2. Kala Itu

...Hai, saya kembali lagi dengan karya terbaru saya, semoga suka ya! Jika suka tambahkan jadi favorit dan jangan lupa dilike setiap babnya, like bisa membuat saya jadi lebih semangat lagi update-nya :)...

...Salam hangat ~...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Mendengar tawa Putri, Juwita tanpa sadar mengepalkan kedua tangan. Dadanya terasa sangat panas dan terbakar. Ternyata Putri belum berubah sama sekali. Masih suka menghina dan memandang remeh orang lain.

Mendadak kejadian lima tahun lalu berputar-putar di kepalanya sekarang. Kejadian di mana dia dan Calvin terpaksa menikah karena sebuah kesalah

pahaman.

Kala itu ....

Masa putih abu-abu merupakan masa yang sangat dibenci Juwita. Dia sering kali dibuli hanya karena penampilannya yang cupu. Saat menginjak kelas 3 SMA, memasuki semester akhir.

Juwita dan teman-temannya mengikuti kegiatan volunteer di desa terpencil. Desa yang jaraknya lumayan dekat dengan tempatnya berasal. Juwita sangat antusias menjalankan program volunteer, yang di mana bertujuan meningkatkan softskill. Meskipun selama bersekolah dia tidak memiliki teman karena dia miskin dan wajahnya yang kurang enak dipandang.

Sore itu, hujan turun sangat deras. Juwita tak bisa kembali ke rumah khusus anak-anak volunteer. Sebab sedari tadi Juwita membantu seorang nenek memperbaiki kompor karena nenek itu hidup sebatang kara. Jadi dia pun terjebak di rumah sang nenek dan memutuskan berteduh sebentar di rumah itu.

"Dek Juwita, ayo dimakan ini singkong rebusnya," tawar sang nenek. Menatap sendu Juwita yang sejak tadi duduk di dekat teras, tengah melihat hujan turun.

Secara diam-diam, Juwita berencana akan menerobos hujan karena tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Sementara di luar, langit mulai menggelap.

"Hehe iya Nek, nggak usah repot-repot. Juwita masih kenyang."

"Yakin? Enak loh ini singkongnya, maaf ya Nenek nggak punya makanan lain selain singkong," balas nenek dengan raut wajah memancarkan kesedihan.

Juwita tak enak hati. Dengan gesit meraih singkong rebus dari dalam piring sambil mengembangkan senyuman. "Terima kasih ya Nek."

Melihat hal itu, sang nenek tersenyum lebar.

"Permisi Nek, numpang berteduh dulu!" seru seseorang dari depan pekarangan rumah tiba-tiba.

Obrolan Juwita dan sang nenek seketika terpotong. Keduanya menoleh cepat ke sumber suara.

Juwita sedikit terkejut. Melihat Calvin dalam basah kuyup. Entah dari mana lelaki itu, namun yang jelas sepertinya dari sawah karena banyak lumpur di kakinya.

"Ayo masuk, ini Dek Juwita juga lagi berteduh." Sang nenek terlihat antusias menawarkan rumahnya untuk berteduh.

"Saya numpang berteduh di depan sini saja ya Nek. Lagian kaki saya kotor," balas Calvin tanpa sedikit pun menoleh ke arah Juwita.

Juwita tak heran. Teman kelas sekaligus teman yang duduk di depannya ini, memang jarang menegur orang. Sikapnya sangat dingin, kalau berbicara hanya seperlunya saja. Tapi, meskipun begitu Calvin tidak pernah membulinya. Hanya memandangnya datar setiap kali tak sengaja berpapasan.

"Hei jangan, masuk saja nanti bisa dibersihkan kakimu. Tunggu sebentar, nenek ambil gayung dulu buat kamu bersihkan kaki, di samping ada sumur kecil sama WC." Belum juga Calvin menanggapi. Sang nenek beranjak dari lantai kemudian berjalan menuju dapur.

Sepeninggalan sang nenek, suasana di sekitar mendadak canggung. Juwita tak berani menegur Calvin, sibuk mengunyah singkong rebus. Sedangkan Calvin memandang ke depan sambil menahan gigil. Sampai pada akhirnya sang nenek kembali sambil membawa gayung dan beberapa helai pakaian serta handuk.

"Nah ini gayungnya, kalau mau berganti pakaian pakai saja baju cucu nenek, sepertinya muat sama badan kamu." Sang nenek menyodorkan gayung dan pakaian pada Calvin.

