Pukul 6.00 pagi Fahri terbangun karena mendengar suara alarm. Dan seketika dia pun terpana melihat Alira, yang sedang terlelap dengan sebelah tangan berada di atas perutnya. Perlahan dia meletakkan tangan Alira di atas guling, dan segera bergegas menuju kamar mandi. Selesai mandi dia langsung berpakaian dan pergi meninggalkan kamar tanpa membangunkan Alira. Dia melangkah menuju dapur untuk sarapan bersama kedua orang tuanya.
"Dimana Alira? Apa dia tidak ke kampus?" tanya Mama Rita.
"Nggak Ma. Soalnya dia lagi sakit, dan masih tertidur. Nanti siang aku akan mengantarnya ke Dokter," jawab Fahri sambil meraih segelas susu dan meminumnya.
"Hari ini kamu ujian?" tanya Papa Indra yang memang tidak bisa terlalu lama mendiami Putra semata wayangnya itu.
"Iya Pa. Papa dan Mama kapan berangkat ke Korea?" jawab Fahri.
"Besok pagi. Tapi Papa mau ingatkan sama kamu, jangan pernah sakiti istrimu! Apa kata kedua mertuamu kalau tahu Putrinya disakiti," ujar Papa Indra.
"Iya Pa. Lagian kemarin aku seperti itu karena kesalahannya." Fahri masih membela diri.
"Apapun alasannya kamu jangan seperti itu! Mana ada seorang suami mau memperkosa istrinya di jalan? Apa kamu nggak malu kalau dilihat orang? Apa kamu mau, nama kamu yang selalu ada di surat kabar, juga berita sebagai pengusaha muda tersukses di tanah air, berubah menjadi pengusaha mesum yang mau mencabuli istrinya sendiri," ucapan Mama Rita yang membuat Papa Indra tersedak saking kagetnya.
"Ya ampun Pa,, pelan-pelan dong makannya!" Mama Rita seketika khawatir melihat suaminya yang hampir memuntahkan makanan dari dalam mulutnya.
"Fahri,, Alira itu istri kamu. Dan dia wanita baik-baik. Kamu jangan memperlakukannya seperti itu! Dia itu anak perempuan satu-satunya kedua mertua kamu." Papa Indra kembali marah mendengar ucapan Istrinya.
"Iya Pa. Aku minta maaf," ucap Fahri.
"Ya sudah,, tapi jangan ulangi lagi!," jawab Papa Indra dengan tampang datarnya.
Selesai sarapan Fahri pun menyalami tangan kedua orang tuanya, dan langsung berangkat menuju kampus. Dalam perjalanan dia terus memikirkan Alira, yang telah memberitahukan semuanya kepada orang tuanya. Fahri benar-benar merasa ditelanjangi di depan kedua orang tuanya.
Alira yang baru saja bangun serentak kaget melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10.30 siang. Buru-buru dia mandi dan berpakaian, kemudian turun ke lantai bawah. Tidak ada yang ditemuinya di dalam rumah baik itu Fahri maupun kedua mertuanya.
"Bi,, Papa sama Mama pergi kemana?" tanya Alira setelah masuk ke dalam dapur.
"Tuan dan Nyonya lagi keluar menemui klien bisnis, juga berbelanja perlengkapan buat keberangkatan ke Korea besok," jawab Bi Ina.
"Kalau Den Fahri pergi ke kampus. Tapi katanya siang akan pulang karena mau mengantarkan Non Lira ke Dokter," lanjut Bi Ina.
"Oh iya Bi," jawab Alira, dan segera beranjak naik ke lantai atas kembali ke kamar.
Setelah menyelesaikan ujian, Fahri pun pergi meninggalkan kampus tanpa menunggu beberapa temannya yang lain seperti biasa. Tidak lupa dia mengabari Dokter Rani, untuk memberitahukan kalau mereka akan menemuinya. Dia juga menghubungi Alira saat dalam perjalanan, menyuruhnya untuk segera bersiap-siap. Karena dia tidak ingin menunggu lama.
Selesai berbicara dengan Fahri, Alira pun bergegas untuk bersiap-siap. Saking buru-buru dia sampai lupa dengan lukanya. Dan tiba-tiba dia berteriak kesakitan di dalam kamar mandi, saat melepaskan bra yang sudah menempel dengan lukanya.
"Aaaaa… Aduh,, perih banget." Alira menjerit kesakitan.
Alira yang tidak kuat menahan sakit kembali menangis di dalam kamar mandi. Apalagi saat melihat lukanya yang sudah mengeluarkan darah. Dan tidak berapa lama, terdengar ketukan pintu, diiringi suara Fahri.
"Alira.. Alira kamu lagi ngapain?" Fahri pun panik.
