7. Dilema • Revisi

'Astaga, bagaimana ini?' batin Juwita sejenak.

Sekarang, jantungnya serasa ingin copot. Sebab sesuatu yang tak diinginkan akhirnya terjadi juga. Padahal dia berharap Chester dan Calvin tidak akan bertemu. Namun, takdir berkata lain. Meskipun begitu, untuk saat ini dia bersyukur karena Chester mengenakan topeng. Jadi, Calvin tidak akan melihat rupa Chester, yang mirip dengan suaminya itu.

Saat ini, Juwita tengah memutar otak. Ketika mendapat ide di kepala. Juwita bergegas menghampiri Chester sebelum anaknya itu memanggilnya dengan sebutan 'mama'.

Dan benar saja, dalam jarak yang sangat dekat Chester tiba-tiba menggerakkan lidah.

"Ma—hm!"Namun, Juwita dengan sigap mengambil alih Chester dari tangan Calvin dan langsung membekap mulut Chester.

Chester langsung mendongakkan wajah. Matanya mungilnya tampak berkedip-kedip. Dia tengah kebingungan sekarang.

"Apa yang kamu lakukan, Juwita?!" Calvin tampak terkejut. Sorot matanya mulai terlihat tajam. Aura di sekitar pun mendadak dingin dan terasa mencekam.

"Ada hubungan apa kamu dengan anak ini?" lanjut Calvin kembali, masih dengan sorot mata tajam, setajam elang.

Calvin ingat sekali bahwa wanita yang di perusahaan tadi adalah mama Chester. Jadi ada hubungan apa Juwita dan Chester? Sehingga Juwita dengan berani mengambil alih Chester darinya tiba-tiba barusan.

Pertanyaan yang dilayangkan Calvin membuat Juwita membeku di tempat. Dia mulai gugup sekarang. Meskipun begitu dia berusaha untuk tetap tenang.

"Maafkan aku Pak, dia adalah anak temanku dan tidak ada hubungan apa-apa di antara aku dan Chester," kata Juwita sembari menarik napas dalam-dalam.

"Lalu kenapa tadi kamu membekap mulutnya?!" Kilatan api di bola mata Calvin masih menyala. Calvin tampak tak puas dengan jawaban Juwita.

Juwita mengulas senyum terpaksa sejenak, demi mengatasi rasa gugup yang kian melandanya.

"Tadi aku reflek mengambil Chester. Sepertinya minusku makin bertambah, penglihatanku agak buram dan aku mengira Bapak orang jahat, kebetulan aku dan Tina teman satu kuliahku dulu, tadi kami bersama-sama ke sini. Ngomong-ngomong, mengapa Bapak bisa bersama Chester?" balas Juwita kemudian, hendak mengalihkan pembicaraan.

Calvin tak serta-merta langsung menjawab, malah memandangi Juwita dengan tatapan menyelidik.

"Tadi Chester menabrakku di toilet, aku penasaran mengapa teman itu berani memperbolehkan Chester sendirian pergi ke toilet, di mana Tina sekarang, aku ingin bertemu dengannya. Dia orang tua yang tidak becus!" ucap Calvin dengan nada tegas dan terdengar tajam di telinga Juwita.

Juwita meneguk ludah sejenak. "Maaf Pak, Tina sudah pergi 15 menit yang lalu, dia ada urusan sebentar, jadi aku disuruh Tina untuk menemani Chester berbelanja dan kebetulan rumah kami berdekatan."

Calvin tersenyum sinis. "Benar-benar orang tua yang tidak becus!" ujarnya dengan penuh penekanan membuat detak jantung Juwita semakin cepat.

"Iya benar katamu Calvin, karyawanmu yang satu itu memang tidak becus, sama seperti karyawan di depanmu ini," timpal Putri kemudian melirik sinis Juwita. Sejak tadi dia diam-diam mendengarkan perbincangan ketiga orang tersebut.

Calvin tak menggubris ucapan Putri.

"Katakan pada temanmu itu untuk selalu menemani anaknya! Apa kamu tidak tahu kejahatan bisa terjadi di mana saja?! Walaupun di mall ada penjaga tapi tetap saja kita harus berhati-hati," lanjut Calvin kembali dengan napas memburu.

"Baik Pak, akan aku sampaikan sama Tina nanti.'

Melihat reaksi Calvin, Juwita mengerutkan dahi sedikit. Entah apa yang terjadi hingga membuat Calvin tampak marah dan kesal.