Calvin tak membantah atau pun menolak. Dia mengambil alih gayung dan pakaian tersebut.

"Minimal ucapin terima kasih kek," celetuk Juwita tanpa sadar membuat Calvin menoleh ke arahnya.

"Ngomong apa kamu?" tanya Calvin dengan tatapan yang sangat tajam.

Juwita tersenyum getir. Karena kelepasan bicara, seharusnya dia mengucapkan protes di dalam hatinya saja. "Nggak, aku cuma bilang ...." Juwita mulai kebingungan mencari alasan.

"Sudah, kalian tunggu di sini saja, Nenek mau ke dapur sebentar, buat teh hangat sama ambil singkong,"kata sang nenek menginterupsi keduanya.

"Nek, Juwi ikut ya." Juwita hendak menghindari Calvin. Karena sejak tadi tatapan tajam Calvin menembus dadanya. Tentu saja dia ketakutan dengan lelaki itu.

"Jangan, di sini saja dulu ya, Nenek nggak lama kok." Belum juga mendengarkan tanggapan Juwita. Sang nenek melangkah cepat menuju dapur kembali.

Suasana canggung tercipta lagi di sekitar.

"Maaf Calvin, tadi aku cuma bercanda." Juwita memberanikan diri membuka suara.

Calvin tak menyahut malah berjalan ke samping rumah hendak membersihkan diri. Juwita membuang napas berat, melihat kepergian Calvin. Kemudian melanjutkan memakan singkong sampai habis. Namun, belum sampai lima menit. Terdengar teriakan Calvin dari samping.

Juwita membelalakan mata. Spontan beranjak dari lantai lalu berlari cepat ke samping. Melihat Calvin berteriak-teriak.

"Calvin, ada apa?" tanya Juwita dengan raut wajah panik.

"Juwita ambil kodok itu dia lompat-lompat di badanku!" Calvin bergerak kesana kemari sambil menepuk-nepuk badannya yang sialnya sang kodok melompat-lompat sejak tadi.

Juwita terkejut bila Calvin takut dengan kodok. Meskipun begitu Juwita tak mempermasalahkan hal itu. Dengan gesit matanya mencari kodok hendak menangkap. Akan tetapi, sang kodok justru. mendarat di tempat terlarang.

Tanpa pikir panjang Juwita meraih dengan cepat kodok itu hingga membuat celana pendek Calvin melorot. Juwita tak menyadari keadaan mereka menimbulkan kesalahpahaman bagi siapa pun yang melihat.

"Dapat!" seru Juwita, membuang kodok ke sembarang arah sambil tersenyum lebar. Namun, senyumnya seketika memudar.

"Astaghfirullahaladzim Juwita, Calvin!" teriak seorang pria dari samping. Tak lain dan tak bukan Pak Bolot, guru yang bertanggungjawab dengan atas KKN mereka.

"Apa yang kalian lakukan?! Kalian berbuat mesum di kampung saya!" Pak RT yang kebetulan bersama Pak Bolot ikut berteriak.

Detik selanjutnya Juwita menutup mata sejenak. Dia baru sadar jika celana dalam Calvin terlihat saat ini.

"Ini tidak seperti yang Bapak pikirkan, tadi saya mengambil kodok di celana Calvin, iya kan Calvin?" Juwita mulai panik. Melirik Calvin ke samping, sedang menaikkan celananya.

Calvin ikut buka suara."Iya benar Pak, kami tidak ber—"

"Banyak alasan kalian, jelas-jelas tadi saya lihat gadis ini menarik celanamu! Dasar mesum! Ini namanya penghinaan, kalian harus segera dinikahan sekarang, benar kan Pak Bolot?!" murka Pak RT dengan muka merah padam.

Pak Bolot tak langsung menanggapi, malah menatap Pak RT dengan kening berkerut kuat. "Dikebiri?"

"Bukan Pak Bolot, dinikahkan!!!" teriak Pak RT tepat di kuping Pak Bolot. Karena pendengaran Pak Bolot memang sedikit terganggu.

"Oh iya, iya dikebiri, silakan," kata Pak Bolot dengan muka polosnya.

Pak RT mendengus, sudah pasrah dengan kelakuan Pak Bolot, memilih melihat ke depan. Di mana sang nenek yang tidak tahu menahu keluar dari rumah seketika.

