Sepeninggal Bi Ina, kini hanya tinggal Fahri dan Alira yang berada di dapur. Beberapa potong ayam tampak hampir matang di penggorengan. Alira terus memasak tanpa memedulikan suaminya yang diam-diam memerhatikan.
'Aku nggak mungkin menceraikan dia. Pernikahan ini hanya untuk satu kali.' Fahri menanamkan pemikiran tersebut dalam benak.
Mereka menikmati santapan dalam diam. Tidak ada yang berniat memulai pembicaraan.
Keheningan itu pecah oleh suara dering telepon milik Fahri. Lelaki itu segera mengangkat panggilan melihan nama Anton tertera di layar.
Alira tidak begitu jelas menangkap pembicaraan suaminya di telepon karena Fahri hanya menjawab singkat. Setelah sambungan telepon terputus lelaki itu langsung beranjak dari ruang makan.
Alira jadi heran siapa dan ada keperluan apa dengan si penelepon karena Fahri terlihat buru-buru. Setelah membersihkan meja makan Alira keluar untuk membuang sampah.
Saat Alira masuk ke dalam rumah, Fahri sudah siap dengan pakaian santainya. Namun, penampilannya itu lebih mencolok dibanding biasa.
"Dari mana kamu?" tanya Fahri seraya menatap Alira. Gadis itu cuek dan memilih terus berjalan.
"Alira, aku nanya kamu dengar nggak, sih?" Fahri menarik tangan Alira dengan sedikit kasar. Tarikan yang cukup kuat membuat Alira menubruk dada bidang suaminya kemudian bersandar karena Fahri enggan melepaskan.
"Mau sampai kapan kita begini? Aku ini suami kamu," tanya Fahri lembut.
"Sekarang aku tanya, bagi kamu aku itu siapa? Istrimu bukan? Wanita mana yang nggak marah melihat suaminya pulang dengan keadaan bibir berdarah? Aku kepikiran, menangis sampai nggak bisa tidur semalaman. Apa yang sudah kamu lakuin sama dia, Mas?" Alira mengatakan dengan bibir bergetar menahan tangis.
"Aku bisa jelasin. Wanita itu yang tiba-tiba nyosor duluan. Aku udah nolak, dia menggigit ku sampai berdarah. Mana mungkin aku selingkuh dengan wanita lain kalau sudah ada kamu?" Fahri merangkum wajah istrinya. Tetes-tetes air mata mulai turun dari sana.
Alira berusaha mencari kejujuran dari tatapan Fahri dan sialnya memang dia temukan. Maka dari itu tidak ada pilihan selain percaya. Semoga sang suami dapat mempertanggung jawabkan apa dia katakan.
Fahri mengecup kedua mata Alira yang basah lalu turun ke bibir memberikan hisapan lembut di sana. Alira memejamkan mata dan mulai membalas. Berusaha menyalurkan apa yang dia rasakan di sana. Ciuman itu terlepas setelah beberapa saat.
"Mas mau ke mana?" tanya Alira menyusut air mata.
"Ke bar sama Anton, kamu mau ikut?"
"Tidak. Aku istirahat saja di rumah." Alira menggelengkan kepala.
"Aku minta maaf atas semuanya."
Fahri sadar jika dia mulai jatuh cinta dengan Alira dan tidak ingin kehilangan wanita itu. Meskipun dia tidak pernah mengucapkannya dengan kata-kata.
"Ambil barang-barang kamu dan kembalilah ke kamar kita. Aku pergi dulu." Fahri mengecup sekilas kening Alira lalu beranjak pergi.
Di dalam bar, ternyata tidak hanya Anton dan teman-temannya, tetapi juga ada Bela bersama dua kawan bulenya. Mereka memperkenalkan diri sebagai Monika dan Alexa.
Anton meminta maaf karena tidak kuasa berbohong pada Bela mengenai keberadaan Fahri. Terlebih mereka merupakan saudara sepupu.
Tidak ada seorang pun kecuali Bela, Alexa, dan Monika menyadari jika ada sesuatu yang dimasukkan ke dalam minuman Fahri. Berdasarkan informasi dari Alexa dan Monika, efek sesuatu itu sangatlah dahsyat. Mampu membuat seseorang yang meminumnya tidak kuasa menahan gejolak dan akan kecanduan dengan siapa saja orang pertama yang berhubungan dengannya. Bela tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mendapatkan Fahri seutuhnya.
Fahri menyesap minumannya dan mulai merasa ada yang aneh setelah beberapa saat. Lelaki itu dapat menebak jika ini perbuatan Bela apalagi melihat senyum puas di wajahnya. Anton dan yang lain juga biasa saja. Tidak tampak mencurigakan.
