Di persimpangan perasaan

Keesokan harinya, Celia mencoba mengalihkan pikirannya dengan bersiap-siap untuk pemotretan. Namun, percakapannya dengan Elvan semalam masih menggema di benaknya. Ia merasa seperti berbicara dengan dinding. Ada perasaan yang jelas di antara mereka, tapi Elvan tetap menutupinya rapat-rapat.

Lily, yang sudah lebih dulu menunggu di mobil, mengetuk jendela, membuat Celia tersadar. "Celia, ayo cepat! Kita nggak punya banyak waktu," serunya.

Celia mengangguk dan melangkah keluar dari rumah dengan membawa tas. "Aku siap," ucapnya singkat sambil masuk ke dalam mobil.

Dalam perjalanan menuju lokasi, Lily diam-diam memerhatikan Celia dari kaca spion. "Apa yang kamu pikirkan? Kamu kelihatan banget sedang memikirkan sesuatu," komentar Lily.

Celia menghela napas pelan. "Nggak apa-apa, nggak penting kok," jawabnya sambil menatap jalanan.

Lily menatap Celia melalui kaca spion. "Mikirin Elvan, ya?" tanyanya, hampir seperti menebak.

Celia terkejut, tapi tidak menyangkal. Ia hanya mengangguk pelan. "Dia selalu bikin aku bingung. Aku tahu dia juga merasakan apa yang aku rasakan, tapi dia nggak pernah bilang apa-apa. Kesel juga nunggu dia."

Lily menghela napas panjang. "Celia, aku ngerti perasaanmu, tapi kamu harus ingat, kariermu itu prioritas. Kalau kamu terus terpaku pada sesuatu yang nggak pasti, itu cuma akan melukai dirimu sendiri."

Celia terdiam. Ia tahu Lily benar, tapi hatinya tetap tidak bisa mengabaikan Elvan.

Sementara itu, di studio, Elvan duduk termenung di depan laptopnya. Musik yang biasanya menjadi pelariannya kini hanya terasa seperti kebisingan. Ia memikirkan kata-kata Celia semalam.

"Kenapa aku selalu begini?" gumamnya pada diri sendiri, tak bisa menenangkan pikirannya.

Elvan tahu perasaannya pada Celia lebih dari sekadar rasa nyaman. Tapi setiap kali ia mencoba mendekat, ada suara di dalam dirinya yang mengingatkan bahwa mereka berasal dari dunia yang berbeda.

Nenek Kinan berkunjung ke studio dengan membawa secangkir kopi yang ia beli saat di cafe dekat studio."Kamu kenapa, Van? Kok muka kamu kelihatan kusut gitu?" tanyanya lembut.

Elvan tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, Nek. Aku cuma lagi banyak pikiran," jawab Elvan, tidak ingin membebani neneknya.

Nenek Kinan duduk di kursi dekat Elvan, lalu berkata, "Kalau kamu cuma mikir, nggak bakalan selesai. Kadang, kita harus berani bertindak, daripada cuma berpikir dan diam ditempat, nggak merubah apapun kan?"

Elvan menatap neneknya, memikirkan setiap kata yang keluar dari bibirnya. "Tapi aku takut, Nek. Kalau aku ditolak, aku mungkin akan kehilangan dia sebagai teman," ujar Elvan, suaranya penuh keraguan.

Nenek Kinan menepuk bahu cucunya pelan. "Kadang, mempertaruhkan pertemanan adalah satu-satunya cara untuk menemukan sesuatu yang lebih indah."

Elvan hanya bisa terdiam. Kata-kata Nenek Kinan seperti menyalakan api kecil di hatinya, tapi keberanian itu belum sepenuhnya tumbuh.

Di lokasi pemotretan, Celia mencoba menutupi kegelisahannya dengan senyuman. Ia berpose dengan sempurna, mengikuti arahan fotografer tanpa cela. Tapi di sela-sela jeda, pikirannya kembali melayang pada Elvan.

Setelah sesi selesai, Celia duduk di kursi rias, memandangi pantulan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat lelah, bukan karena pekerjaan, tapi karena perasaan yang membebaninya.

"Celia," suara Lily membuyarkan lamunannya. "Kita ada meeting sebentar lagi. Kamu siap?"

Celia mengangguk. "Iya, aku siap."

