Obrolan Beni Dan Dirga

...Rumah Bagas...

"Mana Mentari, Ga?" tanya Beni saat melihat Dirga duduk di kursi roda sendirian, keponakannya itu melihat ke arah luar jendela dengan pandangan yang sulit di artikan.

Dirga di sengaja datang kerumah keluarga Bagas untuk menjenguk Dirga, ia juga di suruh Ranti untuk mengantarkan makanan yang baru saja dimasak oleh istrinya.

Namun ketika Beni masuk kedalam rumah sederhana Bagas, ia tidak bisa menemukan siapapun di dalam. Beni hampir saja keluar jika dia tidak melihat Dirga, keponakannya itu sedang melamun sehingga ia Dirga tidak mendengarkan salam yang Beni ucapkan.

"Om? Kapan datang?" tanya Dirga bingung.

"Barusan, kok. Om kira tidak ada orang disini, soalnya tidak ada yang menjawab ucapan salam", jawab Beni menyindir.

"Maaf, Om. Dirga tidak gak dengar", ujar Dirga meringis. "Om, bawa apa itu?" Tanya Dirga mengalihkan perhatian Beni.

"Bawa beberapa makanan, Tantemu tadi sengaja masak banyak untuk di makan kalian semua", jawab Dirga sambil meletakkan kantong plastik yang ia bawa ke atas meja.

"Gimana, Betah?" tanya Beni basa-basi.

"Hmm, biasa saja", jawab Dirga singkat. "Tapi keluarga ini sedikit membuatku nyaman, tidak ada kepalsuan, mereka semua biasa saja, Om. Tidak seperti orang lain sebagai penjilat yang memberikan ribuan pujian kepada ku dan keluarga kita, saat tahu keluarga kita kaya raya. Keluarga disini.... berbeda." ucapan Dirga lirih di akhir kalimatnya.

"Kan, Om sudah bilang. Keluarga pak Bagas memang berbeda, mereka baik sekali". Beni berujar puas, karena ia tak sia-sia kemarin membangga-banggakan keluarga besan kakaknya itu.

"Yang paling membuat aku salut, kekeluargaan mereka dan juga ibadah mereka. Tidak ada yang melewatkan waktu sholat, bahkan Mentari tadi membangunkan ku

 di waktu subuh, dia membantuku ke kamar mandi, dan kami sholat berjamaah. Rasanya... Tenang", kata Dirga lagi.

Lagi-lagi Dirga mengingat bagaimana Mentari mengurus semua kebutuhannya, istrinya itu sama sekali tidak menunjukkan keberatan walau harus mengurus suami lumpuh seperti dirinya.

Namun, disisi lain Dirga menduga itu semua hanya sebuah kamuflase saja. Sisi jahatnya itu mengatakan wajar jika Mentari dan keluarganya bersikap baik padanya, karena mereka sudah banyak sekali di berikan kemewahan oleh keluarga Dita dan Revan.

"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Ga", Beni mengeluarkan suaranya , apalagi dia melihat Dirga tengah berpikir keras. "Mereka sangat baik, dan kami juga sudah menjadi bagian dari keluarga ini...maka kamu nanti akan semakin jatuh cinta, dan bersyukur masuk dalam keluarga yang hangat ini", lanjut Beni.

Dirga tersenyum miring, lalu dia mendongak melihat Beni. "Om dan Mama kelihatannya begitu mengidolakan Mentari dan keluarganya, jangan-jangan kalian terkena pelet, nih", katanya sambil terkekeh.

"Hust... Kamu sembarangan", sahut Benni cepat. "Om bilang seperti ini bukan karena terpengaruh oleh Mamamu yang ngebet kepengen menjadikan Mentari sebagai istrimu, tapi Mentari itu memang gadis yang baik, dan GK neko-neko", sambungnya lagi.

Dirga mengendikkan bahunya, dan kembali melihat ke arah luar jendela. Semuanya nanti akan terungkap, jika Mentari dan keluarganya memang orang baik atau bahkan sebaliknya, pasti cepat atau lambat akan kelihatan.