"Dasar ****** sialan!" desis Fahri.
"Lo baik-baik aja?" tanya Anton melihat Fahri limbung.
"Nggak apa-apa, cuma mau ke toilet sebentar."
"Nanti balik lagi ya, Ri." Bela mengerling manja.
Fahri meninggalkan kerumunan tidak berniat untuk kembali. Dia hanya ingin pulang sekarang. Tanpa menunggu waktu lama, Fahri menghubungi asistennya untuk datang ke bar menggunakan taksi. Dia tidak mungkin bisa menyetir dengan keadaan sekarang.
Sementara itu Bela kalang kabut di bar karena Fahri tidak juga kembali. Takut Fahri akan melakukan dengan wanita selain dirinya.
Refan datang tidak lama kemudian dan langsung masuk ke dalam mobil. Lelaki itu mengernyit melihat tampang Fahri yang aneh. Biasanya, walaupun mabuk Fahri tidak pernah sampai seperti ini. Bosnya duduk bersandar di belakang dengan tatapan ..., sayu?
"Nggak ada masalah kan, Fa?" tanya Refan.
"Cuma sedikit pusing." Fahri berbohong dan mengisyaratkan Refan untuk segera pulang.
"Kamu bisa pulang bawa mobilku," ucap Fahri kepada Refan seraya tergese-gesa membuka pintu mobil.
Keringat membanjiri tubuh, Fahri berjalan terseok menuju pintu yang sialnya terkunci. Fahri mengetuk pintu tidak sabar.
Alira yang baru saja menyelesaikan tugas kuliah mendengar suara gedoran di pintu rumahnya. Siapa yang datang? Suaminya belum lama pergi. Tidak mungkin sudah kembali secepat ini.
Takut, Alira mengintip dari jendela. Matanya segera terbelalak melihat Fahri yang tampak payah bersandar pada daun pintu.
"Astaga, Mas! Kamu habis berapa botol?" Alira membuka pintu dengan kunci yang dipegangnya.
Alih-alih menjawab, Fahri justru menubruk tubuh Alira dan menyembunyikan wajah di ceruk leher istrinya. Hasratnya meminta dipuaskan malam itu juga.
"Mas, kamu mabuk!" Alira berusaha menjauhkan tubuh Fahri dengan mendorongnya.
"Tolong aku, Ra! Aku butuh kamu. Bela memasukkan sesuatu ke dalam minumanku. Aku nggak mau melakukannya selain sama kamu," bisik Fahri serak tampak sekali menahan sakit.
"A ..., apa kamu bilang?"
Pertanyaan Alira terbungkam karena Fahri sudah melancarkan serangan. Menuntut dan memaksa bibir Alira untuk terbuka. Deru napas mereka saling beradu seiring gairah yang memuncak.
Tangan Fahri mulai nakal menggerayangi seluruh tubuh Alira kemudian mengangkatnya. Alira melingkarkan kaki ke pinggang Fahri yang mengangkatnya menuju sofa. Bagian atas baju tidur Alira dibuka secara kasar. Fahri mengecup dan meninggalkan beberapa tanda di sana. ******* lolos dari bibir mereka berdua terlebih Aira.
Suara itu tidak luput dari pendengaran Bi Ina yang sedang berjalan menuju dapur. Perutnya keroncongan minta diisi. Di dalam temaramnya lampu depan, tampak dua orang asyik memadu kasih di atas sofa. Bi Ina menutup mulut terkejut dengan pemandangan yang baru kali ini dilihatnya. Lalu menggeleng geli. Ternyata majikannya bisa buas juga. Tidak ingin mengganggu, Bi Ina pun kembali ke kamar. Urung mengisi perut.
Sofa yang sempit menyulitkan pergerakan Fahri apalagi setelah menangkap siluet orang di dekat pintu. Lelaki itu pun menggendong Alira yang pasrah ke dalam kamar kemudian membaringkannya di atas ranjang.
"Pelan-pelan, Mas. Aku takut," pinta Alira manja.
"Tenang saja, Sayang. Ini tidak akan sesakit yang kamu bayangkan."
Malam itu, Tuhan menjadi saksi bersatunya dua manusia untuk kali pertama. Juga senyum bahagia yang tercipta karena cinta bukan untuk satu orang saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Tining Revi
perasaan fahri sama alira ngelakuinnya di meja makan deh.
2024-11-13
3
Jaya Cell
saya sudah baca berkali"kok banyak yg dipotong ya gk asik donk bacanya
2024-10-03
6
Cynda Dewani
banyak banget yang si potong
2024-09-07
0