Bab 15 : Berkemas

"Papa, Mama. Aku kangeeeeen!" teriak Liora begitu keluar dari mobil. Padahal belum juga masuk ke rumah, sudah teriak-teriak nggak jelas.

Mirnawati yang mendengar suara cempreng putrinya tersebut hanya celingukan. Ia pikir, dirinya mimpi mendengar suara Liora. Ternyata suara cempreng itu nyata. Liora datang bersama menantunya tanpa memberitahu lebih dulu.

"Mamaaaaaaa.....!" Liora langsung memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkannya dengan erat. Mencium pipi kanan dan kiri Mirna bergantian.

"Mama bau kecoa sih?" ujar Liora sambil menutup hidungnya.

"Dasar anak kurang asem. Dateng-dateng malah ngatain mamanya....!" omel Mirnawati, lalu semenit kemudian, ia cengar-cengir sendiri.

"Hihihi, mama lupa. Kalau mama memang belum mandi sore!" kikiknya.

"Pantes....!" sahut Liora membuang nafasnya ke samping. Melihat pemandangan lain dari yang lain di depan matanya tersebut, Agam hanya tersenyum kecil. Dalam hati ia hanya bisa membatin, kalau istri dan mertuanya emang sama-sama gendeng.

"Ya Allah, mimpi apa mama semalem. Didatangi menantu ganteng dan soleh?" beo Mirna memuji menantunya tersebut.

Sebagai menantu yang baik dan sopan, Agam langsung mencium punggung tangan mertuanya, meskipun mertuanya belum mandi. Ia harus menunjukkan rasa hormatnya sebagai seorang menantu yang baik dan ramah pada mertuanya tersebut.

"Sehat, Mah?" tanya Agam.

"Alhamdulillah sehat." Jawab Mirna senang sekali dengan kedatangan mereka.

"Kamu sendiri, gimana? Sehat kan? Kamu nggak apa-apa? Nggak stress gara-gara anak mama?" cecar Mirna memperhatikan Agam dengan serius.

"Ish, Mamaaaaaa.....! Mama apaan sih? Emang selama ini Liora bikin stress mama?"

"Iya, kamu emang selalu bikin Mama stress. Bikin tensi mama naik. Huh, kamu nggak nyadar apa selama ini?"

"Ish, jahatnya mama.....! Kayak ibu tiri!"

"Bodo amat!"

Melihat perdebatan itu, Agam hanya terkekeh geli sambil garuk-garuk kepala. Abisnya baru kali ini nih, dia liat ada anak dan ibunya mirip tom and Jerry.

"Agam sehat kok, Mah. Aku juga nggak apa-apa. Nggak stress juga." Gelaknya.

"Alhamdulillah kalau begitu!" ujar Mirna bernafas lega.

"Duduk-duduk. Anggap rumah sendiri. Bentar ya, Mama suruh simbok bikinin minuman. Nak Agam mau minum apa? Kopi? Teh? Susu? Jus mungkin?" tawar Mirna sangat antusias, karena mendapat menantu seperti Agam adalah anugerah besar bagi dirinya.

"Kok aku nggak ditawarin, Mah?"

"Ish, ngapain nawarin kamu. Sana ambil sendiri? Biasanya juga kamu langsung minum dari air kolam?"

"Astaga. Tega banget punya mama kayak gini....! Berasa kayak anak tiri!" sungut Liora beranjak dari tempat duduknya.

"Mau kemana?" tanya Mirna ketus pada putrinya tersebut.

"Mau gantung diri.....!" sewot Liora, karena merasa dianaktirikan.

Mirna mencebikkan bibirnya, menatap malas.

"Nak Agam. Mama tinggal mandi dulu ya? Kalau Nak Agam mau ke kamarnya Liora, boleh kok. Kalian kan sudah sah??? Kamarnya Liora ada di lantai dua, yang warna pintunya coklat susu. Di depannya ada gambar......!" Mirna terkekeh kecil, "Nanti Nak Agam tau sendiri....!" gelaknya kemudian.

"Ah, iya, Mah," sahut Agam menganggukkan kepalanya.

"Mama tinggal mandi sebentar. Sudah sore, bentar lagi papa pulang. Nanti makan malam disini ya? Kan jarang-jarang rumah mama kedatangan menantu ganteng dan Soleh?"

"Ah, iya, Mah. Silahkan!" jawab Agam dengan sopan.

"Ya udah. Mama tinggal dulu. Anggap seperti rumah sendiri. Jangan sungkan-sungkan! Nanti simbok nganterin minumannya ke sini!" cerewet Mirna.

"Iya, Mah."

Mirna pun lekas pergi ke kamarnya untuk mandi karena jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.

