10. Aneh

Juwita membola. Dengan cepat menoleh ke belakang. Melihat sosok yang sudah lama tidak dia jumpai, melempar senyum padanya sekarang.

"Nenek," ujar Juwita seketika.

"Tuh kan benar. Astaga, nenek sudah lama tidak berjumpa denganmu, kamu semakin cantik saja, bagaimana denga kabarmu sekarang Juwi?" Lara, nenek Calvin lantas memeluk Juwita.

Juwita tak langsung membalas, memeluk dengan sangat erat Lara. Lara merupakan salah satu anggota keluarga Calvin, yang sangat baik padanya. Namun, hampir 5 tahun wanita yang rambutnya sudah memutih itu tak ada kabar.

Kabar terakhir yang dia dengar, Lara pergi keluar negeri untuk mengobati penyakitnya. Juwita sudah berusaha menghubungi Lara. Akan tetapi, nomor Lara tiba-tiba tidak bisa dihubungi.

"Juwi, kenapa diam?" Perlahan, Lara mengendurkan pelukan lalu menatap dengan penuh kasih sayang wanita berkacamata bulat itu.

"Aku sangat baik Nek. Aku senang sekali bisa bertemu Nenek. Bagaimana kabar Nenek sekarang? Apa Nenek sudah sembuh? Kenapa Nenek ada di sini?" tanya Juwita beruntun. Dia sangat penasaran, mengapa Lara menghilang tiba-tiba bak ditelan bumi.

Lara mengulas senyum. "Alhamdulillah, nenek baik sekali, baru saja sembuh dan baru sampai di Jakarta dua hari yang lalu. Hihi, tadi Nenek minta tolong supir berhenti sebentar, Nenek mau beli nasi kuning yang di dekat sini, soalnya enak banget. Ngomong-ngomong kenapa kamu tidak pernah menghubungi Nenek lagi? Nenek rindu sekali denganmu, bagaimana hubunganmu dengan Calvin sekarang?"

Pertanyaan yang dilontarkan Lara membuat Juwita terdiam sejenak. Perlahan, kerutan di keningnya pun muncul.

"Syukurlah, aku senang mendengarnya Nek. Aku sering kok hubungi Nenek, tapi nomor Nenek udah lama nggak aktif lagi, lalu hubunganku Calvin baik-baik saja kok Nek,"jawab Juwita sambil menyungging senyum kaku.

"Nggak aktif gimana, nomor Nenek masih yang lama dan selalu aktif, tapi memang Nenek nggak bisa pegang hp terus karena harus menjalani pengobatan, syukurlah kalau hubunganmu dengan Calvin baik."

Semakin heran Juwita dengan balasan Lara. Juwita merasa ada sesuatu yang tidak beres di sini. Kendati demikian, dia tidak mau langsung menyimpulkan praduganya.

"Oh begitu ya Nek, aneh ya, karena setiap aku menelepon, nomor Nenek selalu nggak aktif."

Melihat reaksi Juwita. Kini Lara mulai mengerutkan dahi karena sorot mata tidak menyiratkan kebohongan.

"Benarkah? Hmm, aneh. Sudah ketik lah nomormu di ponsel Nenek sekarang." Lara mengambil cepat ponsel di saku sweter–nya lalu memberi benda pipih tersebut kepada Juwita.

"Baik, Nek." Juwita pun mengetik nomor ponselnya. Setelah selesai dia menyodorkan kembali ponsel kepada sang pemilik.

"Nenek dengar dari Calvin, kamu kerja di perusahaan Nenek ya?" Lara membuka suara kembali.

Lara Crop adalah perusahaan yang dimiliki Lara. Dialah yang mendirikan perusahaan tersebut ketika masih muda dulu. Untuk sekarang CEO yang menjabat adalah paman Calvin bernama Loren. Sementara Calvin sendirilah menjadi presdir di perusahaan Lara. Juwita pun tidak menyangka Calvin akan menjadi presdir.

"Iya Nek, Juwita nggak nyangka bisa masuk perusahaan itu,"celetuk Juwita sambil mengembangkan senyuman.

"Itu kan berkat kegigihan kamu, tapi kenapa kamu nggak bilang Loren, kan bisa masuk pakai orang dalam," kelakar Lara kemudian.

Juwita tertawa meringis. Pasalnya Loren, dingin seperti Calvin. Terlebih, Loren adalah salah satu anggota keluarga yang menentang pernikahannya dengan Calvin dahulu.

"Nggak apa-apa kok Nek, yang penting sekarang udah diterima," balas Juwita.

"Iya juga, oh ya, ayo ikut Nenek ke kantor. Sekaligus Nenek mau ketemu Calvin, anak itu mentang-mentang sudah jadi presdir lupa sama Neneknya."

"Nggak usah Nek, Juwi naik—"

Lara langsung merangkul tangan Juwita. "Eits, nggak boleh nolak. Ayo ikut Nenek, mumpung Nenek sudah segar bugar sekarang."

