Melihat Rumah Baru

...Rumah Mentari...

Mentari dan kedua orangtuanya kaget saat mengetahui ada Narti dan Gendis berada di rumah barunya Mentari.

"Kalian, mau ngapain datang kemari?" tanya Narti, gegas menghampiri mereka bertiga.

"Palingan Mentari mau datang melamar sebagai pembantu dirumah ini, Bu. Karena sekarangkan Mentari harus kerja extra keras untuk menghidupi suaminya yang lumpuh itu!" ucap Gendis menghina ya.

Perkataan mereka membuat darah Mentari mendidih, jika bertemu manusi julid ini. Bagaimana tidak emosi, jika bertemu mereka yang ia dapat pasti adalah sebuah penghinaan. Mungkin mulut mereka gatal jika sehari saja tidak menghina orang lain.

"Benar apa yang di katakan Gendis? Kalian datang kemari untuk melamar jadi pembantu?" cecar Narti dengan sisi bibir atasnya sedikit naik.

"Tapi pemilik rumah ini belum datang, coba kamu melamar kerja sama yang lain. Atau kamu mau jadi pembantu di rumah saja. Nanti Bulek akan bayar tujuh ratus ribu perbulan, itung-itung membantu kamu agar bisa menafkahi suamimu sang lumpuh", sambung Narti dengan congkak.

"Jaga ucapanmu, Narti! Kata-katamu sudah sangat keterlaluan!" Bagas membentak adiknya .

Mereka sudah sangat keterlaluan. Mereka mengira ia akan bekerja sebagai pembantu dirumahnya sendiri.

Mentari datang kesana mengajak kedua orangtuanya untuk melihat rumah yang di telah di hadiahkan oleh suaminya.

Dita menyuruh Mentari datang kerumah itu, untuk mengecek apakah pekerjaan disana berjalan dengan lancar. Karena rumah itu sudah mulai diisi dengan berbagai furniture dan beberapa elektronik.

Rumah mewah yang di berikan oleh suaminya itu, bersebelahan dengan rumah Buleknya yang tukang nyinyir itu.

Akan tetapi Mentari tidak menyangka akan bertemu dengan Narti dan Gendis. Entah kenapa keduanya bisa datang, atau mereka hanya ingin tahu siapa pemilik rumah ini. Mentari sudah hafal dengan sifat saudara dari ayahnya itu, yang selalu kepo dengan urusan orang lain.

"Kamu gak perlu bentak-bentak aku, Mas! Apa yang aku katakan memang benar, kamu hanya mengantarkan mentari untuk datang kemari untuk bekerja. Gak perlu ditutupi lagi, kami semua sudah tahu jika mahar yang di terima Mentari itu hanya milik kakaknya pak Beni. Karena orangtua suaminya Mentari bekerja sebagai pembantu di sana". Cicit Narti.

"Hanya karena ingin mendapatkan pujian, keluarga suamimu rela mengemis pada Kakaknya Pak Beni untuk meminjamkan uang dan mobil. Karena semua yang ia berikan, nanti akan di minta lagi kan?" timpal Gendis.

"Apa yang kamu katakan, Gendis? Apakah kebencian sudah menguasai hatimu? sehingga kalian selalu berfikiran buruk pada orang lain. Aku tidak pernah meminta kepada kalian untuk percaya, karena jika kalian mengetahui fakta sebenarnya pun, tidak akan pernah mempercayainya!" Mentari merasa jengah.

Narti dan Gendis saling pandang.

"Halah! Kamu bicara apa, fakta apa yang kamu maksud? Sampai kapanpun, kami tidak akan mempercayai seserahan yang di berikan oleh suamimu itu. Sebegitu nya pengen terlihat kaya sampai melakukan kebohongan. Semua warga desa ini juga tahu, kalau seserahan yang kamu terima itu tipu-tipu!" Narti masih terus menyudutkan Mentari sebagai pembohong.

"Terserah Bulek, mau bicara apa. Yah, Bu, ayo kita masuk melihat rumah ini". Ajak Mentari.

Laras mengangguk dan mengikuti apa yang dikatakan oleh Putrinya. Ia juga tidak mau berdebat dengan Narti yang membuat kepala jadi pusing dan juga membuang-buang waktu saja.

Mentari langsung menggandeng tangan kedua orangtuanya. Bagas yang tadinya ingin bicara, mengurungkan niatnya. Ia juga tidak mau meladeni omongannya Narti.

"Diajak ngomong malah melengos, sombong sekali! orang miskin ini mau kemana kalian, jangan asal masuk rumah orang!" teriak Narti yang kepanasan karena di acuhkan.

"mau lihat rumah baru yang diberikan oleh suamiku!" sahut Mentari.

