Setelah Kejujuran

Celia dan Elvan duduk bersisian di sofa. Tidak ada lagi jarak di antara mereka. Studio kecil itu kini dipenuhi keheningan yang hangat, hanya diiringi suara dentingan alat musik yang masih menyala.

Celia bersandar didada Elvan, sementara pria itu menatap layar komputernya yang menampilkan sebuah lagu yang belum selesai. Lagu itu adalah karya terbaiknya, dan Celia baru tahu bahwa ada alasan khusus di balik lagu tersebut.

“Lagu itu...” bisik Celia, memecah keheningan. "Lagu itu untuk siapa?”

Elvan tersenyum. “Untukmu.”

Celia tertegun, menegakkan tubuhnya dan menatap Elvan. “Untukku?”

Elvan mengangguk pelan. “Aku mulai mengerjakannya sejak pertama kali kita bertemu. Setiap melodi di lagu ini terinspirasi dari momen-momen kecil yang pernah kita lewati. Tapi aku terlalu pengecut untuk menunjukkannya padamu.”

Celia menghela napas panjang, merasa hatinya menghangat. “Kenapa memangnya? Apa kamu takut jika aku tidak menyukainya?”

Elvan menatap Celia dengan tatapan lembut. “Bukan itu. Aku takut kamu akan tahu betapa besar artinya kamu buatku. Dan aku takut perasaan ini akan mengubah segalanya di antara kita."

Celia menggenggam tangan Elvan erat, seolah ingin meyakinkannya bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan. “Jawaban kamu terlalu berlebihan, tapi aku suka. Aku selalu menyukai caramu menunjukkan perasaanmu, bahkan saat kamu tidak mengatakannya.”

Elvan tersenyum, untuk pertama kalinya merasa lega karena semua yang ia sembunyikan akhirnya terungkap. Ia kembali menatap layar komputernya, lalu mengklik tombol “play.”

Lagu itu mulai mengalun, memenuhi ruangan dengan melodi lembut yang terasa akrab. Celia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam setiap nada. Ada kehangatan dan kerinduan yang terasa dalam lagu itu, seolah setiap irama adalah ungkapan hati Elvan yang tidak pernah terucap.

Ketika lagu selesai, Celia membuka matanya perlahan. “This song is beautiful. Aku nggak percaya kamu bisa membuat lagu sebagus ini.”

Elvan hanya tersenyum, tapi senyum itu cukup untuk mengatakan segalanya.

“Elvan,” Celia memanggilnya, memecah keheningan lagi. “Apa kamu benar-benar yakin dengan ini? Dengan hubungan kita?”

Elvan menggenggam tangan Celia, menatap lekat wajah Celia. “Aku memang nggak tahu bagaimana masa depan. Tapi aku tahu satu hal. Aku nggak mau lagi menyembunyikan perasaanku. Kalau kamu siap menghadapi semuanya, aku juga siap.”

Celia terdiam sejenak, mencerna kata-kata Elvan. Ia tahu jalan yang mereka pilih tidak akan mudah, terutama dengan dunia mereka yang begitu berbeda. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa tidak peduli dengan semua itu.

“Aku juga siap,” jawab Celia.

Keduanya tersenyum. Elvan merengkuh bahu Celia, dan mengecup pelan puncak kepala Celia.

Malam berlalu dengan kehangatan yang sulit dijelaskan. Namun, pagi berikutnya membawa tantangan baru.

Di rumah Nenek Kinan, Lily sudah menunggu Celia.

“Celia, ceritakan padaku yang terjadi,” ucap Lily tanpa basa-basi, sambil melipat tangannya di depan dada.

Celia mencoba mengelak. “Maksudmu apa, Ly?”

Lily menghela napas panjang, lalu menatap Celia tajam. “Aku nggak bodoh, Celia. Aku tahu kamu dan Elvan semakin dekat. Tapi kamu harus ingat, Celia, kamu punya tanggung jawab. Proyek ini penting, dan aku nggak mau kamu kehilangan fokus.”

Celia menatap Lily dengan penuh keyakinan. “Aku tahu tanggung jawabku, Ly. Tapi aku juga nggak mau terus-menerus mengabaikan perasaanku. Aku bisa mengurus keduanya.”