Dua puluh menit berlalu, Liora tidak turun-turun. Padahal Agam menunggunya lebih dari dua puluh menit, tapi sang istri masih belum juga menampakkan batang hidungnya. Karena merasa jenuh, ia pun menyusul istrinya tersebut ke lantai dua.

"Pintu kamar warna coklat susu!" gumam Agam meniti anak tangga menuju lantai dua.

Agam melangkah menuju satu-satunya kamar yang pintunya berwarna coklat susu, terletak tidak jauh dari tangga. Saat tiba di depan pintu, matanya membelalak kaget. Di sana, menghiasi pintu, terpampang gambar bibir besar berwarna merah , seakan siap untuk mencium siapa saja yang berdiri di depannya.

"Astaghfirullah!" desah Agam pelan, sambil menggelengkan kepala, takjub sekaligus terganggu oleh gambar bibir raksasa itu.

Tok .... Tok .... Tok

"Assalamualaikum! Li.....!" panggil Agam dengan suara lembut.

"Liora, boleh Aa masuk?" tanya Agam dengan sopan. Meskipun Liora sudah menjadi istrinya, tetap saja pria itu menomor satukan sopan santun.

"Aa anggap boleh ya, Li? Aa sudah minta izin loh?"

Agam mendorong pintu kamar perlahan, helaan napasnya terhenti sejenak saat aroma lavender menyergap indranya. Ruangan monokrom itu terlihat luar biasa rapi dan bersih, mengingkari kepribadian istrinya yang biasanya kacau dan penuh kejutan. Wajahnya berubah, mata terbelalak dan mulut menganga, seolah tak percaya melihat kontras yang tak terduga tersebut.

Semakin menganga pula saat melihat istrinya tertidur pulas di atas karpet bulu, dengan koper besar di sampingnya. Sepertinya setelah mengemasi barang-barang, Liora kelelahan, dan akhirnya tertidur dibawah.

Melihat pemandangan itu, Agam hanya geleng-geleng kepala. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sebegitu mudahnya sang istri tertidur pulas, di manapun tempatnya. Bahkan jaket dan tas selempangnya masih menempel lekat di tubuh.

Dengan hati-hati, Agam membopong tubuh semampai Liora, yang kemudian ia pindahkan ke atas tempat tidur agar lebih nyaman. Tidak lupa juga ia lepaskan jaket dan tas selempang yang melekat ditubuh sang istri.

Namun, kemudian Agam menelan salivanya saat melihat lekuk tubuh sang istri yang begitu seksi.

"Astaghfirullah. Harusnya dia pakai baju tertutup kan? Aku nggak rela kalau sampai ada orang yang melihatnya.....!" ucap Agam dalam hati, tubuhnya meremang melihat kemolekan tubuh istri kecilnya tersebut.

Meski Liora masih SMA, tapi tubuh gadis itu terbilang molek dengan ukuran dada yang cukup besar. Jika para laki-laki melihat, pasti akan tergiur dengan kemolekan tubuh istrinya tanpa cacat tersebut.

Tubuh Agam menegang, saat tanpa sengaja menyentuh bulatan sebesar melon yang terasa kenyal-kenyal yupi disaat dia melepaskan jaket yang menempel di tubuh sang istri. Agam pun mulai penasaran ingin memastikan seberapa besar bulatan melon yang menggelantung di depannya.

Tangannya hanya terangkat di udara tanpa berani menyentuh.

"Aku sudah berjanji tidak akan menyentuh kecuali dia sendiri yang menginginkannya?' monolog Agam, tangannya masih melayang di udara. Terlihat ragu-ragu dan bingung.

Bersamaan dengan itu mata Liora membuka. Ia membelalakkan matanya, terkejut sekaligus kaget, melihat suaminya sudah berada tepat di depannya, dengan tangan menggantung di udara, hampir menempel dengan dadanya tersebut. Tanpa pikir panjang, Liora pun langsung menutupi asetnya tersebut, menatap Agam dengan penuh ketakutan.

"Aa mau ngapain?" tanya Liora memasang wajah galak.

"Ja-jangan salah paham. Aku nggak ngapa-ngapain. Aku cuma....?"

"Cuma apa? Aa mau memperkosa aku?" Liora menatap tajam ke arah sang suami.

"Memperkosa?" Agam mendelik. Ia pun tersadar, tangannya masih menggantung di udara terlihat seperti mau menerkam sang istri. Agam pun langsung menarik tangannya dengan perasaan yang, entahlah.

"Aa mau memperkosa aku kan?" tanya Liora lagi, wajahnya terlihat garang penuh rasa jengkel.

"Ck, memperkosa bagaimana? Kamu lupa, aku ini suamimu. Dan kamu adalah istriku. Apa yang ada ditubuh kamu itu halal untuk aku sentuh. Kenapa aku harus memperkosa segala?"

