Mencoba sesuatu yang baru

Celia duduk termenung di balkon rumah Nenek Kinan. Tangannya memegang cangkir teh yang mulai dingin, sementara pikirannya berputar seperti roda yang terus berputar tanpa kendali. Di satu sisi, ia tahu betapa pentingnya karier yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun. Tapi di sisi lain, dia merasa kehilangan dirinya sendiri di dunia yang selalu menuntut kesempurnaan.

Suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Celia menoleh pelan, ia melihat Elvan berjalan kearahnya dan tersenyum.

Celia merentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan Elvan agar memeluknya.

Elvan tersenyum, dia berhenti didepan Celia, menurunkan kedua tangan Celia. Dan menarik tubuh Celia kepelukannya. "Capek ya?" tanya Elvan.

Celia hanya menjawab dengan anggukan kepala. Elvan melepaskan pelukannya, lalu menatap lekat wajah Celia. "Apa yang kamu pikirkan?" Elvan bertanya lagi.

“Tristan. Aku yakin Tristan marah. Tapi dia juga membuat aku berpikir. Kalau aku ninggalin ini semua, aku bakal ke mana? Apa yang bisa aku lakukan kalau aku meninggalkan dunia model?”

Elvan diam sejenak, dia masih menatap Celia. “Menurutku, pertanyaannya bukan soal ‘bisa’ atau ‘nggak bisa.’ Tapi lebih ke, kamu beneran mau ninggalin dunia model atau enggak?”

Celia menatap Elvan. “Kalau aku salah pilih gimana?”

Elvan mengangkat kedua bahunya, “Kalau salah ya tinggal coba lagi. Hidup ini kan soal pilihan, kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya."

Celia mengangguk, ia setuju dengan pendapat Elvan.

Keesokan harinya, Lily duduk di ruang tamu, menatap layar laptopnya dengan ekspresi serius. Ketika Celia masuk ke ruangan, Lily menutup laptopnya dan melipat tangan di depan dada.

“Celia, kita harus ngomong,” ucapnya langsung.

Celia mendekati Lily dan duduk di sofa di depannya. “Soal apa lagi, Ly?”

“Soal keputusanmu,” jawab Lily tanpa basa-basi. “Aku tahu kamu lagi bingung, tapi kamu nggak bisa terus-terusan di tengah kayak gini. Tristan udah mulai tanya-tanya lagi soal kamu, dan aku nggak bisa terus-terusan ngeles.”

Celia menghela napas panjang. “Aku cuma butuh waktu, Ly. Aku nggak tahu apa aku harus balik ke Jakarta atau nggak. Aku bahkan nggak tahu apa aku masih mau jadi model.”

"What?" Lily menatap Celia dengan tatapan tidak percaya. “Aku ngerti kamu lagi galau, tapi kamu juga harus mikir ke depan. Dunia ini nggak akan nunggu kamu buat mutusin. Aku bakal selalu dukung kamu. Tapi kalau kamu mau ninggalin dunia model, aku nggak setuju," ucap Lily tegas.

Lily melembutkan nadanya. “Celia, aku kenal kamu lebih lama dari siapa pun di dunia ini. Aku tahu kamu bukan tipe orang yang cuma jalan di tempat. Apa pun yang kamu pilih, aku yakin kamu bakal bikin itu berhasil. Tapi kamu juga harus pikirkan diri kamu sendiri.”

Celia menunduk, merenungkan kata-kata Lily.

******

Celia memutuskan berjalan ke pantai. Suasana tenang di tepi pantai selalu memberinya ruang untuk berpikir. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang. Tristan.

“Aku nggak nyangka kamu masih di sini,” ucap Tristan saat melihat Celia.

“Aku juga nggak nyangka kamu kalau kamu masih di Bali,” balas Celia dengan nada sedikit defensif.

Tristan menyilangkan tangannya di dada, menatap Celia dengan ekspresi serius. “Aku cuma mau ngomong. Pikirkan baik-baik tawaranku kemarin, pikirkan karier kamu, dan semua kerja keras yang udah kamu lakuin bertahun-tahun."

