Bab 16 : Senyum Itu Ibadah

"Kalian sudah pulang?" tanya bunda Nurma menyambut kedatangan anak dan anak menantunya.

"Alhamdulillah, sudah, Bun." jawaban mereka kompak.

"Ih, kompak banget sih. Seneng deh bunda dengernya." Kekeh Nurma, "Sudah pada makan belum?"

"Sudah kok, Bun. Tadi sekalian makan di rumah mama Mirna," jawab Liora tersenyum kecil.

"Ya sudah, sana masuk. Tuh, papa dan Raisa dah pulang!" ucap Bunda.

Mereka pun masuk ke dalam rumah, dan benar saja, papa Hidayat dan Raisa sudah balik dari Cirebon. Agam dan Liora langsung menyalami tangan papa Hidayat.

"Dari mama mertua, Gam?" tanya Hidayat. Ia melirik ke arah koper yang putranya bawa. Dan sudah pasti itu barang-barang menantunya.

"Iya, Yah. Ngambil barang-barangnya Liora," jawab Agam mendudukkan bokongnya di sofa, disusul sang istri ikut duduk di samping sang suami. Liora merasa segan jika harus berhadapan dengan ayahnya Agam, sebisa mungkin ia harus bisa menjaga image di depan papa mertua.

"Sudah semua, Li?" tanya Hidayat beralih bertanya ke Liora.

"Ehm, sudah, Pak. Eh, ayah....!" Liora tersenyum canggung.

"Sa, salim dong sama Mas dan Mbakmu. Dari tadi sibuk maen hape terus?" tegur Hidayat merebut ponsel anak keduanya, bernama Raisa.

"Ih, ayah ah.....!" sewot gadis yang masih duduk di bangku SMP itu. Melihat Agam dan Liora, dia langsung tersenyum canggung. Lalu beranjak dari tempat duduknya, mengulurkan tangan untuk salim.

"Kamu tuh bukannya rajin belajar malah semakin menjadi. Mau jadi apa kamu?" galak Agam.

Ternyata sikap galak Agam bukan hanya diterapkan pada siswa-siswinya, pada adiknya juga begitu. Raisa beranjak dari tempat duduknya, sambil memonyongkan bibirnya.

"Ish, Mas Agam pelit!" sungut Raisa sambil menggerutu.

Ayah dan bunda terkekeh, sementara Liora mengigit bibirnya kuat-kuat. Sifat Raisa sama persis dengan dirinya, yang tidak suka dilarang-larang.

"Mana hapenya?" seru Agam dengan suara yang cukup tegas. Raisa pun menyerahkan hape itu, bibirnya semakin maju lucu sekali.

"Mas kembalikan kalau kamu sudah selesai belajar!" ujarnya tegas.

"Iya. Iya." Akhirnya Raisa patuh, ia pun langsung berjalan ke arah kamarnya yang berada di lantai dua, di samping kamar Agam persis.

"Hahahaha, disini kamu jangan kaget, Liora. Pemandangan seperti tadi akan kamu lihat setiap hari!" ucap Hidayat terkekeh.

Liora meneguk salivanya kasar.

Jika pada adiknya saja tegas seperti itu, lalu bagaimana pada dirinya. Nafas Liora kembang kempis memikirkan itu. Sungguh itu hal yang tidak baik dan tidak menguntungkan baginya.

"Raisa itu hanya akan takut pada kakaknya," ucap bunda Nurma membelai rambut Liora dengan sayang. Liora hanya nyengir kuda sambil melirik ke arah Agam, yang sedang sibuk dengan gawainya tersebut, seperti biasa tanpa ekspresi.

"Kalian pasti kecapekan. Sana langsung istirahat!" suruh Papa Hidayat pada keduanya.

"Ah, iya. Liora ke kamar dulu ya, Bun, Yah. Besok Liora sudah mulai sekolah, mau nyiapin baju dan bukunya!" pamit Liora pada keduanya.

"Tentu saja. Istirahatlah, Nak. Anggap seperti di rumah sendiri!" ujar Hidayat sambil bercanda.

Dengan malu-malu, Liora pun lekas naik ke lantai dua, ke kamar suaminya itu. Ia akan mengangkat kopernya sendiri, tapi Agam langsung menyambar koper tersebut, dan membawanya menuju kamar. Melihat itu mulut Liora ternganga lebar.

Bukan apa-apa, dia itu terkejut karena suaminya itu langsung menyambar koper begitu saja.

Sampai di kamar, Liora berdiri canggung. Matanya melirik ke sana kemari, mencari lemari untuk ia gunakan meletakkan baju-bajunya.

