Jalan yang membawa kembali

Beberapa bulan berlalu, dan kesibukan kembali menyita hidup Celia. Ia berhasil menyelesaikan beberapa proyek besar, bahkan tampil dalam kampanye internasional untuk merek-merek terkenal. Kariernya terus menanjak, namun ada rasa kosong yang tidak bisa ia abaikan.

Celia duduk di sofa, menatap layar ponselnya. Ada pesan masuk dari Lily yang memberitahu tentang jadwal berikutnya, tetapi pikirannya terus melayang pada kenangan bersama Nenek Kinan dan Elvan. Senyum hangat Nenek Kinan, percakapan ringan di ruang tamu, dan lagu-lagu Elvan, semua itu kini terasa jauh, meskipun masih melekat erat dalam ingatannya.

Ponselnya tiba-tiba berdering, membuyarkan lamunannya. Nama Lily tertera di layar, Celia segera menjawab panggilannya.

“Halo. Celia, kamu nggak akan percaya ini. Salah satu klien besar kita ingin melakukan pemotretan di Bali. Lokasi dan konsepnya pas banget buatmu,” ujar Lily dengan antusias.

Celia terkejut sekaligus tertarik. “Di Bali? Beneran?”

“Iya! Ini kesempatan bagus. Selain bisa bekerja, kamu juga mungkin bisa...” Lily berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada menggoda, “mengunjungi seseorang.”

Celia tertawa kecil. “Lily, fokus pada pekerjaan.”

“Tapi kamu akan terima tawarannya, kan?” desak Lily.

Setelah diam beberapa saat dan berpikir, Celia mengangguk meski Lily tidak bisa melihatnya. “Baiklah. Kirim detailnya. Aku akan ke sana.”

*****

Di Bali, suasana di rumah Nenek Kinan masih sama seperti biasanya, tenang dan penuh kedamaian. Nenek Kinan sedang duduk di taman, memandangi bunga-bunga yang baru bermekaran. Elvan keluar dari rumah, membawa secangkir teh untuk neneknya.

“Nek, ini tehnya,” ujar Elvan sambil meletakkan cangkir di meja kecil di samping kursi Nenek.

“Terima kasih, Nak,” Nenek Kinan menjawab dengan senyum sendu di wajahnya.

“Nenek kenapa?” Elvan bertanya setelah memperhatikan raut wajah neneknya.

Nenek Kinan menghela napas. “Aku hanya berpikir, sudah lama sekali kita tidak mendengar kabar dari Celia.”

Elvan terdiam mendengar nama itu. Rasa rindu yang selama ini ia pendam kembali menyeruak. Namun, ia berusaha menyembunyikannya di balik sikap dinginnya.

“Mungkin dia sibuk, Nek,” balasnya singkat.

Nenek Kinan memandangi cucunya dengan tatapan penuh kasih. “Nak, Nenek tahu kamu merindukannya. Jangan bohong pada dirimu sendiri.”

Elvan hanya menggeleng kecil dan mengalihkan pandangannya. Tapi dalam hatinya, ia tahu Nenek benar.

******

Beberapa hari kemudian, Celia tiba di Bali dengan tim pemotretan. Lokasi yang dipilih adalah sebuah vila mewah yang terletak di pinggir pantai. Meski sibuk mempersiapkan diri untuk pemotretan, pikirannya terus berkelana ke tempat yang ia anggap sebagai rumah kedua.

Setelah pemotretan selesai lebih awal dari jadwal, Celia memutuskan untuk menyewa mobil dan pergi ke rumah Nenek Kinan. Perjalanan ke sana membangkitkan kenangan manis yang pernah ia alami.

Sesampainya disana, suasana rumah itu tidak banyak berubah. Taman masih dipenuhi bunga-bunga yang terawat dengan baik. Di sudut taman, ia melihat sosok Nenek Kinan sedang menyiram tanaman.

“Nek!” teriak Celia sambil melambaikan tangan.

Nenek Kinan menoleh dan langsung tersenyum lebar. “Nak Celia! Kamu benar-benar kembali!”

Celia berlari kecil dan memeluk Nenek dengan erat. “Aku merindukanmu, Nek.”

