Kedatangan Tristan

Langit sore di Bali berubah jingga saat Celia berjalan menyusuri pantai, mencoba melarikan diri dari kerumitan pikirannya. Hubungannya dengan Elvan yang baru saja dimulai memberi warna baru dalam hidupnya, tetapi pesan singkat dari Tristan kembali membawanya pada realitas yang tidak bisa ia abaikan.

"Aku akan ke Bali minggu ini. Kita perlu bicara soal proyek besar berikutnya," begitu isi pesan Tristan yang ia terima tadi pagi.

Pesan itu membuat Celia cemas. Tristan jarang datang langsung untuk membahas pekerjaan, dan ia tahu kedatangannya pasti memiliki agenda tersembunyi.

Keesokan harinya, setelah Celia menikmati sarapan bersama Nenek Kinan, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah mereka. Seorang pria berpenampilan rapi keluar dari mobil, mengenakan kemeja biru muda yang digulung hingga siku. Tristan, Tristan adalah bos dari agensi yang menaungi Celia.

Celia berdiri, menyambut Tristan dengan senyum formal. "Tristan, kamu sudah sampai. "

Tristan tersenyum tipis. "Aku nggak mau buang waktu. Kita punya banyak hal yang harus dibicarakan," ucap Tristan tanpa basa-basi.

Nenek Kinan melirik Tristan dengan tatapan curiga, tetapi ia hanya mengangguk sopan dan meninggalkan mereka untuk berbicara.

Celia mengajak Tristan duduk di teras. "Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanyanya langsung.

Tristan mengeluarkan sebuah map dari tasnya dan meletakkannya di atas meja. "Ada proyek besar di Jakarta. Aku ingin kamu menjadi wajah utama kampanye ini. Ini bisa menjadi lompatan besar untuk kariermu."

Celia membuka map itu dan melihat detail proyeknya. Semuanya terdengar menggiurkan, tetapi ia tahu Tristan tidak hanya datang untuk membahas pekerjaan.

"Apa ini alasan sebenarnya kamu datang ke sini?" Celia bertanya, menatap Tristan dengan tatapan penuh selidik.

Tristan menghela napas, menatap Celia dengan ekspresi serius. "Celia, aku tahu kamu butuh waktu untuk melepaskan diri di sini. Tapi aku khawatir kamu akan kehilangan fokus. Bali mungkin memberimu kedamaian, tapi Jakarta adalah tempat di mana kariermu benar-benar berada."

Celia mencoba mengendalikan amarahnya. "Aku nggak kehilangan fokus, Tristan. Aku tetap menjalankan tanggung jawabku, bahkan dari sini."

"Tapi kamu terlalu lama di sini," Tristan memotong. "Aku tahu kamu sibuk dengan... sesuatu."

Celia tertegun, tetapi ia tetap tenang. "Apa maksudmu?"

"Aku dengar desas-desus tentang seseorang di sini. Apa itu benar?"

Celia menarik nafasnya dalam-dalam, ia tidak ingin Tristan tahu lebih banyak. "Aku tidak tahu desas-desus apa yang kamu maksud, tapi aku juga punya kehidupan di luar pekerjaan."

Tristan mendekatkan tubuhnya, menatap Celia lekat. "Kalau ada seseorang di sini yang mengganggu fokusmu, lebih baik kamu pikirkan lagi. Proyek ini bukan sesuatu yang bisa kamu abaikan."

Detak jantung Celia berdenyut lebih kencang saat Tristan menatapnya, terlebih jarak Tristan sangat dekat. Ada sesuatu yang tidak bisa di jelaskan dalam tatapan Tristan.

Celia mendorong Tristan sedikit menjauh. Tapi Tristan justru meraih pergelangan tangan Celia, dan menahannya. "Kenapa?" tanya Tristan saat Celia hendak menarik tangannya.

"Eh, ini bisa di lepasin," Celia mendadak gugup. Celia takut Nenek akan melihatnya, dan menjadi salah paham.

Tristan melepaskan tangannya, lalu berdiri dan mengacak-acak rambut Celia sebelum dia pergi.

