Janji

Celia hanya mengangguk. Dia sudah tidak peduli lagi, sentuhan ringan Elvan sepertinya sudah membuat Celia kehilangan akal sehatnya. Elvan langsung melepas pakaiannya dan melucuti pakaian yang membalut tubuh Celia. Kini keduanya sudah sama-sama polos tanpa sehelai benangpun.

Elvan menatap Celia sebentar, lalu mendekatkan wajahnya, tanpa aba-aba Elvan langsung menempelkan bibirnya ke bibir Celia. Bibir mereka bertemu, saling menyaut dan menyatu dalam ciuman penuh gairah. Jari-jari Elvan mulai menelusuri lekuk tubuh Celia. Celia merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Celia menggeliat saat tangan Elvan menjelajahi tubuhnya dan meremas buah dadanya. Bibir Elvan meninggalkan bibir Celia, dia meneruskan ciuman ke leher, membuat kiss mark di leher dan bagian depan tubuh Celia.

"Elvan..." lirih Celia seperti sebuah desahan.

"Iya sayang..." jawab Elvan dengan suara seraknya.

Elvan belum berniat melakukan penyatuan, ia masih memberikan rangsangan pada tubuh Celia, hingga Celia terus bergerak kesana kemari dan mendesah.

Tangan Elvan sangat lihai, begitu juga lidahnya yang terus mengeksplor kulit putih nan mulus milik kekasihnya.

"Elvan... lakukan sekarang," lirih Celia. Celia sudah kewalahan dengan permainan Elvan.

Elvan melebarkan senyumannya, "Kamu yakin?" tanya Elvan, suaranya nyaris berbisik.

Celia mengangguk, ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, saat Elvan mulai melakukan penyatuan. Ini pertama kalinya bagi Celia, jadi wajar kalau Celia merasakan rasa sakit yang luar biasa.

"Sakit, ya?" tanya Elvan pelan, sambil menatap wajah Celia.

Celia tidak menjawab, ia justru menarik tengkuk Elvan, dan melumat bibir Elvan untuk mengalihkan rasa sakitnya.Tidak lama kemudian rasa sakit itu berubah menjadi nikmat. Keduanya merasakan kenikmatan dalam setiap sentuhan dan bersama-sama mencapai puncaknya.

Sebelum beranjak dari atas tubuh Celia, Elvan memperhatikan wajah Celia yang tengah menatapnya. Elvan menundukkan kepalanya dan mencium puncak kepala Celia dengan lembut. Setelah itu Elvan berbaring disisi Celia, merentangkan tangannya dan meraih tubuh Celia, lalu memeluknya. Celia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang masih polos.

"Celia, aku minta maaf," ucap Elvan. Elvan merasa bersalah telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan sebelum mereka menikah.

Celia menoleh, menatap Elvan yang tampak gelisah. Tangan Celia menyentuh pipi Elvan. “Kamu nggak perlu minta maaf. Aku tahu apa yang aku lakukan dan aku juga menginginkannya.”

Elvan memejamkan matanya sesaat, menarik napas dalam-dalam. “Tapi aku nggak mau kamu menyesal nanti,” ucap Elvan dengan nada penuh penyesalan.

Celia menggelengkan kepalanya pelan, lalu merapatkan tubuhnya ke Elvan, dan menyandarkan kepalanya di dada Elvan. “Aku nggak menyesal. Kalau ini terjadi, itu karena aku percaya sama kamu. Dan… aku mencintai kamu, Elvan,” ucap Celia.

Elvan tertegun mendengar ucapan Celia. Ia memeluk Celia lebih erat, mencium kening Celia dengan lembut. “Aku juga mencintai kamu, Celia."

Keduanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hanya ada suara napas mereka yang berpadu dengan debur ombak di kejauhan.

“Van…” panggil Celia memecah keheningan. “Aku hanya minta satu hal.”

“Apa itu?" tanya Elvan penasaran.

“Jangan tinggalkan aku,” pinta Celia.