“Nenek juga, Nenek sangat merindukanmu,” jawab Nenek dengan suara penuh kebahagiaan.

Saat Celia melepaskan pelukannya, ia melihat Elvan keluar dari rumah, membawa secangkir teh. Ketika pandangan mereka bertemu, Elvan tercengang. Matanya sempat membeku, terkejut dengan kedatangan Celia yang tiba-tiba.

“Kamu?” ujar Elvan dengan nada datar, meskipun matanya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Celia tersenyum lebar, sedikit canggung, namun penuh kehangatan. “Ya, aku. Apa kamu tidak senang melihatku?”

Elvan hanya mendengus kecil. “Aku kira kamu sudah melupakan tempat ini.”

“Tidak mungkin,” balas Celia. “Tempat ini terlalu berharga untuk dilupakan.”

Mereka bertiga duduk di ruang tamu, berbagi cerita sambil menikmati teh hangat buatan Nenek Kinan. Celia menceritakan pengalamannya bekerja di Jakarta dan bagaimana ia selalu merindukan suasana di Bali.

“Elvan, kamu masih membuat lagu?” tanya Celia tiba-tiba.

Elvan mengangguk. “Ya, aku bahkan menyelesaikan sebuah lagu baru.”

“Boleh aku dengar?” tanya Celia.

Elvan terdiam sejenak, lalu berdiri. Ia mengambil ponselnya dan memutar lagu yang ia maksud. Melodi itu lembut namun penuh emosi, seolah menceritakan sebuah kisah yang hanya bisa dimengerti oleh keduanya.

Celia mendengarkan dengan seksama, matanya mulai berkaca-kaca. “Lagunya bagus. Siapa yang menginspirasimu untuk membuat lagu ini?”

Elvan menatap Celia dengan tatapan yang sulit diartikan, ada perasaan yang terpendam dalam tatapannya. “Seseorang yang membuatku sadar bahwa aku tidak bisa terus hidup dalam keterasingan.”

Celia terdiam, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu bahwa lagu itu diciptakan untuknya, meskipun Elvan tidak mengatakannya secara langsung. Nenek Kinan hanya tersenyum melihat interaksi keduanya.

Nenek Kinan meminta Celia untuk menginap di rumahnya. Celia awalnya menolak, tapi akhirnya ia mengiyakan tawaran nenek.

Setelah Nenek pamit ke kamarnya, Celia berjalan ke balkon dan duduk di balkon, ia memandangi langit yang penuh bintang, merasa damai, seperti menemukan kembali bagian dirinya yang hilang.

Suara langkah kaki terdengar dari belakang. Celia menoleh dan melihat Elvan berdiri di sampingnya.

“Kamu nggak tidur?” tanya Elvan sambil bersandar di pagar balkon.

“Sebentar lagi. Aku masih ingin menikmati malam ini," jawab Celia sambil tersenyum lembut.

Elvan memandangi bintang-bintang sejenak sebelum bertanya, “Kamu akan kembali ke Jakarta setelah pekerjaanmu di sini selesai?”

Celia menatapnya dengan tatapan yang sulit di jelaskan, “Aku tidak tahu. Mungkin, tapi aku merasa ingin tinggal lebih lama di sini.”

“Kenapa?” tanya Elvan pelan, matanya tertuju pada Celia dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

“Karena di sini aku merasa seperti menemukan bagian dari diriku yang hilang,” jawab Celia jujur.

Elvan terdiam, menatap Celia dengan tatapan lembut. Dalam hatinya, ia tahu kehadiran Celia telah membawa warna baru dalam hidupnya. Sesuatu yang sudah lama ia abaikan, namun kini terasa begitu nyata.

“Celia,” ujar Elvan pelan, suaranya hampir berbisik, “Aku senang kamu kembali.”

Celia tersenyum, hati mereka saling berbicara tanpa perlu banyak kata.

Dalam keheningan malam itu, mereka berdiri berdampingan, menikmati keindahan langit Bali. Tanpa perlu banyak kata, keduanya tahu bahwa ada sesuatu yang istimewa di antara mereka, sesuatu yang perlahan mulai tumbuh menjadi lebih kuat.

