Bab 3 : Tawuran

"Li," panggil seorang anak laki-laki pada Liora yang tengah bercanda dengan Dora dan Sinta.

Gadis yang dipanggil itu pun langsung menoleh ke sumber suara. Matanya nampak berbinar-binar melihat sahabatnya Tito, berdiri dengan teman-temannya sambil melambaikan tangan. Tito adalah sahabat kecil Liora, teman seperbolosan. Dan tetangga di perumahan kompleknya.

Saking senangnya ngeliat Tito, Liora langsung berlari ke arah sahabatnya itu. Sementara dua cewek cantik yang tadinya sedang mengajak bersenda gurau, langsung cemberut. Karena pasti mereka akan dicueki begitu saja.

"Eh, Tito. Lo kemana aja? Gue cariin juga....!"

"Alah, gue sakit, Lo nggak jenguk. Giliran Lo yang sakit, mintanya seabrek. Minta dibawain buah, martabak, kue cucur, empek-empek. Ini dan itu, buanyak banget....!"

"Oh, Lo sakit tah. Pantesan nggak keliatan," ujarnya sambil nyengir, "Lo sakit lagi gih! Nanti gue jenguk....!"

"Lo doain gue sakit?" mata Tito langsung melotot.

"Hehehehe, ya nggak lah. Tapi seneng bisa liat Tito sehat kembali, nggak kekurangan apapun! Eh, tapi rambut kriwilnya kayaknya nambah....!" kekeh Liora. Di susul tawa Sinta dan Dora.

"Aish, Sialan, Lo....!" pria bernama Tito langsung cemberut.

"Tito katanya sakit. Tapi kok nggak kurusan?" tanya Dora ikut nimbrung dengan para laki-laki dan Liora juga. Lalu kemudian disusul Sinta mengekor di belakangnya.

"Iya," timpal Sinta.

"Kurusan kok. Nih jari gue kurusan!" jawab Tito memperlihatkan jarinya.

Mereka semua pun terbahak, sementara Dora dan Sinta menjep, sebel dikerjain.

"Titooooo! Liora! Mau ikut nggak?" teriak salah satu teman mereka.

"Kemana?" tanya keduanya barengan.

"Tawuran. Itu anak Bangsa Sehati nantangin sekolah kita!" serunya.

"Oh, nggak bisa dibiarin nih!" Tito berapi-api, "Li, Ayo ikut tawuran!" ajaknya pada Liora.

"Duh, gue nanti dimarahi bokap dan nyokap!"

"Alah, itu urusan belakangan. Yang terpenting kita harus satu hati, satu jiwa, dan satu perbolosan. Mereka nantangin, gue gak bisa diemin!"

Liora nampak berpikir.

"Ya udah, gue duluan. Takut gerbangnya ditutup sama pak satpam!" Tito buru-buru pergi dari sana, disusul oleh ke empat best friend-nya.

"Sin, Dor, Kalian mau ikut?" tanya Liora pada dua sahabatnya.

"Ogah. Nanti gue dapat masalah kalau ikut-ikutan tawuran!" jawab keduanya.

"Idih, nggak setia kawan, Lo! Ya udah gue pergi dulu, mau nyusulin Tito!"

"Titoooooo, Tunggu......!"

"Eh, Liora. Nanti kamu dapat hukuman lagi loh!" seru Sinta dan Dora serempak.

*****

"Buset dah. Berani sekali bikin pipi gue penyok gini!" teriak Liora pada seorang pemuda, salah satu anak Bangsa Sehati.

"Kenapa nggak berani? Lo salah satu dari mereka!" balasnya.

"Oh, beraninya sama cewek, Lo! Dasar banci!"

"Sialan Lo ngatain gue banci!" marah pemuda itu karena dikatai banci.

"Napa? Lo nggak suka? Sini maju....!" teriak Liora sudah menggenggam balok kayu, yang ia temukan di sampingnya.

Nyali pemuda itu rada menciut, apalagi melihat Liora yang lebih galak dan serem dari dugaannya. Bahkan gadis itu tak berhenti berteriak dan mengumpat sambil mengacung-acungkan balok kayu, siapa yang tidak ngeri.

Si pemuda sampai terbengong-bengong melihat gadis itu mengangkat kayu balok yang lumayan berat. Padahal tubuhnya kecil, lengannya juga tidak berotot, tapi bagaimana bisa seorang gadis bisa mengangkat balok berat itu.