Lily terlihat ragu. “Kamu yakin? Karena aku nggak mau melihatmu gagal.”

“Aku yakin,” jawab Celia tegas. “Dan aku harap kamu bisa mendukungku, seperti biasanya.”

Lily terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk. “Baiklah. Tapi ingat, jangan sampai ini mengganggu pekerjaanmu. Aku akan tetap mengawasimu.”

Celia tersenyum lega. Ia tahu Lily hanya peduli padanya, meskipun cara Lily terkadang terlalu over protektif. "Terimakasih Ly, you're the best," ucap Celia sambil memeluk Lily. Lily hanya mengangguk.

Setelah percakapan dengan Lily, Celia berjalan ke taman belakang. Angin pagi masih bertiup lembut, membawa aroma khas desa Bali yang menenangkan. Dari kejauhan, ia melihat Elvan duduk di bawah pohon, bermain gitar akustik yang terlihat usang.

Celia melangkah mendekat tanpa suara. Melodi yang dimainkan Elvan terasa familiar, itu adalah lagu yang ia dengar di studio tadi malam, tapi ini versi akustiknya.

“Elvan,” panggil Celia pelan saat ia berdiri di belakangnya.

Elvan menoleh, dan tersenyum. “Sini duduk," ucap Elvan sambil menepuk tempat duduk di sebelahnya.

Celia mengangguk dan duduk di sebelah Elvan.

“Kamu sudah yakin ingin menjalani semua ini," Elvan bertanya setelah Celia duduk.

Celia tersenyum, menyentuh lengan Elvan dengan lembut. “Aku yakin. Kamu sendiri bagaimana?”

Elvan tertawa kecil, menatap gitarnya seolah sedang berpikir. “Aku nggak tahu. Tapi kalau kamu ada di sini, mungkin aku juga bisa lebih yakin.”

Celia terdiam, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Elvan. “Aku nggak butuh dunia yang sempurna, Van. Aku cuma butuh seseorang yang bisa membuatku merasa utuh. Dan aku sudah menemukannya, yaitu kamu."

Elvan tidak menjawab. Ia hanya memetik gitarnya lagi, kali ini memainkan melodi lembut yang ia ciptakan secara spontan. Celia menutup matanya, menikmati setiap nada yang ia dengar.

“Kamu mau tahu sesuatu?” tanya Elvan tiba-tiba, menghentikan permainan gitarnya.

“Apa?” balas Celia, membuka matanya.

“Lagu ini, aku membuat lagu ini karena kamu. Tapi enggak cuma tentang kamu. Ini tentang rasa tenang yang aku dapat setiap kali kamu ada di dekatku. Kamu itu seperti rumah, tempat aku ingin kembali, walaupun aku tidak tahu bagaimana caranya.”

Celia tertegun mendengar pengakuan itu. Hatinya terasa sesak karena perasaan yang membuncah. Ia menatap Elvan, dan tanpa sadar menggenggam erat tangan Elvan.

“Elvan,” bisiknya pelan. “Kamu tahu, aku juga merasa begitu. Kamu selalu menjadi tempat, tempat dimana aku bisa menjadi diriku sendiri."

Elvan menunduk, menatap tangan mereka yang saling bertaut. “Tapi kamu tahu, ini nggak akan mudah buat kita, kan?”

Celia mengangguk. “Aku tahu. Tapi aku juga tahu, kamu itu patut aku perjuangkan.”

Elvan tersenyum, mengangkat wajah Celia perlahan. Dengan lembut, ia menyentuh pipi Celia, membuat jarak di antara mereka semakin tipis.

“Aku enggak akan menyembunyikan perasaanku lagi,” bisik Elvan sebelum bibir mereka bertemu dalam ciuman lembut, penuh kejujuran dan rasa saling memiliki.

Saat mereka berdua melepaskan ciumannya, Celia tertawa kecil. “Aku rasa Nenek Kinan benar. Jika aku tidak memulai, kamu nggak akan pernah jujur sama perasaanmu, dan mungkin sampai sekarang kita masih seperti orang asing.”

Elvan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ya, mungkin. Tapi setidaknya aku akhirnya melakukannya, kan?”

