Momen yang Tak Terlupakan

Celia tersenyum, setelah mendengar ucapan Elvan.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Elvan dengan senyum nakalnya.

"Kita kembali ke Vila, lalu tidur," jawab Celia dengan nada sedikit memerintah.

Elvan tertawa kecil. "Tidur bareng kamu ya?" ujar Elvan sambil menaik turunkan alisnya.

Celia tertawa, dan mendekati Elvan, "Mimpi," ucap Celia sambil memukul pelan lengan Elvan.

Elvan pura-pura kesakitan, meskipun pukulan Celia tadi tidak lebih dari sebuah sentuhan. "Aduh, keras banget mukulnya. Kamu tahu nggak? Aku bisa lapor polisi, lho.”

Celia tertawa lagi dan mendorong bahu Elvan, “Lapor aja, bilang sama polisi kalau aku mukul kamu karena kamu terlalu menyebalkan.”

Elvan mendekatkan wajahnya, menatap Celia dengan tatapan menggoda. “Tapi serius sayang. Aku nggak bercanda soal tadi. Aku nggak keberatan kalau harus tidur bareng kamu… asal kamu mau.”

Celia menatap Elvan, kali ini ekspresinya sedikit serius meskipun senyuman masih terlukis di bibirnya. “Van, kamu tahu kan, aku nggak seperti itu.”

Elvan mengangguk, Elvan tahu batasan dan dia menghargai Celia, “Iya, aku tahu. Aku cuma bercanda sayang. Kamu tahu kan? Aku nggak akan melakukan itu ke kamu, kecuali kalau kamu yang meminta," ucap Elvan sambil terkekeh.

Celia tersenyum “Aku tahu. Itu salah satu alasan kenapa aku nyaman sama kamu.”

Keduanya kembali ke vila. Sesampainya di vila, Celia langsung menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya yang sedikit basah. Sedangkan Elvan pergi ke dapur untuk membuat teh.

Celia keluar dari kamar, ia hanya mengenakan tanktop dan celana pendek. Dia melihat Elvan sudah sudah duduk di sofa dengan dua cangkir teh hangat di meja. “Nih, minum dulu. Biar nggak masuk angin,” ucap Elvan sambil menyodorkan cangkir.

Celia tersenyum, menerima cangkir itu. “Cepet banget bikinnya?”

Elvan mengangkat kedua bahunya, dan meminta Celia untuk duduk disampingnya. “Kamu lupa ya? Kalau pacar kamu ini punya bakat terpendam jadi barista?”

Celia tertawa kecil. “Tuh kan, ngaco.”

Mereka menikmati teh hangat dalam diam. Elvan merentangkan tangannya, menarik Celia ke pelukannya.

“Elvan,” panggil Celia. Celia menoleh kearah Elvan.

"Hm..." gumam Elvan.

“Kamu yakin dengan hubungan kita? Kita punya kehidupan yang berbeda. Aku juga nggak yakin apakah aku bisa cocok dengan dunia kamu.”

Elvan meletakkan cangkirnya di meja, lalu menatap lekat wajah Celia. “Aku nggak peduli sekalipun dunia kita berbeda. Aku hanya peduli sama kamu. Kalaupun ada halangan, ya kita hadapi bareng-bareng.”

Celia terdiam, meresapi kata-kata itu. Ia tahu Elvan tulus.

Celia mengangguk dan menggenggam tangan Elvan. “Baiklah, tapi janji ya, kamu nggak bakal ninggalin aku?”

Elvan tersenyum lebar, melepas genggaman tangannya, lalu menarik Celia ke dalam pelukannya. “Aku janji, kamu juga nggak boleh ninggalin aku.”

Celia membalas pelukan Elvan, dan menyandarkan kepalanya di bahu Elvan.

"Cel..." suara Elvan terdengar samar. "Aku ingin kamu tahu, bahwa aku benar-benar serius sama kamu."