"Aku lagi menangis.." Jawab Alira apa adanya. Dan tanpa menunggu lama Fahri langsung membuka pintu.
Melihat Alira yang hanya mengenakan ****** *****, Fahri seketika mematung dan menegang dalam sekejap. Dan hal itu membuatnya benar-benar kesal pada dirinya sendiri, sejenak dia menundukkan kepala, mengatur nafas berusaha mengendalikan diri sambil berkata-kata di dalam hati.
'Mengapa aku jadi seperti ini? Aku memang seperti pria mesum setiap kali melihatnya.'
"Mas,, ngapain kamu disitu?? Sana keluar! Aku mau ganti baju." Alira pun mengusirnya.
"Ya sudah cepat!," seru Fahri sambil melangkah keluar dari dalam kamar mandi.
Hampir setengah jam Alira akhirnya keluar dengan penampilan yang sudah sangat rapi. Dia mengenakan celana jeans juga kemeja berwarna putih. Buru-buru dia memakai bedak juga lipstik di depan meja rias, dan mereka langsung pergi.
"Fahri,, kamu tambah ganteng. Ini istri kamu?" Dokter Rani begitu ramah menyambut kedatangan Fahri dan Alira.
"Iya,, Ini istri aku. Namanya Alira," jawab Fahri.
"Ayo silahkan masuk!," seru Dokter Rani, dan mereka pun melangkah menuju ruang tamu.
"Pantesan kamu selalu jual mahal sama semua wanita sejak masih sekolah. Ternyata wanita yang dijodohkan denganmu secantik ini? Masih muda, seksi, juga menarik. Daripada Bella dan Tania." Dokter Rani sangat mengagumi kesempurnaan Alira.
"Ngomong-ngomong apanya yang mau diperiksa?" tanya Dokter Rani.
"Ini Dok. Ujungnya luka. Ada nggak salep atau obat yang langsung bisa menyembuhkannya? Soalnya perih banget. Aku sampai kesulitan mengenakan bra." Alira berujar dengan begitu polosnya, sambil membuka beberapa kancing baju, memperlihatkan keadaan sebelah gunung kembarnya. Saat itu juga Fahri menundukkan kepala.
"Ada kok ada. Sini ikut aku!" Sepertinya Dokter Rani mengerti dengan keadaan Fahri.
"Coba aku lihat," ujar Dokter Rani setelah berada di dalam sebuah ruangan.
Tanpa ragu Alira langsung membuka beberapa kancing kemejanya, dan memperlihatkan luka di ****** susunya. Betapa kagetnya Dokter Rani melihat luka, juga begitu banyak tanda merah di leher dan di bagian dada Alira. Dan tidak berapa lama dia pun tersenyum sembari berkata.
"Laki-laki mana yang akan tahan melihat kecantikan dan keindahan tubuh Anda. Kalian berdua adalah pasangan yang sangat serasi. Anda sangat cantik, dan Fahri juga sangat tampan. Banyak sekali wanita yang tergila-gila padanya. Terutama Bella dan Tania. Sampai Bella pernah berpura-pura pingsan, biar dicium sama Fahri. Konyol banget kan?" tutur Dokter Rani, dan Alira pun hanya tersenyum menahan sakit hati karena cemburu.
Selesai di periksa dan di berikan obat, Alira langsung berpamitan pada Dokter Rani dan melangkah pergi tanpa mempedulikan Fahri. Melihat sikapnya, Dokter Rani dan Fahri hanya terdiam menatap satu sama lain dengan tampang kebingungan.
"Apa kata Dokter Rani tentang lukanya?" tanya Fahri setelah meninggalkan pekarangan rumah Dokter Rani.
"Dia tidak mengatakan apapun tentang luka. Tapi dia menceritakan tentang kamu dan wanita bernama Bella juga Tania. Dan ternyata kamu pernah mencium wanita yang bernama Bella di depan umum," jawab Alira penuh kekesalan.
"Siapa yang berciuman? Aku hanya beri dia nafas buatan."
"Apapun alasannya kalian berdua sudah berciuman. Berapa banyak yang pernah berciuman denganmu??" tanya Alira sinis.
"Buat apa bahas masa lalu? Kamu ini hanya mau mencari masalah." Fahri mulai kesal menghadapi Alira.
Melihat ekspresi wajah Alira, Fahri sudah bisa memastikan dia sedang marah, dan akan terus mencari masalah. Akhirnya Fahri pun memutuskan untuk membawanya ke kantor, karena tidak ingin mencari masalah dengan kedua orang tuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Bunda Kayla
agak lain ceritanya. dulu pas aku baca tahun 2022 kaya gaj gini deh
2024-11-07
1
sri Anita asri
😀😃😄 😀😃😄 😀😃😄
2024-11-06
0
Cah qzx Tekel
seru nih
2024-05-25
0