Bab 9: Menghadapi Perasaan yang Tumbuh

POV Sebelumnya

Aku merasa seperti berjalan di atas udara, ringan dan penuh kebingungan. Sejak percakapan dengan Maya di kantin, perasaan tidak nyaman itu semakin menggelayuti diriku. Tidak hanya karena gosip yang beredar di kampus tentang diriku dan Galaksi, tetapi juga karena kehadiran Galaksi yang semakin dekat, terlalu dekat untuk kenyamananku. Namun, ada sesuatu dalam diriku yang enggan menepis perasaan itu. Keberadaan Galaksi membangkitkan perasaan yang sulit dijelaskan, bahkan oleh diriku sendiri.

Hari itu, selepas kuliah, Aku berencana pergi ke kafe untuk menenangkan pikiranku. Suasana kampus yang ramai dan riuh hanya menambah kebingunganku. Sejak gosip itu menyebar, Aku merasa seolah-olah semua mata tertuju padaku. Namun, meskipun ada banyak hal yang ingin dipikirkan, Aku tetap melangkah menuju kafe kecil yang biasa Aku kunjungi untuk mencari ketenangan.

Ketika aku baru saja membuka pintu kafe, sebuah sosok familiar sudah berdiri di sana Galaksi. Aku langsung berhenti sejenak, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Aku tak menyangka pria itu akan menungguku di sini.

“Lo lagi ngapain di sini?” tanyaku, agak terkejut. Meskipun rasa cemas menghampiri, dia berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

Galaksi tersenyum tipis, seolah tidak terpengaruh dengan nada terkejut dariku. “Gue cuman mau ngajak lo jalan sebentar.”

Aku mengangkat alis, masih bingung. “Jalan kemana? Kan gue lagi kerja.”

“Gue udah pikirin itu,” jawab Galaksi santai. “Lo istirahat aja sebentar, gue yang bantuin kafe. Gue bisa kok.”

Aku memandangnya, masih tidak yakin. Namun, melihat tatapan tulus Galaksi, hatiku yang keras sedikit melunak. “Lo mau bantuin, ya? Oke deh, gue kasih waktu setengah jam. Lo jangan ganggu kerjaan gue, ya.”

Galaksi tertawa, seolah mengerti kekhawatiranku. “Tenang aja, gue bantuin kok.”

Aku melanjutkan pekerjaanku, sementara Galaksi mulai mempersiapkan beberapa bahan di dapur. Kehadirannya membuat suasana kafe terasa berbeda, lebih hidup. Aku merasa aneh. Selama ini, akuw terbiasa melakukan semuanya sendiri, mengurus kafe walaupun ada hadi yang membantu, mengurus kuliah, bahkan kehidupan pribadiku. Tapi Galaksi datang dengan cara yang tak terduga, membantu tanpa pamrih, tanpa mengharap lebih.

Setengah jam berlalu, dan Aku merasa waktuku istirahat sudah habis. Namun, ketika aku hendak pergi, Galaksi menghentikannya.

“Senja,” panggilnya lembut.

Aku menoleh, sedikit bingung. “Ada apa?”

“Gue cuma mau bilang… gue nggak tahu kenapa, tapi gue merasa tenang setiap kali gue dekat sama lo. Lo nggak perlu jawab sekarang, tapi gue cuma mau lo tahu, kalau lo butuh seseorang yang bisa dengerin lo, gue ada di sini,” ujar Galaksi dengan tulus.

Aku terdiam, kata-kata itu menggugah hatiku. Untuk pertama kalinya, Aku merasa ada seseorang yang benar-benar melihat diriku, tanpa embel-embel, tanpa ekspektasi. Hanya ada rasa nyaman yang tiba-tiba muncul. Sesuatu yang jarang aku rasakan.

“Gue… gue nggak tahu harus ngomong apa,” kataku, suara sedikit serak.

Galaksi tersenyum, seakan memahami kebingunganku. “Gak apa-apa. Gue nggak mau memaksakan apapun. Tapi gue ingin lo tahu, lo nggak harus sendirian terus. Gue bisa jadi teman lo.”

