Bab 20 : Mulai Belajar Ngaji

"A-apa? Kamu hanya bisa baca Iqro? Terus kalau sholat yang kamu baca apa?" tanya Agam menatap tak percaya.

"Hehehehe. Ya surat Al ikhlas. Pendek dan gampang diingat!" kekehnya tanpa merasa berdosa.

"Cuma itu?"

"Iya!" sahutnya.

"Terus kalau yang rokaatnya ada empat kayak sholat isya, ashar dan dhuhur, kamu baca surat apa?"

"Ya diulang-ulang terus surat Al ikhlas-nya?" kikiknya.

"Astaghfirullah," Agam mengelus dadanya sendiri.

"Emang mama dan papa nggak pernah nyuruh kamu ngaji?"

"Nyuruh sih, Aa......Tapi kan aku yang kabur-kaburan terus!" ujarnya dengan enteng.

"Terus kamu mau jadi apa kalau sudah setua ini nggak bisa apa-apa?" geram Agam sambil bibirnya menya-menye, frustasi sendiri.

"Ish, Aa....Aku ini belum tua. Masih muda dan cantik begini dibilang tua. Mata Aa kelilipan biji salak....!"

Agam mendelik tajam.

"Ehm, aku akan belajar, Aa......! Ah, iya, aku akan belajar.....!" lanjutnya kemudian, meringis.

Ya Allah, Aa melotot. Serem banget!!!!!

"Astaghfirullah.....!" Agam mengelus dada.

"Mulai malam ini, kamu akan Aa ajarin mengaji. Kamu denger kan, Liora?????"

"Eh, Apa?"

"Kamu nggak denger. Mulai malam ini setelah sholat Maghrib, kamu harus belajar mengaji. Nggak malu, sudah sebesar ini hanya hafal surat Al ikhlas doang. Masa kamu kalah sama Raisa. Raisa aja sudah Al Qur'an!" omel Agam.

"Apa ada pilihan yang lainnya?" tanya Liora, "Ehm, kalau belajar yang lain, aku mau, Aa. Tapi kalau ngaji.....!"

"NGGAK ADA!" potong Agam cepat, "Kamu itu istri seorang guru agama. Jangan buat Aa malu....!"

"Ish, siapa juga yang mau jadi istri guru Agama? Aa pikir aku seneng banget ya jadi istri Aa. Aa aja yang terlalu pede." Kata Liora, "Di usiaku saat ini, harusnya aku masih bermain-main dengan teman-teman sebayaku. Bukan malah jadi istri yang kerjaannya ngurusin suami. Ish, Ish, lagian Aa benar-benar punya kelainan. Kok mau-mau aja nikah sama bocil kayak aku.....!" ujar Liora mengeluarkan unek-uneknya.

"Ck, dasar pedofil.....!" ejek Liora, keceplosan.

Sudah capek gara-gara nyuci piring, nyuci baju. Eh, malah diomelin. Sewotlah gadis itu.....

"Apa kamu bilang?" Agam melotot tajam.

Liora langsung menutup mulutnya sendiri. Dia sadar kalau sudah keceplosan ngomong.

"Kamu bilang Aa pedofil......?!?" ucap Agam menyeringai lebar.

Agam melangkah maju, membuat Liora hendak beranjak dari tempat duduknya. Namun dengan cepat Agam menahan pundak Liora, membuat gadis itu tak berkutik dan bergerak.

Tanpa diduga-duga, Agam malah justru menciumnya.

Liora terkejut. Bibirnya yang suci dicium gurunya yang galak. Bibir yang selalu Liora jaga, diambil paksa oleh suaminya tanpa persetujuan darinya.

"Apa arti tatapan itu? Mau marah?" tanya Agam songong, lalu kembali menyeringai sinis, "Ingat. Kamu sekarang istri Aa. Mau melakukan apapun, itu sudah hak Aa. Mulai sekarang kamu nggak usah banyak tingkah. Ingatlah, kamu sekarang istri Aa. Jadi kamu harus tahu apa tugasmu?"

Liora merinding mendengarnya. Ini adalah bagian paling horor yang Liora takuti dari pria di depannya.

Menikah dengan pak Agam berarti dia sudah rela menyerahkan miliknya untuk guru galak itu.