Celia melepas pelukannya dan menatap mata Elvan, "Aku juga," jawab Celia, lalu tanpa sadar, Celia merapatkan tubuhnya ke tubuh Elvan.

Elvan menundukkan kepalanya, dan bibirnya menyentuh lembut bibir Celia. Awalnya Celia merespons dengan lembut, namun akhirnya ciuman mereka semakin dalam. Tangan Celia bergerak ke leher Elvan, menarik leher Elvan, seakan meminta Elvan untuk memperdalam ciumannya.

Elvan meraih pinggang Celia, menariknya ke dalam pelukannya. Nafas mereka semakin memburu dan udara di sekitar mereka terasa semakin panas, meskipun angin laut masih bertiup lembut.

Keduanya melepas pagutannya, dan terpisah sebentar, hanya untuk saling menatap. Mata Elvan penuh dengan keinginan yang tak terucapkan, namun juga penuh dengan rasa sayang yang tulus.

Elvan menyentuh pipi Celia dengan lembut, lalu kembali mencium bibir Celia, dan kali ini, ciumannya lebih dalam, dan penuh dengan hasrat yang tak terbendung. Celia membalas ciuman Elvan, tubuhnya semakin rapat ke tubuh Elvan. Perlahan, ciuman itu menjadi lebih intens. Wajah mereka semakin dekat, seakan tak ada lagi jarak di antara mereka.

Elvan memegang erat pinggang Celia, menggenggamnya dengan lembut, namun penuh hasrat. Tangan Celia menjelajahi leher Elvan, merasakan kehangatan tubuh Elvan. Suara napas mereka saling berpadu, terengah-engah, seiring dengan denyut jantung yang berdetak lebih cepat.

Celia merasakan getaran di dalam dirinya, getaran yang hanya bisa dia rasakan saat berada dalam pelukan Elvan. Segala keraguan dan ketakutannya mulai memudar. Saat ini, hanya ada mereka, dan mereka tahu betul bahwa apa yang mereka rasakan adalah sesuatu yang lebih dari sekedar keinginan fisik.

"Van..." Celia berbisik, suaranya terdengar serak.

Elvan menatap Celia dengan tatapan sayang, dan menenangkan Celia dengan genggaman tangannya yang lembut. "Apa sayang?"

Celia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang semakin kencang. "Aku cuma... Aku nggak ingin kehilangan momen ini. Aku ingin kamu tahu kalau kamu sangat berarti buat aku."

Elvan membelai rambut Celia dengan lembut, memberi ciuman di dahi Celia, "Kamu nggak akan pernah kehilangan apapun. Aku ada di sini, dan aku nggak akan pernah pergi."

Keduanya saling mendekat, kembali bertukar saliva. Tangan Celia mulai menjelajahi dada bidang Elvan, sedangkan tangan Elvan membelai punggung Celia, jari-jarinya menelusuri lekuk tulang punggungnya. Elvan menarik Celia lebih dekat, bibir Elvan menyentuh telinga Celia "Aku mencintaimu, Celia," bisik Elvan, suaranya terdengar serak. Jantung Celia berdetak kencang saat mendengar kata-kata itu. "Aku juga mencintaimu, Elvan," jawab Celia, suaranya terdengar seperti berbisik.

Elvan menggendong Celia, dan berjalan menuju ke kamar. Celia melingkarkan kakinya di pinggang Elvan, dan lengannya di leher Elvan, bibirnya menyentuh telinga Elvan. "Aku menginginkanmu, Elvan," bisik Celia. Celia seakan melupakan apa dia katakan pada Elvan saat di pantai. Elvan tersenyum dan membawa Celia ke kamar tidur, lalu membaringkannya di tempat tidur.

"Kamu yakin ingin melakukan ini?" tanya Elvan. Elvan menatap lekat wajah Celia.

