Awal yang hangat di Bali

Malam di Bali terasa tenang. Langit bertabur bintang, dan angin laut yang lembut menyelinap masuk melalui jendela besar di rumah Elvan. Rumah itu memang besar dan modern, tetapi kehangatan di dalamnya berasal dari sosok sederhana bernama Nenek Kinan. Nenek Kinan, neneknya Elvan, adalah satu-satunya keluarga dekat yang Elvan miliki.

Di ruang tengah, Nenek Kinan duduk di kursi rotan kesayangannya, dengan sebuah selimut tipis menutupi lututnya. Matanya yang lembut menatap Elvan yang baru saja masuk setelah mengantar Celia ke vila.

“Kamu pulang terlambat, Van,” ujar Nenek dengan suara tenang namun penuh perhatian.

Elvan tersenyum tipis sambil menggantung jaketnya di dekat pintu. “Iya, Nek. Tadi ada urusan sebentar.”

“Urusan apa? Kamu biasanya tidak suka keluar lama-lama kalau bukan karena pekerjaan.”

Elvan terdiam sejenak, kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air. “Cuma bantu seorang teman, Nek. Tidak begitu penting."

Namun, Nenek Kinan mengenal cucunya lebih baik daripada siapapun. Ia tersenyum tipis, penuh arti, sebelum berkata, “Temanmu itu perempuan, kan?”

Elvan yang sedang minum hampir tersedak. “Nenek kenapa bisa tahu?” tanyanya setengah kesal.

“Insting seorang nenek tidak pernah salah,” Nenek Kinan menjawab dengan santai, diiringi tawa ringan. “Jadi, siapa dia?”

Elvan menghela napas sambil duduk di sofa. “Namanya Celia. Aku bertemu dia di bandara."

“Cuma teman, tapi kamu tidak bisa berhenti memikirkannya?” goda Nenek Kinan sambil tersenyum.

Elvan hanya memutar bola matanya, lalu bangkit dari sofa. “Aku tidur dulu, Nek. Selamat malam.”

“Selamat malam, Van.”

Namun, setelah Elvan masuk ke kamarnya, Nenek Kinan tetap duduk di kursinya sambil tersenyum kecil. Ia merasa sesuatu yang baik sedang menanti cucunya.

-_~

Celia sedang menikmati sarapan di teras vila. Pemandangan sawah hijau yang terhampar luas di depannya membuat hati Celia terasa damai. Namun, pikirannya terus kembali kepada pria yang ia temui kemarin.

“Elvan...” gumamnya pelan sambil mengaduk teh hangat di cangkirnya.

Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Celia meraih ponsel itu dan melihat nama Lily tertera di layar. Lily adalah manajer dan teman baik Celia.

“Aduh, apa lagi sekarang?” Celia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan sebelum menjawab panggilan itu.

“Celia! Kamu ke mana? Klien sudah menunggu, dan jadwal pemotretan hari ini kacau karena kamu tiba-tiba menghilang!” suara Lily terdengar panik di seberang.

“Aku sedang liburan, dan aku butuh waktu sendiri,” Celia menjawab dengan tegas.

“Liburan? Kamu tidak bisa begitu saja meninggalkan semua pekerjaan, Celia! Kamu punya kontrak!”

Celia memejamkan mata, mencoba menahan emosinya. “Aku sudah lelah, Ly. Aku tidak tahu kapan akan kembali. Jadi, jangan ganggu aku dulu.”

Celia menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban. Sekarang, Celia hanya ingin menikmati hidupnya tanpa tekanan.

-_~

Nenek Kinan sedang menyiapkan sarapan di dapur ketika Elvan keluar dari kamarnya. Ia mengenakan kaus hitam polos dan celana pendek, penampilannya santai namun tetap memancarkan aura yang kuat.

“Elvan, hari ini kamu tidak ada jadwal di klub, kan?” tanya Nenek Kinan sambil meletakkan sepiring nasi goreng di meja.

“Tidak, Nek. Ada apa?” tanya Elvan setelah meneguk segelas air di tangannya.

“Temani Nenek ke pasar, ya? Ada beberapa bahan yang perlu dibeli.”

Elvan mengangguk. “Baik, Nek. Kita berangkat sekarang?”

“Setelah kamu selesai makan," jawab Nenek Kinan.

Pasar tradisional Bali pagi itu ramai seperti biasa. Nenek Kinan berjalan pelan, ditemani Elvan yang menenteng keranjang belanjaan mereka. Para pedagang menyapa Nenek Kinan dengan ramah, menunjukkan betapa ia dihormati di lingkungan tersebut.

