Bab 16

Apa pekerjaan suaminya?

Brandon bergumam dalam hati ketika masuk ke dalam kontrakan Kanara. Rasa-rasanya ia ingin membelikan rumah baru yang jauh lebih layak di huni oleh ibu dan anak yang masih dia gendong itu. Tapi itu tidak mungkinkan? Dia bukan siapa-siapa, untuk apa peduli pada kehidupan orang lain yang baru dia kenal. Yang dirinya akan dianggap aneh.

"Pak ... Eh bos, anak saya baringkan di sofa ini saja. Biar saya yang memindahkannya ke kamar." ucap Kanara. Ia masih merasa tidak enak pada Brandon.

"Langsung di kamar saja. Tidak baik anak kecil kau tidurkan di sofa." ucap Brandon. Karena pria itu berkata begitu, Kanara pun tidak tahu mau bilang apa lagi. Ia lalu berjalan menuju kamarnya dan Bian.

Kamar di kontrakan ini hanya ada  satu. Dan ukurannya kecil. Bahkan terbilang sangat kecil. Brandon sampai sakit mata melihat kamar sekecil ini, kalau dia yang tidur di sini, dia yakin dirinya tidak akan bernafas dengan nyaman. Kamar mandi Bian lebih besar dari kamar tidur ini.

Brandon membaringkan Bian dengan hati-hati ke atas kasur. Bocah itu pulas sekali sehingga tidak terganggu dengan bunyi-bunyi ataupun suara orang berbincang-bincang.

"Kalau aku tidak salah lihat, kamar di rumah ini hanya satu kan?" bukannya keluar dari kamar, Brandon justru bertanya.

Pria itu bingung kenapa dia jadi kepo sekali pada wanita di depannya ini.

Saat wanita itu menganggukkan kepala, Brandon bertanya lagi.

"Lalu, di mana kau dan suamimu tidur?" Mungkin pertanyaan itu terkesan agak lancang. Tapi kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa bisa ia cegah.

Ia melihat Kanara terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab.

"Aku tidur dengan putraku di sini."

"Kalau begitu suamimu tidur di mana?" Tuhkan. Lagi-lagi Brandon tidak tahan untuk menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak penting untuk dia tanyakan.

Namun Brandon selalu merasa Kanara adalah wanita yang misterius. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan.

"Mm, suamiku ... Aku ... kami tidak tinggal bersama sekarang."

Ah, jadi begitu? Apa mereka bercerai? Atau bertengkar sehingga wanita ini kabur membawa anaknya? Oh, pantas saja waktu itu mereka masuk diam-diam ke dalam bagasi mobilnya. Pasti mereka kabur dari rumah malam itu.

Brandon tidak bicara lagi. Ia melirik Bian, cukup lama ia menatap bocah yang beberapa tahun lebih tua dari Zane, keponakan tersayangnya. Sudut bibirnya terangkat melihat cara bocah tersebut tidur, lucu saja dimatanya. Dulu Brandon tidak begitu suka anak-anak, tapi setelah Yara melahirkan Zane, dia jadi senang sekali melihat anak-anak. Termasuk bocah yang ketiduran itu, entah kenapa Brandon merasa tertarik sekali melihat bocah itu.

"Ehem, bos itu, mm ... Eh ..." Kanara berdeham dan memanggil Brandon dengan sebutan bos dan berbicara tidak jelas. Maksudnya ia ingin pria itu pulang saja karena keadaan yang ia rasakan sekarang sangat canggung. Pria itu juga adalah seorang laki-laki yang bukan suaminya, bukan saudara dan tidak ada hubungan apa-apa dengan selain atasan di tempatnya bekerja. Tidak baik dia ada di rumah seorang wanita beranak satu seperti Kanara.

Brandon menatap wanita itu tanpa bicara sepatah katapun, hanya menatap menunggu Kanara yang bicara.

Aduh, bagaimana ini? Laki-laki ini sepertinya kurang peka. Mana mungkin aku mengusirnya dari rumah ini secara terang-terangan. Bisa-bisa dikantor aku tinggal nama.

Batin Kanara.

"Kau ingin aku pergi sekarang?"

Kanara tersenyum tidak enak sambil menggaruk-garuk pangkal lehernya yang tidak gatal. Brandon seperti bisa membaca pikirannya. Kanara yang malu.

"Bu - bukan seperti itu."

Brandon mendengkus.

"Karena kau sudah mengusirku, lebih baik aku pergi saja. Jangan lupa kunci pintu rumahmu. Lingkungan di sekitar sini memang terkenal aman, tapi kau harus tetap berjaga-jaga." setelah mengatakan itu, Brandon keluar.