"Tapi Aa kan sudah janji. Tidak akan menyentuh, sebelum aku sendiri yang menginginkannya?"

Agam pun terkesiap. Ia jadi malu, termakan dengan ucapannya sendiri.

"Iya. Aku memang sudah berjanji. Maaf!" ucap Agam terlihat kikuk.

"Tadi kamu itu ketiduran di bawah. Makanya aku pindahin ke kasur!" jujur Agam.

Liora tersenyum tipis, merasa tidak enak, menuduh suaminya yang tidak-tidak, lalu mengucapkan terimakasih karena suaminya sudah membopong tubuhnya ke tempat tidur.

"Sudah dibereskan semuanya?" tanya Agam, mencairkan suasana sejenak.

"Belum. Masih banyak!" jawab sang istri.

"Ya sudah aku bantu."

"Eh, tidak usah!" larang Liora. Ia tidak mau kalau Agam sampai membantunya. Hanya tinggal daleman dan beberapa baju sekolah serta buku-buku yang belum sempat ia masukkan ke koper. Jika Agam yang mengemasi barang-barangnya, tentu saja ia akan malu sekali. Sang suami bisa melihat dan menyentuh dalamannya secara langsung.

"Aa duduk saja disini. Biar aku sendiri yang membereskan semuanya!" gadis itu langsung beranjak dari tempat duduk, berjalan menuju lemari, tempat pakaiannya.

"Oke."

Bersambung....

Xixixixi.....

Komen ya.....🤗🤗🤗🤗

Terpopuler

Comments

mom'snya devadhamian

mom'snya devadhamian

emang kan Liora turunan emaknya jadi sama sama gendeng hehehee... jadi AA Agam harus sabar ya punya istri Ama mertua yang Masya Allah pokonya xixixixxi

2025-01-11

0

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

ada" aja yah kelakuan si Liora, napa lha gambar bibir segede gaban di taruh depan pintu kamarnya🙊🙊🙊

