15. Bingung

"Calvin, tunggu!" Melihat hal itu Putri tampak kesal ingin mengejar Calvin. Namun, Lara menahan tangannya tiba-tiba.

"Nona Putri, kamu ini siapa? Berani sekali ikut campur urusan keluarga kami,"ucap Lara dengan sorot mata tajam.

Putri membeku di tempat, lantas melirik ke arah Marisa, meminta pertolongan.

Sementara itu, di lain sisi. Tepatnya di luar mansion, Juwita semakin mempercepat langkah kaki dan menerobos kumpulan manusia di sekitar. Rasanya sangat sakit ketika direndahkan di depan orang.

Apa salahnya terlahir dari keluarga yang tidak kaya? Bukankah istirahat terakhir semua orang sama saja. Ditambah lagi, pria yang dia cintai sama sekali tidak membelanya tadi. Bukan hanya itu secara terang-terangan Calvin tidak memujinya sedikit pun.

Kini, dada Juwita terasa sangat sesak. Kala menyadari jarak yang terbentang di antaranya dan Calvin terlalu jauh.

"Juwita, berhenti!" seru Calvin dari belakang, membuat pupil mata Juwita melebar seketika.

"Calvin." Juwita pun sontak menghentikan langkah kaki kemudian membalikkan badan. Melihat Calvin berlari kencang ke arahnya sekarang.

"Mau ke mana kamu?" Calvin bertanya sambil mengatur napasnya yang terengah-engah.

"Tentu saja aku mau pulang, Mamamu mengusirku tadi, jadi untuk apa aku ada di sini, aku tidak mau dengan kehadiranku membuat pesta Nenek jadi berantakan," balas Juwita.

Semula Juwita ingin sekali mengikuti pesta Lara. Akan tetapi, setelah melihat respons keluarga Calvin tadi. Pikiran Juwita seketika berubah. Pesta gemerlap seperti itu bukanlah tempatnya.

Calvin terdiam selama beberapa detik lalu berkata,"Baiklah, ayo aku antar pulang."

"Tidak usah Calvin, aku bisa pulang sendiri pakai taksi." Juwita sedikit senang dengan tawaran Calvin. Namun, dia tak mau Calvin sampai tahu alamat rumahnya nanti, yang bisa saja membuat keberadaan Chester akan diketahui Calvin.

"Ck, jangan keras kepala! Ayo aku antar pulang! Kamu tahu sendiri, taksi tidak bisa masuk ke kediaman Nenekku. Aku juga tidak mau dimarahi Nenek nanti karena telah menelantarkanmu!" Calvin reflek menyambar pergelangan tangan Juwita.

Juwita tak sempat membantah, terlebih sentuhan di tangannya membuat kupu-kupu beterbangan di dadanya sekarang. Hanya disentuh saja membuat hatinya bergetar hebat.

Juwita tampak pasrah, membiarkan Calvin memegang tangannya, meskipun hanya sebentar saja.

Tak berselang lama, sampailah Juwita di mobil dan kini dituntun Calvin masuk ke dalam.

"Kalau kamu diam seperti ini, kamu tidak menyebalkan Juwita," kata Calvin kemudian memasangkan Juwita seatbelt.

Juwita tak membalas, tengah membeku, kala wajah Calvin dapat dilihat dengan jarak yang sangat dekat sekarang. Jantungnya lantas bereaksi dan mulai berdetak kembali seperti gendang ditabuh dengan cepat.

Sementara Calvin menaikkan alis mata sedikit dengan reaksi Juwita.

"Terima kas–ih Calvin." Setelah selesai memasang sabuk pengaman, Juwita langsung berkata. Dia sedikit gugup sebab Calvin belum juga menegakkan tubuh, masih sibuk memperhatikan seatbelt.

"Hmm." Detik selanjutnya, Calvin menegakkan tubuh kemudian masuk juga ke dalam kendaraan roda empat tersebut.

Juwita diam-diam memperhatikan pergerakkan Calvin, di mana lelaki itu tengah menyalakan kendaraan sekarang.

"Di mana alamatmu?" Setelah selesai menyalakan mobil, Calvin mulai mengemudikan mobilnya.

Sekali lagi, Juwita tak langsung menjawab, tengah memutar otak, mencari alamat yang tidak terlalu jauh dari alamat aslinya.

"Nanti akan kuberitahu, jalan saja dulu." Juwita masih belum bisa memutuskan di mana akan berhenti.

Calvin pun mengangguk. Kendaraan roda empat merk rolls royce itu melesat pelan meninggalkan kediaman Lara.

Di sepanjang jalan, hanya kesunyian yang tercipta di dalam. Juwita tak berani membuka suara, terdiam sambil sesekali melirik Calvin. Di mana Calvin tengah fokus mengendarai kendaraan. Meski dari samping, ketampanan Calvin masih tetap terpancar dengan sempurna. Juwita terpana dengan suaminya itu.