Kanara mengikutinya sampai di depan pintu keluar. Ia sudah merasa tidak enak sekali pada sang bos. Ia terus menggigit bibirnya sambil terus berjalan dengan kepala menunduk. Kanara tidak sadar kalau dirinya sudah berada di depan pintu keluar. Nanti saat kepalanya tidak sengaja menubruk pintu barulah dia kaget.

Brukk!!

Bunyinya kuat. Brandon Brandon yang telah melewati garis pintu sampai berbalik. Lelaki itu langsung mendekati Kanara lagi saat melihat dahi wanita itu berdarah. Tidak banyak, tapi harus di obati.

"Bagaimana caramu berjalan tadi sampai-sampai menabrak pintu? Lihat, kau terluka sekarang. Apa kau memang selalu ceroboh?" Brandon gemas sekali pada wanita ini.

"Ayo duduk dulu di sana." katanya kemudian. Brandon lalu menarik pelan tangan wanita itu membawanya duduk di sofa kemudian memeriksa dahinya yang terluka.

"Kau ada kotak obat?" tanya Brandon.

Kanara mengangguk.

"Tunggu sebentar aku akan mengambilnya." wanita itu siap-siap berdiri tapi Brandon menahan tangannya.

"Katakan dimana kau menaruhnya, biar aku yang ambil." kata pria itu.

Waktu Kanara melihat tatapannya, wanita itu langsung merasa kalau laki-laki di depannya ini tidak bisa dibantah. Ia pun akhirnya mengatakan di mana ia meletakkan kotak obat.

"Di laci meja itu." Kanara menunjuk meja yang ada sebelah kiri paling sudut ruang tamu tersebut. Kanara baru membeli kotak obat tersebut dua hari lalu. Ia selalu berjaga--jaga jangan sampai putranya terluka.

Brandon berdiri mendekati meja itu, kemudian kembali lagi dengan membawa kotak obat di tangannya. Pria itu mulai membersihkan luka kecil di dahi bagian kiri wanita itu dengan telaten.

Kanara menahan nafas. Jantungnya berdebar-debar, mungkin karena Brandon adalah sosok laki-laki yang sangat tampan serta seorang bos yang rada-rada menakutkan jadi dia merasa gugup sekali berada di dekat lelaki itu.

"Kau gugup," kata-kata tersebut keluar dari mulut Brandon. Tangannya sibuk mengobati wanita itu. Kanara tidak bicara, ia hanya menatap pria itu, ekspresi wajahnya memang terlihat gugup.

Siapa juga yang tidak gugup pada bos mereka?

Brandon pun tidak bicara lagi. Suasana ruangan menjadi hening dan canggung.

"Ingat untuk membersihkan dan mengganti plester besok pagi." kata pria itu. Lagaknya sudah seperti dokter saja, apa mungkin karena perusahaannya berhubungan dengan obat-obatan?

"Kalau jalan hati-hati. Jangan selalu menunduk dan melamun. Kau itu sudah punya anak, kalau terjadi sesuatu padamu, siapa yang akan mengurus anakmu?"

Pria itu kedengaran seperti sedang mengomelinya. Aneh sekali. Kanara jadi merasa seperti anak kecil yang sedang di omeli habis-habisan. Padahal dirinya adalah wanita dewasa berumur 28 tahun. Biasanya Kanara jarang sekali ceroboh, dia juga heran kenapa kalau ada di dekat laki-laki ini dirinya selalu saja menjadi ceroboh.

Selesai mengobati luka Kanara, Brandon mengembalikan kotak obat tersebut di tempat dia mengambilnya tadi.

"Aku pulang dulu. Jangan lupa pekerjaanmu besok, buatkan aku kopi." katanya sudah berdiri di depan Kanara.

Kanara menganggukkan kepalanya. Pertama kalinya bekerja, dirinya di pertemukan dengan seorang bos yang kepribadiannya sulit diprediksi. Kanara saja masih tidak menyangka tamu pertama yang menginjakkan kaki di rumahnya adalah pria itu.

Terpopuler

Comments

Anitha Ramto

Anitha Ramto

Brandon kepo karena penasaran dengan kehidupan Kanara yang penuh misterius di fikiran Brandon,,nanti kamu akan tau Brand siapa kanara dan Bian ..semoga Suatu saat nanti Kanara mau cerita ke Brandon tentang masa lalunya dan kl Bian bukan Putra dari Suaminya..

2024-12-18

1

Yuyu sri Rahayu

Yuyu sri Rahayu

kok bisa yach brandon yg tegas dan dingin k siapa pun kecuali ke keluarganya sama temanya sekarang dia kepo k kehidupan seorang kanara yg memiliki anak 1/Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2024-12-22

0

Aurora

Aurora

baru kali ini demen sma cwok kepo wkwkwk,kekepoanmu bagus brandon lanjutkan,gemes bngt sama jalan crita kanara dan brandon

2025-01-02

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123 Tamat
Episodes

Updated 123 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123 Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!