Bab 9 : Dipanggil Yai

Brukk....

Liora merebahkan tubuhnya di kasur tipis yang ada di basecampnya Tito. Tito dan kawan-kawannya yang melihat kedatangan Liora dengan dress bermotif batik pun langsung menertawakannya. Bukannya apa-apa, mereka tertawa geli melihat Liora berdandan feminim layaknya cewek sungguhan.

Biasanya Liora selalu memakai celana panjang atau kulot. Kalau di rumah pun hanya memakai celana jeans pendek. Tak pernah mereka melihat Liora berdandan dan memakai dress cantik seperti sekarang.

"To, Minum dong! Gue aus....!" pintanya pada Tito yang masih menatapnya dengan serius.

"Nih....!" Tito pun menyodorkan botol air putih yang ada di atas meja.

"Ada yang berwana nggak?" tawar Liora.

"Bilang aja pengen dibeliin Finto!" sahut Danang.

"Hehehe. Tau aja lu, Nang. Emang kalian the best friend-nya Tito. Makasih ya!" kekeh gadis itu.

"Idih, siapa juga yang mau beliin, Lu?"

"Huh, dasar pelit, Lu!" umpat Liora memajukan bibirnya. Lalu, netranya beralih menatap ke Tito sambil cengar-cengir manja.

"Titooooooo, sahabat gue yang ganteng......! Beliin dong!"

"Ish, Lu tuh nyusahin aja kalau datang ke sini. Mending lu nggak usah datang deh!" sungut Tito. Liora pun nyengir.

Meski dengan setengah hati, tetap saja Tito membelikan minuman yang dimau sahabatnya itu.

Setelah mendapatkan minuman itu, Tito pun menyerahkannya pada Liora. Temen cewek Tito satu-satunya yang berani mengatur dan memerintah Tito sesuka hati.

"Makacih ya, To. Gue doain semoga Lu masuk surga!" ujarnya cekikikan.

"Lu doain gue meninggoy?"

"Eh, salah ya! Kalau gitu ganti deh. Gue doain, Semoga Tito sahabat gue tambah ganteng. Punya cewek. Duitnya tambah buuuaaaanyak, biar tiap hari nraktir gue terus!" ucap Liora ngakak.

"Enak di elu, nggak enak di gue...!" Tito cemberut. Lalu melirik ke arah Liora dengan sinis.

"Lu dari mana sih? Tumben banget dandan dan pakai baju kayak gini?" tanya Tito, tergelak.

"Napa? Gue Syantikkkkk ya?" Liora ngakak abis.

"Idih, Syantikkkkk dari Hongkong! Aneh, Lu!"

"Cantik gini dibilang aneh!" Liora melotot, "Ck, Ck, Ck. Parah. Parah. Mata elu nggak beres nih!"

"Enak aja ngatain mata gue nggak beres. Dandanan elu tuh yang nggak beres!"

"Gue tuh abis pulang dari kondangan, Tito....!"

"Hah, kondang?" mata Tito membelalak, "Cius?"

Liora manggut-manggut, "Cius. Dan elu tau, gue kondangan dimana?" seru Liora dengan suaranya yang lantang. Sontak Tito dan kawan-kawannya terjengit kaget.

"Idih, buset. Ni cewek petakilan banget ya!" bisik-bisik temennya Tito.

"Dimana?" tanya Tito sambil nyeruput es-nya.

"Pak Agam. Guru yang super duper nyebelin itu!"

"Hah...!" sontak semuanya ikut terkejut.

"Kok bisa? Emang lu dapat undangannya? Kan pernikahannya private. Nggak ngundang tamu modelan kayak elu!" ujar Tito.

"Sembarangan elu kalau ngomong. Emang gue napa? Nggak pantes gitu, gue diundang?" sewot Liora.

"Ya nggak gitu," Tito nyengir.

Mendadak wajah Liora muram mengingat kejadian yang menimpanya tadi. Ingat Pak Yai masuk rumah sakit. Pesta pernikahan Pak Agam yang terancam gagal. Atau mungkin sudah gagal gara-gara dirinya. Entahlah. Setelah sampai rumah, Liora memang pergi lagi untuk menenangkan diri. Makanya dia datang ke basecamp-nya Tito. Karena memang hanya tempat itu tujuannya sekarang.

"Ada apa?" tanya Tito penasaran melihat wajah sahabatnya muram.

Hehehehe, ternyata bisa sedih juga nih makhluk atu! Tito membatin.

Liora menatap manik Tito, lalu menceritakan semuanya dari awal. Tito dan keempat temannya juga ikut mendengarkan. Beberapa menit kemudian, mereka tertawa terpingkal-pingkal. Membuat Liora menatap mereka tajam sambil cemberut.

