Penasaran Dengan Pemilik Rumah Mewah

"Begini Yah, Bu. Tadi Mas Dirga sempat menyinggung soal kunci rumah tadi, dia bilang rumah itu bisa di tempati oleh kita sekeluarga. kalau Ayah mau, besok kita sudah bisa pindah ke sana" ujar Mentari ragu-ragu.

Sebenarnya Mentari belum bisa mempercayai bahwa mahar yang di berikan Dirga sebanyak ini, karena dirinya hanya seorang penjaga minimarket dan dari keluarga yang sederhana. Dirga mengatakan pada Mentari bahwa ia tinggal bersamanya nanti. Namun, rumah yang ia berikan sebagai mahar, Mentari bebas menempatinya dan jika kedua orangtuanya ikut tinggal juga tidak masalah.

Mentari Awalnya menolak, namun Dirga mengatakan jika rumah itu sudah menjadi milik mentari dan dia berhak dan bebas mempergunakan rumah, mobil, perhiasan, serta uang mahar yang Dirga berikan.

"Gimana, yah, Bu?" tanya Mentari lagi.

"Nak, ini mimpi bukan sih?" tanya Laras ragu. "Ibu tidak pernah berpikir kalau kita akan mendapatkan banyak sekali kemudahan seperti ini", lanjutnya lagi.

"Gak lah, mana mungkin mimpi, Bu". Mentari tertawa.

"Memang rumah kamu dimana toh, Nduk? Ayah harus tetap bekerja, kalau rumahnya jauh, ya... Sulit". Bagas menjawab cepat.

"Nah, rumahnya itu..."

"kenapa?" tanya Bagas dan Laras berbarengan.

"Ayah tahu rumah yang ada di samping rumahnya Bulek Narti? Rumah orang kaya yang tidak ada yang tahu siapa pemiliknya itu, loh", Mentari menjelaskan.

"Iya, itu rumah besar banget, Nduk. Mulai dari pembangunan hingga selesai dan sudah diisi perabot pun, kita sebagai warga sini pun tidak tahu siapa pemiliknya ", Bagas menyahutinya.

"Nduk, jangan-jangan...?" nyaris suara Laras hilang.

"Iya, Bu. Itu rumah milikku". Sahut Mentari yang hampir menangis.

...****************...

...Rumah Narti...

Gendis baru pulang dari kerja, ia memberhentikan sepeda motornya di halaman rumah. Dia memperhatikan rumah mewah yang ada di samping rumah orangtuanya, tampak banyak pekerja disana. Gerbangnya terbuka dan banyak mobil keluar masuk membawa perabotan rumah yang mahal.

Gendis masih tinggal bersama orangtuanya, terkadang ia juga menginap di rumah mertuanya sesekali. Karena Reza belum membelikan ia rumah.

Sebenarnya ibu mertuanya pernah menjanjikan untuk membuatkan mereka rumah, namun hingga saat ini belum terealisasi. Bahkan mertuanya belum membahasnya lagi tentang pembelian rumah baru.

"Ibu, sini!" Gendis memanggil ibunya yang baru keluar dari rumah .

Tampak Narti sedang membenarkan rambutnya, buru-buru ia mendekati putrinya.

"Ada apa?" tanya Narti penasaran.

"Ibu lihat deh, rumah sebelah yang mewah itu, banyak orang yang bekerja dan mobil keluar masuk mengangkut barang-barang mewah. Nampaknya rumah itu akan ada yang menempati", Gendis memberitahu ibunya.

"Iya ibu, tadi juga sudah tahu saat keluar mau beli gula di warung. Sempat melihat rumahnya, karena Gerbangnya sedang dibuka jadi ibu tahu rumahnya itu bagus dan mewah. Tapi nampak sedang di bersihkan, mungkin rumahnya akan segera di tempati" kata Narti menanggapi.

"Aku jadi penasaran, siapa yang akan menempati rumah mewah ini? Selama inikan tidak ada orang yang tahu siapa pemilik rumah ini?" tanya Gendis penasaran.

Mereka penasaran dan juga sangat ingin berkenalan dengan pemilik rumah itu, yang pastinya orang kaya pemiliknya.

"Ibu juga penasaran, pasti penghuni barunya datang kemari dan berkenalan dengan kita", ujar Narti.

"Betul, Bu. Ayo coba kita lihat kesana yuk, siapa tahu kita bisa tahu pemiliknya siapa?" Gendis justru mengajak ibunya untuk melihat-lihat rumah itu. Dan mungkin mereka bisa bertanya pada salah satu pekerja yang ada disini untuk mengetahui siapa pemilik rumah itu.