Aku merasa ada kehangatan di dalam hatiku yang tiba-tiba muncul. Tapi Aku tahu, itu bukan hanya tentang persahabatan. Sesuatu lebih dalam dari itu sedang berkembang, meski Aku belum siap untuk menyadarinya.

Setelah beberapa detik hening, Aku hanya mengangguk. “Oke, Galaksi. Terima kasih.”

Galaksi tersenyum puas, lalu melanjutkan pekerjaannya.

Galaksi pulang lebih dulu karena tiba-tiba ada panggilan darurat. Dan aku pun pulang sendirian, namun kali ini menggunakan transportasi umum. Aku melangkah ke luar kafe, menyusuri trotoar yang sepi, merenung. Apa yang sebenarnya Aku rasakan terhadap Galaksi? Kenapa hati ini terasa begitu berdebar hanya dengan sedikit perhatian darinya? Rasa cemas, bingung, dan sekaligus ada sesuatu yang terasa menyentuh hatiku. Kembali masa lalu mengingatkanku bahwa Galaksi tak pantas untuk diriku.

Sesampainya di apartemen, Aku langsung menuju kamar dan duduk di meja belajarku, membuka buku catatan. Namun, pikiranku terus berkelana pada kata-kata Galaksi yang terus terngiang.

"Ada sesuatu yang nggak dimiliki orang lain. Lo."

Dia menutup buku itu dengan cepat, merasa seolah sesuatu yang besar sedang menunggu untuk diungkap, tapi Aku belum siap untuk menghadapi kenyataan itu. Kenyataan bahwa perasaanku terhadap Galaksi mungkin lebih dari sekedar teman. Aku tahu bahwa mengabaikan perasaan itu sama saja dengan menipu diriku sendiri, namun Aku merasa takut akan perubahan yang akan datang.

Malam itu, saat Aku berbaring di tempat tidurku, sebuah pesan masuk di ponselku, dari Galaksi.

“Besok ada waktu nggak? Gue pengen ngobrol lebih banyak.”

Aku menatap layar ponselku sejenak. Tak ada jawaban cepat yang bisa Aku berikan. Di satu sisi, Aku ingin mengatakan ya, mendengar apa yang ingin Galaksi katakan, menghabiskan lebih banyak waktu bersama pria itu. Tetapi di sisi lain, ada ketakutan yang menghantui, ketakutan akan perasaan yang mulai tumbuh tanpa bisa dikendalikan.

Setelah beberapa saat, Aku akhirnya membalas pesan itu.

“Ada. Kita bisa ngobrol besok.”

Pesan itu terkirim, dan Aku memejamkan mataku, mencoba menenangkan diriku. Besok akan menjadi hari yang penuh pertanyaan tentang hati, perasaan, dan mungkin, jodoh yang selama ini Aku hindari. Apakah Aku siap menghadapi kenyataan bahwa hatiku mungkin mulai terikat pada Galaksi? Ataukah ini hanya perasaan sementara yang muncul karena kedekatan yang tak terduga?

Aku terjebak dalam kebingungan, memikirkan semuanya dengan sangat mendalam. Setiap keputusan yang Aku buat akan mengubah jalan hidupku. Apakah Aku akan memilih untuk terus melarikan diri dari perasaan yang mulai tumbuh, ataukah Aku akan mengikuti hatiku yang semakin ingin dekat dengan Galaksi? Semua itu belum jelas, namun satu hal yang pasti, Aku tahu bahwa perasaan ini bukanlah sesuatu yang bisa Aku hindari selamanya.

To be continued...