Apakah ini yang dinamakan ikatan batin antara ayah dan anak? Entahlah. Meskipun begitu, Juwita tak mau Calvin sampai tahu keberadaan Chester. Dia takut Calvin akan mengambil Chester darinya. Terlebih, suami yang dia cintai secara diam-diam ini mempunyai pacar. Juwita heran, hubungan apa yang sedang jalani saat ini.

Rasanya Juwita ingin bercerai, tapi saat teringat janjinya pada mendiang ayahnya. Juwita dilanda dilema.

"Kalau begitu, aku permisi dulu Pak. Ayo, Chester ikut Tante pulang ya, nanti mamamu marah sama Tante." Juwita dengan cepat menurunkan tangan dari mulut Chester lalu berbisik pelan di telinga Chester. Memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan 'tante' saat ini.

Chester tak membalas, malah menatap seksama Juwita dengan kening berkerut kuat.

"Oke, kita nggak jadi beli buku sama mainan?" Pada akhirnya Chester menanggapi, meski wajahnya terlihat kebingungan sekarang.

Namun, belum juga Juwita membuka suara. Calvin terlebih dahulu berbicara.

"Kamu mau beli buku?" tanya Calvin sambil melirik Chester.

"Iya. Kenapa Paman tanya-tanya?" Chester balik bertanya dengan sangat ketus. Melihat mamanya dibentak barusan, menimbulkan rasa tidak sukanya terhadap Calvin.

"Iya, kebetulan buku di kamarku sudah semua aku baca. Ayo, belilah denganku!" Calvin melangkah maju tiba-tiba kemudian menarik paksa tangan Chester dari Juwita. Setelah itu melangkah cepat menuju eskalator.

Juwita terpaku di tempat.

"Calvin, tunggu aku!" Putri pun tampak terkejut lantas dengan cepat-cepat menyusul Calvin.

"Apa-apaan dia?" Detik selanjutnya, Juwita membalikkan badan kemudian mengejar Calvin, Chester dan Putri yang saat ini berada di eskalator. Ketiga orang tersebut seperti keluarga kecil yang sedang menikmati waktu bersama di pusat perbelanjaan.

Melihat pemandangan di depan, hati Juwita terasa perih, dadanya seperti ditusuk ribuan pedang. Dengan raut wajah masam, Juwita pun melangkah menuju eskalator.

Sesampainya di atas, Juwita tiba-tiba mengambil paksa tangan Chester dari Calvin.

"Maaf jika aku lancang Pak, Tina menitipkan Chester padaku, apa tidak aneh Bapak tiba-tiba memberi perhatian pada Chester, apa kata orang-orang di kantor jika tahu Calvin bersama Chester, mereka pasti berpikir yang tidak-tidak tentang Anda dan Tina," ucap Juwita kemudian dengan menggebu-gebu.

Calvin mengerutkan dahi sejenak. "Maksudmu?"

Juwita membuang napas kasar lalu melirik Putri. "Putri, kamu dan Calvin kan berpacaran, apa kamu tidak marah, pacarmu berdekatan dengan anak dari wanita lain?"

Mendengar hal itu, Putri terdiam beberapa detik. Dia baru sadar dengan perkataan Juwita. Wajahnya mendadak merah. "Sayang, benar juga yang dikatakan—"

Calvin langsung menyela dengan mengambil alih lagi tangan Chester dari Juwita. "Cukup! Jangan berpikir yang tidak-tidak, kedekatanku dengan Chester bukanlah karena perhatian semata, melihat Chester aku jadi teringat dengan adik angkatku di UK, kamu tenang saja Juwita! Jika Tina marah, aku akan membuat perhitungan dengannya!"

Juwita merengut hendak mengambil lagi Chester. Namun, tatapan dingin Calvin membuatnya hanya mampu menahan kesal.

Juwita takut jika Calvin melihat wajah Chester nanti. Meskipun begitu, Juwita tidak pantang menyerah. Dia pun mengalihkan pandangan kepada Chester.

"Chester sama Tante saja ya, kasihan Paman, dia lagi sibuk sama pacarnya sekarang," ujar Juwita kemudian mengambil alih Chester dari tangan Calvin.

"Hehe, benar sekali, Chester sama Tante Juwita saja." Karena situasi yang sangat tidak menguntungkan, Putri terpaksa menyetujui pendapat Juwita.

Chester mendongak ke atas. "Iya, Chestel mau sama Tante saja!" jawabnya sedikit ketus.

Mendengar perkataan Chester, Juwita tersenyum lebar.

"Baiklah, tapi Paman akan mengikuti kalian dari belakang," kata Calvin. Membuat senyuman Juwita memudar dengan cepat.