"Ada apa ini?" tanyanya.

"Dua anak kota ini berbuat mesum di desa kita, mereka harus dinikahkan!" seru Pak RT berapi-api.

"Jangan Pak, kami tidak salah, semua ini hanya kesalahpahaman saja, tadi saya tidak sengaja menarik celana Calvin." Dalam keadaan hujan turun dengan sangat deras. Juwita mendekati Pak RT.

"Benar Pak, Juwita tidak sengaja menarik celana saya!" Dari kejauhan Calvin ikut menimpali.

"Tidak ada alasan, kalian harus dinikahkan. Gadis mesum kamu rupanya ya! Mukamu saja yang polos! Panggil Bapakmu ke sini!"

Juwita kalang kabut. Calvin juga sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Pada sore itu, bapak Juwita dipanggil ke desa tersebut. Mereka menikah siri. Namun, seminggu setelah KKN berakhir. Dalam keadaan sakit keras, Bapak Juwita pergi ke Jakarta. Meminta keluarga Calvin menikah dengan Juwita secara sah bukan hanya siri.

Berbagai ancaman dilayangkan bapak Juwita dan pada akhirnya Juwita resmi menjadi istri Calvin. Walau tak ada pesta meriah atau pun ucapan selamat dari orang-orang di desa.

"Sebelum bapak pergi, bapak minta sama kamu jangan sekali-kali meminta cerai dari Calvin, sekarang kamu harus jadi wanita kuat, jangan mau ditindas terus, banggakan bapak dan mamakmu ya Nduk," ucap bapak Juwita waktu itu, sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.

Juwita memiliki janji yang tidak bisa dilanggar dan sampai saat ini masih menjadi istri Calvin Cloud yang tidak diketahui semua orang.

"Kenapa kamu, marah?" Dengan melempar senyum sinis, Putri melangkah cepat ke arah Juwita.

Lamunan Juwita mendadak buyar.

"Maaf Putri, aku sama sekali tidak marah hanya kasihan saja sikapmu tidak berubah sama sekali, masih suka menghina orang lain, aku heran kenapa wanita cantik sepertimu hatinya malah tidak cantik," kata Juwita seraya mengulas senyum. Sebuah senyuman yang membuat wajah Putri memerah.

"Kamu berani sama aku?!" Putri melebarkan mata hendak menjambak rambut Juwita. Namun, perkataan Calvin membuat Putri mengurungkan niatnya.

"Putri, keluar dari ruanganku sekarang!" titah Calvin kemudian tanpa menunjukkan ekspresi sama sekali. "Aku ingin berbicara dengan Juwita."

Putri tak membantah, malah mengendus kemudian berbisik pelan di telinga Juwita. "Awas saja kamu, aku akan membuat kamu menderita nanti."

Juwita enggan membalas, justru membalas perkataan Putri dengan sebuah senyuman lebar.

Selepas kepergian Putri. Juwita tertunduk dalam, tengah menunggu apa yang ingin disampaikan Calvin. Dengan sabar dia menunggu Calvin membuka suara hingga lima menit kemudian. Juwita memberanikan diri mengangkat dagu.

"Pak Calvin, mau bicara apa? Saya masih ada kerjaan yang belum saya tuntaskan," kata Juwita.

Calvin tak membalas, malah melangkah cepat mendekati Juwita dengan tatapan datar.

Juwita mulai gugup. Dia reflek memundurkan langkah kaki sambil berkata dengan terbata-bata.

"Pak, mau apa? Sa—ya masih ada kerjaan ...."

"Pak!"

Terpopuler

Comments

Yusrianikiran

Yusrianikiran

bagus sih cuma lelet banget harus pake iklan

2025-01-02

0

Rusmini Rusmini

Rusmini Rusmini

nyimak dulu ya thor /Pray//Pray/

2024-12-27

0

Yani Cuhayanih

Yani Cuhayanih

kedip2 mata anak SMA KKN..

