Bab 4 : Ngemol

"Gimana persiapannya, Gam?" tanya Kyai Ahmad pada cucunya saat mereka tengah bersantai.

"Alhamdulillah lancar, Kek," jawab pemuda tampan nan Soleh itu.

"Alhamdulillah." Timpal kyai Ahmad, lega mendengarnya, "Sarah itu wanita Solehah, Gam. Kamu beruntung jika menikah dengan wanita seperti Sarah!"

"Iya, Kek," sahut Agam mengulum senyum tipis.

Jujur, Agam sebenarnya belum sreg dengan wanita yang akan dinikahinya itu. Hanya tau nama dan wajahnya saja. Belum tau kesehariannya seperti apa. Sifatnya seperti apa. Baginya masih abu-abu.

Hanya saja, semua orang menyuruhnya untuk menikah. Mendukung seratus persen. Bahkan kedua orang tuanya, sangat, sangat mendukung sekali.

Mau bagaimana lagi? Agam sudah berusia 27 tahun, namun sama sekali belum punya calon atau wanita yang disukai. Keluarganya khawatir, kalau Agam punya kelainan. Makanya mereka semua mendesak Agam segera menikah.

Kebetulan, Kyai Ahmad memiliki seorang kenalan yang aktif dalam kajiannya. Kenalan tersebut tengah mencari calon suami untuk putrinya. Maka diadakanlah pertemuan antara dua keluarga, berharap Sarah dan Agam dapat saling bertemu dan berkenalan. Awalnya, Sarah menolak dengan tegas, tidak ingin menikah muda. Dia ingin menjelajahi dunia, memperluas wawasan, dan meraih mimpinya. Namun, begitu melihat Agam, perasaan Sarah berubah drastis. Tatapan penuh kekaguman menghiasi wajahnya, menyaksikan ketampanan Agam. Cita-citanya untuk mengelilingi dunia seolah terkubur dalam sekejap, saat wanita itu terpesona oleh Agam.

Tanpa berpikir ulang, Sarah pun langsung menyetujui proses ta'aruf itu.

Di depan semua orang, Sarah terlihat sangat santun dan anggun. Wajahnya yang memang cantik dan dewasa, mampu membuat orang menyukainya. Termasuk kedua orang tua Agam, Hidayat dan istrinya, Nurma. Dia senang sekali akan mendapatkan menantu cantik dan cerdas. Perangainya juga terlihat santun dan ramah.

Sementara di tempat lain, tepatnya disebuah mall. Seperti biasa, Liora selalu saja pencicilan. Ke sana ke mari, tidak ada capeknya. Mirip anak monyet yang hilang. Sayangnya dia bukan anak monyet. Di depan dua sahabatnya dia selalu mengeluh ingin mempunyai bunda seperti Ashanty yang lemah lembut. Katanya, biar Aurel saja yang menjadi anaknya Mirnawati, alias mamanya sendiri.

Kan belum tentu juga bunda Ashanty mau ya punya anak badung seperti Liora. naudzubillah ?!?

Biar Aurel bisa merasakan punya mama yang cerewetnya minta ampun. Teriak-teriak kerjaannya. Nggak pagi, nggak siang, nggak malem. Nggak ada capeknya. Liora sampe budek dengerin lagu sang mama. Tapi tetep aja dia sayang, walau cerewet. Cerewet kan tadi cinta orang tua pada anaknya. Maksudnya biar Liora tuh nggak badung. Nggak nakal. Nggak pecicilan. Nggak seenak udelnya. Gitu kan!!!

Daripada hari Minggu dihabiskan dengan mendengarkan dongeng si mama, mending dia ngajak kedua temennya jalan-jalan ke mall.

Sebelum ke mall dia udah malak abangnya, minta uang buat jalan-jalan. Abangnya yang bernama Satya, langsung mengeluarkan dompet. Uang lima ratus ribu diberikan begitu saja pada adek tersayang.

Mata Liora langsung berbinar-binar melihat lembaran uang berwarna merah. Gasken deh dia ngajak si Doraemon dan si Sinchan.

Sebenarnya dia juga ngajak si Tito. Tapi si Tito nolak. Katanya dia lagi ada masalah perut. Dari kemarin bolak-balik ke kamar mandi, mencret -mencret. Ini semua gara-gara bakso beranaknya Bu Kantin yang level modyar. Membuat melilit, kayak dikrues-krues perutnya.

Kalau ikut Liora jalan-jalan, takut cepirit dicelana. Mending di rumah, nunggu perutnya melilit lagi. Nanti langsung lari ke kamar mandi.

Balik ke Liora.

"Lo cari apaan sih, Li?" tanya Doraemon.