"POLISI.....!" teriak salah satu anggota.

Tito berteriak keras, menyuruh teman-temannya untuk segera lari dari sana. Tentu saja dia tidak mau sampai tertangkap polisi, bisa-bisa dia kembali dihajar oleh bokapnya gara-gara ikut tawuran. Lebam-lebam kemarin saja belum sembuh dan kering, masa iya lukanya tambah dua kali lipat.

Melihat Tito berteriak agar segera lari, Liora pun pasang ancang-ancang ikut lari juga. Tito menstater motornya, dan menyuruh Liora untuk segera naik ke boncengan.

Gadis itu tidak meninggalkan kesempatan, ia lekas naik ke boncengan motor Tito. Begitu Liora sudah naik, Tito pun langsung melajukan motor sport nya dengan kecepatan tinggi.

Seperti Valentino Rossi, Tito melajukan motor tersebut hingga masuk ke gang gang sempit untuk menghindari mobil polisi.

"Lo mau bikin gue mati muda?" omel Liora begitu motor Tito berhenti mendadak. Kepala Liora sampai membentur helm yang Tito kenakan, sampai bunyi bugh terdengar keras sekali.

"Hehehehe, sorry." Kekeh Tito, "Ya Ampun!" pekik pemuda itu melihat jidat Liora benjol.

"Hahahaha....!" Tito terbahak-bahak ngeliat jidat sahabatnya benjol sebesar bola pingpong.

"Ah, kampret, Lo! Liat nih, gue benjol. Kira-kira dong, Kamvret sialan!"

"Sorry. Sorry. Gue nggak sengaja, Li!" ujarnya masih terpingkal-pingkal.

"Bisa berhenti ngetawain gue nggak sih?" sewot gadis itu karena terus ditertawakan.

"Oke. Oke. Gue minta maap!"

"Ih, mending gue naik ojol tadi....!"

"Li jangan ngambek dong!" bujuk Tito merasa bersalah.

"Ah, bodo....! Lo itu benar-benar sahabat kampret."

"Gue terpaksa berhenti ndadak. Gue cuma pengen tau, polisi-polisi itu masih ngejar nggak!"

"Ck, alasan! Liat sekarang, jidat gue benjol. Gue jadi nggak cantik lagi. Semua gara-gara lo!"

"Iya, sorry. Gue kan udah minta maaf," ucap pemuda itu, "Sebagai permintaan maaf, gue traktir deh!"

Denger kata-kata traktir, alis Liora langsung terangkat. Matanya langsung berbinar-binar senang. Hatinya berbunga-bunga mendengar kata gratis.

"Beneran?"

"Idih, denger kata traktir langsung senengnya minta ampun!"

"Iyalah. Liora gitu loh....!" senang Liora sambil menutupi jidatnya yang benjol dengan poninya.

"Hiii, dasar, jiwa traktiran, Lo!"

"Hehehehe, biarin. Bomat. Bodo amat. Ngomong-ngomong mau traktir makan dimana?" tanya Liora antusias.

"Tuh cilung sama es Boba kayaknya enak....!" kekeh Tito.

"Heh....!" leher gadis itu memutar 90° menghadap pemuda itu.

"Gue pikir mau ditraktir di cafe atau makan baksonya Bang Kimung yang besarnya kayak melon. Eh, ternyata cuma di traktir cilung sama es boba. Gue sih bisa beli sendiri! Paling mah nggak sampe 10 rebu!" dumel gadis itu. Tito cuma nyengir sambil garuk-garuk pantatnya yang gatal tadi sempet di gigit semut.

"Gue belum ditransfer nyokap, Li. Lo sebagai bini, harus terima dengan ikhlas pemberian suami!" ucap pemuda itu menjiwai.

Liora nggak kaget Tito bersikap demikian. Karena ia tahu, itu hanya guyonannya saja. Mereka sudah seperti adek dan kakak. Terkadang bisa juga berubah menjadi anjing dan kucing. Besoknya lagi berubah lagi menjadi lem dan perangko. Selalu bersama, selalu kompak di manapun berada. Kecuali kalau sudah berada di lingkungan rumah masing-masing.

"Ah, kismin banget, Lo! Gue yang traktir deh....!"

"Asyik....! Dimana....!"