Episodes
1 Pertemuan Pertama
2 Awal yang hangat di Bali
3 Awal yang hangat part 2
4 Perpisahan yang tak terucap
5 Jejak yang tertinggal di Bali
6 Jalan yang membawa kembali
7 Langkah yang belum terputus
8 Di persimpangan perasaan
9 Setelah Kejujuran
10 Kedatangan Tristan
11 Mencoba sesuatu yang baru
12 Langkah Awal Menuju Bahagia
13 Momen yang Tak Terlupakan
14 Janji
15 Karang Boma Cliff
16 Rencana Masa Depan
17 Rumah di Hati
18 Gairah dan Keinginan
19 Cerita Baru
20 Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21 Tak cukup dengan kata-kata
22 Bayang-bayang Kira
23 Melawan Kira
24 Jejak Masa Lalu
25 Konflik Keluarga dan Harga Diri
26 Antara Cinta dan Keluarga
27 Duri dalam Mawar
28 Pilihan dan Konsekuensi
29 Pertemuan yang Tak Terduga
30 Cemburu Manis
31 Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32 Sentuhan dan Keraguan
33 Tembok Yang Runtuh
34 Bersatu Melawan Daddy
35 Mengambil Hati Calon Ipar
36 Drama Pagi-Pagi
37 Masalah Selesai? Belum Tentu!
38 Malam yang Tak Terlupakan
39 Celia, Will You Marry Me?
40 Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41 Pertemuan di Bandara
42 Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43 Menggapai Restu
44 Cinta dan Ambisi
45 Nikmati Saja, Sayang
46 Cerita Kita Dimulai
47 Hari Bahagia yang Dinantikan
48 Melepas dan Menerima
49 Hari Bahagia
50 Lagi-lagi Kira
51 Membuatkan Keponakan
52 Mas atau Abang?
53 Sarapan Pertama sebagai Menantu
54 Kejutan Pagi yang Manis
55 Romansa yang Tertangkap Mata
56 Kabar Tak Terduga
57 Cinta yang Menenangkan
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Pertemuan Pertama
2
Awal yang hangat di Bali
3
Awal yang hangat part 2
4
Perpisahan yang tak terucap
5
Jejak yang tertinggal di Bali
6
Jalan yang membawa kembali
7
Langkah yang belum terputus
8
Di persimpangan perasaan
9
Setelah Kejujuran
10
Kedatangan Tristan
11
Mencoba sesuatu yang baru
12
Langkah Awal Menuju Bahagia
13
Momen yang Tak Terlupakan
14
Janji
15
Karang Boma Cliff
16
Rencana Masa Depan
17
Rumah di Hati
18
Gairah dan Keinginan
19
Cerita Baru
20
Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21
Tak cukup dengan kata-kata
22
Bayang-bayang Kira
23
Melawan Kira
24
Jejak Masa Lalu
25
Konflik Keluarga dan Harga Diri
26
Antara Cinta dan Keluarga
27
Duri dalam Mawar
28
Pilihan dan Konsekuensi
29
Pertemuan yang Tak Terduga
30
Cemburu Manis
31
Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32
Sentuhan dan Keraguan
33
Tembok Yang Runtuh
34
Bersatu Melawan Daddy
35
Mengambil Hati Calon Ipar
36
Drama Pagi-Pagi
37
Masalah Selesai? Belum Tentu!
38
Malam yang Tak Terlupakan
39
Celia, Will You Marry Me?
40
Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41
Pertemuan di Bandara
42
Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43
Menggapai Restu
44
Cinta dan Ambisi
45
Nikmati Saja, Sayang
46
Cerita Kita Dimulai
47
Hari Bahagia yang Dinantikan
48
Melepas dan Menerima
49
Hari Bahagia
50
Lagi-lagi Kira
51
Membuatkan Keponakan
52
Mas atau Abang?
53
Sarapan Pertama sebagai Menantu
54
Kejutan Pagi yang Manis
55
Romansa yang Tertangkap Mata
56
Kabar Tak Terduga
57
Cinta yang Menenangkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!