Setelah Tristan pergi, Celia menyusul Elvan ke studio. Ia menceritakan pertemuannya dengan Tristan, tapi tidak menceritakan semuanya. Ia hanya menceritakan tawaran Tristan.

"Aku nggak habis pikir," ucap Celia, duduk di sofa kecil studio. "Kenapa dia selalu berpikir dia bisa mengatur semuanya?"

Elvan duduk di samping Celia, menatap Celia dengan penuh perhatian. "Mungkin karena dia merasa bertanggung jawab terhadap anak didiknya, termasuk kamu," ucap Elvan.

Celia mengangguk pelan. "Tapi aku nggak mau hidupku dikendalikan olehnya. Aku hanya ingin menjalani hidupku sesuai pilihanku sendiri."

Elvan tersenyum, meraih tangan Celia. "Kalau itu yang kamu mau, aku akan mendukungmu."

Pintu studio tiba-tiba terbuka, dan Tristan berdiri di ambang pintu. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti pada Celia dan Elvan yang duduk berdekatan.

"Jadi, ini yang kamu lakukan di sini?" tanya Tristan, suaranya dingin.

Celia berdiri, wajahnya pucat. "Tristan, aku bisa jelaskan."

"Jelaskan apa?" Tristan melangkah masuk. "Aku datang ke sini untuk membicarakan proyek besar yang bisa membawa kariermu ke level berikutnya, tapi ternyata kamu sibuk dengan... siapa dia?"

Elvan berdiri, mencoba tetap tenang. "Aku Elvan, temannya Celia."

"Teman?" Tristan tertawa kecil, nadanya penuh sarkasme. "Celia, ini alasan kamu sulit diajak kembali ke Jakarta?"

"Tristan, tolong jangan buat ini menjadi lebih rumit," ucap Celia, suaranya lembut tapi penuh penekanan. "Apa yang aku lakukan di luar pekerjaan adalah urusanku."

"Tapi ini memengaruhi pekerjaanmu," balas Tristan. "Kamu tahu betapa pentingnya citramu, Celia. Dan sekarang aku harus khawatir tentang apa yang orang lain akan katakan kalau mereka tahu kamu berhubungan dengan... seorang DJ?"

Elvan mengepalkan tangannya, tetapi ia tetap diam. Celia maju, berdiri di antara Tristan dan Elvan. "Cukup, Tristan! Kamu tidak punya hak untuk mencampuri urusan pribadiku. Kalau kamu tidak bisa menerima itu, mungkin lebih kita tidak usah bekerja sama lagi."

Tristan menatap Celia dengan ekspresi dingin. "Kamu akan menyesal kalau memilih jalan ini, Celia. Kariermu tidak akan bertahan lama tanpa dukunganku."

"Kalau begitu, aku akan membuat jalanku sendiri," jawab Celia, matanya bersinar dengan determinasi.

Tristan menatap Celia untuk terakhir kali sebelum berbalik dan keluar dari studio tanpa sepatah katapun.

Setelah Tristan pergi, Celia merasa lega meskipun hatinya masih diliputi kecemasan. Ia tahu keputusannya akan membawa konsekuensi besar, tetapi ia tidak ingin hidupnya terus dikendalikan oleh orang lain.

Elvan mendekatinya, menyentuh pundaknya dengan lembut. "Kamu yakin bisa melewati semua ini?"

Celia mengangguk, meskipun air matanya mulai mengalir. "Aku harus yakin. Aku tidak mau hidup dalam bayangan orang lain lagi."

Elvan menarik Celia ke dalam pelukannya, memberikan dukungan yang ia butuhkan. "Kalau begitu, aku akan ada di sini untuk mendukungmu, apa pun yang terjadi."

Dalam kehangatan pelukan Elvan, Celia merasa lebih kuat. Ia tahu jalan di depannya tidak akan mudah, tetapi ia juga tahu ia tidak sendirian.