Keduanya berjalan menuju rumah mewah itu. Kedua mata mereka berbinar saat melihat barang-barang mewah yang akan mengisi rumah tersebut.

"Jika, nanti aku sudah di belikan rumah oleh mertuaku. Maka, aku akan mengisi dengan perabotan dan elektronik mahal seperti itu!" ucap Gendis berangan-angan.

Dia sangat ngiler dengan forniture yang mewah dan serta elektronik yang mahal.

Terlihat TV sekitar 80 inch Yang kisrtan harganya 20 jutaan itu tengah diturunkan dari mobil pickup.

"Itu, TV nya besar banget! Ibu jadi kepengen, kira-kira berapa ya harganya?" kata Narti matanya tak lepas memandangi TV besar itu.

"Kalau ibu penasaran, bagaimana kalau kita tanya saja langsung sama mereka?" Ajak Gendis.

Narti mengangguk, dan mereka gegas berjalan menghampiri salah satu pekerja disana.

"Ini TV nya pasti mahal, harganya berapa, Mas?" tanya Narti pada salah satu pekerja disana yang ikut membantu menurunkan TV dari pickup.

"Mahal ini, Bu!" jawabnya.

"Emang berapa harganya? Dan harganya semahal apa?" cecar Narti.

"Tinggal jawab, susah banget sih!" Gendis menimpalinya.

" Sekitar 20 jutaan lah!" jawabnya.

" Mahal bangat, tapi Ibu kepengen punya Tv seperti ini juga" Narti ngiler melihat TV mahal itu. Dia juga pengen memiliki barang sama.

"Ngomong-ngomong disini banyak pekerja serta rumahnya di bersihkan. Apakah rumah ini akan segera ditempati?" Gendis bertanya pada pekerja yang lain.

"Iya Mbak, rumah ini akan segera ada yang menempati!" ucap pekerja yang mengenakan kaos biru.

" Siapa pemiliknya? Sepertinya pemiliknya belum pernah kemari. Kita sebagai tetangga saja tidak tahu siapa pemilik rumah ini". Gendis kembali bertanya.

"Orang kota Mbak, orangnya kaya sekali. Ini rumah adalah hadiah pernikahan untuk putranya". Ujar pekerja itu dan segera kembali masuk kerumah besar itu, karena masih banyak pekerjaan.

Tampak rumah itu akan segera di cat ulang.

"Hadiah pernikahan? Aku jadi iri deh, pasti mereka orang sangat kaya, Bu. Aku yang menikah dengan mas Reza saja tidak pernah mendapatkan hadiah semewah ini! Ujar Gendis sambil melipat kedua tangannya.

"Jangan di bandingkan dengan suamimu, kalah jauh! Beda level, Dis. Ini itu bukan orang kaya biasa, melainkan konglomerat atau sultan tau!" Narti cerocos terus.

Gendis merasa kesal saat ibunya bilang beda level. Bagaimana pun ia menjadi tersinggung.

Di tengah mereka sedang membahas kekayaan. Ada mobil mewah masuk halaman rumah mewah itu.

Keluarlah seorang pria muda tampan dari dalam mobil. Pria itu sekitar usia 20 tahun keatas.

Gendis terpesona dengan ketampanan pria itu. Narti gegas mendekati pria yang baru sja keluar dari mobil mewah itu.

"Kamu pasti pemilik rumah ini kan?" tanya Narti tanpa basa-basi.

"Benarkah pria ini adalah pemilik asli rumah ini? Dia sangat muda sekali!" Batin Narti.

"Maksudnya gimana?" pemuda itu tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Narti.

"Saya ini bertanya, apak kamu pemilik rumah ini? dan pengantin baru yang mendapatkan hadiah dari orangtuamu?" cecar Narti.

Pria itu malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Maaf Bu, ini bukan rumah saya. Saya datang kemari hanya mengantarkan mobil majikan!" ujar pria itu dan melirik ke arah mobil di sampingnya.

"Kenapa mobil ini mirip seperti seserahan yang di berikan untuk Mentari, Bu?" bisik Gendis pada ibunya.

Dia melihat plat putih mobilnya masih baru, dari tipe dan nomor mobil juga sama. Gendis masih mengingatnya.

"Kamu, serius?" Narti berharap ini tidaklah benar.

"Iya ini mobilnya, Bu!" ucap Gendis, tapi ia tidak ingin begitu mempercayainya.