Episodes
1 Pertemuan Pertama
2 Awal yang hangat di Bali
3 Awal yang hangat part 2
4 Perpisahan yang tak terucap
5 Jejak yang tertinggal di Bali
6 Jalan yang membawa kembali
7 Langkah yang belum terputus
8 Di persimpangan perasaan
9 Setelah Kejujuran
10 Kedatangan Tristan
11 Mencoba sesuatu yang baru
12 Langkah Awal Menuju Bahagia
13 Momen yang Tak Terlupakan
14 Janji
15 Karang Boma Cliff
16 Rencana Masa Depan
17 Rumah di Hati
18 Gairah dan Keinginan
19 Cerita Baru
20 Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21 Tak cukup dengan kata-kata
22 Bayang-bayang Kira
23 Melawan Kira
24 Jejak Masa Lalu
25 Konflik Keluarga dan Harga Diri
26 Antara Cinta dan Keluarga
27 Duri dalam Mawar
28 Pilihan dan Konsekuensi
29 Pertemuan yang Tak Terduga
30 Cemburu Manis
31 Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32 Sentuhan dan Keraguan
33 Tembok Yang Runtuh
34 Bersatu Melawan Daddy
35 Mengambil Hati Calon Ipar
36 Drama Pagi-Pagi
37 Masalah Selesai? Belum Tentu!
38 Malam yang Tak Terlupakan
39 Celia, Will You Marry Me?
40 Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41 Pertemuan di Bandara
42 Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43 Menggapai Restu
44 Cinta dan Ambisi
45 Nikmati Saja, Sayang
46 Cerita Kita Dimulai
47 Hari Bahagia yang Dinantikan
48 Melepas dan Menerima
49 Hari Bahagia
50 Lagi-lagi Kira
51 Membuatkan Keponakan
52 Mas atau Abang?
53 Sarapan Pertama sebagai Menantu
54 Kejutan Pagi yang Manis
55 Romansa yang Tertangkap Mata
56 Kabar Tak Terduga
57 Cinta yang Menenangkan
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Pertemuan Pertama
2
Awal yang hangat di Bali
3
Awal yang hangat part 2
4
Perpisahan yang tak terucap
5
Jejak yang tertinggal di Bali
6
Jalan yang membawa kembali
7
Langkah yang belum terputus
8
Di persimpangan perasaan
9
Setelah Kejujuran
10
Kedatangan Tristan
11
Mencoba sesuatu yang baru
12
Langkah Awal Menuju Bahagia
13
Momen yang Tak Terlupakan
14
Janji
15
Karang Boma Cliff
16
Rencana Masa Depan
17
Rumah di Hati
18
Gairah dan Keinginan
19
Cerita Baru
20
Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21
Tak cukup dengan kata-kata
22
Bayang-bayang Kira
23
Melawan Kira
24
Jejak Masa Lalu
25
Konflik Keluarga dan Harga Diri
26
Antara Cinta dan Keluarga
27
Duri dalam Mawar
28
Pilihan dan Konsekuensi
29
Pertemuan yang Tak Terduga
30
Cemburu Manis
31
Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32
Sentuhan dan Keraguan
33
Tembok Yang Runtuh
34
Bersatu Melawan Daddy
35
Mengambil Hati Calon Ipar
36
Drama Pagi-Pagi
37
Masalah Selesai? Belum Tentu!
38
Malam yang Tak Terlupakan
39
Celia, Will You Marry Me?
40
Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41
Pertemuan di Bandara
42
Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43
Menggapai Restu
44
Cinta dan Ambisi
45
Nikmati Saja, Sayang
46
Cerita Kita Dimulai
47
Hari Bahagia yang Dinantikan
48
Melepas dan Menerima
49
Hari Bahagia
50
Lagi-lagi Kira
51
Membuatkan Keponakan
52
Mas atau Abang?
53
Sarapan Pertama sebagai Menantu
54
Kejutan Pagi yang Manis
55
Romansa yang Tertangkap Mata
56
Kabar Tak Terduga
57
Cinta yang Menenangkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!