"A-a-apa yang mau Aa lakukan? Jangan macam-macam. Aku tonjok nih!"

Liora melihat tanpa malu, Agam sudah melepaskan baju atasan dan celananya.

Liora menatap tak berkedip. Gadis itu melihat tubuh Agam dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Tubuh Agam, suaminya, sangat bagus dan atletis. Liora benar-benar dibuat terpesona. Baru pertama ini dia melihat tubuh setengah telanjang seorang pria. Matanya ternoda!!!!

"Aa jangan macam-macam!" terlihat gadis itu mulai ketakutan.

"Kenapa? Takut? Tadi nyolot.....? Terus bilang apa tadi.....?????" Agam menyeringai lebar.

"Ah, pedofil.....!" lanjutnya, "Akan Aa perlihatkan apa itu pedofil......!"

"Jangan macem-macem ya, Aa. Aku beneran marah loh?"

"Oho. Bisa marah juga rupanya? Ayo tunjukkan bagaimana kamu marah?" ujarnya tersenyum devil.

Agam semakin mendekat ke arah istrinya. Liora terlihat ketakutan.

Meski Liora sedikit ugal, tetap saja dia seorang perempuan. Melawan Agam yang bertubuh besar, tinggi dan tegap, tentu dia tidak akan menang.

"Oke. Oke. Aku minta maaf atas perkataan kasarku. Tapi Please,. jangan seperti ini, Aa. Aku risih!" keluh gadis itu, tak mau menatap tubuh atas suaminya yang sudah telanjang.

Jujur, Liora ketakutan setengah mampus. Dia kan masih terlalu kecil untuk melihat hal-hal seperti itu.

Sementara Agam, sudah bersorak-sorai dalam hati. Dia akan memastikan Liora tidak akan berani bicara macam-macam ataupun kasar. Agam juga akan memastikan istrinya akan berubah menjadi wanita solehah.

"Kamu mau berubah?" tanya Agam menghentikan tingkahnya. Lalu pria itu duduk di samping sang istri.

"Hem. Iya, aku mau berubah!" jawab Liora masih menutupi matanya dengan kedua tangannya.

"Tidak akan berbuat seenaknya?"

"Iya." Jawab Liora mantap.

"Akan jadi istri Solehah?"

"Iya," jawab Liora lagi.

"Mau pake hijab?"

"Iya,"

"......Eh......"

*******

"Li, Ayo dong. Katanya mau belajar iqro? Aa dari tadi nunggu loh....!"

Liora mendengus kesal, lagi-lagi Agam membujuknya untuk belajar mengaji. Harusnya ia tak berjanji pada suaminya untuk belajar dari awal, ternyata membaca iqro lebih sulit menghafal rumus kubus.

Mana tahu kejadiannya akan begini. Itu masih iqra, belum Al Qur'an. Bisa-bisa rambutnya rontok sebelum tua.

"Li, Ayo wudhu dulu. Nanti baru belajar mengaji!"

"Iya. Iya. Aku ambil wudhu dulu!"

Mau tak mau akhirnya Liora pun menurut. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah itu ia keluar, memakai atasan mukena.

Agam mendelik sejenak, kebingungannya terlihat jelas di wajahnya saat ia melihat Liora hanya memakai bagian atas mukena.

"Loh, kenapa nggak pakai hijab sih?" tanyanya, nada suaranya mencerminkan keheranannya.

Liora hanya mengangkat bahu, seraya tersenyum ringan.

"Aku nggak punya hijab, Aa. Makanya aku pakai mukena," jawabnya dengan suara lembut, berusaha menjelaskan situasinya tanpa merasa bersalah.

Gimana mau pakai jilbab???

Setiap hari, dia memilih mengenakan celana atau kulot. Bahkan saat memakai seragam sekolah berupa rok, dia masih memilih untuk menambahkan celana training atau kulot di dalamnya. Baginya, keamanan dan kenyamanan adalah prioritas, meskipun itu berarti tidak mematuhi norma yang biasa.

Agam mendesah panjang.

Tak mau memperpanjang lagi, pria itu pun memulai pelajarannya, mengajari sang istri mengaji.

Liora duduk tegak dengan buku terbuka di hadapannya, matanya serius menatap huruf-huruf Hijaiyah yang tertulis rapi.

