Bab 6 : Kondangan

"Lihat anak kamu tuh, Pah. Bisa-bisanya ya ikut tawuran. Bener dah." Mirna Wati tambah frustasi, "Sama anak cowok pula. Mama sampai malu tadi mengahadap guru BK. Bibir mama sampai beku, bingung mau ngasih alasan apa!" gerutu si mama.

Liora hanya menundukkan kepalanya. Sebenarnya dia tidak terlalu memikirkan omelan sang mama. Yang sedang dipikirkannya sekarang, desas-desus Pak Agam yang katanya mau married, entah kenapa mengganggu pikirannya. Pria itu sudah meliburkan diri tadi pagi.

Sang mama lagi sibuk ngomel, pikiran Liora malah melayang jauh entah ke mana. Pokoknya dia nggak peduli dan nggak dengerin keluh sang mama pada suami tercintanya itu. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.

Arian menghela nafasnya panjang mendengar keluh kesah istri tercinta. Bagaimana tidak, kupingnya sampai budek mendengar Mirna dari tadi ngomel panjang bener, nggak brenti-brenti. Dia baru mangap mau urun suara, tapi si istri langsung memotong. Baru mau bilang B, Mirna potong lagi. Pria itu pun kembali menutup mulutnya rapat-rapat membiarkan sang istri mengeluarkan unek-uneknya sampai puas. Catet ya, PUAS.

Mendengar itu Liora langsung menelan salivanya kasar. Serem ini mah, kalau kanjeng ratu sudah marah.

"Ih, papa. Ngomong dong. Jangan diem Bae! Orang anaknya badung begitu didiemin aja. Dimarahin kek. Ditempeleng kek. Ditabok pake sendal kek. Jangan diem bae, Papa. Ngomong dong!" seru sang istri dengan hebohnya.

"Bagaimana papa mau ngomong? Orang dari tadi mama nyerocos terus mirip kereta api!" protes suaminya.

"Hehehehe, iya ya. Maaf, Pah. Abisnya mama kesel!" ucap Mirnawati cengengesan. Arian hanya menggelengkan kepalanya. Istri dan anak sama-sama sablengnya. Namun begitu ia sangat menyayangi dua wanita itu.

"Papa dengerin keluh kesah mamah nggak sih?"

"Iya. Papa dengerin kok!"

"Terus gimana?" sentak sang istri.

"Apanya yang gimana?"

"Ya tindakan papa selaku orang tua. Masa mau diem bae liat anak kita tambah brutal kayak gitu? Inget, Pah. Anak kita itu perempuan, bukan laki. Napa juga dia ikut tawuran? Kayak anak laki aja. Asli parah ini, Pah. Pergaulannya dah nggak bener. Daripada kayak gitu, mending kawinin aja ...!"

"Ish, mama sembarangan banget kalau ngomong!" timpal Liora.

"Diem kamu...!" seru keduanya membentak Liora agar tidak ikut campur urusan orang tua lagi berembuk. Padahal dari tadi Liora diem aja, tapi begitu ngedenger kata kawin, dia baru protes, tapi langsung dibentak.

"Dasar mama kandung rasa ibu tiri!" umpat Liora di dalam hati.

"Terus mama mau-nya gimana? Papa marahin Liora? Dia itu dah besar, Mah. Malu ditabok terus pake sandal. Bokongnya aja ampe kapalen saking seringnya mama tabokin!" beo sang papa. Liora terkekeh geli dalam hati. Mendengar ucapan sang papa yang begitu menggelitik.

Jelas papanya nggak akan tega memarahinya, apalagi sampai pake kekerasan fisik. Nggak seperti Mirna Wati. Ibu kandung tapi rasa ibu tiri.

Kenapa nggak mama Ashanty saja sih yang jadi mamanya? Biar Aurel bisa merasakan punya ibu kandung tapi rasa ibu tiri kayak dirinya.

Huft....