"Emmm....., Aa!" panggil Liora.

"Hemm!'

"Lemari bajuku mana? Terus baju-baju ku mau ditaruh di mana, Aa?"

"Kamu nggak liat lemari segede gaban?" tunjuk Agam, "Kamu bisa meletakkan baju-bajumu di sana!" ujar Agam tanpa ekspresi.

"Kita satu lemari, Aa?" tanya Liora lagi.

"Lah, iya. Emang kenapa?"

Liora langsung mengigit bibirnya sendiri. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana.

"Duh, kalau Aa sampai liat celana dalam dan bra punyaku, aku kan malu. Mana celana dalamnya udah pada bolong lagi!" gerutu Liora dalam hati.

"Kenapa? Kok diem aja?"

"Hehe, nggak apa-apa, Aa." Liora pun berjalan menuju lemari yang Agam maksud. Di sana ia meletakkan semua baju-bajunya.

******

Keesokan harinya.

Liora sudah siap kembali ke sekolah dengan wajah sedikit masam.

Bagaimana tidak?

Semalam ia tidak bisa tidur nyenyak. Matanya tak mau terpejam. Padahal sudah berbagai macam cara ia lakukan.

Semalaman Liora hanya menatap langit-langit kamarnya, mencoba membaca hingga mendengarkan musik lembut, tetapi matanya tetap terbuka lebar.

"Kamu nggak bisa tidur semalam?" tanya Agam, sambil mengusap rambutnya yang masih basah setelah mandi.

Dengan ekspresi lelah, Liora hanya mengangguk pelan.

Agam tersenyum nakal, "Kenapa? Takut saya terkam?"

Liora mengibaskan tangannya dengan cepat, "Eh, nggak. Siapa juga yang takut?" serunya, bibirnya mengerucut dalam pertahanan.

Agam mendekatkan wajahnya, penasaran, "Terus, kenapa nggak bisa tidur?"

Liora terdiam, malu mengakui bahwa dia takut Agam akan tahu kebiasaannya tidur sambil ngiler dan ngigau.Jatuh harga dirinya di depan gurunya sendiri.

"Aku mau turun. Mau sarapan!" ucap Liora mengalihkan pertanyaan suaminya itu.

"Tunggu. Kita keluar bareng!" ujar Agam.

"Ish, Aa manja sekali sih?" sungut Liora. Baru tau kalau Agam ternyata manja sekali.

"Bukannya manja. Aa cuman mau mendisiplinkan istri Aa!" ujarnya.

"Ck," desis Liora dengan melipat bibirnya.

Agam menatap Liora dengan sorotan yang tajam, namun suaranya berusaha tetap lembut.

"Li, sekarang kamu istriku, coba tunjukkan sikap yang pantas sebagai istri." Dia berhenti sejenak, mencari kata-kata yang tepat. "Aa tahu ini semua baru bagi mu dan Aa tidak meminta kamu untuk langsung mahir dalam segala hal. Waktu akan mengajarkanmu. Tapi, bisa tidak, setidaknya kamu mulai hari dengan senyuman manis? Bukan dengan cemberut yang mirip cuka basi. Senyuman itu ibadah, Li." Sengaja Agam ngomong begitu, untuk mengajari Liora sebagai seorang istri.

Liora menarik nafas dalam, mencoba menstabilkan emosi yang kacau balau sejak menikah. Kadang, dia merasa begitu marah pada Agam, terutama saat memikirkan tanggung jawab dan harapan yang dia pikul. Namun, kemudian, ada saat-saat dia tersadar bahwa ini semua sudah garis takdir.

"Iya, Maaf, Aa," katanya lembut, sebuah usaha tersenyum menghiasi bibirnya meski matanya tetap berkabut kebingungan.

Agam tersenyum, "Nah, itu kan lebih baik. Kamu cantik sekali kalau tersenyum."

Agam pun melenggang meninggalkan Liora yang masih terpaku di tempatnya berdiri setelah sang suami memujinya. Entahlah, tiba-tiba saja pipinya langsung memanas. Jantungnya bertalu-talu.

"OMG. Apakah dia sedang memuji?" Liora sampai memegangi pipinya sendiri.

"Ayo sarapan!" ajak bunda dan ayah untuk sarapan.

"Maaf ya, Bun. Liora bangunnya kesiangan!" jawab menantunya itu merasa tidak enak, "Liora jadi nggak bisa bantuin bunda deh!"