"Dan Om minta satuhal sama kamu, jangan kesal dengan Mamamu, Ga. Dia begini karena sayang padamu, Mbak Dita mau kamu memiliki pendamping yang baik dan mau berdiri disamping kamu bahkan ketika kamu berada di posisi terburuk pun", kata Beni panjang lebar, dia sedikit tersenyum ketika melihat bahu Dirga menegang. "Kamu pasti tidak suka di jodohkan, apalagi dengan gadis kampung yang sama sekali tidak kamu kenal. Tapi, kamu bisa pegang kata-kata Om. Nanti, kamu akan berterima kasih pada Mamamu karena telah memilih Mentari sebagai istrimu!" tegasnya lagi.

"Om, benar-benar sok tahu", gumam Dirga pelan.

Beni terkekeh, "Om memang sok tahu", balasannya. "Oh ya, kemana semua orang? Mana Tari dan yang lain?" tanya Beni kepo.

"Tari dan kedua orangtuanya sedang melihat rumah, kemungkinan dalan waktu dekat kami akan pindah. Rasanya aku sudah tidak sabar mengajak mereka semua pindah, tidak pantas Mentari dan keluarganya tinggal disini", Kata Dirga sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah Bagas, yang Dirga rasa tidak layak untuk di tempati. Dia sudah kaya dari lahir dan dia sama sekali belum pernah menghuni tempat kumuh seperti ini. "Kalau adik-adik Tari baru saja keluar, tadi mereka disini dan aku memberi mereka uang untuk jajan dan bersenang-senang", ujarnya lagi.

Kedua adik Mentari memang di tugaskan untuk menjaganya. Mereka sempat berbincang dan Dirga terenyuh saat mereka mengatakan nyaris tak pernah bersenang-senang karena tidak memiliki uang. Bahkan jika mereka memiliki uang pun, mereka akan lebih memilih untuk menabung uang itu ketimbang untuk dihambur-hamburkan.

Ketika Dirga bertanya kenapa, kedua adik Mentari memberi tahu alasannya. Tak lain dan tak bukan karena Mentari dan Bagas mencari uang untuknya dan keluarga. Mana mungkin mereka meminta uang untuk dihambur-hamburkan. Ketimbang buat jajan, lebih baik uang itu dibuat beli beras.

Di titik itulah Dirga ingin menangis. Bagaimana tidak, kedua remaja itu begitu dewasa. Sedangkan Dirga diusia mereka dulu, sibuk bermain dengan teman-temannya dan tentu saja menggunakan uang kedua orangtuanya. Dia menjadi merasa tidak berguna.

"Hei, Kamu kok melamun, sih? Mikirin apa?", tanya Beni menepuk pelan pundak Dirga.

"Siapa yang melamun, Om?" Dirga berdalih.

"Siapa? Om mu ini ngomong dari tadi dan kamu diam saja, melamun kayak orang kesambet, tau!" cibir Beni setengah kesambet.

"Memang Om ngomong apa?" tanya Dirga akhirnya.

"Om bilang... bagus ide kamu, jangan di tunda-tunda kalau bisa besok langsung pindah. Toh, rumah itu sudah lengkap isinya dan kalian tinggal bawa badan saja, kan? Tari dan keluarganya itu sering di hina oleh keluarga Pak Bagas. Kamu pasti sadar bagaimana tatapan mereka pada mentari dan juga kamu. Om harap kamu bisa membungkam mereka, Ga", Beni berujar dan menggebu-gebu.

Dirga terkekeh. "Aku menyadari hal itu, Om. Jujur saja Aku terkejut saat mereka mengira Mama dn Papa itu adalah seorang pembantu dan sopir", jawabnya.

"Ide mereka, wajib kita ikuti lho", balas Beni dengan nada pasrah. "Ingat lho, Mentari itu sudah sering dihina dan dicaci, kamu harus bisa menjadi benteng untuk istrimu, Ga",

"Duh, aku akan berusaha dengan semampu dan sebisaku, Om", Dirga menggaruk tengkuknya.

"Kamu juga harus semangat, ayo cepat sembuh. Kamu itu satu-satunya ahli waris dari Mbak Dita dan Mas Revan, cepat atau lambat kamu harus turun langsung ke perusahaan dan semua usaha mereka, Ga", tukas Beni sangat lembut.

"Ayolah Om, bisa tidak kita gak perlu bahas ini?" tanya Dirga jengah, ia tahu kemana arah pembicaraannya Beni.