"Aku masih ingat dengan nomor plat mobilnya Mentari ".

"Brarti memang betul Mentari di bohongi, mobil itu bukan seserahan untuk dia. Namun cuma hanya formalitas saja, dan bisa jadi ini rumah Pak Beni. Beliau kan kaya raya, jadi wajar jika ia membeli rumah lagi. Ternyata Mentari di tipu, kasihan banget ya!" ucap Narti lalu ia tertawa.

"Benarkan! Ternyata mobil ini milik Pak Beni. Dia orang paling kaya di Desa ini. Mungkin pemilik rumah mewah ini memang dia. Hanya saja dia tidak mau pamer, karena sudah memiliki beberapa rumah mewah lainnya". Cicit Gendis.

"Begitulah kalau benar-benar orang kaya, tidak mau pamer kekayaan. Sedangkan calon suaminya Mentari hanya pura-pura saja, makanya dia pamer!" ujar Narti.

"Jangan-jangan duit yang di buat mahar untuk Mentari, juga Palsu lagi?" Gendis menduga uang mahar Mentari itu Palsu.

"Kamu bener banget, Ibu juga yakin jika Mentari itu cuma hanya di tipu dan nanti sudah menikah dia hanya manfaatkan oleh keluarga suaminya mengurus putranya yang lumpuh itu. Sedangkan mereka jelas sepasang pembantu dan sopir yang memiliki anak yang lumpuh!" ucap Narti tertawa.

Tawa Narti terhenti, saat melihat Mentari dan kedua orangtuanya datang

...**************...

Terpopuler

Comments

Christina Hartini

Christina Hartini

panas gk ...panas gk hatimu Narti dan gendis melihat mentari dan ortunya sampai dirumah mewah mereka🤪

