Jejak yang tertinggal di Bali

Hari-hari berlalu sejak kepergian Celia, dan kini rumah Elvan terasa sepi. Kehadiran Celia yang dulu selalu menghidupkan suasana kini hanya menyisakan jejak kenangan yang samar di setiap sudut rumah. Meskipun tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung, Elvan merasakan kekosongan yang sulit dijelaskan, sebuah kekosongan yang seolah mengisi ruang-ruang yang sebelumnya penuh dengan tawa dan kebersamaan.

Nenek Kinan, yang biasanya sibuk di taman, kini sering duduk di kursi teras, matanya menatap kosong ke arah kursi yang dulu menjadi tempat Celia duduk. Ia tersenyum kecil, mengenang suara tawa Celia yang sering memenuhi udara pagi, menyegarkan seisi rumah dengan canda dan cerita ringan.

“Elvan,” panggil Nenek Kinan saat mereka sedang sarapan.

“Hm?” jawab Elvan singkat, fokus pada piring nasi goreng yang baru ia makan setengah.

“Kamu tidak merindukan Celia?” tanya Nenek, nada suaranya penuh dengan rasa ingin tahu.

Elvan terdiam sejenak, suapan nasi goreng yang hendak ia masukkan ke mulutnya tertahan. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, seolah mencari jawaban di balik dunia yang luas di sana. "Dia hanya tamu, Nek. Lagipula, dia punya kehidupan di Jakarta," jawabnya, berusaha terdengar santai.

Nenek Kinan mengangguk, meskipun matanya menunjukkan pemahaman yang jauh lebih dalam. “Dia lebih dari sekadar tamu, Elvan. Dia mengubah suasana di sini, bahkan mungkin mengubah seseorang.”

Elvan tidak menjawab. Ia kembali menatap ke luar jendela, perasaan yang mulai mengganggu hatinya terasa semakin kuat. Ia tidak tahu mengapa, tetapi kata-kata Nenek Kinan menyentuh bagian dari dirinya yang belum siap untuk diakui.

******

Di Jakarta, Celia kembali ke rutinitasnya sebagai model. Sorotan kamera, jadwal padat, dan kehidupan gemerlap yang dulu ia nikmati kini terasa hampa. Setiap sesi pemotretan hanya meninggalkan rasa kosong di dalam dirinya.

“Celia, fokus,” ujar seorang fotografer, menyadarkan Celia yang tampak melamun.

“Oh, maaf,” jawab Celia, berusaha kembali bersikap profesional, dan menyelesaikan pekerjaannya.

Setelah selesai, Lily menghampirinya di ruang ganti, ekspresinya tampak khawatir. “Kamu baik-baik saja, Cel? Kamu tidak seperti biasanya,” Lily bertanya dengan ekspresi cemas.

Celia memaksakan senyumnya, berusaha agar terlihat sedikit lebih meyakinkan. “Aku baik-baik saja, Ly. Aku hanya sedikit kelelahan.”

Lily menghela napas panjang, tidak yakin dengan jawaban Celia. “Kalau kamu butuh waktu lagi, bilang saja. Tapi, tidak sekarang dan jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”

Celia hanya mengangguk, namun dalam hati, ia tahu bahwa ia merindukan Bali, merindukan sosok Nenek Kinan, dan juga Elvan. Rindu yang ia rasakan terasa semakin dalam, seolah menggerogoti hatinya secara perlahan.

Malam harinya, Celia bersandar di balkon apartemennya, ditemani gemerlap lampu-lampu kota. Meskipun kehidupan di Jakarta menawarkan segala kemewahan, pikirannya melayang jauh ke Bali.

Celia teringat suara deburan ombak, senyum hangat Nenek Kinan, dan sosok Elvan yang meskipun dingin, selalu menunjukkan perhatian yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

*****

Di Bali, Elvan mencoba mengalihkan pikirannya dengan pekerjaan. Ia menghabiskan lebih banyak waktu di studio, menyelesaikan proyek-proyek yang tertunda.

Namun, setiap kali ia memutar lagu yang ia buat, kenangan akan Celia kembali hadir. Setiap melodi seakan terinspirasi oleh momen-momen bersama Celia, saat ia merasa ada kebersamaan yang begitu mendalam di antara mereka.

Elvan sedang menyusun lagu baru ketika ia berhenti sejenak, merenung. Melodi yang ia ciptakan terasa akrab, seolah terinspirasi oleh sesuatu yang lebih dari sekadar kenangan.

“Nenek benar,” gumamnya pelan, matanya menatap kosong ke layar komputer yang menampilkan berkas-berkas musiknya.

Beberapa hari kemudian, Nenek Kinan mendapat telepon dari Celia.

“Halo, Nek! Apa kabar?” sapa Celia dari seberang sana dengan suara yang ceria.

“Nak Celia! Nenek baik, bagaimana denganmu? Kami merindukanmu di sini,” Nenek menjawab dengan suara yang hangat.

Celia tertawa kecil. “Syukurlah. Aku juga baik Nek, dan pastinya juga merindukan kalian. Bagaimana kabar Elvan?”

“Oh, dia baik-baik saja. Tapi, sepertinya dia lebih sering menghabiskan waktu di studio sejak kamu pergi,” Nenek menjawab dengan nada yang lebih ringan.

