Karang Boma Cliff

Setelah selesai sarapan, Elvan melirik jam tangannya, "Aku harus segera pergi ke studio," ucap Elvan sambil berdiri dan membereskan sisa sarapannya.

Celia mengangguk, dia menyusul Elvan dan mengambil alih piring kotor yang ada di tangan Elvan. "Kamu berangkat saja, biar aku yang beresin."

Elvan tersenyum dan menarik Celia ke dalam pelukannya, memeluknya erat. "Aku akan segera pulang, aku pasti akan merindukanmu."

Celia tersenyum, "Iya, aku juga, cepat berangkat, aku akan menunggumu."

Elvan mencium kening Celia, lalu beranjak pergi meninggalkan Celia. Celia memperhatikan Elvan yang semakin menjauh. Setelah mencuci piring, Celia menghabiskan waktu dengan membaca buku, dan menikmati hangatnya sinar matahari. Saat Celia sedang bersantai, tiba-tiba ponsel Celia berdering, Celia menatap layar ponselnya sebentar, lalu menjawab panggilannya.

"Halo, iya Ly, kenapa?" tanya Celia saat mendengar suara Lily di seberang sana.

"Kamu masih di vila?" tanya Lily.

"Iya, aku akan tinggal disini beberapa hari lagi, sekalian survei buat konten kita berikutnya," jawab Celia.

"Oke, yaudah enjoy ya. Aku bakal tinggal di rumah Nenek Kinan. Ternyata Nenek Kinan baik banget, pantesan kamu betah disini," ujar Lily sambil terkekeh.

Celia ikut terkekeh mendengar ucapan Lily. "Iya, Nenek Kinan memang orangnya seperti itu. Titip Nenek Kinan ya, kalau ada apa-apa kabari aku."

"Siaap boss," balas Lily sebelum menutup teleponnya.

Celia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu beranjak pergi ke dapur untuk membuat secangkir teh. Baru saja Celia ingin mengambil teh, tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Celia bergegas mengambil ponselnya. Celia tersenyum, saat nama Elvan muncul di layar ponselnya.

"Halo, kenapa Van? Udah sampai studio?" tanya Celia.

"Nggak apa-apa, cuma ada sedikit masalah. Ini baru sampai sepuluh menit yang lalu," jawab Elvan, suara Elvan terdengar sedikit kesal.

"Ada masalah apa? Kamu nggak apa-apa, kan?" Celia bertanya, nadanya sedikit khawatir.

"Masalahnya bukan di aku. Tapi ada masalah di studio, mixer DJ di studio mati total. Padahal aku harus kelarin track hari ini juga," keluh Elvan.

"Terus gimana? Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Celia. Meskipun Celia tahu dia tidak mengerti sama sekali tentang alat itu.

Elvan tertawa kecil. "Bantu doa aja ya sayang. Aku sambil nunggu teknisi datang. Tapi kayaknya aku butuh kamu buat..."

"Kamu mau aku ke studio?" tawar Celia. Sebelum Elvan menyelesaikan ucapannya.

"Nggak usah kesini. Gimana kalau nanti kita kencan aja?" ucap Elvan.

Celia tersenyum. "Boleh. Kamu mau kita kencan ke mana?"

"Entahlah, yang penting sama kamu, kamu atur aja tempatnya," jawab Elvan santai.

"Oke, kabari aku kalau kamu udah kelar ya," ucap Celia.

"Iya sayang," ucap Elvan sebelum menutup teleponnya.

Celia tersenyum sambil meletakkan ponselnya di meja. Celia beranjak dari sofa dan berjalan ke dapur. Dia mulai memikirkan rencana untuk kencan dengan Elvan. "Hmm, piknik di Karang Boma Cliff, Uluwatu, kayaknya seru," gumam Celia sambil membuka lemari dapur, mencari camilan yang bisa dibawa.

Celia mengambil keranjang piknik kecil yang ada di sudut dapur, lalu mulai mengisinya dengan beberapa makanan ringan dan minuman dingin. Tidak lupa, dia memasukkan dua kaleng kopi favorit Elvan. "Dia pasti suka," pikir Celia sambil tersenyum.

Waktu berlalu, dan menjelang sore, ponsel Celia kembali berdering. Elvan menghubunginya.

"Aku baru selesai, sayang. Jadi, kita ketemu di mana?" tanya Elvan.