2025-01-04

0

Uchiha Itachi

Uchiha Itachi

Kagum banget! 😍

2024-09-12

0

lihat semua
Episodes
1 Calon Suami Lumpuh
2 Ejekan dari keluarga Part 1
3 Ejekan Dari Keluarga Part 2
4 Sifat keluarga besar yang di Luar Nurul
5 Hinaan dari Mantan
6 Akad Nikah Semua Orang Syok!!!
7 Tidak Ada Pelet!
8 Denok Kepo Uang Mahar Asli atau Palsu
9 Penasaran Dengan Pemilik Rumah Mewah
10 Melihat Rumah Baru
11 Obrolan Beni Dan Dirga
12 Pindahan
13 Tak Bisa Berkata-kata
14 Mega Terlalu Percaya Diri
15 Kejutan dari Dirga
16 Gendis mempermalukan dirinya sendiri.
17 Denok Shock
18 Dirga Cemburu
19 Anak Konglomerat
20 Identitas Dirga Sebenarnya
21 Memutus Kerja Sama
22 Berkunjung kerumah mertua
23 Bertengkar
24 Reza berusaha mendekati Mentari lagi
25 Peduli
26 Reza dan Gendis bertengkar
27 kebohongan
28 Di fitnah
29 Tamu tak diundang
30 Orang Asing yang tidak Penting
31 Perlawanan !
32 Meminta untuk Gadaikan SK
33 Ancaman Untuk Narti
34 Curiga
35 Mencecar Yanto
36 Mau terapi kembali
37 Narti bikin ulah
38 Di Serang Balik
39 Ines meminta bantuan Bella
40 Ancaman!!
41 Menginap
42 Misi Gagal
43 Di Bohongi Dewi
44 Mencari Cara
45 Di kerjain
46 Di Usir
47 Dirga Mulai Tertarik pada Mentari
48 Ingin Pinjam Uang
49 Sudah Salah, Masih Membela Diri!!
50 Bella di Hukum
51 Kata Sayang!!!
52 Menstalking
53 Kiriman Makana misterius
54 Gendis ketahuan
55 Pajangan Foto Segede gaban
56 Pindahan
57 Kecolongan
58 Gusar
59 Tak Punya Muka
60 Jemput Paksa
61 Bisa Berjalan Lagi
62 Mundur
63 Di fitnah
64 Bella di tolong Mentari
65 Makan malam
66 Menolak untuk membantu Ines
67 acara syukuran
68 Gagal
69 sudah di ujung tanduk
70 Mendatangi Rumah Mertua
71 Rencana Reno dan Soraya
72 Curhat
73 Keguguran
74 Menjenguk Gendis
75 Malam Pertama yang Tertunda
76 Meminta Maaf Pada Bella
77 Menggadaikan Sertifikat Rumah
78 Di Kira Hamil
79 Memeriksa CCTV
80 Tamu yang Mengejutkan
81 Ketahuan
82 Kecewa
83 Gendhis Masih belum berubah
84 Bersikap tegas
85 Bingung mencari bantuan
86 Terkena Adzab
87 Di Gadaikan Adik Ipar
88 Curiga
89 Ke Kota Bersama
90 Menawarkan Perabotan Rumah
91 Berunding
92 Ketahuan
93 Orangtua Ines Datang
94 Minta pertanggungjawaban
95 Grup WA
96 Datang ke kantor
97 Tak Sengaja Bertemu Teman SMP
98 Bernegosiasi
99 Pamer kekayaan
100 Mengantar Bekal Makan Siang
101 Jadi Bahan Hujatan Digrup Alumni
102 Ines sudah tidak waras
103 Tiga Persyaratan
104 Mengembalikan sertifikat
105 Gosip menyebar
106 Bertemu Temen Julid Lagi
107 Reunian
108 Semua orang tercengang
109 Mendatangi Rumah Mentari
110 Bertemu Ines di Mall
111 Alex kembali
112 Rencana perjodohan
113 Di paksa menerima lamaran Alex
114 Senjata makan tuan
115 Tidak percaya
116 Menghindar
117 Diskusi
118 Kembalinya Sang Mantan
119 Beratnya Syarat kedua dan ketiga
120 Rencana liburan
121 Ketemu dua demit
122 Mendorong motor
123 Nenek Lampir
124 Tiga bersaudara pergi ke rumah Bagas
125 Rencana Datang Kereunian Kampus
126 Tegasnya Laras
127 Ketahuan
128 Mempermalukan Ines
129 Pelakor tak punya malu
130 Bergosip
131 kecoak
132 selingkuh teriak selingkuh
133 Ketahuan.
134 Fitnah
135 Cinta boleh tapi jangan bodoh
136 Suka cari-cari masalah
137 Gosip beredar
138 Kehadiran Sang Nenek
139 Ancaman
140 Nenek julid
141 Di ajak ikut Arisan
142 Pamer kekayaan
143 Merasa tersaingi
144 Pertemuan yang tidak sengaja
145 Perdebatan yang cukup alot
146 Membeli perhiasan baru
147 Caper
148 Mencoba mempengaruhi Bagas Kemabli
149 Kedatangan Seruni ke Desa
150 Mengajak Mira tinggal bersama
151 Fira hamil
152 Pencuri sebenarnya
153 Laras di fitnah
154 Ingin pinjam mobil
155 Rencana mestop uang jatah
156 meminta bantuan pada Reza
157 Bertengkar
158 Narti mencoba menghasut Bagas
159 Menolak dijodohkan
160 Resepsi pernikahan Ines dan Alex
161 Gendhis belum bisa move on
162 Puspa berusaha membujuk Heny
163 seperti roller coaster
164 dengan tegas menolak
165 Mahar lima ratus ribu
166 memaksakan ingin mengadakan resepsi
167 Pinjam uang
168 berkunjung ke rumahnya Farhan
169 Minta dinikahi secepatnya
170 Tidak menginginkan anak-anak Farhan