Liora menghela nafasnya panjang sambil meniup-niup poninya yang semakin menjuntai menutupi mata. Mendengar perdebatan kedua orangtuanya, membuat gadis cantik itu mengantuk, apalagi seharian ini dia harus berdebat dengan guru BK, memohon-mohon supaya Bu Haslinda tidak membawa-bawa orang tua dalam masalah kemarin, tapi tetep aja guru itu keukeh ingin bertemu, alhasil ya seperti sekarang. Tanduk Mirna Wati langsung memanjang.

Ternyata, Liora bukan satu-satunya yang kerap mendengar ceramah panjang lebar dari orang tuanya. Di rumahnya, Tito pun mendapat perlakuan serupa. Raut wajah mereka berdua pasrah saat diomeli oleh orang tua masing-masing. Namun ada perbedaan, jika orang tua Liora masih bersama, sementara orang tua Tito sudah bercerai. Meski begitu, tak menghalangi mereka untuk tetap bekerjasama dalam mengomel bersama-sama saat ada masalah menyangkut anak mereka. Ekspresi wajah Tito cemas, takut mereka kembali bertengkar.

Itulah kenapa mereka bisa sampai bercerai.

"Semua ini salah, Mas. Harusnya mas lebih perhatian sama anak!" ucap Bu Kiranti, mamanya Tito.

"Kok aku yang salah? Harusnya mengurus anak itu kewajiban kamu sebagai seorang ibu. Tidak hanya fokus dengan karier saja. Kewajiban sampai di lupain!" ucap Pak Topan mendengus kesal.

"Memang kalau tidak kerja, kamu bisa menyekolahkan Tito disekolah elite itu? Memang gaji kamu bisa mencukupi semua kebutuhan anak kamu? Bisa membelikan Tito motor sport yang sekarang dipakainya? Ingat, Mas. Semuanya aku yang beli. Uang kamu itu hanya cukup untuk makan."

"Idih, gitu aja bangga. Aku juga bisa mencukupi kebutuhan Tito tanpa bantuan dari kamu. Nyatanya sampai sekarang, Tito hidup enak. Berkecukupan. Mau apa tinggal bilang. Fasilitas di rumah juga tidak kalah dengan teman-temannya!"

Lagi-lagi Tito harus mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya, yang selalu saling membangga-banggakan diri mereka masing-masing. Ya ujung-ujungnya memicu pertengkaran. Itulah yang membuat Tito tidak betah di rumah. Ia pun memilih pergi dari sana, ndekem di kamar.

******

Tiga Hari kemudian.

Mirna menyuruh Liora bersiap-siap. Begitu juga pada suaminya, karena hari ini mereka sekeluarga akan memenuhi undangan Yai Ahmad. Undangan pernikahan cucunya.

Keluarga kecil Satya juga ikut. Satya mengajak istri dan anaknya, Gio, ke pesta pernikahan itu.

Denger-denger sih pernikahannya di adakan di ballroom hotel bintang 5. Pernikahan yang cukup mewah dan berkelas menurut Arian sekeluarga. Arian pernah mendengar nama hotel itu. Kalau nggak salah hotel itu biasa dijadikan tempat untuk melakukan resepsi pernikahan. Dan mereka sekeluarga sudah bersiap menuju ke sana.

"Pah, ijabnya dijadikan satu dengan acara resepsi?" tanya Mirna pada suaminya yang duduk di sebelah Satya yang sedang fokus mengemudikan mobil.

Yah mereka menuju ke sana dengan menggunakan mobil Satya. Kebetulan Satya baru beli mobil baru, yang lebih luas dan muat seluruh anggota keluarga tanpa berdesakan.

"Iya kayaknya, Mah. Kemarin Pak Yai meminta langsung pada papa ikut menyaksikan acara ijabnya!"

"Oh," sahut sang istri hanya membulatkan bibir membentuk huruf o.

Liora duduk memangku keponakannya, sambil bercanda ria. Dan sesekali gadis manis itu menggelitik perut bocah gendut itu, hingga terkekeh-kekeh karena kegelian.

"Li, jangan digelitikin terus Gionya. Nanti pipis di celana!" tegur sang mama pada putrinya.