“Benarkah?” Celia balik bertanya, suaranya melembut, merasakan ada sesuatu yang berbeda di balik ucapan Nenek.

Nenek Kinan tertawa kecil. “Mungkin dia juga merindukanmu, tapi dia terlalu keras kepala untuk mengakuinya.”

Celia tersenyum, “Nek, aku berjanji akan kembali suatu hari nanti.”

“Kami akan menunggumu, Nak. Selalu,” balas Nenek Kinan dengan lembut.

*****

Di studio, Elvan menyelesaikan lagu barunya. Melodi itu penuh dengan emosi, kerinduan, dan harapan yang tak terucapkan. Saat ia memutar lagunya, ia menyadari bahwa lagu ini bukan sekadar karya seni. Lagu ini adalah cerminan dari perasaannya terhadap seseorang yang telah meninggalkan jejak mendalam di hatinya.

Meski terpisah jarak, baik Celia maupun Elvan menyadari bahwa mereka telah meninggalkan sesuatu yang berarti di hati masing-masing. Sesuatu yang mungkin akan membawa mereka kembali ke tempat di mana semuanya dimulai, di Bali.

Dan di bawah langit yang sama, mereka berdua memandang bintang yang sama, berharap suatu hari mereka bisa bertemu lagi.

Terpopuler

Comments

MatchaLatte

MatchaLatte

Mampir hehe 🙏🏻

2025-01-10

1

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan Pertama
2 Awal yang hangat di Bali
3 Awal yang hangat part 2
4 Perpisahan yang tak terucap
5 Jejak yang tertinggal di Bali
6 Jalan yang membawa kembali
7 Langkah yang belum terputus
8 Di persimpangan perasaan
9 Setelah Kejujuran
10 Kedatangan Tristan
11 Mencoba sesuatu yang baru
12 Langkah Awal Menuju Bahagia
13 Momen yang Tak Terlupakan
14 Janji
15 Karang Boma Cliff
16 Rencana Masa Depan
17 Rumah di Hati
18 Gairah dan Keinginan
19 Cerita Baru
20 Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21 Tak cukup dengan kata-kata
22 Bayang-bayang Kira
23 Melawan Kira
24 Jejak Masa Lalu
25 Konflik Keluarga dan Harga Diri
26 Antara Cinta dan Keluarga
27 Duri dalam Mawar
28 Pilihan dan Konsekuensi
29 Pertemuan yang Tak Terduga
30 Cemburu Manis
31 Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32 Sentuhan dan Keraguan
33 Tembok Yang Runtuh
34 Bersatu Melawan Daddy
35 Mengambil Hati Calon Ipar
36 Drama Pagi-Pagi
37 Masalah Selesai? Belum Tentu!
38 Malam yang Tak Terlupakan
39 Celia, Will You Marry Me?
40 Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41 Pertemuan di Bandara
42 Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43 Menggapai Restu
44 Cinta dan Ambisi
45 Nikmati Saja, Sayang
46 Cerita Kita Dimulai
47 Hari Bahagia yang Dinantikan
48 Melepas dan Menerima
49 Hari Bahagia
50 Lagi-lagi Kira
51 Membuatkan Keponakan
52 Mas atau Abang?
53 Sarapan Pertama sebagai Menantu
54 Kejutan Pagi yang Manis
55 Romansa yang Tertangkap Mata
56 Kabar Tak Terduga
57 Cinta yang Menenangkan
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Pertemuan Pertama
2
Awal yang hangat di Bali
3
Awal yang hangat part 2
4
Perpisahan yang tak terucap
5
Jejak yang tertinggal di Bali
6
Jalan yang membawa kembali
7
Langkah yang belum terputus
8
Di persimpangan perasaan
9
Setelah Kejujuran
10
Kedatangan Tristan
11
Mencoba sesuatu yang baru
12
Langkah Awal Menuju Bahagia
13
Momen yang Tak Terlupakan
14
Janji
15
Karang Boma Cliff
16
Rencana Masa Depan
17
Rumah di Hati
18
Gairah dan Keinginan
19
Cerita Baru
20
Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21
Tak cukup dengan kata-kata
22
Bayang-bayang Kira
23
Melawan Kira
24
Jejak Masa Lalu
25
Konflik Keluarga dan Harga Diri
26
Antara Cinta dan Keluarga
27
Duri dalam Mawar
28
Pilihan dan Konsekuensi
29
Pertemuan yang Tak Terduga
30
Cemburu Manis
31
Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32
Sentuhan dan Keraguan
33
Tembok Yang Runtuh
34
Bersatu Melawan Daddy
35
Mengambil Hati Calon Ipar
36
Drama Pagi-Pagi
37
Masalah Selesai? Belum Tentu!
38
Malam yang Tak Terlupakan
39
Celia, Will You Marry Me?
40
Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41
Pertemuan di Bandara
42
Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43
Menggapai Restu
44
Cinta dan Ambisi
45
Nikmati Saja, Sayang
46
Cerita Kita Dimulai
47
Hari Bahagia yang Dinantikan
48
Melepas dan Menerima
49
Hari Bahagia
50
Lagi-lagi Kira
51
Membuatkan Keponakan
52
Mas atau Abang?
53
Sarapan Pertama sebagai Menantu
54
Kejutan Pagi yang Manis
55
Romansa yang Tertangkap Mata
56
Kabar Tak Terduga
57
Cinta yang Menenangkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!