Bab 15

"Bukan seperti itu, begini."

Brandon berdiri di belakang Kanara, sangat dekat sampai tubuhnya bersentuhan dengan wanita itu. Tangannya bahkan menyentuh tangan Kanara yang sedang memegangi mesin kopi. Saking gregetnya Brandon mengajari Kanara, dirinya sampai tidak sadar dan tidak peduli dengan posisi mereka sekarang yang tampak begitu dekat.

Kanara sebenarnya sudah sadar dan merasa agak canggung dengan situasi seperti ini, tapi dia tidak bisa tiba-tiba mendorong pria itu kan? Itu kasar namanya. Ia merasa lega saat pria itu menggeser badannya menjauh. Mungkin si bos baru sadar juga sudah sedekat itu dengannya.

Akhirnya dalam waktu beberapa menit, Kanara berhasil membuat kopi mengenakan mesin tersebut. Kebahagiaan di wajahnya tak dapat disembunyikan. Dan semua itu tak luput dari mata Brandon. Entah kenapa Brandon juga ikut tersenyum melihat raut wajah bahagia di wajah perempuan itu. Ketika sadar, pria itu cepat-cepat mengubah ekspresinya menjadi datar kembali.

"Te- terimakasih bos." ucap Kanara lirih. Hanya di balas dengan anggukan singkat dari Brandon.

"Mulai besok kau yang bertugas membuatkan kopiku." kata pria itu kemudian.

"Ah?" Kanara kaget. Baru saja dia belajar membuat kopi di mesinnya, eh sudah dapat tugas baru. Mana langsung buatan kopi bos besar lagi.

"Kenapa, kau keberatan?" Kanara cepat-cepat menggelengkan wajah.

"Jam delapan tepat, kopi itu harus sudah tersedia di atas meja kerjaku." perkataan tersebut membuat Kanara menganggukkan kepalanya. Tentu mau atau tidak dia harus tetap setuju. Dia hanya office girl di sini, tidak bisa menolak apapun yang diperintahkan oleh atasan. Apalagi langsung dari pemimpin perusahaan.

"Sudah malam, apa suamimu tidak menelponmu?"

Suami?

Haruskah Kanara bilang dia tidak punya suami? Tapi itu tidak mungkin. Biar bagaimanapun dia dan Damian menikah secara sah. Untuk apa juga bilang tidak punya suami di depan bos besar yang amat mengintimidasi ini, tidak penting sama sekali.

"Setelah beres-beres itu langsung pulang saja. Walau suamimu tidak menelponmu, kau punya seorang anak yang perlu di urus. Mulai besok langsung pulang saja habis jam kerja. Jangan lembur seperti ini lagi. Jangan membuat putramu menunggu, kau harus baik-baik menjaga waktumu." setelah mengatakan kalimat panjang lebar itu, Brandon pun turun meninggalkan Kanara sendirian.

Karena kata-kata pria itu Kanara langsung teringat Bian. Sore tadi dia sudah menitipkan Bian di rumah penitipan anak usia 2-10 tahun. Letaknya dekat sekolah Bian. Benar kata Brandon, harusnya dia tidak lembur sampai malam begini. Bian pasti sudah menunggu dia menjemputnya."

Dengan cepat Kanara membereskan barang-barang di pantry, mengatur seperti sedia kala dan mencuci semua barang yang kotor lalu keluar kantor. Ia berpapasan dengan satpam yang berjaga di depan. Katanya kantor ini akan di tutup jam sembilan malam. Jadi kalau ada orang-orang yang mau kerja lembur, waktu lembur mereka hanya sampai jam sembilan malam. Tak terkecuali Brandon, pemiliknya sendiri. Tentu pria itu bebas keluar masuk jam berapapun di kantor ini.

Saat Kanara keluar dari gedung besar itu, tak ada satu pun ojek yang berjalan di sekitaran jalan. Apa karena sudah hampir jam delapan malam? Wanita itu pun memutuskan berjalan kaki. Daerah ini tidak begitu ramai dan dekat dengan kantor polisi, semoga saja tidak ada preman yang biasa kumpul di jalan.

Tanpa Kanara sadari, ada yang mengamatinya sejak dia keluar dari gedung besar itu tadi. Orang itu terus mengamatinya.

Brandon.

Orang itu adalah Brandon. Awalnya Brandon ingin langsung pulang ke rumah, namun saat melihat jalanan sudah sepi jam begini, ia belum jadi pulang. Brandon menunggu Kanara turun, ingin memastikan wanita itu sampai ke rumahnya dengan selamat. Memang ini adalah daerah dengan keamanan yang sangat tinggi. Banyak polisi yang berpatroli setiap malam di daerah ini. Tapi tetap saja tidak ada yang pernah tahu apa yang bisa saja tiba-tiba terjadi pada kita.

"Dia jalan kaki?" gumam Brandon pada saat melihat Kanara berjalan kaki.