Liora hanya nyengir, tapi tetep nggak mengindahkan ucapan sang mama. Dia terus saja menggelitik perut gembul keponakannya itu. Abisnya perjalanan yang lama, membuatnya jenuh dan bosan. Untung ada Gio. Semua terasa lebih menyenangkan.

Akhirnya mobil itu sampai di parkiran hotel. Parkiran sudah penuh dengan kendaraan. Mobil dan motor berjejer rapi, karena sudah ada yang mengaturnya. Begitu juga ruangan acara, ada petugas keamanan yang memberikan arah pada para tamu untuk duduk sesuai dengan petunjuk undangan tersebut.

Undangan dengan pita warna merah, artinya untuk keluarga. Berarti harus duduk di sayap sebelah kanan. Sementara undangan dengan pita berwarna biru, artinya untuk umum. Berarti mereka harus duduk sayap sebelah kiri.

Arian sekeluarga beruntung mendapatkan undangan dengan pita berwarna merah. Mereka diarahkan petugas untuk berjalan ke tempat duduk di sayap kanan.

Kyai Ahmad sudah menganggap Arian seperti putranya sendiri. Dulu, Arian dan Hidayat sangat dekat. Sama-sama mondok di pesantren yang sama, dan tinggal di kamar yang sama pula. Dipondok milik Yai Ahmad sendiri yang ada di Cirebon.

Ketika liburan tiba, Arian lebih suka tetap tinggal di pesantren, karena sahabatnya Hidayat selalu mengajaknya menginap di rumah keluarganya - sebuah rumah utama yang ditempati oleh pak Yai dan dua istrinya.

Arian merasa sangat nyaman dan betah berada di sana. Rumah itu selalu penuh dengan berbagai sajian makanan lezat yang tak ada habisnya.

Dua istri Pak Yai, termasuk ibunya Hidayat yang akrab disapa Bu Nyai, selalu menyambut tamu dengan tangan terbuka dan memperlakukan mereka dengan sangat hormat. Arian sering merasa seperti anggota keluarga sendiri saat berada di sana, hingga melupakan rasa rindunya pada keluarga yang jauh di kampung halaman.

Kembali ke pesta.

"Pah, Liora mau ke toilet dulu. Kebelet pipis!" ujar gadis itu pada papanya.

"Ya sudah sana. Nanti ngompol di celana lagi!" sahut si papa terkekeh, sambil mendudukkan bokongnya di kursi.

"Ish, emang Liora, Gio, yang suka pipis di celana!"

Mendengar namanya disebut, Gio langsung menoleh ke arah Liora. Namun bocah itu nggak ngeh apa yang kedua orang dewasa itu obrolkan. Dia pun kembali sibuk dengan gawai di tangannya.

"Cepetan sana!" usir si papa.

Liora berjalan keluar ballroom mencari kamar mandi terdekat. Sayangnya kamar mandi terdekat sedang dibersihkan, ada tanda di depannya kalau kamar mandi itu sedang dibersihkan. Terpaksa Liora mencari kamar mandi yang lain yang ada di sekitaran situ.

Saking buru-burunya, tidak sengaja Liora menubruk tubuh seorang perempuan cantik memakai kebaya pengantin. Untung perempuan cantik itu tidak sampai terjatuh, karena dua orang bridesmaids yang berdiri di belakang perempuan itu langsung menangkap tubuhnya. Lekas Liora meminta maaf pada perempuan cantik berkebaya pengantin tersebut.

Wanita itu menatap datar ke arah Liora, tatapannya tajam, tapi aneh. Tanpa membalas ucapan Liora, perempuan itu berjalan melewati gadis manis itu begitu saja. Namun bukan ke arah ballroom, melainkan ke luar hotel.

Liora merasa familiar dengan wajah perempuan berkebaya pengantin itu. Meskipun riasannya cukup tebal, dengan polesan sana-sini, namun Liora yakin pernah melihat tatapan mata legam perempuan itu yang sangat familiar di ingatannya.

"Bukankah itu wanita ....!" gumam Liora di dalam hati.

Bersambung....

Komen dong.....