Narti dan Gendis langsung tertawa dengan keras, saat Mentari bilang jika rumah mewah itu adalah hadiah dari suaminya.

"Mimpi kamu, mana mungkin ini rumahmu!" kekeh Gendis.

"Kamu ingatkan mahar yang di berikan oleh suamiku, salah satunya rumah. Ini adalah rumahnya!" ucap Mentari.

Mentari sengaja berkata seperti itu, agar dua manusia di hadapannya itu hatinya semakin kepanasan.

Jantung Gendis semakin berdebar. Ia bertanya dalam hatinya, ucapan Mentari apakah benar? Namum, ia tak ingin mempercayainya begitu saja.

"Tidak mungkin, omong kosong apa ini! Sudahlah, Dis. Kamu tidak usah percaya sama dia", ucap Narti.

"Haha... Kamu iri, kan?" ucap Mentari menaikkan sebelah alisnya.

Lucu juga, memperhatikan ibu dan anak itu semakin iri dan dengki terhadapnya.

"Hahaha... Aku iri sama kamu? tidak mungkinlah, Mentari!" ujar Gendis, meskipun sudah terlihat jelas dari raut wajahnya yang menunjukkan keresahan dihatinya.

Amanda tersenyum saja, membuat ibu dan anak itu semakin tambah kesal.

"Dalam waktu dekat kita segera menempati rumah ini. Ayah dan ibu harus melihat kedalam dan memilih kamar sendiri untuk di tempati nantinya." Ujar mentari yang meminta Ayah dan ibunya untuk memilih kamar.

Mentari sengaja berbicara dengan suara yang cukup keras. Sehingga membuat Narti dan Gendis tidak ingin beranjak dari tempat mereka berdiri saat ini.

"Ini pasti hanya omong kosong! Dis, ayo kita pulang!" ajak Narti.

"Iya Bu, mereka pasti sengaja memanas-manasi kita. Aku tidak akan percaya dengan ucapan Mentari". Ujar Mentari.

"Sama, ibu juga tidak percaya. Sudah jelas mereka akan jadi babu di rumah itu. kalau tidur itu jangan terlalu miring, mimpi kalian itu terlalu tinggi. Berharap jadi majikan? Cuihhh... muka kalian itu mukanya orang susah, jadi kalian tidak pantas jadi orang kaya!" pekik Narti yang sudah tidak bisa mengendalikan sikapnya.

Mulutnya begitu ringan ketika mengatakan hal buruk kepada saudara kandungnya.

"Astaghfirullah Narti, kenapa mulutnya sangat kejam sekali, jika menghina keluarga kita?", Bagas mengelus dada.

Entah sampai kapan saudaranya itu berubah menjadi lebih baik.

"Iya Yah, adikmu itu sudah sangat keterlaluan. Rasanya memang kita harus berpura-pura tuli saat mendengar ucapannya, karena perkataannya itu nyelekit di hati!" ucap Laras.

"Biarkan saja Yah, Bu. Bulek Narti itu dirinya sedang kepanasan, dirinya merasa iri, dan San Denial!" ucap Mentari terkekeh.

"Apa itu artinya, Nduk?" tanya Laras.

"Artinya itu menyangkal atau menolak fakta yang sudah terpampang nyata di depan mata", jawab Mentari.

"Oh...", ucap keduanya.

...****************...

Mentari mengambil foto dirinya dengan ponselnya di ruang tamu yang luas di rumah barunya. Disain dan interior rumahnya terlihat estetik.

Karena beberapa bulan yang lalu Dita sudah menyewa jasa disain interior.

Tak lupa Mentari memposting fotonya di sosial media miliknya. Ia tahu jika perbuatannya itu akan mengundang banyak komentar, baik itu komentar bahagia atau mencibirnya.

Mentari tak mau ambil pusing. Sesekali ia harus memperlihatkan kebahagiaan di sosial media. Agar orang-orang yang menghinanya berhenti menghujat.

Walaupun saat ini Dita belum mengungkap identitasnya dan putranya yang seorang konglomerat. Dita akan mengungkap semuanya dan putranya sebagai pewaris tunggal di acara resepsi pernikahan Mentari dan putranya nanti.

...****************...

Terpopuler

Comments

Ajeng Pertiwi

Ajeng Pertiwi

sebentar namanya Amanda...sebentar ganti mentari... aku jd nggak suka typo kayak gini.