Terpopuler

Comments

codefive_

codefive_

Unchhhh🫶🏻🫶🏻

2025-01-11

1

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan Pertama
2 Awal yang hangat di Bali
3 Awal yang hangat part 2
4 Perpisahan yang tak terucap
5 Jejak yang tertinggal di Bali
6 Jalan yang membawa kembali
7 Langkah yang belum terputus
8 Di persimpangan perasaan
9 Setelah Kejujuran
10 Kedatangan Tristan
11 Mencoba sesuatu yang baru
12 Langkah Awal Menuju Bahagia
13 Momen yang Tak Terlupakan
14 Janji
15 Karang Boma Cliff
16 Rencana Masa Depan
17 Rumah di Hati
18 Gairah dan Keinginan
19 Cerita Baru
20 Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21 Tak cukup dengan kata-kata
22 Bayang-bayang Kira
23 Melawan Kira
24 Jejak Masa Lalu
25 Konflik Keluarga dan Harga Diri
26 Antara Cinta dan Keluarga
27 Duri dalam Mawar
28 Pilihan dan Konsekuensi
29 Pertemuan yang Tak Terduga
30 Cemburu Manis
31 Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32 Sentuhan dan Keraguan
33 Tembok Yang Runtuh
34 Bersatu Melawan Daddy
35 Mengambil Hati Calon Ipar
36 Drama Pagi-Pagi
37 Masalah Selesai? Belum Tentu!
38 Malam yang Tak Terlupakan
39 Celia, Will You Marry Me?
40 Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41 Pertemuan di Bandara
42 Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43 Menggapai Restu
44 Cinta dan Ambisi
45 Nikmati Saja, Sayang
46 Cerita Kita Dimulai
47 Hari Bahagia yang Dinantikan
48 Melepas dan Menerima
49 Hari Bahagia
50 Lagi-lagi Kira
51 Membuatkan Keponakan
52 Mas atau Abang?
53 Sarapan Pertama sebagai Menantu
54 Kejutan Pagi yang Manis
55 Romansa yang Tertangkap Mata
56 Kabar Tak Terduga
57 Cinta yang Menenangkan
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Pertemuan Pertama
2
Awal yang hangat di Bali
3
Awal yang hangat part 2
4
Perpisahan yang tak terucap
5
Jejak yang tertinggal di Bali
6
Jalan yang membawa kembali
7
Langkah yang belum terputus
8
Di persimpangan perasaan
9
Setelah Kejujuran
10
Kedatangan Tristan
11
Mencoba sesuatu yang baru
12
Langkah Awal Menuju Bahagia
13
Momen yang Tak Terlupakan
14
Janji
15
Karang Boma Cliff
16
Rencana Masa Depan
17
Rumah di Hati
18
Gairah dan Keinginan
19
Cerita Baru
20
Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21
Tak cukup dengan kata-kata
22
Bayang-bayang Kira
23
Melawan Kira
24
Jejak Masa Lalu
25
Konflik Keluarga dan Harga Diri
26
Antara Cinta dan Keluarga
27
Duri dalam Mawar
28
Pilihan dan Konsekuensi
29
Pertemuan yang Tak Terduga
30
Cemburu Manis
31
Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32
Sentuhan dan Keraguan
33
Tembok Yang Runtuh
34
Bersatu Melawan Daddy
35
Mengambil Hati Calon Ipar
36
Drama Pagi-Pagi
37
Masalah Selesai? Belum Tentu!
38
Malam yang Tak Terlupakan
39
Celia, Will You Marry Me?
40
Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41
Pertemuan di Bandara
42
Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43
Menggapai Restu
44
Cinta dan Ambisi
45
Nikmati Saja, Sayang
46
Cerita Kita Dimulai
47
Hari Bahagia yang Dinantikan
48
Melepas dan Menerima
49
Hari Bahagia
50
Lagi-lagi Kira
51
Membuatkan Keponakan
52
Mas atau Abang?
53
Sarapan Pertama sebagai Menantu
54
Kejutan Pagi yang Manis
55
Romansa yang Tertangkap Mata
56
Kabar Tak Terduga
57
Cinta yang Menenangkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!