Walaupun masih perlu diasah, bakatnya sudah terlihat jelas. Cepat atau lambat, Liora pasti akan lancar membaca sambung huruf-huruf tersebut. Mengajar gadis seperti dia, bukanlah sebuah tugas yang susah dan berat. Pasalnya memang Liora sudah bisa membaca huruf-huruf tersebut.

"Shadaqallahul adzim!"

Terpopuler

Comments

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

bukannya dulu papa Liora nyantri di pesantren kakek Agam, napa dah anaknya ga diarahkan gitu kalo ga bisa ngajarin langsung🙄🙄🙄

2024-12-31

0

نور✨

نور✨

besar mata atau biji salak sih Liora🤣🤣

2024-12-16

0

نور✨

نور✨

yg penting mau sholat pak🤣... Alhamdulillah

2024-12-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Liora Konyol
2 Bab 2 : Dihukum
3 Bab 3 : Tawuran
4 Bab 4 : Ngemol
5 Bab 5 : Baju Mirip Gelandangan
6 Bab 6 : Kondangan
7 Bab 7 : Jika Dia Bukan Pengantin Prianya, Lalu siapa?
8 Bab 8 : Kacau Balau
9 Bab 9 : Dipanggil Yai
10 Bab 10 : Kamu Harus Bertanggungjawab
11 Bab 11 : Sah
12 Bab 12 : Hotel
13 Bab 13 : Kita Suami Istri
14 Bab 14 : Suami Mesum
15 Bab 15 : Berkemas
16 Bab 16 : Senyum Itu Ibadah
17 Bab 17 : Apa-apaan Dia
18 Bab 18 : Mereka Bukan Mahram
19 Bab 19 : Skorsing
20 Bab 20 : Mulai Belajar Ngaji
21 Bab 21 : Back To School
22 Bab 22 : Bukannya Itu Liora dan Pak Agam????
23 Bab 23 : Jangan Sebarin Berita Bohong!!!!
24 Bab 24 : Jadi Beneran Lo Dah Married????
25 Bab 25 : Wanita Jadi-jadian
26 Bab 26 : Gue Kejar Lo Sampai Dapet
27 Bab 27 : Cewek Tadi Siapa?
28 Bab 28 : Suami
29 Bab 29 : Jatuh Cinta
30 Bab 30 : Mirip Pentungan Pak Satpam
31 Bab 31 : Kamu Cemburu?!?
32 Bab 32 : Itu Namanya Jatuh Cinta, Dodol?
33 Bab 33 : Kutukan Kamu Kayaknya Bener???
34 Bab 34 : Sakit
35 Bab 35 : Mantan Emang Harus Dihempaskan
36 Bab 36 : Kissing
37 Bab 37 : Terbawa Suasana
38 Bab 38 : Lingerie-nya Mana?
39 Bab 39 : Naila Syok
40 Bab 40 : Dikira Alergi Seafood
41 Bab 41 : Akhirnya.....
42 Bab 42 : Tanda Merah Di Leher
43 Bab 43 : Bu Naila Mencari Gara-gara
44 Bab 44 : Keluhan Liora
45 Bab 45 : Begal
46 Bab 46 : Begal 2
47 Bab 47 : Kedatangan Papa dan Mama
48 Bab 48 : Penguntit
49 Bab 49 : Tito Patah Hati
50 Bab 50 : Tito Mogok Makan
51 Bab 51 : Suasana Di Kantin Sekolah
52 Bab 52 : Sidang
53 Bab 53 : Kami Sudah Menikah?
54 Bab 54 : Dikeluarkan Dari Sekolah
55 Bab 55 : Penyesalan Papa dan Mama
56 Bab 56 : Perjalanan Ke Cirebon
57 Bab 57 : Pondokan Mbah Yai
58 Bab 58 : Cosplay Jadi Monyet
59 Bab 59 : Dengerin Ceramah
60 Bab 60 : Pengen Mondok
61 Bab 61 : Aku Ingin Memantaskan Diri
62 Bab 62 : Mirip Balonnya Gio
63 Bab 63 : Curhatan Tito
64 Bab 64 : Rumah Sakit
65 Bab 65 : Darul Ilmi
66 Bab 66 : Diterima Jadi Santriwati