Di salah satu kios bunga, Nenek Kinan berhenti untuk membeli bunga kamboja. Sementara itu, Elvan berdiri tidak jauh dari neneknya, memerhatikan sekeliling. Ia tidak menyangka akan melihat sosok yang sudah menghantui pikirannya sejak kemarin.

Celia sedang berdiri di depan kios buah, sambil memilah milih mangga. Ia mengenakan dress putih, tampak sederhana, tetapi tetap terlihat memukau. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, dan senyum manisnya memikat semua orang di sekitarnya.

“Celia?” gumam Elvan tanpa sadar.

Celia yang mendengar namanya dipanggil menoleh. Ketika matanya bertemu dengan mata Elvan, wajahnya langsung cerah. “Elvan! Apa kabar?”

Elvan berjalan mendekatinya, terlihat sedikit canggung. “Aku baik. Kamu ngapain di sini?”

“Aku sedang melihat-lihat,” Celia menjawab sambil tertawa kecil.

Nenek Kinan mendekat dengan senyum lembut di wajahnya. “Van, siapa ini?” tanyanya sambil melirik Celia.

“Elvan, ini nenekmu?” Celia bertanya dengan nada antusias.

Elvan mengangguk. “Celia, ini Nenek Kinan. Nek, ini Celia. Aku bertemu dia kemarin di bandara.”

“Oh, jadi ini gadis yang menjadi temanmu,” ucap Nenek Kinan dengan nada menggoda. Ia tersenyum ramah kepada Celia. “Senang bertemu denganmu, Nak.”

Celia tersenyum hangat. “Saya juga senang bertemu dengan Nenek.”

“Celia sedang liburan di Bali,” tambah Elvan.

“Oh, bagus sekali. Bali memang tempat yang indah untuk beristirahat,” ucap Nenek Kinan.

Percakapan mereka berlanjut, dan Nenek Kinan langsung merasa nyaman dengan Celia. Ia bahkan mengundang Celia untuk mampir ke rumah mereka.

“Kamu harus datang, Nak. Rumah kami tidak jauh dari sini,” ajak Nenek Kinan.

Celia sedikit ragu, tetapi melihat senyum tulus Nenek Kinan, ia tidak bisa menolak. “Terima kasih, Nek. Saya akan mampir kapan-kapan."

Hari berikutnya, Celia benar-benar mengunjungi rumah Elvan. Ia membawa oleh-oleh kecil berupa kue tradisional Bali yang ia beli di pasar.

Nenek Kinan menyambutnya dengan hangat, sementara Elvan tetap dengan sikap datarnya. Namun, kali ini ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya melihat Celia.

“Rumah nenek bagus sekali,” ucap Celia sambil mengamati sekeliling.

“Terima kasih, Nak. Rumah ini penuh kenangan,” Nenek Kinan menjawab sambil menuangkan teh untuk tamunya.

Mereka duduk bersama di ruang tengah, berbicara tentang banyak hal. Celia merasa nyaman, seolah-olah ia sudah mengenal Nenek Kinan selama bertahun-tahun.

Elvan, yang biasanya tidak terlalu banyak bicara, mulai membuka diri. Ia menceritakan sedikit tentang hidupnya di Bali dan bagaimana ia merintis karier sebagai DJ.

Celia mendengarkan dengan penuh perhatian, merasa semakin tertarik pada pria itu.

Hari-hari berlalu, dan hubungan Celia dengan Elvan serta Nenek Kinan semakin akrab. Celia sering mampir ke rumah mereka, membawa cerita baru dari petualangannya di Bali.

Nenek Kinan diam-diam berharap ada sesuatu yang lebih antara Celia dan Elvan. Ia melihat bagaimana mata cucunya bersinar setiap kali Celia datang, meskipun Elvan berusaha keras menyembunyikannya.

Namun, baik Celia maupun Elvan masih belum menyadari sepenuhnya apa yang sedang tumbuh di antara mereka.

Hingga suatu sore, saat Elvan dan Celia duduk di teras rumah bersama Nenek Kinan, Celia berkata, “Aku merasa beruntung bisa bertemu dengan nenek. Nenek membuat liburanku lebih bermakna.”

Elvan menoleh dan menatap Celia dengan tatapan lembut yang jarang ia tunjukkan.

“Kami juga senang kamu di sini," ucap Nenek. Nenek Kinan tersenyum penuh arti sambil menatap langit senja. Dalam hatinya, ia tahu bahwa pertemuan ini bukan kebetulan.