Episodes
1 Bab 1: Aku, Senja
2 Bab 2: Luka yang Tak Terlupakan
3 Bab 3: Misteri yang Terkuak
4 Bab 4: Langkah Menuju Keberanian
5 Bab 5: Akhirnya Tersenyum Lagi
6 Bab 6: Suasana di Kampus
7 Bab 7: Api dalam Diam
8 Novel: Jejak Takdir di Ujung Waktu
9 Bab 8: Langit yang Mengerti
10 Bab 9: Menghadapi Perasaan yang Tumbuh
11 Bab 10: Langkah Baru
12 Bab 11: Ketika Senja Menghadapi Hati yang Tak Bisa Dibohongi
13 Bab 12: Langkah yang Tak Terduga
14 Bab 13: Pergulatan dalam Hati
15 Bab 14: Memantapkan Hati
16 Bab 15: Orang Ketiga
17 Bab 16: Klarifikasi
18 Bab 17: Luka yang Membuat Pergi
19 Bab 18: Luka di Jalan yang Salah
20 Bab 19: Perjuangan Galaksi yang Tak Kenal Lelah
21 Bab 20: Kesempatan Kedua untuk Galaksi
22 Bab 21: Keputusan Hati Senja
23 Bab 22: Pengorbanan Galaksi
24 Bab 23: Menguatkan Cinta di Tengah Ujian
25 Bab 24: Menjaga Asa di Tengah Cobaan
26 Bab 25: Pengorbanan di Tengah Rintangan
27 Bab 26: Malam Pertama yang Tak Terduga
28 Bab 27: Langkah Baru
29 Bab 28: Jejak Baru di Kehidupan Bersama
30 Bab 29: Gagal Romantisan
31 Bab 30: Malam yang Dinanti
32 Bab 31: Ketika Panggilan Itu Terdengar
33 Bab 32: Di Kampus dan Kafe
34 Bab 33: Harmoni dalam Kekonyolan dan Kedamaian
35 Bab 34: Kisah yang Terungkap
36 Bab 35: Keteguhan dan Kepercayaan
37 Bab 36: Keberanian Bersama
38 Bab 37: Rahasia yang Terungkap
39 Bab 38: Gaun Senja yang Mengejutkan
40 Bab 39: Harmoni dalam Kesibukan
41 Bab 40: Malam yang Ditunggu, Lagi-Lagi Gagal
42 Bab 41: Pertemuan Keluarga
43 Bab 42: Kehebohan di Kafe
44 Bab 43: Kegaduhan Bintang di Dapur
45 Bab 44: Liburan Tanpa Gangguan
46 Bab 45: Malam Pertama yang Romantis
47 Bab 46: Kembali ke Rumah, Awal Baru
48 Bab 47: Di Tengah Kampus dan Keheningan Rumor
49 Bab 48: Kejutan Galaksi dan Mode Merajuk Senja
50 Bab 49: Kabar Baik untuk Bintang dan Ummi Ratna
51 Bab 50: Cinta di Tengah Keramaian
52 Bab 51: Kesalahpahaman yang Kian Menumpuk
53 Bab 52: Menyembuhkan Luka yang Terabaikan
54 Bab 53: Jalan Menuju Pemahaman
55 Bab 54: Persiapan yang Semakin Matang
56 Bab 55: Kejutan yang Menunggu
57 Bab 56: Perjalanan Bersama
58 Bab 57: Langkah Baru
59 Bab 58: Kabar Bahagia
60 Bab 59: Mama Senja
61 Bab 60: Ummi Ratna Ikut Bahagia
62 Bab 61: Setelah Malam Penuh Kebahagiaan
63 Bab 62: Saat-Saat Manja yang Menggemaskan
64 Bab 63: Senja, Istri yang Menunggu Keajaiban
65 Bab 64: Senja, Cemburu, dan Mengidam yang Aneh
66 Bab 65: Hari yang Tenang, Harapan yang Membuncah
67 Bab 66: Hadiah Kecil dari Semesta
68 Bab 67: Wisuda yang Membawa Keajaiban
69 Bab 68: Kehidupan Baru yang Dimulai
70 Bab 69: Keputusan Senja
71 Bab 70: Tiga Tahun Kemudian
72 Bab 71: Rebutan Perhatian Ibu
73 Bab 72: Kejutan Kecil untuk Ayah
74 Bab 73: Keajaiban Dalam Keluarga Kecil
75 Bab 74: Rumah Kedua
76 Bab 75: Hadiah Kecil yang Bermakna
77 Bab 76: Mimpi yang Menjadi Kenyataan (Tamat)
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Bab 1: Aku, Senja