Terpopuler

Comments

Aditya HP/bunda lia

Aditya HP/bunda lia

ayo Lio bongkar kebusukan s sarah ... tuman pura2 alim aslinya liar ...

2024-12-16

1

☠☀💦Adnda🌽💫

☠☀💦Adnda🌽💫

bener kan si sarah ....jngn sampe nikah sama p Agam dia ....gagalin aja lion 🤭

2024-12-17

0

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

nah benar kan itu cewe yang ketemu sama Liora di mall

2024-12-30

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Liora Konyol
2 Bab 2 : Dihukum
3 Bab 3 : Tawuran
4 Bab 4 : Ngemol
5 Bab 5 : Baju Mirip Gelandangan
6 Bab 6 : Kondangan
7 Bab 7 : Jika Dia Bukan Pengantin Prianya, Lalu siapa?
8 Bab 8 : Kacau Balau
9 Bab 9 : Dipanggil Yai
10 Bab 10 : Kamu Harus Bertanggungjawab
11 Bab 11 : Sah
12 Bab 12 : Hotel
13 Bab 13 : Kita Suami Istri
14 Bab 14 : Suami Mesum
15 Bab 15 : Berkemas
16 Bab 16 : Senyum Itu Ibadah
17 Bab 17 : Apa-apaan Dia
18 Bab 18 : Mereka Bukan Mahram
19 Bab 19 : Skorsing
20 Bab 20 : Mulai Belajar Ngaji
21 Bab 21 : Back To School
22 Bab 22 : Bukannya Itu Liora dan Pak Agam????
23 Bab 23 : Jangan Sebarin Berita Bohong!!!!
24 Bab 24 : Jadi Beneran Lo Dah Married????
25 Bab 25 : Wanita Jadi-jadian
26 Bab 26 : Gue Kejar Lo Sampai Dapet
27 Bab 27 : Cewek Tadi Siapa?
28 Bab 28 : Suami
29 Bab 29 : Jatuh Cinta
30 Bab 30 : Mirip Pentungan Pak Satpam
31 Bab 31 : Kamu Cemburu?!?
32 Bab 32 : Itu Namanya Jatuh Cinta, Dodol?
33 Bab 33 : Kutukan Kamu Kayaknya Bener???
34 Bab 34 : Sakit
35 Bab 35 : Mantan Emang Harus Dihempaskan
36 Bab 36 : Kissing
37 Bab 37 : Terbawa Suasana
38 Bab 38 : Lingerie-nya Mana?
39 Bab 39 : Naila Syok
40 Bab 40 : Dikira Alergi Seafood
41 Bab 41 : Akhirnya.....
42 Bab 42 : Tanda Merah Di Leher
43 Bab 43 : Bu Naila Mencari Gara-gara
44 Bab 44 : Keluhan Liora
45 Bab 45 : Begal
46 Bab 46 : Begal 2
47 Bab 47 : Kedatangan Papa dan Mama
48 Bab 48 : Penguntit
49 Bab 49 : Tito Patah Hati
50 Bab 50 : Tito Mogok Makan
51 Bab 51 : Suasana Di Kantin Sekolah
52 Bab 52 : Sidang
53 Bab 53 : Kami Sudah Menikah?
54 Bab 54 : Dikeluarkan Dari Sekolah
55 Bab 55 : Penyesalan Papa dan Mama
56 Bab 56 : Perjalanan Ke Cirebon
57 Bab 57 : Pondokan Mbah Yai
58 Bab 58 : Cosplay Jadi Monyet
59 Bab 59 : Dengerin Ceramah
60 Bab 60 : Pengen Mondok
61 Bab 61 : Aku Ingin Memantaskan Diri
62 Bab 62 : Mirip Balonnya Gio
63 Bab 63 : Curhatan Tito
64 Bab 64 : Rumah Sakit
65 Bab 65 : Darul Ilmi
66 Bab 66 : Diterima Jadi Santriwati
67 Bab 67 : Seminggu Berlalu
68 Bab 68
69 Bab 69 : Kangen-kangenan
70 Bab 70 : Lingerie Merah