"Kamu tidak memberitahu Nenek, dia pasti mengkhawatirkanmu?" kata Calvin seketika, tanpa menoleh ke arah lawan bicara.

Juwita gelagapan, cepat-cepat berkata,"Aa benar juga, aku hampir lupa."

Juwita lantas membuka tas mungil yang dia pangku di atas sejak tadi kemudian mengambil ponsel dan mengetik pesan kepada Lara.

Calvin diam-diam melirik ke samping dan memperhatikan apa saja yang dilakukan Juwita. Perhatiannya teralihkan dengan sebuah tas mungil berwarna hitam yang sudah usang dan tidak layak dipakai, menurutnya.

"Apa uang yang aku kirim tidak cukup? Sampai-sampai kamu tidak mengganti tas jelekmu itu."

Ucapan Calvin menggundang garis kerutan di dahi Juwita. Wanita berwajah tirus itu lantas menoleh sambil meletakkan ponsel ke tempat semula.

"Uang? Memangnya kamu pernah mengirimkan aku uang?" ungkap Juwita apa adanya sebab selama ini, Juwita tidak pernah mendapatkan kiriman dari Calvin.

Kali ini, kerutan tajam tergambar jelas di kening Calvin.

"Iya, selama kuliah, aku setiap bulan mengirim uang untukmu, walaupun tidak ada cinta di antara kita, aku tahu tanggungjawabku sebagai seorang suami, kamu juga tidak pernah membalas pesanku," terang Calvin, lalu menyeringai tipis. Kala mengingat pernah berulang kali mengirimkan pesan kepada Juwita, menanyakan kabar. Tapi tak pernah dibalas.

Sejak saat itu, Calvin tidak pernah lagi mengirim pesan kepada Juwita, merasa diabaikan dan diacuhkan.

"Calvin, aku tidak pernah mendapat uang kiriman darimu, bahkan pesanmu tidak pernah masuk."

Mendengar jawaban, Calvin lantas terdiam. Juwita pun juga. Pasangan suami istri itu saling lempar pandang sejenak.

'Aneh sekali, Calvin pun juga tidak bisa menghubungi aku.' batin Juwita lalu memandang lagi ke samping, di mana Calvin mengalihkan pandangan ke depan kembali.

Kesunyian kembali menerpa. Selama tiga puluh menit di dalam mobil, Juwita dan Calvin saling bungkam. Keduanya tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Sampai pada akhirnya Juwita telah memutuskan akan berhenti di mana.

"Turunkan aku di sini, rumahku sudah dekat," ujar Juwita seketika.

Calvin perlahan menghentikan kendaraan dan secara bersamaan ponsel di saku celananya bergetar. Dengan cepat Calvin mengambil benda pipih tersebut. Ternyata Lara yang menelepon.

"Ada apa?" sapa Calvin terlebih dahulu.

"Apa Juwita sudah sampai di rumahnya?" Lara bertanya di ujung sana.

Calvin melirik sekilas Juwita. "Sebentar lagi sampai, ada apa?"

Juwita mengira yang menelepon Calvin adalah Putri. Dia tak mau mendengar obrolan suaminya dan kekasihnya itu. Juwita hendak membuka seatbelt tetapi ternyata lumayan susah dibuka.

"Aku keluar ya, terima kasih." Juwita terlihat panik, lantas menoleh lagi ke samping, di mana Calvin sibuk berbincang di telepon.

Juwita memandang lagi ke bawah, berusaha melepaskan sabuk pengaman, yang sialnya sangat sulit dibuka. Juwita tampak gelisah.

'Argh, susah sekali sih seatbeltnya! Apa aku terlalu kampungan!' jerit Juwita sambil mengotak-atik seatbelt.

Tanpa diketahui Juwita, sejak tadi Calvin memperhatikan gerak-gerik Juwita. Sambil berbincang dengan Lara, dia pun perlahan membuka pintu hendak membantu Juwita.

Begitu sampai dipintu kiri, Calvin membuka mobil kemudian merendahkan tubuh, dan secara bersamaan pula Juwita berhasil membuka seatbelt.

Juwita hendak bergerak. Namun, munculnya Calvin di depan matanya membuat Juwita terkejut. Tidak hanya itu pangkal hidungnya dan Calvin saling bersentuhan sekarang.

"Calvin ...."