"Om hanya minta kamu untuk terapi lagi, Ga. Agar kamu bisa berjalan lagi, itu yang dokter katakan", Beni tidak peduli, dan kembali mengeluarkan unek-uneknya.

"Dan aku katakan sekali lagi, Om. Aku gak mau terapi, dan aku juga gak mau membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak pasti", Dirga menjawab tegas.

Mereka tidak tahu jika Mentari sedang menguping pembicaraan mereka dari luar, dan ia bertekad akan membuat Dirga kembali mau terapai. Dirga sudah memberi banyak untuknya dan Mentari merasa harus membalas itu semua.

...****************...

Terpopuler

Comments

febby fadila

febby fadila

ayo mentari beri semangat untuk suami kamu

2024-12-08

0

Fera Waty

Fera Waty

ceritanya bagus

2024-11-06

1

Isabela Devi

Isabela Devi

mentari bantu suamimu untuk sembuh

2024-11-04

2

lihat semua
Episodes
1 Calon Suami Lumpuh
2 Ejekan dari keluarga Part 1
3 Ejekan Dari Keluarga Part 2
4 Sifat keluarga besar yang di Luar Nurul
5 Hinaan dari Mantan
6 Akad Nikah Semua Orang Syok!!!
7 Tidak Ada Pelet!
8 Denok Kepo Uang Mahar Asli atau Palsu
9 Penasaran Dengan Pemilik Rumah Mewah
10 Melihat Rumah Baru
11 Obrolan Beni Dan Dirga
12 Pindahan
13 Tak Bisa Berkata-kata
14 Mega Terlalu Percaya Diri
15 Kejutan dari Dirga
16 Gendis mempermalukan dirinya sendiri.
17 Denok Shock
18 Dirga Cemburu
19 Anak Konglomerat
20 Identitas Dirga Sebenarnya
21 Memutus Kerja Sama
22 Berkunjung kerumah mertua
23 Bertengkar
24 Reza berusaha mendekati Mentari lagi
25 Peduli
26 Reza dan Gendis bertengkar
27 kebohongan
28 Di fitnah
29 Tamu tak diundang
30 Orang Asing yang tidak Penting
31 Perlawanan !
32 Meminta untuk Gadaikan SK
33 Ancaman Untuk Narti
34 Curiga
35 Mencecar Yanto
36 Mau terapi kembali
37 Narti bikin ulah
38 Di Serang Balik
39 Ines meminta bantuan Bella
40 Ancaman!!
41 Menginap
42 Misi Gagal
43 Di Bohongi Dewi
44 Mencari Cara
45 Di kerjain
46 Di Usir
47 Dirga Mulai Tertarik pada Mentari
48 Ingin Pinjam Uang
49 Sudah Salah, Masih Membela Diri!!
50 Bella di Hukum
51 Kata Sayang!!!
52 Menstalking
53 Kiriman Makana misterius
54 Gendis ketahuan
55 Pajangan Foto Segede gaban
56 Pindahan
57 Kecolongan
58 Gusar
59 Tak Punya Muka
60 Jemput Paksa
61 Bisa Berjalan Lagi
62 Mundur
63 Di fitnah
64 Bella di tolong Mentari
65 Makan malam
66 Menolak untuk membantu Ines
67 acara syukuran
68 Gagal
69 sudah di ujung tanduk
70 Mendatangi Rumah Mertua
71 Rencana Reno dan Soraya
72 Curhat
73 Keguguran
74 Menjenguk Gendis
75 Malam Pertama yang Tertunda
76 Meminta Maaf Pada Bella
77 Menggadaikan Sertifikat Rumah
78 Di Kira Hamil
79 Memeriksa CCTV
80 Tamu yang Mengejutkan
81 Ketahuan
82 Kecewa
83 Gendhis Masih belum berubah
84 Bersikap tegas
85 Bingung mencari bantuan
86 Terkena Adzab
87 Di Gadaikan Adik Ipar
88 Curiga
89 Ke Kota Bersama
90 Menawarkan Perabotan Rumah
91 Berunding
92 Ketahuan
93 Orangtua Ines Datang
94 Minta pertanggungjawaban
95 Grup WA
96 Datang ke kantor