"Gue mau beli kulot," jawab gadis cantik itu.

"Lah, buat apa?" tanya Sinta penasaran.

"Celana gue pada robek tengahnya, gara-gara kemarin ikut tawuran. Mending pake kulot, biar agak lebaran mentangnya."

"Lebaran? Emang jalan....!" kikik Doraemon.

"Lah itu kulot!" tunjuk Sinta di bagian sayap kiri.

"Nggak ah. Gue cari yang ada diskonnya...!"

"Ck, dasar muka diskonan!" cibir Doraemon.

"Hehehehe, dia kan emang suka diskonan. Gratisan aja demen!" kekeh Sinta.

"Percuma kalau anaknya pengusaha tersohor. Pengusaha terkaya nomor 20 se-Indonesia. Demennya diskonan!"

"Biarin!"

Keduanya pun tertawa melihat tingkah laku sahabatnya itu.

Liora berbelok ke kanan, ia mendapati apa yang ia cari. Tapi tak sengaja dia menabrak dua orang sejoli hingga keduanya tersungkur ke lantai keramik. Jengkang.

Kedua sejoli tersebut nampak tidak terima. Yang laki bangkit, kemudian melotot tajam ke arah Liora. Pria yang mungkin usianya 30 tahunan itu menatap Liora tajam, menahan marah dan kesal. Karena merasa bersalah, Liora pun lekas meminta maaf. Tapi si pria tidak terima, malah memaki-maki dirinya di depan umum. Sehingga mereka pun menjadi perhatian banyak orang di toko tersebut.

"Makanya kalau punya mata tuh dipakai. Jangan ditaruh di dengkul!" ucapnya ketus. Padahal Liora sudah minta maaf, pria itu malah ngomel-ngomel nggak jelas.

"Hallo, Om. Ini tuh toko baju. Bukan tempat untuk pacaran. Ngapain juga Om dan pacarnya peluk-peluk mesra di depan umum. Kalau mau pacaran tuh di tempat yang sepi. Bukan di tempat umum seperti ini. Nggak malu apa? Inget umur, Om!"

"Kamu ngatain saya tua....!" marah pria itu.

"Oh, Om-nya ngrasa tua ya! Baguslah kalau merasa. Jadi, Om-nya masih waras...!" ujarnya enteng sambil nyengir.

Dora dan Sinta cuma bengong. Mereka takut, makanya tidak berani mendekat. Mending cari aman. Takut kena masalah. Mereka pun pura-pura nggak kenal Liora.

"Kamu ngatain saya nggak waras?" pekik pria itu murka.

"Makanya kalau ngerasa waras nggak perlu kali marah-marah cuman masalah sepele. Toh saya sudah minta maaf."

"Kamu.....!"

"Apa?" Liora semakin melotot.

"Mas sudah. Jangan diteruskan. Malu!" ujar si wanita. Memberhentikan perdebatan itu ditengah kerumunan pengunjung yang lain.

"Ayo kita keluar!" tarik si wanita. Menarik tangan kekasihnya keluar dari toko tersebut. Pria itu pun menurut.

Liora merasa heran melihat si cewek yang mengenakan hijab tidak menolak saat pria itu meraba lengannya. Liora mengerucutkan bibirnya sejenak, bingung melihatnya.

"Hmm, mungkin mereka suami istri," gumam Liora mencoba memberi alasan pada dirinya sendiri.

Namun, ada perasaan tidak nyaman yang terus menggelayuti hatinya. Meskipun mereka mungkin adalah suami istri, Liora merasa jika mengumbar kemesraan di depan umum tetap saja kurang pantas, terlebih lagi karena si cewek berhijab. Dengan perasaan tersebut, ia memilih untuk melanjutkan perjalanannya tanpa mempedulikan lagi pasangan tersebut.

"Ck, kalian ini nggak bantu malah pura-pura nggak kenal!" sewot Liora pada dua sahabat.

"Hehehe. Sorry, Beb. Cowoknya serem!" ujar Doraemon.

"Iya Gue juga takut!" timpal Sinta.

"Apa yang perlu ditakuti? Orang gue dah minta maaf kok. Eh, dia malah nyolot! Dipikir gue takut apa?" kesal Liora, "Kesel deh gue....!"

"Gue heran deh. Mereka sebenarnya pasangan suami istri bukan ya? Kok bisa mesra banget kayak gitu!" celetuk Sinta.

"Terlepas mereka suami istri atau bukan, ya nggak begitu dong. Si cewek nih berhijab, harusnya si cowok bisa mengkondisikan tempat. Percuma dong pake hijab nggak punya adab. Mending gue....!"