Celia mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Elvan lagi. Mereka duduk dalam keheningan, menikmati kebersamaan.

Terpopuler

Comments

Sylvia Rosyta

Sylvia Rosyta

semangat kak 💪😊

2024-12-30

1

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan Pertama
2 Awal yang hangat di Bali
3 Awal yang hangat part 2
4 Perpisahan yang tak terucap
5 Jejak yang tertinggal di Bali
6 Jalan yang membawa kembali
7 Langkah yang belum terputus
8 Di persimpangan perasaan
9 Setelah Kejujuran
10 Kedatangan Tristan
11 Mencoba sesuatu yang baru
12 Langkah Awal Menuju Bahagia
13 Momen yang Tak Terlupakan
14 Janji
15 Karang Boma Cliff
16 Rencana Masa Depan
17 Rumah di Hati
18 Gairah dan Keinginan
19 Cerita Baru
20 Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21 Tak cukup dengan kata-kata
22 Bayang-bayang Kira
23 Melawan Kira
24 Jejak Masa Lalu
25 Konflik Keluarga dan Harga Diri
26 Antara Cinta dan Keluarga
27 Duri dalam Mawar
28 Pilihan dan Konsekuensi
29 Pertemuan yang Tak Terduga
30 Cemburu Manis
31 Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32 Sentuhan dan Keraguan
33 Tembok Yang Runtuh
34 Bersatu Melawan Daddy
35 Mengambil Hati Calon Ipar
36 Drama Pagi-Pagi
37 Masalah Selesai? Belum Tentu!
38 Malam yang Tak Terlupakan
39 Celia, Will You Marry Me?
40 Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41 Pertemuan di Bandara
42 Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43 Menggapai Restu
44 Cinta dan Ambisi
45 Nikmati Saja, Sayang
46 Cerita Kita Dimulai
47 Hari Bahagia yang Dinantikan
48 Melepas dan Menerima
49 Hari Bahagia
50 Lagi-lagi Kira
51 Membuatkan Keponakan
52 Mas atau Abang?
53 Sarapan Pertama sebagai Menantu
54 Kejutan Pagi yang Manis
55 Romansa yang Tertangkap Mata
56 Kabar Tak Terduga
57 Cinta yang Menenangkan
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Pertemuan Pertama
2
Awal yang hangat di Bali
3
Awal yang hangat part 2
4
Perpisahan yang tak terucap
5
Jejak yang tertinggal di Bali
6
Jalan yang membawa kembali
7
Langkah yang belum terputus
8
Di persimpangan perasaan
9
Setelah Kejujuran
10
Kedatangan Tristan
11
Mencoba sesuatu yang baru
12
Langkah Awal Menuju Bahagia
13
Momen yang Tak Terlupakan
14
Janji
15
Karang Boma Cliff
16
Rencana Masa Depan
17
Rumah di Hati
18
Gairah dan Keinginan
19
Cerita Baru
20
Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21
Tak cukup dengan kata-kata
22
Bayang-bayang Kira
23
Melawan Kira
24
Jejak Masa Lalu
25
Konflik Keluarga dan Harga Diri
26
Antara Cinta dan Keluarga
27
Duri dalam Mawar
28
Pilihan dan Konsekuensi
29
Pertemuan yang Tak Terduga
30
Cemburu Manis
31
Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32
Sentuhan dan Keraguan
33
Tembok Yang Runtuh
34
Bersatu Melawan Daddy
35
Mengambil Hati Calon Ipar
36
Drama Pagi-Pagi
37
Masalah Selesai? Belum Tentu!
38
Malam yang Tak Terlupakan
39
Celia, Will You Marry Me?
40
Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41
Pertemuan di Bandara
42
Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43
Menggapai Restu
44
Cinta dan Ambisi
45
Nikmati Saja, Sayang
46
Cerita Kita Dimulai
47
Hari Bahagia yang Dinantikan
48
Melepas dan Menerima
49
Hari Bahagia
50
Lagi-lagi Kira
51
Membuatkan Keponakan
52
Mas atau Abang?
53
Sarapan Pertama sebagai Menantu
54
Kejutan Pagi yang Manis
55
Romansa yang Tertangkap Mata
56
Kabar Tak Terduga
57
Cinta yang Menenangkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!