97 Tak Sengaja Bertemu Teman SMP
98 Bernegosiasi
99 Pamer kekayaan
100 Mengantar Bekal Makan Siang
101 Jadi Bahan Hujatan Digrup Alumni
102 Ines sudah tidak waras
103 Tiga Persyaratan
104 Mengembalikan sertifikat
105 Gosip menyebar
106 Bertemu Temen Julid Lagi
107 Reunian
108 Semua orang tercengang
109 Mendatangi Rumah Mentari
110 Bertemu Ines di Mall
111 Alex kembali
112 Rencana perjodohan
113 Di paksa menerima lamaran Alex
114 Senjata makan tuan
115 Tidak percaya
116 Menghindar
117 Diskusi
118 Kembalinya Sang Mantan
119 Beratnya Syarat kedua dan ketiga
120 Rencana liburan
121 Ketemu dua demit
122 Mendorong motor
123 Nenek Lampir
124 Tiga bersaudara pergi ke rumah Bagas
125 Rencana Datang Kereunian Kampus
126 Tegasnya Laras
127 Ketahuan
128 Mempermalukan Ines
129 Pelakor tak punya malu
130 Bergosip
131 kecoak
132 selingkuh teriak selingkuh
133 Ketahuan.
134 Fitnah
135 Cinta boleh tapi jangan bodoh
136 Suka cari-cari masalah
137 Gosip beredar
138 Kehadiran Sang Nenek
139 Ancaman
140 Nenek julid
141 Di ajak ikut Arisan
142 Pamer kekayaan
143 Merasa tersaingi
144 Pertemuan yang tidak sengaja
145 Perdebatan yang cukup alot
146 Membeli perhiasan baru
147 Caper
148 Mencoba mempengaruhi Bagas Kemabli
149 Kedatangan Seruni ke Desa
150 Mengajak Mira tinggal bersama
151 Fira hamil
152 Pencuri sebenarnya
153 Laras di fitnah
154 Ingin pinjam mobil
155 Rencana mestop uang jatah
156 meminta bantuan pada Reza
157 Bertengkar
158 Narti mencoba menghasut Bagas
159 Menolak dijodohkan
160 Resepsi pernikahan Ines dan Alex
161 Gendhis belum bisa move on
162 Puspa berusaha membujuk Heny
163 seperti roller coaster
164 dengan tegas menolak
165 Mahar lima ratus ribu
166 memaksakan ingin mengadakan resepsi
167 Pinjam uang
168 berkunjung ke rumahnya Farhan
169 Minta dinikahi secepatnya
170 Tidak menginginkan anak-anak Farhan
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Calon Suami Lumpuh
2
Ejekan dari keluarga Part 1
3
Ejekan Dari Keluarga Part 2
4
Sifat keluarga besar yang di Luar Nurul
5
Hinaan dari Mantan
6
Akad Nikah Semua Orang Syok!!!
7
Tidak Ada Pelet!
8
Denok Kepo Uang Mahar Asli atau Palsu
9
Penasaran Dengan Pemilik Rumah Mewah
10
Melihat Rumah Baru
11
Obrolan Beni Dan Dirga
12
Pindahan
13
Tak Bisa Berkata-kata
14
Mega Terlalu Percaya Diri
15
Kejutan dari Dirga
16
Gendis mempermalukan dirinya sendiri.
17
Denok Shock
18
Dirga Cemburu
19
Anak Konglomerat
20
Identitas Dirga Sebenarnya
21
Memutus Kerja Sama
22
Berkunjung kerumah mertua
23
Bertengkar
24
Reza berusaha mendekati Mentari lagi
25
Peduli
26
Reza dan Gendis bertengkar
27
kebohongan
28
Di fitnah
29
Tamu tak diundang
30
Orang Asing yang tidak Penting
31
Perlawanan !
32
Meminta untuk Gadaikan SK
33
Ancaman Untuk Narti
34
Curiga
35
Mencecar Yanto
36
Mau terapi kembali
37
Narti bikin ulah
38
Di Serang Balik
39
Ines meminta bantuan Bella
40
Ancaman!!
41
Menginap
42
Misi Gagal
43
Di Bohongi Dewi
44
Mencari Cara
45
Di kerjain
46