"Hehehehe, nggak apa-apa. Lagian bunda tau kok. Kamu hari ini sekolah. Harus mempersiapkan ini dan itu. Bunda paham kok. Kamu jangan mencemaskan itu, sudah ada bibi yang membantu bunda!" ujar wanita berkerudung itu dengan lembutnya.

"Terima kasih, Bunda!"

Betapa beruntungnya Liora memiliki mertua yang begitu baik seperti bunda Nurma. Nggak seperti mirnawati yang cerewet banget, sudah kayak mama tiri. Pagi-pagi begini pasti sang mama akan cerewet sekali, kuping Liora sampai budek mendengar Omelan sang mama di pagi hari.

"Nanti berangkat bareng aja? Kalian kan satu sekolah?" ucap Hidayat pada keduanya.

"Tentu dong, Yah. Kami kan tujuannya sama....!" sahut Agam mengulum senyum dalam hati.

"Wah, Raisa boleh nebeng dong?"

"Ish, seperti biasa kamu sama ayah dong?" ujar Hidayat pada putrinya.

"Ih, ayah nggak seru....!" sungut gadis muda itu cemberut.

Bersambung....

Komen ya????🤣🤣🤣

Terpopuler

Comments

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

terkadang sifat cerewet sang mama, suatu ssat pasti akan sangat kamu rindukan lho Li😉😉😉