"Wuih, kenapa tiba-tiba sahabat kita jadi cewek solehatun ya? Perasaan kalau masalah agama dia paling ogah-ogahan. Musuh terbesarnya kan Pak Agam, guru agama yang galak entu!" kekeh Sinta.

"Hahaha, iya." Timpal si Dora.

"Beda lah. Orang kalau dia yang ngajar, semua anak harus bisa nulis huruf Hijaiyah, yang nyambung-nyambung mirip cacing pita. Ih, geliiii.....! Kalian kan tau, itu kelemahan gue!"

"Iyalah. Orang kalau ngaji, dia malah kabur. Main gundu sama anak TK! Mana tahu dia....!" kekeh Doraemon. Mona jadi ikut terbahak-bahak.

"Sudah ih. Kita cari makan yuk. Gue traktir mumpung gue dapat rejeki nomplok!"

"Dapat dari mana, Li?"

"Malak Abang gue. Bang Sat....!"

Bangsat panggilan kesayangan Liora pada abangnya. Padahal kalau Mirna denger nih, anak sulungnya dipanggil seperti itu, tanduknya langsung memanjang. Siap-siap tuh emak-emak, ceramah tujuh hari tujuh malam.

Bersambung....

Komentar ya say....😘😘😘

Terpopuler

Comments

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

jangan bilang cewek ntu si Sarah calon bini si Agam yah

2024-12-30

0

☠☀💦Adnda🌽💫

☠☀💦Adnda🌽💫

jngn *tuh cewek si sarah y yg mau dijodohin sama Agam 🤔🤔

2024-12-17

0

Aditya HP/bunda lia

Aditya HP/bunda lia

asli baca novelmu aku nyengir terus thor ... 😂😂 lucu

2024-12-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Liora Konyol
2 Bab 2 : Dihukum
3 Bab 3 : Tawuran
4 Bab 4 : Ngemol
5 Bab 5 : Baju Mirip Gelandangan
6 Bab 6 : Kondangan
7 Bab 7 : Jika Dia Bukan Pengantin Prianya, Lalu siapa?
8 Bab 8 : Kacau Balau
9 Bab 9 : Dipanggil Yai
10 Bab 10 : Kamu Harus Bertanggungjawab
11 Bab 11 : Sah
12 Bab 12 : Hotel
13 Bab 13 : Kita Suami Istri
14 Bab 14 : Suami Mesum
15 Bab 15 : Berkemas
16 Bab 16 : Senyum Itu Ibadah
17 Bab 17 : Apa-apaan Dia
18 Bab 18 : Mereka Bukan Mahram
19 Bab 19 : Skorsing
20 Bab 20 : Mulai Belajar Ngaji
21 Bab 21 : Back To School
22 Bab 22 : Bukannya Itu Liora dan Pak Agam????
23 Bab 23 : Jangan Sebarin Berita Bohong!!!!
24 Bab 24 : Jadi Beneran Lo Dah Married????
25 Bab 25 : Wanita Jadi-jadian
26 Bab 26 : Gue Kejar Lo Sampai Dapet
27 Bab 27 : Cewek Tadi Siapa?
28 Bab 28 : Suami
29 Bab 29 : Jatuh Cinta
30 Bab 30 : Mirip Pentungan Pak Satpam
31 Bab 31 : Kamu Cemburu?!?
32 Bab 32 : Itu Namanya Jatuh Cinta, Dodol?
33 Bab 33 : Kutukan Kamu Kayaknya Bener???
34 Bab 34 : Sakit
35 Bab 35 : Mantan Emang Harus Dihempaskan
36 Bab 36 : Kissing
37 Bab 37 : Terbawa Suasana
38 Bab 38 : Lingerie-nya Mana?
39 Bab 39 : Naila Syok
40 Bab 40 : Dikira Alergi Seafood
41 Bab 41 : Akhirnya.....
42 Bab 42 : Tanda Merah Di Leher
43 Bab 43 : Bu Naila Mencari Gara-gara
44 Bab 44 : Keluhan Liora
45 Bab 45 : Begal
46 Bab 46 : Begal 2
47 Bab 47 : Kedatangan Papa dan Mama
48 Bab 48 : Penguntit
49 Bab 49 : Tito Patah Hati
50 Bab 50 : Tito Mogok Makan
51 Bab 51 : Suasana Di Kantin Sekolah
52 Bab 52 : Sidang
53 Bab 53 : Kami Sudah Menikah?
54 Bab 54 : Dikeluarkan Dari Sekolah
55 Bab 55 : Penyesalan Papa dan Mama