"Ja-ja-di ka-mu gagalin pernikahannya Pak Agam gara-gara......!" Tito dan kawan-kawannya kembali terbahak sambil memegangi perut.

Hahahaha........

Liora langsung meninju lengan Tito dengan keras saking kesalnya. Sudah tau dirinya lagi curhat, malah ditertawakan. Mana yang lucu coba?!?

"Ih dasar Tito gila! Gue curhat malah diketawain!"

"Abisnya elu cari penyakit sih? Hahahaha....!" Tito dan kawan-kawannya kembali tertawa jahat.

"Bisa-bisanya elu gagalin pesta orang? Berasa pahlawan lu...!" ejek Iwan, kawan Tito bertubuh jangkung, lalu mereka kembali tertawa.

"Ish, kalian nggak kasih solusi malah ngetawain gue...! Dah lah, mending gue cabut aja...!" sungut gadis itu, bersiap-siap untuk pergi.

"Eh, Tunggu....!" Tito menarik rambut panjang Liora, membuat gadis itu mendongak ke belakang, "Gue anterin pulang!"

"Ogah. Gue naik taksi saja....!"

"Cari taksi jam segini susah, Li. Dah gue anterin pulang!"

"Haish, tapi berhenti ngetawain gue....!" teriak Liora memasang wajah galak.

"Okey. Okey. Gue nggak ngetawain lu lagi. Okey? Yuk gue antar pulang....!"

Liora pun duduk di boncengan motornya Tito sambil merengut saking kesalnya.

"Pegangan nanti jatoh!"

"Hem!" jawab Liora dengan malas.

Tak lama kemudian, mereka sudah berada di halaman rumah Liora. Tiba-tiba, asisten rumah tangga yang telah lama bekerja di sana memanggil Liora dengan wajah bingung.

"Non, tadi bapak telpon. Katanya non disuruh ke RS lagi. Tapi, Den Satya dan istrinya dah pulang dari tadi. Non mau bibi pesenkan taksi?" tanya bibi tersebut.

Liora mengernyit, bingung. "Duh, kenapa papa nyuruh saya ke RS lagi, Bi?"

"Nggak tau, Non. Bapak nggak jelasin apa-apa. Cuma bibi disuruh bilang kayak gitu doang!"

Liora mengerutkan dahi, wajahnya pias. "Duh, ngapain lagi sih?" gumamnya.

Tito yang menyaksikan kejadian itu, terkekeh dan berkata sambil bercanda, "Jangan-jangan mereka mau menjarain elu, Li?"

Liora melotot kesal, "Elu mah nakut-nakutin...!"

Mendengar itu, Tito menawarkan diri, "Ya udah, sekalian gue anterin yuk!"

"Nggak ngerepotin elu?" tanya Liora.

Tito menjawab dengan ekspresi jenaka, "Buset dah. Biasanya aja lu ngerepotin gue terus. Nggak sadar lu?"

Liora tertawa ringan, "Hehehe, ih, bibir elu suka benerrr...! Yuk ah, gasken!"

******

"Lu mau masuk nggak?" tanya Liora begitu mereka sampai di parkiran rumah sakit.

"Nggak. Gue mau langsung pulang. Takut bokap nyariin gue!"

"Ya bilang lah, abis nganterin gue gitu?"

"Angin topan nggak bakalan percaya!"

"Kalau om Topan, marahin elu lagi, tinggal aduin aja ama Tante kiranti!"

"Kunyit asem juga pasti bakal mencak-mencak. Ujung-ujungnya mereka berantem lagi!" keluh Tito, menceritakan semuanya pada Liora. Untuk masalah keluarga, memang hanya Liora tempat Tito berkeluh kesah, juga sebaliknya. Liora pun begitu.

Begitulah, Tito memanggil papanya dengan panggilan angin topan. Sementara emaknya dipanggil kunyit asem. Mendengar itu, Liora hanya terkekeh geli.

"Ya udah. Terimakasih dan hati-hati ya, Tito!"

"Hem. Sama-sama. Gue balik....!" pamitnya.

Setelah memastikan motor Tito tak terlihat, Liora melangkah masuk ke RS dengan hati yang meragu. Matanya menerawang ke sana sini, mencari tanda-tanda kehadiran polisi. Dalam hati, Liora khawatir gara-gara kesalahannya tadi pagi, keluarga Pak Yai melaporkannya ke pihak berwajib. Dengan langkah lesu dan tubuh yang sedikit membungkuk, gadis itu menuju ruang rawat inap yang disebutkan bibinya tadi. Ekspresi wajahnya menampakkan kegelisahan yang mendalam, bergulat dengan pikiran yang tak menentu.

"Liora...!" panggil Arian pada putrinya yang sedang menunduk lesu.