Namun, sebelum mereka berangkat, sebuah pesan masuk ke ponsel Celia. Itu dari Elvan.

"Kamu sibuk malam ini? Kalau ada waktu, aku mau bicara."

Jantung Celia berdetak lebih cepat. Ini pertama kalinya Elvan mengambil inisiatif untuk menghubunginya. Tanpa berpikir panjang, Celia membalas: "Aku akan datang."

Malam itu, setelah meeting, Celia kembali ke studio milik Elvan. Pintu studio sudah terbuka ketika ia tiba, dan Elvan sedang duduk di depan perangkat DJ-nya.

"Hai, aku di sini," ucap Celia pelan, membuat Elvan menoleh.

Elvan berdiri, menoleh ke arah sumber suara, "Terima kasih sudah datang, sini masuk," ucap Elvan, sedikit canggung.

"Ada apa? Kamu bilang mau bicara," tanya Celia tanpa basa-basi.

Elvan menghela napas panjang, seakan mencari kata-kata yang tepat. "Aku... Aku cuma mau bilang maaf."

Celia menatap Elvan, dengan tatapan bingung. "Kenapa kamu minta maaf? Emangnya kamu salah apa?" tanya Celia. "Aku pikir..."

"Aku salah," potong Elvan cepat, suaranya serak. "Aku salah karena nggak jujur sama perasaanku sendiri."

Celia terdiam, ia menunggu Elvan melanjutkan ucapannya.

"Aku nggak tahu bagaimana caranya bilang ini," lanjut Elvan, matanya menatap lantai. "Tapi aku... Aku peduli sama kamu."

Kata-kata itu membuat Celia tersentak. Ia sudah lama menunggu momen ini, tapi mendengarnya langsung dari Elvan, ia seakan tidak percaya.

"Kenapa kamu baru bilang sekarang?" tanya Celia pelan, mencoba menahan perasaan yang campur aduk.

Elvan menunduk, ia merasa malu. "Karena aku takut. Aku takut kehilanganmu kalau aku jujur."

Celia melangkah mendekat, mengangkat wajah Elvan agar ia menatapnya. "Kamu nggak perlu takut, Elvan. Aku juga punya perasaan yang sama."

Elvan tertegun, seperti tidak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Ia menatap lekat wajah Celia. Elvan bisa melihat ekspresinya yang begitu jujur, penuh rasa sayang yang tak bisa ia abaikan lagi.

“Celia...” suara Elvan bergetar, seakan ingin mengatakan lebih banyak, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

Tanpa berpikir panjang, Celia mendekatkan wajahnya. Ia bisa merasakan napas Elvan yang terengah, gugup tapi tidak menghindar. Mata mereka bertemu dalam keheningan.

“Aku serius, Elvan,” bisik Celia pelan. “Aku sudah cukup lelah menunggu kamu untuk jujur.”

Dan saat itu, seolah gravitasi menarik mereka. Elvan menunduk sedikit, mendekatkan bibirnya ke bibir Celia. Gerakannya pelan, tapi penuh dengan perasaan yang selama ini ia pendam.

Celia menutup mata, membiarkan momen itu menyelimuti dirinya. Ketika akhirnya bibir mereka bertemu, ciuman itu lembut, sederhana, tapi penuh makna.

Elvan memejamkan mata, merasakan kehangatan yang mengalir di antara mereka. Celia membalas ciuman itu dengan lembut, menyampaikan perasaan yang selama ini terpendam dalam diam.

Mereka melepaskan pagutannya. Elvan tetap memegang wajah Celia dengan kedua tangannya. Mata mereka bertemu lagi, tapi kali ini tidak ada keraguan, hanya kejujuran yang murni.

“Kenapa harus selama ini?” tanya Celia, suara lembutnya penuh tanya.

Elvan tertawa kecil, suaranya serak. “Karena aku terlalu bodoh untuk menyadari bahwa aku nggak bisa hidup tanpa kamu.”

Celia memukul pelan bahu Elvan, setengah bercanda. “Lain kali, jangan tunggu aku bilang duluan, ya.”

Elvan mengangguk, senyumnya lebar. “Aku janji.”

Di studio kecil itu, di tengah suara alat-alat musik yang masih menyala, mereka akhirnya menemukan apa yang selama ini mereka cari. Mungkin jalan ke depan tidak akan mudah, tapi untuk pertama kalinya, mereka yakin bisa menghadapi semuanya bersama.