2024-12-31

0

Queen Aliyah

Queen Aliyah

adeknya Agam kyknya satu server sama si lion 😁

2024-12-17

0

نور✨

نور✨

lanjut kka

2024-12-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Liora Konyol
2 Bab 2 : Dihukum
3 Bab 3 : Tawuran
4 Bab 4 : Ngemol
5 Bab 5 : Baju Mirip Gelandangan
6 Bab 6 : Kondangan
7 Bab 7 : Jika Dia Bukan Pengantin Prianya, Lalu siapa?
8 Bab 8 : Kacau Balau
9 Bab 9 : Dipanggil Yai
10 Bab 10 : Kamu Harus Bertanggungjawab
11 Bab 11 : Sah
12 Bab 12 : Hotel
13 Bab 13 : Kita Suami Istri
14 Bab 14 : Suami Mesum
15 Bab 15 : Berkemas
16 Bab 16 : Senyum Itu Ibadah
17 Bab 17 : Apa-apaan Dia
18 Bab 18 : Mereka Bukan Mahram
19 Bab 19 : Skorsing
20 Bab 20 : Mulai Belajar Ngaji
21 Bab 21 : Back To School
22 Bab 22 : Bukannya Itu Liora dan Pak Agam????
23 Bab 23 : Jangan Sebarin Berita Bohong!!!!
24 Bab 24 : Jadi Beneran Lo Dah Married????
25 Bab 25 : Wanita Jadi-jadian
26 Bab 26 : Gue Kejar Lo Sampai Dapet
27 Bab 27 : Cewek Tadi Siapa?
28 Bab 28 : Suami
29 Bab 29 : Jatuh Cinta
30 Bab 30 : Mirip Pentungan Pak Satpam
31 Bab 31 : Kamu Cemburu?!?
32 Bab 32 : Itu Namanya Jatuh Cinta, Dodol?
33 Bab 33 : Kutukan Kamu Kayaknya Bener???
34 Bab 34 : Sakit
35 Bab 35 : Mantan Emang Harus Dihempaskan
36 Bab 36 : Kissing
37 Bab 37 : Terbawa Suasana
38 Bab 38 : Lingerie-nya Mana?
39 Bab 39 : Naila Syok
40 Bab 40 : Dikira Alergi Seafood
41 Bab 41 : Akhirnya.....
42 Bab 42 : Tanda Merah Di Leher
43 Bab 43 : Bu Naila Mencari Gara-gara
44 Bab 44 : Keluhan Liora
45 Bab 45 : Begal
46 Bab 46 : Begal 2
47 Bab 47 : Kedatangan Papa dan Mama
48 Bab 48 : Penguntit
49 Bab 49 : Tito Patah Hati
50 Bab 50 : Tito Mogok Makan
51 Bab 51 : Suasana Di Kantin Sekolah
52 Bab 52 : Sidang
53 Bab 53 : Kami Sudah Menikah?
54 Bab 54 : Dikeluarkan Dari Sekolah
55 Bab 55 : Penyesalan Papa dan Mama
56 Bab 56 : Perjalanan Ke Cirebon
57 Bab 57 : Pondokan Mbah Yai
58 Bab 58 : Cosplay Jadi Monyet
59 Bab 59 : Dengerin Ceramah
60 Bab 60 : Pengen Mondok
61 Bab 61 : Aku Ingin Memantaskan Diri
62 Bab 62 : Mirip Balonnya Gio
63 Bab 63 : Curhatan Tito
64 Bab 64 : Rumah Sakit
65 Bab 65 : Darul Ilmi
66 Bab 66 : Diterima Jadi Santriwati
67 Bab 67 : Seminggu Berlalu
68 Bab 68
69 Bab 69 : Kangen-kangenan
70 Bab 70 : Lingerie Merah
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74 : Abang Kamu Kah?????
75 Bab 75 : Lah, Wong Sudah Sah Kok????
76 Bab 76 : Kedatangan Agam
77 Bab 77 : Ngidam
78 Bab 78
79 Bab 79
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Bab 1 : Liora Konyol
2
Bab 2 : Dihukum
3
Bab 3 : Tawuran
4
Bab 4 : Ngemol
5
Bab 5 : Baju Mirip Gelandangan
6
Bab 6 : Kondangan
7
Bab 7 : Jika Dia Bukan Pengantin Prianya, Lalu siapa?
8
Bab 8 : Kacau Balau
9
Bab 9 : Dipanggil Yai
10
Bab 10 : Kamu Harus Bertanggungjawab
11
Bab 11 : Sah
12
Bab 12 : Hotel
13
Bab 13 : Kita Suami Istri
14
Bab 14 : Suami Mesum
15
Bab 15 : Berkemas
16
Bab 16 : Senyum Itu Ibadah
17
Bab 17 : Apa-apaan Dia
18
Bab 18 : Mereka Bukan Mahram
19
Bab 19 : Skorsing
20
Bab 20 : Mulai Belajar Ngaji
21
Bab 21 : Back To School
22
Bab 22 : Bukannya Itu Liora dan Pak Agam????
23
Bab 23 : Jangan Sebarin Berita Bohong!!!!
24
Bab 24 : Jadi Beneran Lo Dah Married????
25
Bab 25 : Wanita Jadi-jadian
26
Bab 26 : Gue Kejar Lo Sampai Dapet
27
Bab 27 : Cewek Tadi Siapa?
28
Bab 28 : Suami
29
Bab 29 : Jatuh Cinta
30
Bab 30 : Mirip Pentungan Pak Satpam
31
Bab 31 : Kamu Cemburu?!?
32
Bab 32 : Itu Namanya Jatuh Cinta, Dodol?
33
Bab 33 : Kutukan Kamu Kayaknya Bener???
34
Bab 34 : Sakit
35
Bab 35 : Mantan Emang Harus Dihempaskan
36
Bab 36 : Kissing
37
Bab 37 : Terbawa Suasana
38
Bab 38 : Lingerie-nya Mana?
39
Bab 39 : Naila Syok
40
Bab 40 : Dikira Alergi Seafood
41
Bab 41 : Akhirnya.....
42
Bab 42 : Tanda Merah Di Leher
43
Bab 43 : Bu Naila Mencari Gara-gara
44
Bab 44 : Keluhan Liora
45
Bab 45 : Begal
46
Bab 46 : Begal 2
47
Bab 47 : Kedatangan Papa dan Mama
48
Bab 48 : Penguntit
49
Bab 49 : Tito Patah Hati
50
Bab 50 : Tito Mogok Makan
51
Bab 51 : Suasana Di Kantin Sekolah
52
Bab 52 : Sidang
53
Bab 53 : Kami Sudah Menikah?
54
Bab 54 : Dikeluarkan Dari Sekolah
55
Bab 55 : Penyesalan Papa dan Mama
56
Bab 56 : Perjalanan Ke Cirebon
57
Bab 57 : Pondokan Mbah Yai
58
Bab 58 : Cosplay Jadi Monyet
59
Bab 59 : Dengerin Ceramah
60
Bab 60 : Pengen Mondok
61
Bab 61 : Aku Ingin Memantaskan Diri
62
Bab 62 : Mirip Balonnya Gio
63
Bab 63 : Curhatan Tito
64
Bab 64 : Rumah Sakit
65
Bab 65 : Darul Ilmi
66
Bab 66 : Diterima Jadi Santriwati
67
Bab 67 : Seminggu Berlalu
68
Bab 68
69
Bab 69 : Kangen-kangenan
70
Bab 70 : Lingerie Merah
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74 : Abang Kamu Kah?????
75
Bab 75 : Lah, Wong Sudah Sah Kok????
76
Bab 76 : Kedatangan Agam
77
Bab 77 : Ngidam
78
Bab 78
79
Bab 79

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!