Juwita tak berani membantah tatkala dia diseret menuju mobil yang terparkir di dekat jalan sejak tadi. Setelah duduk di kursi, sang supir mulai mengemudikan kendaraan menuju perusahaan.

"Oh ya Juwi, besok malam Nenek ada acara syukuran di rumah, kamu datang ya," ujar Lara tiba-tiba.

Juwita di ambang dilema. Dia ingin menggerakkan lidah. Namun, tatapan Lara membuat Juwita mengurungkan niatnya.

"Eits, jangan menolak, datanglah Juwi, masalah gaun nanti nenek akan suruh Calvin mengurus hal itu,"ucap Lara kembali dengan nada suara yang sangat tegas, hingga Juwita tak berani membantah.

"Baiklah, Nek. Oh ya, nanti aku turun agak jauhan dari perusahaan ya Nek." Pada akhirnya Juwita hanya bisa pasrah dan meminta Lara, menurunkannya di luar gedung. Juwita tak mau orang sampai tahu hubungannya dengan Calvin.

Mendengar hal itu Lara tak langsung menanggapi, malah mencondongkan tubuh ke samping lalu menatap Juwita dengan raut wajah muram.

"Ternyata Calvin belum berubah juga, maafkan Nenek Juwita, nanti Nenek akan menasihati dia, agar dia mau membeberkan hubungan kalian! Dasar cucu kurang ajar dia itu!" sahut Lara kemudian dengan penuh penekanan.

Juwita membalas dengan tersenyum getir. Dia tak mau terlalu banyak berharap. Tidak dikasari Calvin saja, dia sudah bersyukur.

Tak berselang lama, Juwita telah sampai di perusahaan. Dia langsung melakukan aktivitas kerjanya. Sementara Lara langsung pergi ke kantor pribadi Calvin.

"Heh Juwita, tolong ambilkan aku minuman dong! Aku haus!" Dewi tiba-tiba berdiri di samping meja kerja Juwita.

Baru saja duduk di kursi kerja, Dewi meminta Juwita mengambilkannya air. Juwita langsung melirik ke arah Dewi.

"Kamu punya tangan kan, aku harus kerja sekarang Dewi," sahut Juwita dengan lembut.

Namun, kelembutan suara Juwita justru membuat darah di dalam dada Dewi bergejolak.

"Baru jadi karyawan baru aja udah belagu! Cepat ambilkan aku minuman!" seru Dewi membuat Juwita pada akhrinya beranjak dari kursi.

"Dewi, jobdesk aku di sini bukan ambilin kamu air minum, kamu punya tangan dan punya kaki juga kan? Ambilllah sendiri, aku harus memeriksa email masuk sekarang," terang Juwita, kali ini intonasi bicaranya terdengar tegas.

Dewi mengepalkan kedua tangan. Dalam hitungan detik tangan kanannya terangkat ke udara hendak menampar Juwita. Akan tetapi, kedatangan sekretaris Calvin ke ruangan, mengurungkan niatnya.

"Juwita, kamu disuruh menghadap Pak Calvin sekarang," perintah wanita berambut pendek itu seketika.

Dengan kening berkerut samar, Juwita pun menoleh.

"Baik, aku akan segera ke sana."

"Cepatlah, masuk ke dalam!" Lina, sekretaris Calvin melengoskan muka kemudian berjalan keluar ruangan dengan cepat.

Tampaknya ada banyak wanita di kantor yang tidak keberadaan Juwita. Juwita memakluminya. Meskipun begitu, dia tidak peduli. Tujuannya di sini adalah berkerja dan mencari uang untuk Chester.

"Permisi Dewi, aku mau ke kantor Pak Calvin." Juwita hendak melangkah. Namun, Dewi menghalangi jalannya.

Dewi melototkan mata. "Aku belum selesai denganmu, awas saja kamu," ujarnya lalu bergeser sedikit.

Juwita enggan menanggapi, memilih berjalan menuju kantor Calvin. Sesampainya di dalam, Juwita makin heran tatkala hawa di sekitar terasa panas dan mencekam. Dia dapat menebak jika Lara dan Calvin sedang bersitegang tadi.

Lara melirik sekilas ke arah Juwita. "Akhirnya kamu datang, Juwita." Lalu menatap kembali Calvin."Ya sudah, Nenek pulang dulu ya, Nenek harap kamu dapat mempertimbangkan keputusanmu."

Calvin tak membalas, malah melirik Juwita.

Setelah mengucapkan itu, Lara pamit pada Juwita lalu keluar dari ruangan. Selepas kepergian Lara, Juwita mulai merasa ada bahaya besar mengancamnya sekarang. Kendati demikian, dia harus bersikap profesional.

"Pak Calvin, ada keperluan apa?" tanya Juwita memberanikan diri.

Calvin tak membalas, malah melangkah cepat ke arah Juwita tanpa menunjukkan ekspresi sama sekali.

Membuat Juwita mulai ketar-ketir. Juwita lantas reflek memundurkan langkah kaki.

"Pak, mau ngo—mong apa?"