"Eh, papa....!" Liora sedikit terhenyak melihat papanya sudah berdiri di depan ruangan VIP. Ruang rawat inap pria lansia itu.

"Sini dulu. Papa mau ngomong!" Arian menarik tangan putrinya ke sudut ruangan. Liora tidak menolak, ia menuruti ajakan papanya.

"Ada apa sih, Pah?"

"Pak Yai mau ngomong sama kamu. Nanti kalau ketemu Pak Yai, kamu minta maaf ya, Nak. Bila perlu kamu nangis, biar Pak Yai merasa iba. Dan tidak memperpanjang urusan tadi pagi!"

"Ta-tapi, Pah....!"

"Sudah, jangan tapi-tapian. Kali ini aja nurut sama omongan papa!"

"Hhhhhh," Liora nampak menghembuskan nafasnya kasar, "Iya. Nanti Liora minta maaf sama Pak Yai, sambil nangis-nangis. Bila perlu sambil kayang!"

Arian mengeplak bahu putrinya, saking gemasnya dengan anak perempuannya tersebut, yang selalu membuat masalah di manapun ia berada.

"Duh, sakit papa ...!" pekik gadis itu.

"Ayo cepetan masuk!" Arian menarik tangan putrinya agar masuk ke ruangan Pak Yai dirawat.

"Assalamu'alaikum...!"

"Walaikumsalam....!" sapa semua orang yang ada di dalam ruangan pak Yai.

"Kamu.....!" mata Agam terbelalak melihat Liora berdiri di hadapannya.

"Hey, Pak Agam!" sementara Liora menyapa gurunya itu sambil cengengesan.

Bersambung....

Xixixixixi....

Komen dong, biar ruame......