Di Usir
47
Dirga Mulai Tertarik pada Mentari
48
Ingin Pinjam Uang
49
Sudah Salah, Masih Membela Diri!!
50
Bella di Hukum
51
Kata Sayang!!!
52
Menstalking
53
Kiriman Makana misterius
54
Gendis ketahuan
55
Pajangan Foto Segede gaban
56
Pindahan
57
Kecolongan
58
Gusar
59
Tak Punya Muka
60
Jemput Paksa
61
Bisa Berjalan Lagi
62
Mundur
63
Di fitnah
64
Bella di tolong Mentari
65
Makan malam
66
Menolak untuk membantu Ines
67
acara syukuran
68
Gagal
69
sudah di ujung tanduk
70
Mendatangi Rumah Mertua
71
Rencana Reno dan Soraya
72
Curhat
73
Keguguran
74
Menjenguk Gendis
75
Malam Pertama yang Tertunda
76
Meminta Maaf Pada Bella
77
Menggadaikan Sertifikat Rumah
78
Di Kira Hamil
79
Memeriksa CCTV
80
Tamu yang Mengejutkan
81
Ketahuan
82
Kecewa
83
Gendhis Masih belum berubah
84
Bersikap tegas
85
Bingung mencari bantuan
86
Terkena Adzab
87
Di Gadaikan Adik Ipar
88
Curiga
89
Ke Kota Bersama
90
Menawarkan Perabotan Rumah
91
Berunding
92
Ketahuan
93
Orangtua Ines Datang
94
Minta pertanggungjawaban
95
Grup WA
96
Datang ke kantor
97
Tak Sengaja Bertemu Teman SMP
98
Bernegosiasi
99
Pamer kekayaan
100
Mengantar Bekal Makan Siang
101
Jadi Bahan Hujatan Digrup Alumni
102
Ines sudah tidak waras
103
Tiga Persyaratan
104
Mengembalikan sertifikat
105
Gosip menyebar
106
Bertemu Temen Julid Lagi
107
Reunian
108
Semua orang tercengang
109
Mendatangi Rumah Mentari
110
Bertemu Ines di Mall
111
Alex kembali
112
Rencana perjodohan
113
Di paksa menerima lamaran Alex
114
Senjata makan tuan
115
Tidak percaya
116
Menghindar
117
Diskusi
118
Kembalinya Sang Mantan
119
Beratnya Syarat kedua dan ketiga
120
Rencana liburan
121
Ketemu dua demit
122
Mendorong motor
123
Nenek Lampir
124
Tiga bersaudara pergi ke rumah Bagas
125
Rencana Datang Kereunian Kampus
126
Tegasnya Laras
127
Ketahuan
128
Mempermalukan Ines
129
Pelakor tak punya malu
130
Bergosip
131
kecoak
132
selingkuh teriak selingkuh
133
Ketahuan.
134
Fitnah
135
Cinta boleh tapi jangan bodoh
136
Suka cari-cari masalah
137
Gosip beredar
138
Kehadiran Sang Nenek
139
Ancaman
140
Nenek julid
141
Di ajak ikut Arisan
142
Pamer kekayaan
143
Merasa tersaingi
144
Pertemuan yang tidak sengaja
145
Perdebatan yang cukup alot
146
Membeli perhiasan baru
147
Caper
148
Mencoba mempengaruhi Bagas Kemabli
149
Kedatangan Seruni ke Desa
150
Mengajak Mira tinggal bersama
151
Fira hamil
152
Pencuri sebenarnya
153
Laras di fitnah
154
Ingin pinjam mobil
155
Rencana mestop uang jatah
156
meminta bantuan pada Reza
157
Bertengkar
158
Narti mencoba menghasut Bagas
159
Menolak dijodohkan
160
Resepsi pernikahan Ines dan Alex
161
Gendhis belum bisa move on
162
Puspa berusaha membujuk Heny
163
seperti roller coaster
164
dengan tegas menolak
165
Mahar lima ratus ribu
166
memaksakan ingin mengadakan resepsi
167
Pinjam uang
168
berkunjung ke rumahnya Farhan
169
Minta dinikahi secepatnya
170
Tidak menginginkan anak-anak Farhan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!