Celia diam sejenak. “Beri aku waktu. Aku cuma butuh waktu buat mutusin semuanya.”

Tristan menghela napas panjang. “Ingat, Celia, ini bukan cuma soal kamu. Ini juga soal tim yang udah kerja keras buat kamu. Kalau kamu mundur sekarang, semua itu bakal hilang.”

Celia menoleh kearah Tristan dan menatapnya. “Aku tahu. Tapi aku juga manusia. Aku capek terus-terusan hidup buat orang lain. Aku cuma pengen tahu apa aku bisa hidup buat diriku sendiri.”

Tristan terdiam, lalu akhirnya berkata, “Kalau itu yang kamu mau, aku nggak bakal maksa. Tapi aku harap kamu tau apa yang kamu lakuin, dan kamu nggak akan menyesal nantinya."

Tanpa menunggu jawaban dari Celia, Tristan pergi, meninggalkan Celia yang masih berdiri terpaku di tepi pantai.

Celia kembali ke rumah dan duduk di teras depan rumah, memainkan ikat rambutnya. Elvan keluar dari dalam rumah dengan dua cangkir kopi, menyerahkan salah satunya kepada Celia sebelum duduk di kursi di sebelahnya.

“Tristan lagi?” tanya Elvan santai, menyesap kopinya.

Celia mengangguk dan menatap Elvan. "Kalau seandainya aku ninggalin dunia model, terus ternyata aku nggak bisa ngapa-ngapain, gimana?”

Elvan tersenyum kecil. "Nggak masalah, kamu bisa masak kan? Kamu bisa jadi nyonya Adhitama dan jadi ibu buat anak-anakku."

Celia hampir tersedak mendengar ucapan Elvan. “Enteng sekali jawaban kamu. Memangnya hidup semudah itu."

“Nggak mudah, Celia. Kita harus berusaha keras untuk mendapatkan itu," jawab Elvan sambil tertawa kecil. “Tapi kamu ingat, kamu enggak sendirian. Ada aku, ada Lily. Kamu punya orang-orang yang bakal dukung kamu, apa pun yang kamu pilih.”

Celia tersenyum, ia merasa sedikit lega. Elvan benar, tapi rasa takutnya belum sepenuhnya hilang.

Keesokan harinya, Lily mengumpulkan Celia dan Elvan di ruang tamu. Ia membawa buku catatan kecil dan pena, siap dengan rencana yang sudah Lily pikirkan semalam.

“Dengar, Celia. Apa pun keputusanmu, kita harus punya rencana cadangan. Kalau kamu nggak mau balik ke Jakarta sekarang, kita bisa mulai sesuatu dari sini.”

Celia mengernyit. “Maksudnya mulai apa?”

“Kita bikin proyek kecil-kecilan. Kamu bisa coba jadi mentor buat model-model baru, atau bikin konten yang lebih personal. Yang penting, kamu tetap aktif, tapi dengan cara yang nggak bikin kamu kehilangan dirimu sendiri.”

Elvan mengangguk setuju. “Ide bagus. Kalau kamu butuh bantuan soal teknis, aku juga bisa bantu.”

Celia terdiam sejenak, mencerna ide itu. “Aku nggak tahu, Ly. Kayaknya aku belum siap buat mulai sesuatu yang baru.”

“Kamu nggak perlu buru-buru,” balas Lily. “Kita cuma butuh langkah pertama. Pelan-pelan aja, Celia. Tapi kamu harus mulai dari sekarang.”

Celia akhirnya mengangguk. “Oke, kita coba dulu. Tapi aku nggak janji, ya.”

Lily tersenyum puas. “Itu cukup buat sekarang. Yang penting, kamu nggak diam aja."

Dengan dukungan Elvan dan Lily, Celia merasa sedikit lebih percaya diri. Meski jalannya masih panjang dan penuh rintangan, ia tahu ia tidak sendirian.