Terpopuler

Comments

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

mang dasar yah si Liora, yah ngeselin tapi kocak juga kadang kelakuannya

2024-12-30

1

Aditya HP/bunda lia

Aditya HP/bunda lia

siap-siap kamu mau dilamar tuh Lio

2024-12-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Liora Konyol
2 Bab 2 : Dihukum
3 Bab 3 : Tawuran
4 Bab 4 : Ngemol
5 Bab 5 : Baju Mirip Gelandangan
6 Bab 6 : Kondangan
7 Bab 7 : Jika Dia Bukan Pengantin Prianya, Lalu siapa?
8 Bab 8 : Kacau Balau
9 Bab 9 : Dipanggil Yai
10 Bab 10 : Kamu Harus Bertanggungjawab
11 Bab 11 : Sah
12 Bab 12 : Hotel
13 Bab 13 : Kita Suami Istri
14 Bab 14 : Suami Mesum
15 Bab 15 : Berkemas
16 Bab 16 : Senyum Itu Ibadah
17 Bab 17 : Apa-apaan Dia
18 Bab 18 : Mereka Bukan Mahram
19 Bab 19 : Skorsing
20 Bab 20 : Mulai Belajar Ngaji
21 Bab 21 : Back To School
22 Bab 22 : Bukannya Itu Liora dan Pak Agam????
23 Bab 23 : Jangan Sebarin Berita Bohong!!!!
24 Bab 24 : Jadi Beneran Lo Dah Married????
25 Bab 25 : Wanita Jadi-jadian
26 Bab 26 : Gue Kejar Lo Sampai Dapet
27 Bab 27 : Cewek Tadi Siapa?
28 Bab 28 : Suami
29 Bab 29 : Jatuh Cinta
30 Bab 30 : Mirip Pentungan Pak Satpam
31 Bab 31 : Kamu Cemburu?!?
32 Bab 32 : Itu Namanya Jatuh Cinta, Dodol?
33 Bab 33 : Kutukan Kamu Kayaknya Bener???
34 Bab 34 : Sakit
35 Bab 35 : Mantan Emang Harus Dihempaskan
36 Bab 36 : Kissing
37 Bab 37 : Terbawa Suasana
38 Bab 38 : Lingerie-nya Mana?
39 Bab 39 : Naila Syok
40 Bab 40 : Dikira Alergi Seafood
41 Bab 41 : Akhirnya.....
42 Bab 42 : Tanda Merah Di Leher
43 Bab 43 : Bu Naila Mencari Gara-gara
44 Bab 44 : Keluhan Liora
45 Bab 45 : Begal
46 Bab 46 : Begal 2
47 Bab 47 : Kedatangan Papa dan Mama
48 Bab 48 : Penguntit
49 Bab 49 : Tito Patah Hati
50 Bab 50 : Tito Mogok Makan
51 Bab 51 : Suasana Di Kantin Sekolah
52 Bab 52 : Sidang
53 Bab 53 : Kami Sudah Menikah?
54 Bab 54 : Dikeluarkan Dari Sekolah
55 Bab 55 : Penyesalan Papa dan Mama
56 Bab 56 : Perjalanan Ke Cirebon
57 Bab 57 : Pondokan Mbah Yai
58 Bab 58 : Cosplay Jadi Monyet
59 Bab 59 : Dengerin Ceramah
60 Bab 60 : Pengen Mondok
61 Bab 61 : Aku Ingin Memantaskan Diri
62 Bab 62 : Mirip Balonnya Gio
63 Bab 63 : Curhatan Tito
64 Bab 64 : Rumah Sakit
65 Bab 65 : Darul Ilmi
66 Bab 66 : Diterima Jadi Santriwati
67 Bab 67 : Seminggu Berlalu
68 Bab 68
69 Bab 69 : Kangen-kangenan
70 Bab 70 : Lingerie Merah
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74 : Abang Kamu Kah?????
75 Bab 75 : Lah, Wong Sudah Sah Kok????
76 Bab 76 : Kedatangan Agam
77 Bab 77 : Ngidam
78 Bab 78
79 Bab 79
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Bab 1 : Liora Konyol
2
Bab 2 : Dihukum
3
Bab 3 : Tawuran
4
Bab 4 : Ngemol
5
Bab 5 : Baju Mirip Gelandangan
6
Bab 6 : Kondangan
7
Bab 7 : Jika Dia Bukan Pengantin Prianya, Lalu siapa?
8
Bab 8 : Kacau Balau
9
Bab 9 : Dipanggil Yai
10
Bab 10 : Kamu Harus Bertanggungjawab
11
Bab 11 : Sah
12
Bab 12 : Hotel
13
Bab 13 : Kita Suami Istri
14
Bab 14 : Suami Mesum
15
Bab 15 : Berkemas
16
Bab 16 : Senyum Itu Ibadah
17
Bab 17 : Apa-apaan Dia
18
Bab 18 : Mereka Bukan Mahram
19
Bab 19 : Skorsing
20
Bab 20 : Mulai Belajar Ngaji
21
Bab 21 : Back To School
22
Bab 22 : Bukannya Itu Liora dan Pak Agam????
23
Bab 23 : Jangan Sebarin Berita Bohong!!!!
24
Bab 24 : Jadi Beneran Lo Dah Married????
25
Bab 25 : Wanita Jadi-jadian
26
Bab 26 : Gue Kejar Lo Sampai Dapet
27
Bab 27 : Cewek Tadi Siapa?
28
Bab 28 : Suami
29
Bab 29 : Jatuh Cinta
30
Bab 30 : Mirip Pentungan Pak Satpam
31
Bab 31 : Kamu Cemburu?!?
32
Bab 32 : Itu Namanya Jatuh Cinta, Dodol?
33
Bab 33 : Kutukan Kamu Kayaknya Bener???
34
Bab 34 : Sakit
35
Bab 35 : Mantan Emang Harus Dihempaskan
36
Bab 36 : Kissing
37
Bab 37 : Terbawa Suasana
38
Bab 38 : Lingerie-nya Mana?
39
Bab 39 : Naila Syok
40
Bab 40 : Dikira Alergi Seafood
41
Bab 41 : Akhirnya.....
42
Bab 42 : Tanda Merah Di Leher
43
Bab 43 : Bu Naila Mencari Gara-gara
44
Bab 44 : Keluhan Liora
45
Bab 45 : Begal
46
Bab 46 : Begal 2
47
Bab 47 : Kedatangan Papa dan Mama
48
Bab 48 : Penguntit
49
Bab 49 : Tito Patah Hati
50
Bab 50 : Tito Mogok Makan
51
Bab 51 : Suasana Di Kantin Sekolah
52
Bab 52 : Sidang
53
Bab 53 : Kami Sudah Menikah?
54
Bab 54 : Dikeluarkan Dari Sekolah
55
Bab 55 : Penyesalan Papa dan Mama
56
Bab 56 : Perjalanan Ke Cirebon
57
Bab 57 : Pondokan Mbah Yai
58
Bab 58 : Cosplay Jadi Monyet
59
Bab 59 : Dengerin Ceramah
60
Bab 60 : Pengen Mondok
61
Bab 61 : Aku Ingin Memantaskan Diri
62
Bab 62 : Mirip Balonnya Gio
63
Bab 63 : Curhatan Tito
64
Bab 64 : Rumah Sakit
65
Bab 65 : Darul Ilmi
66
Bab 66 : Diterima Jadi Santriwati
67
Bab 67 : Seminggu Berlalu
68
Bab 68
69
Bab 69 : Kangen-kangenan
70
Bab 70 : Lingerie Merah
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74 : Abang Kamu Kah?????
75
Bab 75 : Lah, Wong Sudah Sah Kok????
76
Bab 76 : Kedatangan Agam
77
Bab 77 : Ngidam
78
Bab 78
79
Bab 79

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!