Terpopuler

Comments

Cassandra

Cassandra

sweet bangett Elvan dan Celiaa/Proud/

2025-01-21

1

Ellana_michelle

Ellana_michelle

omaygat😳

2025-01-01

1

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan Pertama
2 Awal yang hangat di Bali
3 Awal yang hangat part 2
4 Perpisahan yang tak terucap
5 Jejak yang tertinggal di Bali
6 Jalan yang membawa kembali
7 Langkah yang belum terputus
8 Di persimpangan perasaan
9 Setelah Kejujuran
10 Kedatangan Tristan
11 Mencoba sesuatu yang baru
12 Langkah Awal Menuju Bahagia
13 Momen yang Tak Terlupakan
14 Janji
15 Karang Boma Cliff
16 Rencana Masa Depan
17 Rumah di Hati
18 Gairah dan Keinginan
19 Cerita Baru
20 Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21 Tak cukup dengan kata-kata
22 Bayang-bayang Kira
23 Melawan Kira
24 Jejak Masa Lalu
25 Konflik Keluarga dan Harga Diri
26 Antara Cinta dan Keluarga
27 Duri dalam Mawar
28 Pilihan dan Konsekuensi
29 Pertemuan yang Tak Terduga
30 Cemburu Manis
31 Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32 Sentuhan dan Keraguan
33 Tembok Yang Runtuh
34 Bersatu Melawan Daddy
35 Mengambil Hati Calon Ipar
36 Drama Pagi-Pagi
37 Masalah Selesai? Belum Tentu!
38 Malam yang Tak Terlupakan
39 Celia, Will You Marry Me?
40 Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41 Pertemuan di Bandara
42 Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43 Menggapai Restu
44 Cinta dan Ambisi
45 Nikmati Saja, Sayang
46 Cerita Kita Dimulai
47 Hari Bahagia yang Dinantikan
48 Melepas dan Menerima
49 Hari Bahagia
50 Lagi-lagi Kira
51 Membuatkan Keponakan
52 Mas atau Abang?
53 Sarapan Pertama sebagai Menantu
54 Kejutan Pagi yang Manis
55 Romansa yang Tertangkap Mata
56 Kabar Tak Terduga
57 Cinta yang Menenangkan
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Pertemuan Pertama
2
Awal yang hangat di Bali
3
Awal yang hangat part 2
4
Perpisahan yang tak terucap
5
Jejak yang tertinggal di Bali
6
Jalan yang membawa kembali
7
Langkah yang belum terputus
8
Di persimpangan perasaan
9
Setelah Kejujuran
10
Kedatangan Tristan
11
Mencoba sesuatu yang baru
12
Langkah Awal Menuju Bahagia
13
Momen yang Tak Terlupakan
14
Janji
15
Karang Boma Cliff
16
Rencana Masa Depan
17
Rumah di Hati
18
Gairah dan Keinginan
19
Cerita Baru
20
Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21
Tak cukup dengan kata-kata
22
Bayang-bayang Kira
23
Melawan Kira
24
Jejak Masa Lalu
25
Konflik Keluarga dan Harga Diri
26
Antara Cinta dan Keluarga
27
Duri dalam Mawar
28
Pilihan dan Konsekuensi
29
Pertemuan yang Tak Terduga
30
Cemburu Manis
31
Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32
Sentuhan dan Keraguan
33
Tembok Yang Runtuh
34
Bersatu Melawan Daddy
35
Mengambil Hati Calon Ipar
36
Drama Pagi-Pagi
37
Masalah Selesai? Belum Tentu!
38
Malam yang Tak Terlupakan
39
Celia, Will You Marry Me?
40
Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41
Pertemuan di Bandara
42
Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43
Menggapai Restu
44
Cinta dan Ambisi
45
Nikmati Saja, Sayang
46
Cerita Kita Dimulai
47
Hari Bahagia yang Dinantikan
48
Melepas dan Menerima
49
Hari Bahagia
50
Lagi-lagi Kira
51
Membuatkan Keponakan
52
Mas atau Abang?
53
Sarapan Pertama sebagai Menantu
54
Kejutan Pagi yang Manis
55
Romansa yang Tertangkap Mata
56
Kabar Tak Terduga
57
Cinta yang Menenangkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!