Episodes
1 Pertemuan Pertama
2 Awal yang hangat di Bali
3 Awal yang hangat part 2
4 Perpisahan yang tak terucap
5 Jejak yang tertinggal di Bali
6 Jalan yang membawa kembali
7 Langkah yang belum terputus
8 Di persimpangan perasaan
9 Setelah Kejujuran
10 Kedatangan Tristan
11 Mencoba sesuatu yang baru
12 Langkah Awal Menuju Bahagia
13 Momen yang Tak Terlupakan
14 Janji
15 Karang Boma Cliff
16 Rencana Masa Depan
17 Rumah di Hati
18 Gairah dan Keinginan
19 Cerita Baru
20 Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21 Tak cukup dengan kata-kata
22 Bayang-bayang Kira
23 Melawan Kira
24 Jejak Masa Lalu
25 Konflik Keluarga dan Harga Diri
26 Antara Cinta dan Keluarga
27 Duri dalam Mawar
28 Pilihan dan Konsekuensi
29 Pertemuan yang Tak Terduga
30 Cemburu Manis
31 Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32 Sentuhan dan Keraguan
33 Tembok Yang Runtuh
34 Bersatu Melawan Daddy
35 Mengambil Hati Calon Ipar
36 Drama Pagi-Pagi
37 Masalah Selesai? Belum Tentu!
38 Malam yang Tak Terlupakan
39 Celia, Will You Marry Me?
40 Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41 Pertemuan di Bandara
42 Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43 Menggapai Restu
44 Cinta dan Ambisi
45 Nikmati Saja, Sayang
46 Cerita Kita Dimulai
47 Hari Bahagia yang Dinantikan
48 Melepas dan Menerima
49 Hari Bahagia
50 Lagi-lagi Kira
51 Membuatkan Keponakan
52 Mas atau Abang?
53 Sarapan Pertama sebagai Menantu
54 Kejutan Pagi yang Manis
55 Romansa yang Tertangkap Mata
56 Kabar Tak Terduga
57 Cinta yang Menenangkan
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Pertemuan Pertama
2
Awal yang hangat di Bali
3
Awal yang hangat part 2
4
Perpisahan yang tak terucap
5
Jejak yang tertinggal di Bali
6
Jalan yang membawa kembali
7
Langkah yang belum terputus
8
Di persimpangan perasaan
9
Setelah Kejujuran
10
Kedatangan Tristan
11
Mencoba sesuatu yang baru
12
Langkah Awal Menuju Bahagia
13
Momen yang Tak Terlupakan
14
Janji
15
Karang Boma Cliff
16
Rencana Masa Depan
17
Rumah di Hati
18
Gairah dan Keinginan
19
Cerita Baru
20
Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21
Tak cukup dengan kata-kata
22
Bayang-bayang Kira
23
Melawan Kira
24
Jejak Masa Lalu
25
Konflik Keluarga dan Harga Diri
26
Antara Cinta dan Keluarga
27
Duri dalam Mawar
28
Pilihan dan Konsekuensi
29
Pertemuan yang Tak Terduga
30
Cemburu Manis
31
Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32
Sentuhan dan Keraguan
33
Tembok Yang Runtuh
34
Bersatu Melawan Daddy
35
Mengambil Hati Calon Ipar
36
Drama Pagi-Pagi
37
Masalah Selesai? Belum Tentu!
38
Malam yang Tak Terlupakan
39
Celia, Will You Marry Me?
40
Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41
Pertemuan di Bandara
42
Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43
Menggapai Restu
44
Cinta dan Ambisi
45
Nikmati Saja, Sayang
46
Cerita Kita Dimulai
47
Hari Bahagia yang Dinantikan
48
Melepas dan Menerima
49
Hari Bahagia
50
Lagi-lagi Kira
51
Membuatkan Keponakan
52
Mas atau Abang?
53
Sarapan Pertama sebagai Menantu
54
Kejutan Pagi yang Manis
55
Romansa yang Tertangkap Mata
56
Kabar Tak Terduga
57
Cinta yang Menenangkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!