Chester tak menggubris Calvin, melainkan menatap kembali Juwita. "Ayo Tante, kita beli buku dan mainan!" sahutnya dengan raut muka berseri-seri.

Melihat reaksi Chester, Juwita tersenyum sumringah.

"Paman ikut ya?" Calvin hendak bernegosiasi. Entah mengapa anak ini sangat menarik perhatiannya sekarang.

"Terserah Paman saja! Ayo Tante!" sahut Chester lalu menarik tangan Juwita.

"Iya, ayo kita beli buku." Juwita memaksakan diri untuk tersenyum kemudian bergegas menuntun Chester ke toko buku.

Sambil berjalan, Juwita tengah berencana untuk kabur dari Calvin.

Di belakang, Calvin dan Putri berjalan berdampingan sambil berbincang-bincang kecil. Membuat hati Juwita terasa perih kembali.

"Sayang, kenapa kita membeli buku sih, aku kan habis ini mau makan sushi, beli bukunya nanti saja ya,"ucap Putri sambil mengalungkan tangan di tangan Calvin.

Calvin mendengus. "Nanti saja, setelah selesai membeli buku, kamu boleh makan sepuasnya," balasnya lalu menurunkan tangan Putri dengan cepat. Setelah itu, melangkah cepat ke depan.

Putri tampak cemberut, karena sang kekasih tidak menuruti perkataannya. Dengan terpaksa dia pun mengikuti Calvin.

Sepuluh menit kemudian, Chester dan Calvin sudah mendapatkan buku yang mereka inginkan. Sesampainya di kasir, Juwita buru-buru membayar. Dia ingin kabur dari Calvin yang saat ini sedang sibuk berbicara dengan Putri di belakang.

"Chester, habis keluar dari toko, jalannya sedikit cepat ya, Mama mau beli bahan-bahan untuk pesanan orang, jadi kita harus pulang cepat sekarang." Juwita berbisik pelan di telinga Chester.

"Tapi Ma, mainannya belum dibeli?" ucap Chester dengan raut wajah sedih.

"Nanti mama pasti belikan, sekarang kita harus cepat pulang ya, nanti pesanan Mama nggak jadi diambil orang loh." Juwita tengah berusaha merayu Chester.

"Tapi Mama janji kan belikan Chester mainan?" Wajah Chester masih terlihat nelangsa.

"Ya Sayang, mama janji." Juwita merasa bersalah karena harus menyudahi kegiatannya bersama Chester saat ini.

Chester pun mengangguk lemah.

Setelah selesai membayar, saat ada celah, Juwita menggiring Chester keluar dari toko lalu berjalan tergesa-gesa menuju lift.

Sementara Calvin masih sibuk berbincang bersama Putri. Sampai pada akhirnya Calvin melirik ke arah kasir. Di mana tidak terlihat lagi Juwita dan Chester.

"Di mana mereka?" gumam Calvin pelan dengan kening berkerut kuat.

"Habis ini kita makan ya Calvin, aku lapar banget nemenin kamu mutar-mutar tadi," ujar Putri.

Namun, Calvin mengacuhkan Putri. Lelaki berperawakan tinggi itu malah melangkah keluar toko.

"Calvin!" Manik Putri lantas membola. Dengan cepat dia mengejar Calvin.

Saat sampai di luar, Calvin celingak-celinguk ke sembarang arah, mencari keberadaan Juwita dan Chester, hingga bola mata itu terhenti pada sebuah lift di ujung sana. Tanpa pikir panjang Calvin pun berlari ke arah lift.

"Calvin, tunggu aku!" Putri tampak kesal. Namun, tetap juga mengikuti Calvin.

Di lantai satu, tepatnya di gerbang utama. Calvin berlari kencang sambil memanggil nama Juwita sejak tadi. Karena Juwita juga tengah berlari sambil menggendong Chester.

"Berhenti Juwita!" pekik Calvin, menggundang perhatian penggunjung mall di sekitar.

"Juwita!"

"Aw!"