2025-02-14

0

lihat semua
Episodes
1 1. Bertemu Kembali
2 2. Kala Itu
3 3. Masih Sama
4 4. Pergi ke Mall • Revisi
5 5. Bertemu • Revisi
6 6. Gelisah • Revisi
7 7. Dilema • Revisi
8 8. Jangan-jangan! • Revisi
9 9. Terpaksa Berbohong • Revisi
10 10. Aneh
11 11. Berbeda
12 12. Heran
13 13. Marah Besar
14 14. Terkesima
15 15. Bingung
16 16. Membeku
17 17. Apa Salahnya?
18 18. Tidak Masuk Akal
19 19. Cemburu
20 20. Tidak Menyerah
21 21. Dipecat!
22 22. Jangan Pecat!
23 23. Jadi Sekretaris
24 24. ke Apartment
25 25. Sisi Lain Calvin
26 26. Menjahili • Revisi
27 27. Kesal • Revisi
28 28. Perintah • Revisi
29 29. Ceraikan Juwita • Revisi
30 30. Janji • Revisi
31 31. Pertemuan di Mall • Revisi
32 32. Tanda Lahir • Revisi
33 33. Calvin Bertemu Chester • Revisi
34 34. Curiga • Revisi
35 35. Cemburu
36 36. Terjadi Sesuatu
37 37. Memberi Pelajaran
38 38. Semakin Curiga • Revisi
39 39. Penasaran • Revisi
40 40. Membeku
41 41. Gugup
42 42. Penjelasan • Revisi
43 43. Kecewa • Revisi
44 44. Kesal • Revisi
45 45. Reuni • Revisi
46 46. Keributan
47 PENGUMUMAN PENTING!!!
48 48. Jebakan
49 49. Sentuh Aku
50 50. Burung Perkutut
51 51. Lesu
52 52. Di mana Dia?
53 53. Pelaku
54 54. Tidak Merestui
55 55. Kecewa
56 56. Otak Marisa Dicuci
57 57. Utarakan
58 58. Mengungkapkan Perasaan
59 59. Aku Meminta Hakku!
60 60. Sudah Tidak Tahan
61 61. Masuk ke Sarang
62 62. Cucuku
63 63. Bulan Madu
64 64. Tujuan Gustav
65 65. Selesai ~ TAMAT
66 Novel Baru ~ Wanita Lain di Hati, Suamiku!
Episodes

Updated 66 Episodes

1
1. Bertemu Kembali
2
2. Kala Itu
3
3. Masih Sama
4
4. Pergi ke Mall • Revisi
5
5. Bertemu • Revisi
6
6. Gelisah • Revisi
7
7. Dilema • Revisi
8
8. Jangan-jangan! • Revisi
9
9. Terpaksa Berbohong • Revisi
10
10. Aneh
11
11. Berbeda
12
12. Heran
13
13. Marah Besar
14
14. Terkesima
15
15. Bingung
16
16. Membeku
17
17. Apa Salahnya?
18
18. Tidak Masuk Akal
19
19. Cemburu
20
20. Tidak Menyerah
21
21. Dipecat!
22
22. Jangan Pecat!
23
23. Jadi Sekretaris
24
24. ke Apartment
25
25. Sisi Lain Calvin
26
26. Menjahili • Revisi
27
27. Kesal • Revisi
28
28. Perintah • Revisi
29
29. Ceraikan Juwita • Revisi
30
30. Janji • Revisi
31
31. Pertemuan di Mall • Revisi
32
32. Tanda Lahir • Revisi
33
33. Calvin Bertemu Chester • Revisi
34
34. Curiga • Revisi
35
35. Cemburu
36
36. Terjadi Sesuatu
37
37. Memberi Pelajaran
38
38. Semakin Curiga • Revisi
39
39. Penasaran • Revisi
40
40. Membeku
41
41. Gugup
42
42. Penjelasan • Revisi
43
43. Kecewa • Revisi
44
44. Kesal • Revisi
45
45. Reuni • Revisi
46
46. Keributan
47
PENGUMUMAN PENTING!!!
48
48. Jebakan
49
49. Sentuh Aku
50
50. Burung Perkutut
51
51. Lesu
52
52. Di mana Dia?
53
53. Pelaku
54
54. Tidak Merestui
55
55. Kecewa
56
56. Otak Marisa Dicuci
57
57. Utarakan
58
58. Mengungkapkan Perasaan
59
59. Aku Meminta Hakku!
60
60. Sudah Tidak Tahan
61
61. Masuk ke Sarang
62
62. Cucuku
63
63. Bulan Madu
64
64. Tujuan Gustav
65
65. Selesai ~ TAMAT
66
Novel Baru ~ Wanita Lain di Hati, Suamiku!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!