2024-12-31

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Liora Konyol
2 Bab 2 : Dihukum
3 Bab 3 : Tawuran
4 Bab 4 : Ngemol
5 Bab 5 : Baju Mirip Gelandangan
6 Bab 6 : Kondangan
7 Bab 7 : Jika Dia Bukan Pengantin Prianya, Lalu siapa?
8 Bab 8 : Kacau Balau
9 Bab 9 : Dipanggil Yai
10 Bab 10 : Kamu Harus Bertanggungjawab
11 Bab 11 : Sah
12 Bab 12 : Hotel
13 Bab 13 : Kita Suami Istri
14 Bab 14 : Suami Mesum
15 Bab 15 : Berkemas
16 Bab 16 : Senyum Itu Ibadah
17 Bab 17 : Apa-apaan Dia
18 Bab 18 : Mereka Bukan Mahram
19 Bab 19 : Skorsing
20 Bab 20 : Mulai Belajar Ngaji
21 Bab 21 : Back To School
22 Bab 22 : Bukannya Itu Liora dan Pak Agam????
23 Bab 23 : Jangan Sebarin Berita Bohong!!!!
24 Bab 24 : Jadi Beneran Lo Dah Married????
25 Bab 25 : Wanita Jadi-jadian
26 Bab 26 : Gue Kejar Lo Sampai Dapet
27 Bab 27 : Cewek Tadi Siapa?
28 Bab 28 : Suami
29 Bab 29 : Jatuh Cinta
30 Bab 30 : Mirip Pentungan Pak Satpam
31 Bab 31 : Kamu Cemburu?!?
32 Bab 32 : Itu Namanya Jatuh Cinta, Dodol?
33 Bab 33 : Kutukan Kamu Kayaknya Bener???
34 Bab 34 : Sakit
35 Bab 35 : Mantan Emang Harus Dihempaskan
36 Bab 36 : Kissing
37 Bab 37 : Terbawa Suasana
38 Bab 38 : Lingerie-nya Mana?
39 Bab 39 : Naila Syok
40 Bab 40 : Dikira Alergi Seafood
41 Bab 41 : Akhirnya.....
42 Bab 42 : Tanda Merah Di Leher
43 Bab 43 : Bu Naila Mencari Gara-gara
44 Bab 44 : Keluhan Liora
45 Bab 45 : Begal
46 Bab 46 : Begal 2
47 Bab 47 : Kedatangan Papa dan Mama
48 Bab 48 : Penguntit
49 Bab 49 : Tito Patah Hati
50 Bab 50 : Tito Mogok Makan
51 Bab 51 : Suasana Di Kantin Sekolah
52 Bab 52 : Sidang
53 Bab 53 : Kami Sudah Menikah?
54 Bab 54 : Dikeluarkan Dari Sekolah
55 Bab 55 : Penyesalan Papa dan Mama
56 Bab 56 : Perjalanan Ke Cirebon
57 Bab 57 : Pondokan Mbah Yai
58 Bab 58 : Cosplay Jadi Monyet
59 Bab 59 : Dengerin Ceramah
60 Bab 60 : Pengen Mondok
61 Bab 61 : Aku Ingin Memantaskan Diri
62 Bab 62 : Mirip Balonnya Gio
63 Bab 63 : Curhatan Tito
64 Bab 64 : Rumah Sakit
65 Bab 65 : Darul Ilmi
66 Bab 66 : Diterima Jadi Santriwati
67 Bab 67 : Seminggu Berlalu
68 Bab 68
69 Bab 69 : Kangen-kangenan
70 Bab 70 : Lingerie Merah
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74 : Abang Kamu Kah?????
75 Bab 75 : Lah, Wong Sudah Sah Kok????
76 Bab 76 : Kedatangan Agam
77 Bab 77 : Ngidam
78 Bab 78
79 Bab 79
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Bab 1 : Liora Konyol
2
Bab 2 : Dihukum
3
Bab 3 : Tawuran
4
Bab 4 : Ngemol
5
Bab 5 : Baju Mirip Gelandangan
6
Bab 6 : Kondangan
7
Bab 7 : Jika Dia Bukan Pengantin Prianya, Lalu siapa?
8
Bab 8 : Kacau Balau
9
Bab 9 : Dipanggil Yai
10
Bab 10 : Kamu Harus Bertanggungjawab
11
Bab 11 : Sah
12
Bab 12 : Hotel
13
Bab 13 : Kita Suami Istri
14
Bab 14 : Suami Mesum
15
Bab 15 : Berkemas
16
Bab 16 : Senyum Itu Ibadah
17
Bab 17 : Apa-apaan Dia
18
Bab 18 : Mereka Bukan Mahram
19
Bab 19 : Skorsing
20
Bab 20 : Mulai Belajar Ngaji
21
Bab 21 : Back To School
22
Bab 22 : Bukannya Itu Liora dan Pak Agam????
23
Bab 23 : Jangan Sebarin Berita Bohong!!!!
24
Bab 24 : Jadi Beneran Lo Dah Married????
25
Bab 25 : Wanita Jadi-jadian
26
Bab 26 : Gue Kejar Lo Sampai Dapet
27
Bab 27 : Cewek Tadi Siapa?
28
Bab 28 : Suami
29
Bab 29 : Jatuh Cinta
30
Bab 30 : Mirip Pentungan Pak Satpam
31
Bab 31 : Kamu Cemburu?!?
32
Bab 32 : Itu Namanya Jatuh Cinta, Dodol?
33
Bab 33 : Kutukan Kamu Kayaknya Bener???
34
Bab 34 : Sakit
35
Bab 35 : Mantan Emang Harus Dihempaskan
36
Bab 36 : Kissing
37
Bab 37 : Terbawa Suasana
38
Bab 38 : Lingerie-nya Mana?
39
Bab 39 : Naila Syok
40
Bab 40 : Dikira Alergi Seafood
41
Bab 41 : Akhirnya.....
42
Bab 42 : Tanda Merah Di Leher
43
Bab 43 : Bu Naila Mencari Gara-gara
44
Bab 44 : Keluhan Liora
45
Bab 45 : Begal
46
Bab 46 : Begal 2
47
Bab 47 : Kedatangan Papa dan Mama
48
Bab 48 : Penguntit
49
Bab 49 : Tito Patah Hati
50
Bab 50 : Tito Mogok Makan
51
Bab 51 : Suasana Di Kantin Sekolah
52
Bab 52 : Sidang
53
Bab 53 : Kami Sudah Menikah?
54
Bab 54 : Dikeluarkan Dari Sekolah
55
Bab 55 : Penyesalan Papa dan Mama
56
Bab 56 : Perjalanan Ke Cirebon
57
Bab 57 : Pondokan Mbah Yai
58
Bab 58 : Cosplay Jadi Monyet
59
Bab 59 : Dengerin Ceramah
60
Bab 60 : Pengen Mondok
61
Bab 61 : Aku Ingin Memantaskan Diri
62
Bab 62 : Mirip Balonnya Gio
63
Bab 63 : Curhatan Tito
64
Bab 64 : Rumah Sakit
65
Bab 65 : Darul Ilmi
66
Bab 66 : Diterima Jadi Santriwati
67
Bab 67 : Seminggu Berlalu
68
Bab 68
69
Bab 69 : Kangen-kangenan
70
Bab 70 : Lingerie Merah
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74 : Abang Kamu Kah?????
75
Bab 75 : Lah, Wong Sudah Sah Kok????
76
Bab 76 : Kedatangan Agam
77
Bab 77 : Ngidam
78
Bab 78
79
Bab 79

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!