Elvan menunduk, menatap lekat wajah Celia. “Aku nggak akan pernah ninggalin kamu, Celia. Aku janji. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap berada disisimu.”

Celia tersenyum, hatinya merasa lebih tenang setelah mendengar janji itu. Tanpa berkata-kata lagi, Celia menutup matanya, Celia merasa nyaman di pelukan Elvan, pelukan Elvan membawanya ke alam mimpi. Sementara itu, sebelum menutup mata, Elvan terus menatap Celia. Dalam hati, ia bersumpah akan melindungi Celia, apa pun yang terjadi.

Keesokan harinya, sinar matahari menembus tirai tipis vila, menerangi kamar tidur Celia. Celia menggeliat pelan, dan membuka matanya perlahan. Ia merasakan tangan Elvan masih melingkari pinggangnya dan memeluknya erat.

“Selamat pagi, sayang,” suara serak Elvan menyapanya.

Celia menoleh ke arah Elvan dan tersenyum. “Pagi, Van,” balas Celia sambil membalikkan tubuhnya dan menatap lekat wajah Elvan.

Elvan membuka matanya perlahan, dan membalas tatapannya, “Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Elvan.

Celia menggeleng, “Nggak apa-apa, aku cuma masih tidak percaya kalau aku benar-benar tidur denganmu," ” jawab Celia sambil terkekeh.

Elvan tertawa kecil, lalu meraih wajah Celia, membuat Celia menatap ke arah Elvan. “Tapi ini kenyataannya," ucap Elvan sambil mengecup sekilas bibir Celia.

Celia tersenyum, lalu menempelkan dahinya ke dada Elvan. “Kamu benar. Ternyata ini benar-benar nyata."

Elvan memeluk Celia erat, mengecup puncak kepala Celia. Setelah beberapa saat, Celia mengangkat kepalanya dan menatap Elvan. “Kita harus bangun. Kalau nggak, kamu nggak bakal sempat sarapan sebelum berangkat."

Elvan mengerutkan dahinya. “Berangkat? Ke mana?”

“Kamu lupa? Bukankah kamu harus ke studio hari ini?”

Elvan menghela napasnya. “Ah, iya. Aku lupa. Tapi aku masih mau di sini."

Celia terkekeh, menepuk dada Elvan pelan. “Pergilah. Kita masih bisa bertemu nanti, kita habiskan waktu kita selama beberapa hari lagi di sini. Aku akan meminta Lily untuk menunda pekerjaan kita."

“Tapi aku lebih suka ada di sini bersamamu,” goda Elvan sambil menarik Celia lebih dekat.

Celia tertawa kecil, lalu bangkit dari tempat tidur. “Kalau kamu terus begini, kita nggak akan bisa pergi ke mana-mana.”

Elvan hanya tersenyum, matanya mengikuti setiap gerakan Celia. Elvan memperhatikan cara Celia berjalan, cara berjalan Celia memang sedikit berbeda. Wajar saja, Celia masih merasa nyeri akibat penyatuan semalam.

"Sayang, kamu nggak apa-apa?" tanya Elvan.

Celia mengangguk, sambil menahan rasa sakitnya, "Aku tidak apa-apa, hanya sedikit nyeri."

"Kamu istirahat saja, aku nggak mau kamu memaksakan diri. Biar aku aja yang nyiapin sarapan," ujar Elvan sambil beranjak dari tempat tidur.

Beberapa saat kemudian, setelah membersihkan diri, keduanya duduk di meja makan, menikmati sarapan sederhana yang disiapkan oleh Elvan.

“Elvan,” panggil Celia tiba-tiba, “Kalau suatu hari nanti kamu merasa bosan, apa kamu akan memutuskan hubungan ini?"

Elvan menatap lekat wajah Celia, lalu meraih tangan Celia. “Celia, aku nggak pernah punya pikiran seperti itu. Dan apa pun yang terjadi, aku nggak akan menyerah. Aku janji."

Celia tersenyum kecil, menggenggam tangan Elvan erat. Tapi Celia sadar, hidup tidak selalu seindah pagi ini.