"Apa rumahnya dekat sini?" kata Brandon lagi bicara pada dirinya sendiri. Mobilnya berjalan dengan sangat perlahan mengikuti Kanara dari belakang.

Setelah hampir lima ratus meter Brandon mengikuti wanita itu berjalan, dia tidak tahan lagi. Dia lalu melajukan mobilnya dan berhenti di depan Kanara. Awalnya Kanara kaget dan ia berpikir ada orang jahat yang tiba-tiba datang ingin menganggunya, namun kekhawatiran tersebut berubah setelah ia melihat siapa so pemilik mobil.

"Bos?" Kanara merasa heran. Dia pikir pria itu sudah pulang dari tadi. Kok masih ada di sini?

"Masuklah, aku akan mengantarmu."

Mata Kanara melebar. Dia tidak salah dengar kan?

"Ti-tidak usah bos, saya bisa sendiri. Rumah saya cuma dekat kok." tolak Kanara. Aneh saja naik mobil bosnya. Apalagi hanya berdua, kalau ada orang kantoran yang tidak sengaja melihat, apa kata mereka?

"Naik aku bilang. Jangan membuatku menyuruhmu naik sampai ketiga kalinya."

Seram juga cara pria itu. Nada suaranya yang tegas dan tak terbantahkan membuat Kanara langsung menjadi patuh. Ia membuka pintu di jok belakang.

"Kau pikir aku sopirmu? Duduk di depan."

"Oh,"

Kanara merasa tidak enak sekali, astaga.

Sepanjang perjalanan suasananya begitu kaku. Pria itu tidak bersuara lagi, Kanara sendiri tidak tahu ingin bilang apa. Akhirnya hanya memilih diam.

"Di mana tempatmu tinggal?" Akhirnya Brandon membuka suaranya setelah lama diam. Laki-laki itu bertanya tanpa melihat wajah Kanara.

"Mm, berhenti di depan sana saja. Anak saya dititipkan di sana, rumah kami hanya berjarak beberapa meter dari sana." sahut Kanara menunjuk ke sebuah tempat bertuliskan rumah titip anak di depan sana sebelah kiri. Brandon menghentikan mobilnya tepat di depan rumah titip anak tersebut.

"Te- terimakasih." ucap Kanara pelan kemudian keluar dari mobil. Brandon ikut keluar dari mobil, belum ada keinginan untuk langsung pergi. Pria itu menatapi kepergian Kanara sembari bersandar di dinding mobil dengan tangan terlipat di dada.

Beberapa wanita yang keluar dari rumah titip tersebut bersama anak mereka menatapnya dengan wajah terpesona, seolah sedang melihat artis terkenal. Sudah biasa bagi Brandon di tatap seperti itu. Tak lama kemudian ia melihat Kanara keluar dari rumah tersebut sambil menggendong seorang bocah, tentu saja putra wanita itu.

Dengan langkah lebar Brandon mendekati Kanara dan mengambil alih bocah itu dari tangan Kanara.

Kanara kaget, ia melihat pria itu dengan wajah heran.

"Biar aku saja, katamu rumahmu hanya berjarak beberapa meter dari sini kan? Tunjukkan jalannya."

"Biar saya saja bos, tidak perlu repot-repot."

"Tunjukkan jalannya." balas Brandon lagi-lagi dengan nada yang tak terbantahkan.

Kanara pun akhirnya hanya bisa pasrah dan menjadi penunjuk jalan. Ia berjalan di depan pria yang sedang menggendong putranya. Mereka memasuki sebuah gang sempit. Rumahnya sekitar sepuluh meter di dalam gang sempit tersebut.

Kanara cepat-cepat membukakan pintu rumah setelah sampai di depan kontrakannya dan Bian yang terbilang kecil.

Brandon menatap rumah itu. Kecil sekali. Bahkan kamar Zane lebih besar dari rumah ini.

Sebenarnya apa pekerjaan suami wanita ini? Kenapa hidup mereka seperti kesulitan begini?

Terpopuler

Comments

sum mia

sum mia

Oalah Brandon.... andai kamu tahu kalau Kanara sebenarnya kabur dari suaminya , entah apa yang akan kamu pikirkan dan yang akan kamu lakukan .

cieee.... cieeee.... Brandon perhatian banget sama Kanara . tanpa disadarinya Brandon begitu peduli dengan Kanara dan Bian . itulah... mata hati gak bisa berbohong , kalau kalian ada ikatan yang sulit dipisahkan .

lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍

2024-12-17

3

Salim ah

Salim ah

kamu mau tau gak kehidupan Kanara terlalu miris dan tersiksa dan bian adalah anakmu brandon

2024-12-17

1

Clarisa Shania

Clarisa Shania

Author tolong update 2 cerita sekaligus semangat dan lanjut terus beneran ceritanya I Love You Kanara ini bagus banget

2024-12-17

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123 Tamat
Episodes

Updated 123 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123 Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!