Terpopuler

Comments

NanaLia

NanaLia

roda empat nggak musti Rolls-Royce lah, lagian yg namanya melesat pasti nggak pelan ya thor

2025-01-09

0

Rusmini Rusmini

Rusmini Rusmini

hayo siapa yg mbegal pesan dan duit Calvin utk Juwita

2024-12-28

0

Wirda Wati

Wirda Wati

pasti Marisa yg blokir dan ambil duitnya

2025-01-17

0

lihat semua
Episodes
1 1. Bertemu Kembali
2 2. Kala Itu
3 3. Masih Sama
4 4. Pergi ke Mall • Revisi
5 5. Bertemu • Revisi
6 6. Gelisah • Revisi
7 7. Dilema • Revisi
8 8. Jangan-jangan! • Revisi
9 9. Terpaksa Berbohong • Revisi
10 10. Aneh
11 11. Berbeda
12 12. Heran
13 13. Marah Besar
14 14. Terkesima
15 15. Bingung
16 16. Membeku
17 17. Apa Salahnya?
18 18. Tidak Masuk Akal
19 19. Cemburu
20 20. Tidak Menyerah
21 21. Dipecat!
22 22. Jangan Pecat!
23 23. Jadi Sekretaris
24 24. ke Apartment
25 25. Sisi Lain Calvin
26 26. Menjahili • Revisi
27 27. Kesal • Revisi
28 28. Perintah • Revisi
29 29. Ceraikan Juwita • Revisi
30 30. Janji • Revisi
31 31. Pertemuan di Mall • Revisi
32 32. Tanda Lahir • Revisi
33 33. Calvin Bertemu Chester • Revisi
34 34. Curiga • Revisi
35 35. Cemburu
36 36. Terjadi Sesuatu
37 37. Memberi Pelajaran
38 38. Semakin Curiga • Revisi
39 39. Penasaran • Revisi
40 40. Membeku
41 41. Gugup
42 42. Penjelasan • Revisi
43 43. Kecewa • Revisi
44 44. Kesal • Revisi
45 45. Reuni • Revisi
46 46. Keributan
47 PENGUMUMAN PENTING!!!
48 48. Jebakan
49 49. Sentuh Aku
50 50. Burung Perkutut
51 51. Lesu
52 52. Di mana Dia?
53 53. Pelaku
54 54. Tidak Merestui
55 55. Kecewa
56 56. Otak Marisa Dicuci
57 57. Utarakan
58 58. Mengungkapkan Perasaan
59 59. Aku Meminta Hakku!
60 60. Sudah Tidak Tahan
61 61. Masuk ke Sarang
62 62. Cucuku
63 63. Bulan Madu
64 64. Tujuan Gustav
65 65. Selesai ~ TAMAT
66 Novel Baru ~ Wanita Lain di Hati, Suamiku!
Episodes

Updated 66 Episodes

1
1. Bertemu Kembali
2
2. Kala Itu
3
3. Masih Sama
4
4. Pergi ke Mall • Revisi
5
5. Bertemu • Revisi
6
6. Gelisah • Revisi
7
7. Dilema • Revisi
8
8. Jangan-jangan! • Revisi
9
9. Terpaksa Berbohong • Revisi
10
10. Aneh
11
11. Berbeda
12
12. Heran
13
13. Marah Besar
14
14. Terkesima
15
15. Bingung
16
16. Membeku
17
17. Apa Salahnya?
18
18. Tidak Masuk Akal
19
19. Cemburu
20
20. Tidak Menyerah
21
21. Dipecat!
22
22. Jangan Pecat!
23
23. Jadi Sekretaris
24
24. ke Apartment
25
25. Sisi Lain Calvin
26
26. Menjahili • Revisi
27
27. Kesal • Revisi
28
28. Perintah • Revisi
29
29. Ceraikan Juwita • Revisi
30
30. Janji • Revisi
31
31. Pertemuan di Mall • Revisi
32
32. Tanda Lahir • Revisi
33
33. Calvin Bertemu Chester • Revisi
34
34. Curiga • Revisi
35
35. Cemburu
36
36. Terjadi Sesuatu
37
37. Memberi Pelajaran
38
38. Semakin Curiga • Revisi
39
39. Penasaran • Revisi
40
40. Membeku
41
41. Gugup
42
42. Penjelasan • Revisi
43
43. Kecewa • Revisi
44
44. Kesal • Revisi
45
45. Reuni • Revisi
46
46. Keributan
47
PENGUMUMAN PENTING!!!
48
48. Jebakan
49
49. Sentuh Aku
50
50. Burung Perkutut
51
51. Lesu
52
52. Di mana Dia?
53
53. Pelaku
54
54. Tidak Merestui
55
55. Kecewa
56
56. Otak Marisa Dicuci
57
57. Utarakan
58
58. Mengungkapkan Perasaan
59
59. Aku Meminta Hakku!
60
60. Sudah Tidak Tahan
61
61. Masuk ke Sarang
62
62. Cucuku
63
63. Bulan Madu
64
64. Tujuan Gustav
65
65. Selesai ~ TAMAT
66
Novel Baru ~ Wanita Lain di Hati, Suamiku!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!