"Aku ada ide. Gimana kalau kita piknik di Karang Boma Cliff, Uluwatu? Aku udah siapin camilan sama kopi favorit kamu," jawab Celia penuh semangat.

"Karang Boma Cliff? Sounds good! Aku jemput kamu, ya," ucap Elvan.

"Nggak usah, aku aja yang nyusul kamu ke studio. Lebih cepat, daripada bolak balik," Celia menolak dengan nada ringan.

Elvan tertawa kecil. "Oke, kalau gitu aku tunggu di sini."

Setelah menutup telepon, Celia segera bersiap. Dia mengganti bajunya dengan dress santai warna putih, lalu mengambil keranjang pikniknya dan berjalan keluar.

Begitu sampai di studio, Celia melihat Elvan sudah menunggunya di depan pintu. Pria itu mengenakan kemeja hitam lengan panjang yang digulung sampai siku, terlihat santai tapi tetap menawan.

"Kamu niat banget," ucap Elvan sambil menunjuk keranjang yang dibawa Celia.

Celia tertawa kecil. "Ya iyalah, kan mau bikin kencan kita spesial."

Keduanya lalu berjalan ke mobil Elvan yang terparkir tidak jauh dari studio. Begitu sampai, Elvan membuka pintu mobil untuk Celia, sementara Elvan duduk di kursi kemudi, dan melajukan mobilnya.

Elvan memarkirkan mobilnya di area dekat Karang Boma Cliff, Uluwatu. Begitu mesin mobil dimatikan, dia menoleh ke arah Celia yang sedang sibuk merapikan keranjang pikniknya.

“Kamu yakin mau piknik di sini? Anginnya lumayan kencang, lho,” tanya Elvan sambil tersenyum tipis.

Celia menatap Elvan. “Justru itu serunya! Lagian, lihat deh pemandangannya. Worth it banget.”

Elvan hanya tertawa kecil, dia mengambil selimut kecil yang ada di kursi belakang lalu keluar dari mobil untuk membantu Celia. Elvan dan Celia berjalan kaki beberapa meter menuju tebing, angin laut langsung menyambut mereka, membawa aroma asin yang khas. Dari atas tebing itu, mereka bisa melihat ombak besar yang menggulung di bawah. Langit sore mulai berwarna jingga keemasan, menciptakan suasana yang memukau.

“Sayang, tempat ini keren banget. Kamu tahu aja spot yang bagus buat kencan” ucap Elvan sambil membantu Celia menggelar tikar di area yang aman.

Celia tersenyum lebar. “Kan aku udah bilang, aku mau bikin kencan kita spesial.”

Mereka duduk berdampingan, menikmati camilan yang Celia bawa. Elvan membuka kaleng kopi favoritnya, menyesapnya pelan sambil menatap laut. “Aku suka suasana kayak gini. Tenang, jauh dari kebisingan.”

Celia mengangguk, matanya tertuju pada matahari yang mulai tenggelam di cakrawala. “Aku juga. Kadang aku berharap bisa sering-sering ke tempat kayak gini, lepas dari semua kesibukan dan kebisingan di kota.”

Angin bertiup lebih kencang, membuat Celia sedikit menggigil. Elvan, yang menyadari itu, langsung mengambil selimut kecil yang ia bawa dan menyelimutkannya ke bahu Celia.

“Pakai ini, nanti kamu masuk angin,” ucap Elvan dengan nada lembut.

Celia tersenyum kecil sambil merapatkan selimut nya. “Thanks honey."

Elvan mengangguk kecil, lalu kembali menatap laut. “Kadang aku berpikir, seandainya kita punya lebih banyak waktu kayak gini. Nggak ada deadline, nggak ada tekanan, cuma kita dan tempat seindah ini, pasti hidup kita lebih berwarna."

Celia menoleh, menatap Elvan dengan lembut. “Sayang, kita harus bersyukur. Kita memang nggak bisa kabur dari dunia kita. Tapi aku senang, meskipun sibuk, kamu masih nyempetin waktu buat aku. Dan itu udah lebih dari cukup buat aku.”

Elvan menatap lekat wajah Celia. “Apa pun yang terjadi, aku bakal selalu nyempetin waktu buat kamu. Karena kamu adalah bagian terpenting dari hidupku.”

Celia tersenyum, menggenggam tangan Elvan yang terulur ke arahnya. “Aku juga, Van. Kamu adalah rumahku.”