"Warung seblaknya Teh Naya...!"

Wajah Tito langsung merengut. Pasalnya dia paling nggak doyan makanan itu. Makanan yang terlihat mirip dengan ingusnya kalau lagi pilek, membuatnya langsung mual-mual. Liora sengaja mengajak sahabatnya itu ke warung seblak, dengan begitu Tito nggak pesan seblak, sahabatnya itu lebih memilih memesan minuman dan gorengan. Ah, lebih ngirit, pikir Liora sambil tergelak sendiri.

"Ish, dasar pelit. Dasar medit. Kiwit!" umpat Tito dengan cemberut. Gadis itu sambil nyengir berlalu begitu saja, tanpa beban dan dosa.

Bersambung.....

Nantikan kelanjutannya..... Aku revisi sedikit.

Vote ya say.....😘😘😘

Terpopuler

Comments

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

kocak nih mereka b-2, walo kalo di dunia nyata menyebalkan sih mereka yang suka tawuran hanya masalah remeh-temeh

2024-12-30

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Liora Konyol
2 Bab 2 : Dihukum
3 Bab 3 : Tawuran
4 Bab 4 : Ngemol
5 Bab 5 : Baju Mirip Gelandangan
6 Bab 6 : Kondangan
7 Bab 7 : Jika Dia Bukan Pengantin Prianya, Lalu siapa?
8 Bab 8 : Kacau Balau
9 Bab 9 : Dipanggil Yai
10 Bab 10 : Kamu Harus Bertanggungjawab
11 Bab 11 : Sah
12 Bab 12 : Hotel
13 Bab 13 : Kita Suami Istri
14 Bab 14 : Suami Mesum
15 Bab 15 : Berkemas
16 Bab 16 : Senyum Itu Ibadah
17 Bab 17 : Apa-apaan Dia
18 Bab 18 : Mereka Bukan Mahram
19 Bab 19 : Skorsing
20 Bab 20 : Mulai Belajar Ngaji
21 Bab 21 : Back To School
22 Bab 22 : Bukannya Itu Liora dan Pak Agam????
23 Bab 23 : Jangan Sebarin Berita Bohong!!!!
24 Bab 24 : Jadi Beneran Lo Dah Married????
25 Bab 25 : Wanita Jadi-jadian
26 Bab 26 : Gue Kejar Lo Sampai Dapet
27 Bab 27 : Cewek Tadi Siapa?
28 Bab 28 : Suami
29 Bab 29 : Jatuh Cinta
30 Bab 30 : Mirip Pentungan Pak Satpam
31 Bab 31 : Kamu Cemburu?!?
32 Bab 32 : Itu Namanya Jatuh Cinta, Dodol?
33 Bab 33 : Kutukan Kamu Kayaknya Bener???
34 Bab 34 : Sakit
35 Bab 35 : Mantan Emang Harus Dihempaskan
36 Bab 36 : Kissing
37 Bab 37 : Terbawa Suasana
38 Bab 38 : Lingerie-nya Mana?
39 Bab 39 : Naila Syok
40 Bab 40 : Dikira Alergi Seafood
41 Bab 41 : Akhirnya.....
42 Bab 42 : Tanda Merah Di Leher
43 Bab 43 : Bu Naila Mencari Gara-gara
44 Bab 44 : Keluhan Liora
45 Bab 45 : Begal
46 Bab 46 : Begal 2
47 Bab 47 : Kedatangan Papa dan Mama
48 Bab 48 : Penguntit
49 Bab 49 : Tito Patah Hati
50 Bab 50 : Tito Mogok Makan
51 Bab 51 : Suasana Di Kantin Sekolah
52 Bab 52 : Sidang
53 Bab 53 : Kami Sudah Menikah?
54 Bab 54 : Dikeluarkan Dari Sekolah
55 Bab 55 : Penyesalan Papa dan Mama
56 Bab 56 : Perjalanan Ke Cirebon
57 Bab 57 : Pondokan Mbah Yai
58 Bab 58 : Cosplay Jadi Monyet
59 Bab 59 : Dengerin Ceramah
60 Bab 60 : Pengen Mondok
61 Bab 61 : Aku Ingin Memantaskan Diri
62 Bab 62 : Mirip Balonnya Gio