2
Bab 2: Luka yang Tak Terlupakan
3
Bab 3: Misteri yang Terkuak
4
Bab 4: Langkah Menuju Keberanian
5
Bab 5: Akhirnya Tersenyum Lagi
6
Bab 6: Suasana di Kampus
7
Bab 7: Api dalam Diam
8
Novel: Jejak Takdir di Ujung Waktu
9
Bab 8: Langit yang Mengerti
10
Bab 9: Menghadapi Perasaan yang Tumbuh
11
Bab 10: Langkah Baru
12
Bab 11: Ketika Senja Menghadapi Hati yang Tak Bisa Dibohongi
13
Bab 12: Langkah yang Tak Terduga
14
Bab 13: Pergulatan dalam Hati
15
Bab 14: Memantapkan Hati
16
Bab 15: Orang Ketiga
17
Bab 16: Klarifikasi
18
Bab 17: Luka yang Membuat Pergi
19
Bab 18: Luka di Jalan yang Salah
20
Bab 19: Perjuangan Galaksi yang Tak Kenal Lelah
21
Bab 20: Kesempatan Kedua untuk Galaksi
22
Bab 21: Keputusan Hati Senja
23
Bab 22: Pengorbanan Galaksi
24
Bab 23: Menguatkan Cinta di Tengah Ujian
25
Bab 24: Menjaga Asa di Tengah Cobaan
26
Bab 25: Pengorbanan di Tengah Rintangan
27
Bab 26: Malam Pertama yang Tak Terduga
28
Bab 27: Langkah Baru
29
Bab 28: Jejak Baru di Kehidupan Bersama
30
Bab 29: Gagal Romantisan
31
Bab 30: Malam yang Dinanti
32
Bab 31: Ketika Panggilan Itu Terdengar
33
Bab 32: Di Kampus dan Kafe
34
Bab 33: Harmoni dalam Kekonyolan dan Kedamaian
35
Bab 34: Kisah yang Terungkap
36
Bab 35: Keteguhan dan Kepercayaan
37
Bab 36: Keberanian Bersama
38
Bab 37: Rahasia yang Terungkap
39
Bab 38: Gaun Senja yang Mengejutkan
40
Bab 39: Harmoni dalam Kesibukan
41
Bab 40: Malam yang Ditunggu, Lagi-Lagi Gagal
42
Bab 41: Pertemuan Keluarga
43
Bab 42: Kehebohan di Kafe
44
Bab 43: Kegaduhan Bintang di Dapur
45
Bab 44: Liburan Tanpa Gangguan
46
Bab 45: Malam Pertama yang Romantis
47
Bab 46: Kembali ke Rumah, Awal Baru
48
Bab 47: Di Tengah Kampus dan Keheningan Rumor
49
Bab 48: Kejutan Galaksi dan Mode Merajuk Senja
50
Bab 49: Kabar Baik untuk Bintang dan Ummi Ratna
51
Bab 50: Cinta di Tengah Keramaian
52
Bab 51: Kesalahpahaman yang Kian Menumpuk
53
Bab 52: Menyembuhkan Luka yang Terabaikan
54
Bab 53: Jalan Menuju Pemahaman
55
Bab 54: Persiapan yang Semakin Matang
56
Bab 55: Kejutan yang Menunggu
57
Bab 56: Perjalanan Bersama
58
Bab 57: Langkah Baru
59
Bab 58: Kabar Bahagia
60
Bab 59: Mama Senja
61
Bab 60: Ummi Ratna Ikut Bahagia
62
Bab 61: Setelah Malam Penuh Kebahagiaan
63
Bab 62: Saat-Saat Manja yang Menggemaskan
64
Bab 63: Senja, Istri yang Menunggu Keajaiban
65
Bab 64: Senja, Cemburu, dan Mengidam yang Aneh
66
Bab 65: Hari yang Tenang, Harapan yang Membuncah
67
Bab 66: Hadiah Kecil dari Semesta
68
Bab 67: Wisuda yang Membawa Keajaiban
69
Bab 68: Kehidupan Baru yang Dimulai
70
Bab 69: Keputusan Senja
71
Bab 70: Tiga Tahun Kemudian
72
Bab 71: Rebutan Perhatian Ibu
73
Bab 72: Kejutan Kecil untuk Ayah
74
Bab 73: Keajaiban Dalam Keluarga Kecil
75
Bab 74: Rumah Kedua
76
Bab 75: Hadiah Kecil yang Bermakna
77
Bab 76: Mimpi yang Menjadi Kenyataan (Tamat)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!