Terpopuler

Comments

guntur 1609

guntur 1609

ia ang. karna yg gak becus tu kau. krn kau ayahnya. bodih

2025-01-18

0

Ramliyah Usman Usr

Ramliyah Usman Usr

👍👍🙏

2024-12-29

0

Agustina Kusuma Dewi

Agustina Kusuma Dewi

okre kak na

2024-12-25

0

lihat semua
Episodes
1 1. Bertemu Kembali
2 2. Kala Itu
3 3. Masih Sama
4 4. Pergi ke Mall • Revisi
5 5. Bertemu • Revisi
6 6. Gelisah • Revisi
7 7. Dilema • Revisi
8 8. Jangan-jangan! • Revisi
9 9. Terpaksa Berbohong • Revisi
10 10. Aneh
11 11. Berbeda
12 12. Heran
13 13. Marah Besar
14 14. Terkesima
15 15. Bingung
16 16. Membeku
17 17. Apa Salahnya?
18 18. Tidak Masuk Akal
19 19. Cemburu
20 20. Tidak Menyerah
21 21. Dipecat!
22 22. Jangan Pecat!
23 23. Jadi Sekretaris
24 24. ke Apartment
25 25. Sisi Lain Calvin
26 26. Menjahili • Revisi
27 27. Kesal • Revisi
28 28. Perintah • Revisi
29 29. Ceraikan Juwita • Revisi
30 30. Janji • Revisi
31 31. Pertemuan di Mall • Revisi
32 32. Tanda Lahir • Revisi
33 33. Calvin Bertemu Chester • Revisi
34 34. Curiga • Revisi
35 35. Cemburu
36 36. Terjadi Sesuatu
37 37. Memberi Pelajaran
38 38. Semakin Curiga • Revisi
39 39. Penasaran • Revisi
40 40. Membeku
41 41. Gugup
42 42. Penjelasan • Revisi
43 43. Kecewa • Revisi
44 44. Kesal • Revisi
45 45. Reuni • Revisi
46 46. Keributan
47 PENGUMUMAN PENTING!!!
48 48. Jebakan
49 49. Sentuh Aku
50 50. Burung Perkutut
51 51. Lesu
52 52. Di mana Dia?
53 53. Pelaku
54 54. Tidak Merestui
55 55. Kecewa
56 56. Otak Marisa Dicuci
57 57. Utarakan
58 58. Mengungkapkan Perasaan
59 59. Aku Meminta Hakku!
60 60. Sudah Tidak Tahan
61 61. Masuk ke Sarang
62 62. Cucuku
63 63. Bulan Madu
64 64. Tujuan Gustav
65 65. Selesai ~ TAMAT
66 Novel Baru ~ Wanita Lain di Hati, Suamiku!
Episodes

Updated 66 Episodes

1
1. Bertemu Kembali
2
2. Kala Itu
3
3. Masih Sama
4
4. Pergi ke Mall • Revisi
5
5. Bertemu • Revisi
6
6. Gelisah • Revisi
7
7. Dilema • Revisi
8
8. Jangan-jangan! • Revisi
9
9. Terpaksa Berbohong • Revisi
10
10. Aneh
11
11. Berbeda
12
12. Heran
13
13. Marah Besar
14
14. Terkesima
15
15. Bingung
16
16. Membeku
17
17. Apa Salahnya?
18
18. Tidak Masuk Akal
19
19. Cemburu
20
20. Tidak Menyerah
21
21. Dipecat!
22
22. Jangan Pecat!
23
23. Jadi Sekretaris
24
24. ke Apartment
25
25. Sisi Lain Calvin
26
26. Menjahili • Revisi
27
27. Kesal • Revisi
28
28. Perintah • Revisi
29
29. Ceraikan Juwita • Revisi
30
30. Janji • Revisi
31
31. Pertemuan di Mall • Revisi
32
32. Tanda Lahir • Revisi
33
33. Calvin Bertemu Chester • Revisi
34
34. Curiga • Revisi
35
35. Cemburu
36
36. Terjadi Sesuatu
37
37. Memberi Pelajaran
38
38. Semakin Curiga • Revisi
39
39. Penasaran • Revisi
40
40. Membeku
41
41. Gugup
42
42. Penjelasan • Revisi
43
43. Kecewa • Revisi
44
44. Kesal • Revisi
45
45. Reuni • Revisi
46
46. Keributan
47
PENGUMUMAN PENTING!!!
48
48. Jebakan
49
49. Sentuh Aku
50
50. Burung Perkutut
51
51. Lesu
52
52. Di mana Dia?
53
53. Pelaku
54
54. Tidak Merestui
55
55. Kecewa
56
56. Otak Marisa Dicuci
57
57. Utarakan
58
58. Mengungkapkan Perasaan
59
59. Aku Meminta Hakku!
60
60. Sudah Tidak Tahan
61
61. Masuk ke Sarang
62
62. Cucuku
63
63. Bulan Madu
64
64. Tujuan Gustav
65
65. Selesai ~ TAMAT
66
Novel Baru ~ Wanita Lain di Hati, Suamiku!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!