tidak tahu harus berbuat apa, Fahri pun memilih untuk menanyakan solusi pada temannya seorang Dokter, melalui pesan whatsapp.
"Rani,, kamu sudah tidur ya?" Isi pesan yang dikirim Fahri.
"Belum. Ada apa? Tumben kamu hubungi aku," balas temannya yang bernama Rani.
"Ran,, aku mau nanya nih. Untuk mengurangi rasa nyeri di ****** susu wanita bagaimana caranya?."
"Oh,, itu hal yang biasa kalau untuk Ibu menyusui. Tapi kalau anaknya menyusui, sakitnya akan hilang sendiri," balas Dokter Rani yang membuat Fahri malah kebingungan.
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Fahri.
"Karena lukanya basah. Jadi sakitnya berkurang. Nanti kalau sudah mengering baru terasa nyeri lagi. Tapi nanti akan sembuh dengan sendirinya."
"Ya sudah,, makasih ya Ran. Maaf aku sudah mengganggu," balas Fahri mengakhiri obrolan singkat mereka.
"Mas,, kamu lagi apa sih? Aku lagi kesakitan kamu malah sibuk dengan ponsel. Kamu harus bertanggung jawab Mas. Aku seperti ini karena perbuatan kamu."
"Iya,, ini aku lagi menanyakan solusi sama Dokter Rani."
"Siapa Dokter Rani?" tanya Alira dengan tatapan mencari tahu.
"Dia kakak kelasku waktu di bangku sekolah SMP dan SMA. Sekarang dia jadi Dokter."
"Terus apa katanya?" tanya Alira.
"Katanya luka di ****** susu itu akan terasa nyeri kalau nggak dibasahi."
"Bagaimana caranya mau di basahi? Aku saja lagi demam. Kalau kena air malah tambah kedinginan aku," protes Alira.
Karena Alira menolak Fahri pun tak dapat melakukan apapun, walaupun dia sudah menemukan caranya. Perlahan dia mulai membaringkan tubuh di samping Alira sambil memejamkan mata. Tapi tidak berapa lama Alira kembali merintih, yang membuatnya benar-benar jenuh karena tidak bisa untuk tidur. Padahal waktu sudah sangat larut.
"Alira,, sampai kapan kamu mau menangis seperti ini? Apa kamu nggak ngantuk?"
"Ya ngantuk. Tapi bagaimana bisa tidur kalau sakit seperti ini?"
"Ya sudah,, kalau gitu kamu berbalik menghadap aku! Ayo sini!," seru Fahri sembari meraih pundak Alira.
Perlahan Alira pun berbalik menghadapnya. Dan betapa kagetnya Alira, saat Fahri mulai mengangkat bajunya. Buru-buru dia langsung meraih tangan Fahri sembari bertanya.
"Kamu mau apa Mas??"
"Hanya dengan cara ini rasa nyerinya bisa berkurang," Jawaban Fahri yang membuat Alira perlahan melepaskan tangannya.
"Mas,, apa yang kamu lakukan??" Alira semakin kaget melihat Fahri menempelkan wajah dan mulai menyedot benda kenyal dihadapannya.
"Aku suami kamu. Dan aku berhak atas dirimu sepenuhnya," jawab Fahri dan kembali melanjutkan kegiatannya.
Saat itu baik Alira maupun Fahri sangat menegang dengan apa yang sedang terjadi. Perlahan Alira mulai meremas lengan Fahri, yang membuat Fahri hampir tak bisa menahan diri. Karena menyadari hal itu, Fahri akhirnya menghentikan kegiatannya. Dan Alira yang sangat malu atas kejadian barusan, segera berbalik membelakanginya tanpa bisa berkata-kata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Li Xian LinLu
ini Ceritanya Kek ngebut gituu ad yg kepotong
2025-03-05
0
Sinta Supriyanti
Kak Riska cerita nyaa kaya ada yg beda dri yg pas pertama Aku baca thun 2022 lalu,,
2024-09-08
1
Linda Setyo
ceritanya kok berubah ya kak,, nggak kya pas aku baca pertama kali,, pdahal pas baca itu waktu itu, sampai aku ulang dri awal pas ceritanya udah habis,, stelah agk lama nggak buka, dan sekarang mulai baca lg udh beda aja😅
2024-04-13
4