Terpopuler

Comments

Sunny Eclaire

Sunny Eclaire

Cel, rumahku juga mewah loh.

mepet sawah /Tongue/

2025-01-11

1

Sunny Eclaire

Sunny Eclaire

si oma cenayang bjir /Hey/

2025-01-11

1

lihat semua
Episodes
1 Pertemuan Pertama
2 Awal yang hangat di Bali
3 Awal yang hangat part 2
4 Perpisahan yang tak terucap
5 Jejak yang tertinggal di Bali
6 Jalan yang membawa kembali
7 Langkah yang belum terputus
8 Di persimpangan perasaan
9 Setelah Kejujuran
10 Kedatangan Tristan
11 Mencoba sesuatu yang baru
12 Langkah Awal Menuju Bahagia
13 Momen yang Tak Terlupakan
14 Janji
15 Karang Boma Cliff
16 Rencana Masa Depan
17 Rumah di Hati
18 Gairah dan Keinginan
19 Cerita Baru
20 Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21 Tak cukup dengan kata-kata
22 Bayang-bayang Kira
23 Melawan Kira
24 Jejak Masa Lalu
25 Konflik Keluarga dan Harga Diri
26 Antara Cinta dan Keluarga
27 Duri dalam Mawar
28 Pilihan dan Konsekuensi
29 Pertemuan yang Tak Terduga
30 Cemburu Manis
31 Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32 Sentuhan dan Keraguan
33 Tembok Yang Runtuh
34 Bersatu Melawan Daddy
35 Mengambil Hati Calon Ipar
36 Drama Pagi-Pagi
37 Masalah Selesai? Belum Tentu!
38 Malam yang Tak Terlupakan
39 Celia, Will You Marry Me?
40 Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41 Pertemuan di Bandara
42 Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43 Menggapai Restu
44 Cinta dan Ambisi
45 Nikmati Saja, Sayang
46 Cerita Kita Dimulai
47 Hari Bahagia yang Dinantikan
48 Melepas dan Menerima
49 Hari Bahagia
50 Lagi-lagi Kira
51 Membuatkan Keponakan
52 Mas atau Abang?
53 Sarapan Pertama sebagai Menantu
54 Kejutan Pagi yang Manis
55 Romansa yang Tertangkap Mata
56 Kabar Tak Terduga
57 Cinta yang Menenangkan
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Pertemuan Pertama
2
Awal yang hangat di Bali
3
Awal yang hangat part 2
4
Perpisahan yang tak terucap
5
Jejak yang tertinggal di Bali
6
Jalan yang membawa kembali
7
Langkah yang belum terputus
8
Di persimpangan perasaan
9
Setelah Kejujuran
10
Kedatangan Tristan
11
Mencoba sesuatu yang baru
12
Langkah Awal Menuju Bahagia
13
Momen yang Tak Terlupakan
14
Janji
15
Karang Boma Cliff
16
Rencana Masa Depan
17
Rumah di Hati
18
Gairah dan Keinginan
19
Cerita Baru
20
Pacar, Teman atau Ulat Bulu?
21
Tak cukup dengan kata-kata
22
Bayang-bayang Kira
23
Melawan Kira
24
Jejak Masa Lalu
25
Konflik Keluarga dan Harga Diri
26
Antara Cinta dan Keluarga
27
Duri dalam Mawar
28
Pilihan dan Konsekuensi
29
Pertemuan yang Tak Terduga
30
Cemburu Manis
31
Kebetulan atau Sesuatu yang Lain?
32
Sentuhan dan Keraguan
33
Tembok Yang Runtuh
34
Bersatu Melawan Daddy
35
Mengambil Hati Calon Ipar
36
Drama Pagi-Pagi
37
Masalah Selesai? Belum Tentu!
38
Malam yang Tak Terlupakan
39
Celia, Will You Marry Me?
40
Celia, Elvan, dan Bayangan Rylan
41
Pertemuan di Bandara
42
Pertemuan Keluarga dan Syarat yang Mengikat
43
Menggapai Restu
44
Cinta dan Ambisi
45
Nikmati Saja, Sayang
46
Cerita Kita Dimulai
47
Hari Bahagia yang Dinantikan
48
Melepas dan Menerima
49
Hari Bahagia
50
Lagi-lagi Kira
51
Membuatkan Keponakan
52
Mas atau Abang?
53
Sarapan Pertama sebagai Menantu
54
Kejutan Pagi yang Manis
55
Romansa yang Tertangkap Mata
56
Kabar Tak Terduga
57
Cinta yang Menenangkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!