67 Bab 67 : Seminggu Berlalu
68 Bab 68
69 Bab 69 : Kangen-kangenan
70 Bab 70 : Lingerie Merah
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74 : Abang Kamu Kah?????
75 Bab 75 : Lah, Wong Sudah Sah Kok????
76 Bab 76 : Kedatangan Agam
77 Bab 77 : Ngidam
78 Bab 78
79 Bab 79
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Bab 1 : Liora Konyol
2
Bab 2 : Dihukum
3
Bab 3 : Tawuran
4
Bab 4 : Ngemol
5
Bab 5 : Baju Mirip Gelandangan
6
Bab 6 : Kondangan
7
Bab 7 : Jika Dia Bukan Pengantin Prianya, Lalu siapa?
8
Bab 8 : Kacau Balau
9
Bab 9 : Dipanggil Yai
10
Bab 10 : Kamu Harus Bertanggungjawab
11
Bab 11 : Sah
12
Bab 12 : Hotel
13
Bab 13 : Kita Suami Istri
14
Bab 14 : Suami Mesum
15
Bab 15 : Berkemas
16
Bab 16 : Senyum Itu Ibadah
17
Bab 17 : Apa-apaan Dia
18
Bab 18 : Mereka Bukan Mahram
19
Bab 19 : Skorsing
20
Bab 20 : Mulai Belajar Ngaji
21
Bab 21 : Back To School
22
Bab 22 : Bukannya Itu Liora dan Pak Agam????
23
Bab 23 : Jangan Sebarin Berita Bohong!!!!
24
Bab 24 : Jadi Beneran Lo Dah Married????
25
Bab 25 : Wanita Jadi-jadian
26
Bab 26 : Gue Kejar Lo Sampai Dapet
27
Bab 27 : Cewek Tadi Siapa?
28
Bab 28 : Suami
29
Bab 29 : Jatuh Cinta
30
Bab 30 : Mirip Pentungan Pak Satpam
31
Bab 31 : Kamu Cemburu?!?
32
Bab 32 : Itu Namanya Jatuh Cinta, Dodol?
33
Bab 33 : Kutukan Kamu Kayaknya Bener???
34
Bab 34 : Sakit
35
Bab 35 : Mantan Emang Harus Dihempaskan
36
Bab 36 : Kissing
37
Bab 37 : Terbawa Suasana
38
Bab 38 : Lingerie-nya Mana?
39
Bab 39 : Naila Syok
40
Bab 40 : Dikira Alergi Seafood
41
Bab 41 : Akhirnya.....
42
Bab 42 : Tanda Merah Di Leher
43
Bab 43 : Bu Naila Mencari Gara-gara
44
Bab 44 : Keluhan Liora
45
Bab 45 : Begal
46
Bab 46 : Begal 2
47
Bab 47 : Kedatangan Papa dan Mama
48
Bab 48 : Penguntit
49
Bab 49 : Tito Patah Hati
50
Bab 50 : Tito Mogok Makan
51
Bab 51 : Suasana Di Kantin Sekolah
52
Bab 52 : Sidang
53
Bab 53 : Kami Sudah Menikah?
54
Bab 54 : Dikeluarkan Dari Sekolah
55
Bab 55 : Penyesalan Papa dan Mama
56
Bab 56 : Perjalanan Ke Cirebon
57
Bab 57 : Pondokan Mbah Yai
58
Bab 58 : Cosplay Jadi Monyet
59
Bab 59 : Dengerin Ceramah
60
Bab 60 : Pengen Mondok
61
Bab 61 : Aku Ingin Memantaskan Diri
62
Bab 62 : Mirip Balonnya Gio
63
Bab 63 : Curhatan Tito
64
Bab 64 : Rumah Sakit
65
Bab 65 : Darul Ilmi
66
Bab 66 : Diterima Jadi Santriwati
67
Bab 67 : Seminggu Berlalu
68
Bab 68
69
Bab 69 : Kangen-kangenan
70
Bab 70 : Lingerie Merah
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74 : Abang Kamu Kah?????
75
Bab 75 : Lah, Wong Sudah Sah Kok????
76
Bab 76 : Kedatangan Agam
77
Bab 77 : Ngidam
78
Bab 78
79
Bab 79

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!