63 Bab 63 : Curhatan Tito
64 Bab 64 : Rumah Sakit
65 Bab 65 : Darul Ilmi
66 Bab 66 : Diterima Jadi Santriwati
67 Bab 67 : Seminggu Berlalu
68 Bab 68
69 Bab 69 : Kangen-kangenan
70 Bab 70 : Lingerie Merah
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74 : Abang Kamu Kah?????
75 Bab 75 : Lah, Wong Sudah Sah Kok????
76 Bab 76 : Kedatangan Agam
77 Bab 77 : Ngidam
78 Bab 78
79 Bab 79
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Bab 1 : Liora Konyol
2
Bab 2 : Dihukum
3
Bab 3 : Tawuran
4
Bab 4 : Ngemol
5
Bab 5 : Baju Mirip Gelandangan
6
Bab 6 : Kondangan
7
Bab 7 : Jika Dia Bukan Pengantin Prianya, Lalu siapa?
8
Bab 8 : Kacau Balau
9
Bab 9 : Dipanggil Yai
10
Bab 10 : Kamu Harus Bertanggungjawab
11
Bab 11 : Sah
12
Bab 12 : Hotel
13
Bab 13 : Kita Suami Istri
14
Bab 14 : Suami Mesum
15
Bab 15 : Berkemas
16
Bab 16 : Senyum Itu Ibadah
17
Bab 17 : Apa-apaan Dia
18
Bab 18 : Mereka Bukan Mahram
19
Bab 19 : Skorsing
20
Bab 20 : Mulai Belajar Ngaji
21
Bab 21 : Back To School
22
Bab 22 : Bukannya Itu Liora dan Pak Agam????
23
Bab 23 : Jangan Sebarin Berita Bohong!!!!
24
Bab 24 : Jadi Beneran Lo Dah Married????
25
Bab 25 : Wanita Jadi-jadian
26
Bab 26 : Gue Kejar Lo Sampai Dapet
27
Bab 27 : Cewek Tadi Siapa?
28
Bab 28 : Suami
29
Bab 29 : Jatuh Cinta
30
Bab 30 : Mirip Pentungan Pak Satpam
31
Bab 31 : Kamu Cemburu?!?
32
Bab 32 : Itu Namanya Jatuh Cinta, Dodol?
33
Bab 33 : Kutukan Kamu Kayaknya Bener???
34
Bab 34 : Sakit
35
Bab 35 : Mantan Emang Harus Dihempaskan
36
Bab 36 : Kissing
37
Bab 37 : Terbawa Suasana
38
Bab 38 : Lingerie-nya Mana?
39
Bab 39 : Naila Syok
40
Bab 40 : Dikira Alergi Seafood
41
Bab 41 : Akhirnya.....
42
Bab 42 : Tanda Merah Di Leher
43
Bab 43 : Bu Naila Mencari Gara-gara
44
Bab 44 : Keluhan Liora
45
Bab 45 : Begal
46
Bab 46 : Begal 2
47
Bab 47 : Kedatangan Papa dan Mama
48
Bab 48 : Penguntit
49
Bab 49 : Tito Patah Hati
50
Bab 50 : Tito Mogok Makan
51
Bab 51 : Suasana Di Kantin Sekolah
52
Bab 52 : Sidang
53
Bab 53 : Kami Sudah Menikah?
54
Bab 54 : Dikeluarkan Dari Sekolah
55
Bab 55 : Penyesalan Papa dan Mama
56
Bab 56 : Perjalanan Ke Cirebon
57
Bab 57 : Pondokan Mbah Yai
58
Bab 58 : Cosplay Jadi Monyet
59
Bab 59 : Dengerin Ceramah
60
Bab 60 : Pengen Mondok
61
Bab 61 : Aku Ingin Memantaskan Diri
62
Bab 62 : Mirip Balonnya Gio
63
Bab 63 : Curhatan Tito
64
Bab 64 : Rumah Sakit
65
Bab 65 : Darul Ilmi
66
Bab 66 : Diterima Jadi Santriwati
67
Bab 67 : Seminggu Berlalu
68
Bab 68
69
Bab 69 : Kangen-kangenan
70
Bab 70 : Lingerie Merah
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74 : Abang Kamu Kah?????
75
Bab 75 : Lah, Wong Sudah Sah Kok????
76
Bab 76 : Kedatangan Agam
77
Bab 77 : Ngidam
78
Bab 78
79
Bab 79

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!