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74 : Abang Kamu Kah?????
75 Bab 75 : Lah, Wong Sudah Sah Kok????
76 Bab 76 : Kedatangan Agam
77 Bab 77 : Ngidam
78 Bab 78
79 Bab 79
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Bab 1 : Liora Konyol
2
Bab 2 : Dihukum
3
Bab 3 : Tawuran
4
Bab 4 : Ngemol
5
Bab 5 : Baju Mirip Gelandangan
6
Bab 6 : Kondangan
7
Bab 7 : Jika Dia Bukan Pengantin Prianya, Lalu siapa?
8
Bab 8 : Kacau Balau
9
Bab 9 : Dipanggil Yai
10
Bab 10 : Kamu Harus Bertanggungjawab
11
Bab 11 : Sah
12
Bab 12 : Hotel
13
Bab 13 : Kita Suami Istri
14
Bab 14 : Suami Mesum
15
Bab 15 : Berkemas
16
Bab 16 : Senyum Itu Ibadah
17
Bab 17 : Apa-apaan Dia
18
Bab 18 : Mereka Bukan Mahram
19
Bab 19 : Skorsing
20
Bab 20 : Mulai Belajar Ngaji
21
Bab 21 : Back To School
22
Bab 22 : Bukannya Itu Liora dan Pak Agam????
23
Bab 23 : Jangan Sebarin Berita Bohong!!!!
24
Bab 24 : Jadi Beneran Lo Dah Married????
25
Bab 25 : Wanita Jadi-jadian
26
Bab 26 : Gue Kejar Lo Sampai Dapet
27
Bab 27 : Cewek Tadi Siapa?
28
Bab 28 : Suami
29
Bab 29 : Jatuh Cinta
30
Bab 30 : Mirip Pentungan Pak Satpam
31
Bab 31 : Kamu Cemburu?!?
32
Bab 32 : Itu Namanya Jatuh Cinta, Dodol?
33
Bab 33 : Kutukan Kamu Kayaknya Bener???
34
Bab 34 : Sakit
35
Bab 35 : Mantan Emang Harus Dihempaskan
36
Bab 36 : Kissing
37
Bab 37 : Terbawa Suasana
38
Bab 38 : Lingerie-nya Mana?
39
Bab 39 : Naila Syok
40
Bab 40 : Dikira Alergi Seafood
41
Bab 41 : Akhirnya.....
42
Bab 42 : Tanda Merah Di Leher
43
Bab 43 : Bu Naila Mencari Gara-gara
44
Bab 44 : Keluhan Liora
45
Bab 45 : Begal
46
Bab 46 : Begal 2
47
Bab 47 : Kedatangan Papa dan Mama
48
Bab 48 : Penguntit
49
Bab 49 : Tito Patah Hati
50
Bab 50 : Tito Mogok Makan
51
Bab 51 : Suasana Di Kantin Sekolah
52
Bab 52 : Sidang
53
Bab 53 : Kami Sudah Menikah?
54
Bab 54 : Dikeluarkan Dari Sekolah
55
Bab 55 : Penyesalan Papa dan Mama
56
Bab 56 : Perjalanan Ke Cirebon
57
Bab 57 : Pondokan Mbah Yai
58
Bab 58 : Cosplay Jadi Monyet
59
Bab 59 : Dengerin Ceramah
60
Bab 60 : Pengen Mondok
61
Bab 61 : Aku Ingin Memantaskan Diri
62
Bab 62 : Mirip Balonnya Gio
63
Bab 63 : Curhatan Tito
64
Bab 64 : Rumah Sakit
65
Bab 65 : Darul Ilmi
66
Bab 66 : Diterima Jadi Santriwati
67
Bab 67 : Seminggu Berlalu
68
Bab 68
69
Bab 69 : Kangen-kangenan
70
Bab 70 : Lingerie Merah
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74 : Abang Kamu Kah?????
75
Bab 75 : Lah, Wong Sudah Sah Kok????
76
Bab 76 : Kedatangan Agam
77
Bab 77 : Ngidam
78
Bab 78
79
Bab 79

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!