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Calon Suami Lumpuh
2
Ejekan dari keluarga Part 1
3
Ejekan Dari Keluarga Part 2
4
Sifat keluarga besar yang di Luar Nurul
5
Hinaan dari Mantan
6
Akad Nikah Semua Orang Syok!!!
7
Tidak Ada Pelet!
8
Denok Kepo Uang Mahar Asli atau Palsu
9
Penasaran Dengan Pemilik Rumah Mewah
10
Melihat Rumah Baru
11
Obrolan Beni Dan Dirga
12
Pindahan
13
Tak Bisa Berkata-kata
14
Mega Terlalu Percaya Diri
15
Kejutan dari Dirga
16
Gendis mempermalukan dirinya sendiri.
17
Denok Shock
18
Dirga Cemburu
19
Anak Konglomerat
20
Identitas Dirga Sebenarnya
21
Memutus Kerja Sama
22
Berkunjung kerumah mertua
23
Bertengkar
24
Reza berusaha mendekati Mentari lagi
25
Peduli
26
Reza dan Gendis bertengkar
27
kebohongan
28
Di fitnah
29
Tamu tak diundang
30
Orang Asing yang tidak Penting
31
Perlawanan !
32
Meminta untuk Gadaikan SK
33
Ancaman Untuk Narti
34
Curiga
35
Mencecar Yanto
36
Mau terapi kembali
37
Narti bikin ulah
38
Di Serang Balik
39
Ines meminta bantuan Bella
40
Ancaman!!
41
Menginap
42
Misi Gagal
43
Di Bohongi Dewi
44
Mencari Cara
45
Di kerjain
46
Di Usir
47
Dirga Mulai Tertarik pada Mentari
48
Ingin Pinjam Uang
49
Sudah Salah, Masih Membela Diri!!
50
Bella di Hukum
51
Kata Sayang!!!
52
Menstalking
53
Kiriman Makana misterius
54
Gendis ketahuan
55
Pajangan Foto Segede gaban
56
Pindahan
57
Kecolongan
58
Gusar
59
Tak Punya Muka
60
Jemput Paksa
61
Bisa Berjalan Lagi
62
Mundur
63
Di fitnah
64
Bella di tolong Mentari
65
Makan malam
66
Menolak untuk membantu Ines
67
acara syukuran
68
Gagal
69
sudah di ujung tanduk
70
Mendatangi Rumah Mertua
71
Rencana Reno dan Soraya
72
Curhat
73
Keguguran
74
Menjenguk Gendis
75
Malam Pertama yang Tertunda
76
Meminta Maaf Pada Bella
77
Menggadaikan Sertifikat Rumah
78
Di Kira Hamil
79
Memeriksa CCTV
80
Tamu yang Mengejutkan
81
Ketahuan
82
Kecewa
83
Gendhis Masih belum berubah
84
Bersikap tegas
85
Bingung mencari bantuan
86
Terkena Adzab
87
Di Gadaikan Adik Ipar
88
Curiga
89
Ke Kota Bersama
90
Menawarkan Perabotan Rumah
91
Berunding
92
Ketahuan
93
Orangtua Ines Datang
94
Minta pertanggungjawaban
95
Grup WA
96
Datang ke kantor
97
Tak Sengaja Bertemu Teman SMP
98
Bernegosiasi
99
Pamer kekayaan
100
Mengantar Bekal Makan Siang
101
Jadi Bahan Hujatan Digrup Alumni
102
Ines sudah tidak waras
103
Tiga Persyaratan
104
Mengembalikan sertifikat
105
Gosip menyebar
106
Bertemu Temen Julid Lagi
107
Reunian
108
Semua orang tercengang
109
Mendatangi Rumah Mentari
110
Bertemu Ines di Mall
111
Alex kembali
112
Rencana perjodohan
113
Di paksa menerima lamaran Alex
114
Senjata makan tuan
115
Tidak percaya
116
Menghindar
117
Diskusi
118
Kembalinya Sang Mantan
119
Beratnya Syarat kedua dan ketiga
120
Rencana liburan
121
Ketemu dua demit
122
Mendorong motor
123
Nenek Lampir
124
Tiga bersaudara pergi ke rumah Bagas
125
Rencana Datang Kereunian Kampus
126
Tegasnya Laras
127
Ketahuan
128
Mempermalukan Ines
129
Pelakor tak punya malu
130
Bergosip
131
kecoak
132
selingkuh teriak selingkuh
133
Ketahuan.
134
Fitnah
135
Cinta boleh tapi jangan bodoh
136
Suka cari-cari masalah
137
Gosip beredar
138
Kehadiran Sang Nenek
139
Ancaman
140
Nenek julid
141
Di ajak ikut Arisan
142
Pamer kekayaan
143
Merasa tersaingi
144
Pertemuan yang tidak sengaja
145
Perdebatan yang cukup alot
146
Membeli perhiasan baru
147
Caper
148
Mencoba mempengaruhi Bagas Kemabli
149
Kedatangan Seruni ke Desa
150
Mengajak Mira tinggal bersama
151
Fira hamil
152
Pencuri sebenarnya
153
Laras di fitnah
154
Ingin pinjam mobil
155
Rencana mestop uang jatah
156
meminta bantuan pada Reza
157
Bertengkar
158
Narti mencoba menghasut Bagas
159
Menolak dijodohkan
160
Resepsi pernikahan Ines dan Alex
161
Gendhis belum bisa move on
162
Puspa berusaha membujuk Heny
163
seperti roller coaster
164
dengan tegas menolak
165
Mahar lima ratus ribu
166
memaksakan ingin mengadakan resepsi
167
Pinjam uang
168
berkunjung ke rumahnya Farhan
169
Minta dinikahi secepatnya
170
Tidak menginginkan anak-anak Farhan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!