Kedua duduk di atas tikar, di atas bukit, menikmati momen tanpa tergesa-gesa. Saat malam mulai turun, bintang-bintang perlahan bermunculan di langit gelap. Karang Boma Cliff menjadi saksi kehangatan cinta mereka, cinta yang sederhana, tapi begitu mendalam.

Episodes
1 Pertemuan Pertama
2 Awal yang hangat di Bali
3 Awal yang hangat part 2
4 Perpisahan yang tak terucap
5 Jejak yang tertinggal di Bali
6 Jalan yang membawa kembali
7 Langkah yang belum terputus
8 Di persimpangan perasaan
9 Setelah Kejujuran
10 Kedatangan Tristan
11 Mencoba sesuatu yang baru
12 Langkah Awal Menuju Bahagia
13 Momen yang Tak Terlupakan
14 Janji
15 Karang Boma Cliff
16 Rencana Masa Depan
17 Rumah di Hati
18 Gairah dan Keinginan
19 Cerita Baru
20 Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21 Tak cukup dengan kata-kata
22 Bayang-bayang Kira
23 Melawan Kira
24 Jejak Masa Lalu
25 Konflik Keluarga dan Harga Diri
26 Antara Cinta dan Keluarga
27 Duri dalam Mawar
28 Pilihan dan Konsekuensi
29 Pertemuan yang Tak Terduga
30 Cemburu Manis
31 Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32 Sentuhan dan Keraguan
33 Tembok Yang Runtuh
34 Bersatu Melawan Daddy
35 Mengambil Hati Calon Ipar
36 Drama Pagi-Pagi
37 Masalah Selesai? Belum Tentu!
38 Malam yang Tak Terlupakan
39 Celia, Will You Marry Me?
40 Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41 Pertemuan di Bandara
42 Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43 Menggapai Restu
44 Cinta dan Ambisi
45 Nikmati Saja, Sayang
46 Cerita Kita Dimulai
47 Hari Bahagia yang Dinantikan
48 Melepas dan Menerima
49 Hari Bahagia
50 Lagi-lagi Kira
51 Membuatkan Keponakan
52 Mas atau Abang?
53 Sarapan Pertama sebagai Menantu
54 Kejutan Pagi yang Manis
55 Romansa yang Tertangkap Mata
56 Kabar Tak Terduga
57 Cinta yang Menenangkan
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Pertemuan Pertama
2
Awal yang hangat di Bali
3
Awal yang hangat part 2
4
Perpisahan yang tak terucap
5
Jejak yang tertinggal di Bali
6
Jalan yang membawa kembali
7
Langkah yang belum terputus
8
Di persimpangan perasaan
9
Setelah Kejujuran
10
Kedatangan Tristan
11
Mencoba sesuatu yang baru
12
Langkah Awal Menuju Bahagia
13
Momen yang Tak Terlupakan
14
Janji
15
Karang Boma Cliff
16
Rencana Masa Depan
17
Rumah di Hati
18
Gairah dan Keinginan
19
Cerita Baru
20
Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21
Tak cukup dengan kata-kata
22
Bayang-bayang Kira
23
Melawan Kira
24
Jejak Masa Lalu
25
Konflik Keluarga dan Harga Diri
26
Antara Cinta dan Keluarga
27
Duri dalam Mawar
28
Pilihan dan Konsekuensi
29
Pertemuan yang Tak Terduga
30
Cemburu Manis
31
Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32
Sentuhan dan Keraguan
33
Tembok Yang Runtuh
34
Bersatu Melawan Daddy
35
Mengambil Hati Calon Ipar
36
Drama Pagi-Pagi
37
Masalah Selesai? Belum Tentu!
38
Malam yang Tak Terlupakan
39
Celia, Will You Marry Me?
40
Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41
Pertemuan di Bandara
42
Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43
Menggapai Restu
44
Cinta dan Ambisi
45
Nikmati Saja, Sayang
46
Cerita Kita Dimulai
47
Hari Bahagia yang Dinantikan
48
Melepas dan Menerima
49
Hari Bahagia
50
Lagi-lagi Kira
51
Membuatkan Keponakan
52
Mas atau Abang?
53
Sarapan Pertama sebagai Menantu
54
Kejutan Pagi yang Manis
55
Romansa yang Tertangkap Mata
56
Kabar Tak Terduga
57
Cinta yang Menenangkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!