Episodes
1 Pertemuan Pertama
2 Awal yang hangat di Bali
3 Awal yang hangat part 2
4 Perpisahan yang tak terucap
5 Jejak yang tertinggal di Bali
6 Jalan yang membawa kembali
7 Langkah yang belum terputus
8 Di persimpangan perasaan
9 Setelah Kejujuran
10 Kedatangan Tristan
11 Mencoba sesuatu yang baru
12 Langkah Awal Menuju Bahagia
13 Momen yang Tak Terlupakan
14 Janji
15 Karang Boma Cliff
16 Rencana Masa Depan
17 Rumah di Hati
18 Gairah dan Keinginan
19 Cerita Baru
20 Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21 Tak cukup dengan kata-kata
22 Bayang-bayang Kira
23 Melawan Kira
24 Jejak Masa Lalu
25 Konflik Keluarga dan Harga Diri
26 Antara Cinta dan Keluarga
27 Duri dalam Mawar
28 Pilihan dan Konsekuensi
29 Pertemuan yang Tak Terduga
30 Cemburu Manis
31 Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32 Sentuhan dan Keraguan
33 Tembok Yang Runtuh
34 Bersatu Melawan Daddy
35 Mengambil Hati Calon Ipar
36 Drama Pagi-Pagi
37 Masalah Selesai? Belum Tentu!
38 Malam yang Tak Terlupakan
39 Celia, Will You Marry Me?
40 Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41 Pertemuan di Bandara
42 Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43 Menggapai Restu
44 Cinta dan Ambisi
45 Nikmati Saja, Sayang
46 Cerita Kita Dimulai
47 Hari Bahagia yang Dinantikan
48 Melepas dan Menerima
49 Hari Bahagia
50 Lagi-lagi Kira
51 Membuatkan Keponakan
52 Mas atau Abang?
53 Sarapan Pertama sebagai Menantu
54 Kejutan Pagi yang Manis
55 Romansa yang Tertangkap Mata
56 Kabar Tak Terduga
57 Cinta yang Menenangkan
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Pertemuan Pertama
2
Awal yang hangat di Bali
3
Awal yang hangat part 2
4
Perpisahan yang tak terucap
5
Jejak yang tertinggal di Bali
6
Jalan yang membawa kembali
7
Langkah yang belum terputus
8
Di persimpangan perasaan
9
Setelah Kejujuran
10
Kedatangan Tristan
11
Mencoba sesuatu yang baru
12
Langkah Awal Menuju Bahagia
13
Momen yang Tak Terlupakan
14
Janji
15
Karang Boma Cliff
16
Rencana Masa Depan
17
Rumah di Hati
18
Gairah dan Keinginan
19
Cerita Baru
20
Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21
Tak cukup dengan kata-kata
22
Bayang-bayang Kira
23
Melawan Kira
24
Jejak Masa Lalu
25
Konflik Keluarga dan Harga Diri
26
Antara Cinta dan Keluarga
27
Duri dalam Mawar
28
Pilihan dan Konsekuensi
29
Pertemuan yang Tak Terduga
30
Cemburu Manis
31
Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32
Sentuhan dan Keraguan
33
Tembok Yang Runtuh
34
Bersatu Melawan Daddy
35
Mengambil Hati Calon Ipar
36
Drama Pagi-Pagi
37
Masalah Selesai? Belum Tentu!
38
Malam yang Tak Terlupakan
39
Celia, Will You Marry Me?
40
Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41
Pertemuan di Bandara
42
Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43
Menggapai Restu
44
Cinta dan Ambisi
45
Nikmati Saja, Sayang
46
Cerita Kita Dimulai
47
Hari Bahagia yang Dinantikan
48
Melepas dan Menerima
49
Hari Bahagia
50
Lagi-lagi Kira
51
Membuatkan Keponakan
52
Mas atau Abang?
53
Sarapan Pertama sebagai Menantu
54
Kejutan Pagi yang Manis
55
Romansa yang Tertangkap Mata
56
Kabar Tak Terduga
57
Cinta yang Menenangkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!