56 Bab 56 : Perjalanan Ke Cirebon
57 Bab 57 : Pondokan Mbah Yai
58 Bab 58 : Cosplay Jadi Monyet
59 Bab 59 : Dengerin Ceramah
60 Bab 60 : Pengen Mondok
61 Bab 61 : Aku Ingin Memantaskan Diri
62 Bab 62 : Mirip Balonnya Gio
63 Bab 63 : Curhatan Tito
64 Bab 64 : Rumah Sakit
65 Bab 65 : Darul Ilmi
66 Bab 66 : Diterima Jadi Santriwati
67 Bab 67 : Seminggu Berlalu
68 Bab 68
69 Bab 69 : Kangen-kangenan
70 Bab 70 : Lingerie Merah
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74 : Abang Kamu Kah?????
75 Bab 75 : Lah, Wong Sudah Sah Kok????
76 Bab 76 : Kedatangan Agam
77 Bab 77 : Ngidam
78 Bab 78
79 Bab 79
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Bab 1 : Liora Konyol
2
Bab 2 : Dihukum
3
Bab 3 : Tawuran
4
Bab 4 : Ngemol
5
Bab 5 : Baju Mirip Gelandangan
6
Bab 6 : Kondangan
7
Bab 7 : Jika Dia Bukan Pengantin Prianya, Lalu siapa?
8
Bab 8 : Kacau Balau
9
Bab 9 : Dipanggil Yai
10
Bab 10 : Kamu Harus Bertanggungjawab
11
Bab 11 : Sah
12
Bab 12 : Hotel
13
Bab 13 : Kita Suami Istri
14
Bab 14 : Suami Mesum
15
Bab 15 : Berkemas
16
Bab 16 : Senyum Itu Ibadah
17
Bab 17 : Apa-apaan Dia
18
Bab 18 : Mereka Bukan Mahram
19
Bab 19 : Skorsing
20
Bab 20 : Mulai Belajar Ngaji
21
Bab 21 : Back To School
22
Bab 22 : Bukannya Itu Liora dan Pak Agam????
23
Bab 23 : Jangan Sebarin Berita Bohong!!!!
24
Bab 24 : Jadi Beneran Lo Dah Married????
25
Bab 25 : Wanita Jadi-jadian
26
Bab 26 : Gue Kejar Lo Sampai Dapet
27
Bab 27 : Cewek Tadi Siapa?
28
Bab 28 : Suami
29
Bab 29 : Jatuh Cinta
30
Bab 30 : Mirip Pentungan Pak Satpam
31
Bab 31 : Kamu Cemburu?!?
32
Bab 32 : Itu Namanya Jatuh Cinta, Dodol?
33
Bab 33 : Kutukan Kamu Kayaknya Bener???
34
Bab 34 : Sakit
35
Bab 35 : Mantan Emang Harus Dihempaskan
36
Bab 36 : Kissing
37
Bab 37 : Terbawa Suasana
38
Bab 38 : Lingerie-nya Mana?
39
Bab 39 : Naila Syok
40
Bab 40 : Dikira Alergi Seafood
41
Bab 41 : Akhirnya.....
42
Bab 42 : Tanda Merah Di Leher
43
Bab 43 : Bu Naila Mencari Gara-gara
44
Bab 44 : Keluhan Liora
45
Bab 45 : Begal
46
Bab 46 : Begal 2
47
Bab 47 : Kedatangan Papa dan Mama
48
Bab 48 : Penguntit
49
Bab 49 : Tito Patah Hati
50
Bab 50 : Tito Mogok Makan
51
Bab 51 : Suasana Di Kantin Sekolah
52
Bab 52 : Sidang
53
Bab 53 : Kami Sudah Menikah?
54
Bab 54 : Dikeluarkan Dari Sekolah
55
Bab 55 : Penyesalan Papa dan Mama
56
Bab 56 : Perjalanan Ke Cirebon
57
Bab 57 : Pondokan Mbah Yai
58
Bab 58 : Cosplay Jadi Monyet
59
Bab 59 : Dengerin Ceramah
60
Bab 60 : Pengen Mondok
61
Bab 61 : Aku Ingin Memantaskan Diri
62
Bab 62 : Mirip Balonnya Gio
63
Bab 63 : Curhatan Tito
64
Bab 64 : Rumah Sakit
65
Bab 65 : Darul Ilmi
66
Bab 66 : Diterima Jadi Santriwati
67
Bab 67 : Seminggu Berlalu
68
Bab 68
69
Bab 69 : Kangen-kangenan
70
Bab 70 : Lingerie Merah
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74 : Abang Kamu Kah?????
75
Bab 75 : Lah, Wong Sudah Sah Kok????
76
Bab 76 : Kedatangan Agam
77
Bab 77 : Ngidam
78
Bab 78
79
Bab 79

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!