Terpopuler

Comments

Rusmini Rusmini

Rusmini Rusmini

udh tau bahaya knp kerja di kantor Calvin ...gajinya gede yaa /Smile//Smile/

2024-12-28

0

Bzaa

Bzaa

banyak banget yg ga suka juwi, knp ya

2024-11-24

0

Wirda Wati

Wirda Wati

pindah aja

2025-01-17

0

lihat semua
Episodes
1 1. Bertemu Kembali
2 2. Kala Itu
3 3. Masih Sama
4 4. Pergi ke Mall • Revisi
5 5. Bertemu • Revisi
6 6. Gelisah • Revisi
7 7. Dilema • Revisi
8 8. Jangan-jangan! • Revisi
9 9. Terpaksa Berbohong • Revisi
10 10. Aneh
11 11. Berbeda
12 12. Heran
13 13. Marah Besar
14 14. Terkesima
15 15. Bingung
16 16. Membeku
17 17. Apa Salahnya?
18 18. Tidak Masuk Akal
19 19. Cemburu
20 20. Tidak Menyerah
21 21. Dipecat!
22 22. Jangan Pecat!
23 23. Jadi Sekretaris
24 24. ke Apartment
25 25. Sisi Lain Calvin
26 26. Menjahili • Revisi
27 27. Kesal • Revisi
28 28. Perintah • Revisi
29 29. Ceraikan Juwita • Revisi
30 30. Janji • Revisi
31 31. Pertemuan di Mall • Revisi
32 32. Tanda Lahir • Revisi
33 33. Calvin Bertemu Chester • Revisi
34 34. Curiga • Revisi
35 35. Cemburu
36 36. Terjadi Sesuatu
37 37. Memberi Pelajaran
38 38. Semakin Curiga • Revisi
39 39. Penasaran • Revisi
40 40. Membeku
41 41. Gugup
42 42. Penjelasan • Revisi
43 43. Kecewa • Revisi
44 44. Kesal • Revisi
45 45. Reuni • Revisi
46 46. Keributan
47 PENGUMUMAN PENTING!!!
48 48. Jebakan
49 49. Sentuh Aku
50 50. Burung Perkutut
51 51. Lesu
52 52. Di mana Dia?
53 53. Pelaku
54 54. Tidak Merestui
55 55. Kecewa
56 56. Otak Marisa Dicuci
57 57. Utarakan
58 58. Mengungkapkan Perasaan
59 59. Aku Meminta Hakku!
60 60. Sudah Tidak Tahan
61 61. Masuk ke Sarang
62 62. Cucuku
63 63. Bulan Madu
64 64. Tujuan Gustav
65 65. Selesai ~ TAMAT
66 Novel Baru ~ Wanita Lain di Hati, Suamiku!
Episodes

Updated 66 Episodes

1
1. Bertemu Kembali
2
2. Kala Itu
3
3. Masih Sama
4
4. Pergi ke Mall • Revisi
5
5. Bertemu • Revisi
6
6. Gelisah • Revisi
7
7. Dilema • Revisi
8
8. Jangan-jangan! • Revisi
9
9. Terpaksa Berbohong • Revisi
10
10. Aneh
11
11. Berbeda
12
12. Heran
13
13. Marah Besar
14
14. Terkesima
15
15. Bingung
16
16. Membeku
17
17. Apa Salahnya?
18
18. Tidak Masuk Akal
19
19. Cemburu
20
20. Tidak Menyerah
21
21. Dipecat!
22
22. Jangan Pecat!
23
23. Jadi Sekretaris
24
24. ke Apartment
25
25. Sisi Lain Calvin
26
26. Menjahili • Revisi
27
27. Kesal • Revisi
28
28. Perintah • Revisi
29
29. Ceraikan Juwita • Revisi
30
30. Janji • Revisi
31
31. Pertemuan di Mall • Revisi
32
32. Tanda Lahir • Revisi
33
33. Calvin Bertemu Chester • Revisi
34
34. Curiga • Revisi
35
35. Cemburu
36
36. Terjadi Sesuatu
37
37. Memberi Pelajaran
38
38. Semakin Curiga • Revisi
39
39. Penasaran • Revisi
40
40. Membeku
41
41. Gugup
42
42. Penjelasan • Revisi
43
43. Kecewa • Revisi
44
44. Kesal • Revisi
45
45. Reuni • Revisi
46
46. Keributan
47
PENGUMUMAN PENTING!!!
48
48. Jebakan
49
49. Sentuh Aku
50
50. Burung Perkutut
51
51. Lesu
52
52. Di mana Dia?
53
53. Pelaku
54
54. Tidak Merestui
55
55. Kecewa
56
56. Otak Marisa Dicuci
57
57. Utarakan
58
58. Mengungkapkan Perasaan
59
59. Aku Meminta Hakku!
60
60. Sudah Tidak Tahan
61
61. Masuk ke Sarang
62
62. Cucuku
63
63. Bulan Madu
64
64. Tujuan Gustav
65
65. Selesai ~ TAMAT
66
Novel Baru ~ Wanita Lain di Hati, Suamiku!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!