2024-11-04

3

Christina Hartini

Christina Hartini

Mentari akan berkibar sungguhan, biar orang² yg julid padanya tambah panas😜

2025-01-04

0

Ay400

Ay400

lanjut

2024-09-14

0

lihat semua
Episodes
1 Calon Suami Lumpuh
2 Ejekan dari keluarga Part 1
3 Ejekan Dari Keluarga Part 2
4 Sifat keluarga besar yang di Luar Nurul
5 Hinaan dari Mantan
6 Akad Nikah Semua Orang Syok!!!
7 Tidak Ada Pelet!
8 Denok Kepo Uang Mahar Asli atau Palsu
9 Penasaran Dengan Pemilik Rumah Mewah
10 Melihat Rumah Baru
11 Obrolan Beni Dan Dirga
12 Pindahan
13 Tak Bisa Berkata-kata
14 Mega Terlalu Percaya Diri
15 Kejutan dari Dirga
16 Gendis mempermalukan dirinya sendiri.
17 Denok Shock
18 Dirga Cemburu
19 Anak Konglomerat
20 Identitas Dirga Sebenarnya
21 Memutus Kerja Sama
22 Berkunjung kerumah mertua
23 Bertengkar
24 Reza berusaha mendekati Mentari lagi
25 Peduli
26 Reza dan Gendis bertengkar
27 kebohongan
28 Di fitnah
29 Tamu tak diundang
30 Orang Asing yang tidak Penting
31 Perlawanan !
32 Meminta untuk Gadaikan SK
33 Ancaman Untuk Narti
34 Curiga
35 Mencecar Yanto
36 Mau terapi kembali
37 Narti bikin ulah
38 Di Serang Balik
39 Ines meminta bantuan Bella
40 Ancaman!!
41 Menginap
42 Misi Gagal
43 Di Bohongi Dewi
44 Mencari Cara
45 Di kerjain
46 Di Usir
47 Dirga Mulai Tertarik pada Mentari
48 Ingin Pinjam Uang
49 Sudah Salah, Masih Membela Diri!!
50 Bella di Hukum
51 Kata Sayang!!!
52 Menstalking
53 Kiriman Makana misterius
54 Gendis ketahuan
55 Pajangan Foto Segede gaban
56 Pindahan
57 Kecolongan
58 Gusar
59 Tak Punya Muka
60 Jemput Paksa
61 Bisa Berjalan Lagi
62 Mundur
63 Di fitnah
64 Bella di tolong Mentari
65 Makan malam
66 Menolak untuk membantu Ines
67 acara syukuran
68 Gagal
69 sudah di ujung tanduk
70 Mendatangi Rumah Mertua
71 Rencana Reno dan Soraya
72 Curhat
73 Keguguran
74 Menjenguk Gendis
75 Malam Pertama yang Tertunda
76 Meminta Maaf Pada Bella
77 Menggadaikan Sertifikat Rumah
78 Di Kira Hamil
79 Memeriksa CCTV
80 Tamu yang Mengejutkan
81 Ketahuan
82 Kecewa
83 Gendhis Masih belum berubah
84 Bersikap tegas
85 Bingung mencari bantuan
86 Terkena Adzab
87 Di Gadaikan Adik Ipar
88 Curiga
89 Ke Kota Bersama
90 Menawarkan Perabotan Rumah
91 Berunding
92 Ketahuan
93 Orangtua Ines Datang
94 Minta pertanggungjawaban
95 Grup WA
96 Datang ke kantor
97 Tak Sengaja Bertemu Teman SMP
98 Bernegosiasi
99 Pamer kekayaan
100 Mengantar Bekal Makan Siang
101 Jadi Bahan Hujatan Digrup Alumni
102 Ines sudah tidak waras
103 Tiga Persyaratan
104 Mengembalikan sertifikat
105 Gosip menyebar
106 Bertemu Temen Julid Lagi
107 Reunian
108 Semua orang tercengang
109 Mendatangi Rumah Mentari
110 Bertemu Ines di Mall
111 Alex kembali
112 Rencana perjodohan
113 Di paksa menerima lamaran Alex
114 Senjata makan tuan
115 Tidak percaya
116 Menghindar
117 Diskusi
118 Kembalinya Sang Mantan
119 Beratnya Syarat kedua dan ketiga
120 Rencana liburan
121 Ketemu dua demit
122 Mendorong motor
123 Nenek Lampir
124 Tiga bersaudara pergi ke rumah Bagas
125 Rencana Datang Kereunian Kampus
126 Tegasnya Laras
127 Ketahuan
128 Mempermalukan Ines
129 Pelakor tak punya malu
130 Bergosip
131 kecoak
132 selingkuh teriak selingkuh
133 Ketahuan.
134 Fitnah
135 Cinta boleh tapi jangan bodoh
136 Suka cari-cari masalah
137 Gosip beredar
138 Kehadiran Sang Nenek
139 Ancaman
140 Nenek julid
141 Di ajak ikut Arisan
142 Pamer kekayaan
143 Merasa tersaingi
144 Pertemuan yang tidak sengaja
145 Perdebatan yang cukup alot
146 Membeli perhiasan baru
147 Caper
148 Mencoba mempengaruhi Bagas Kemabli
149 Kedatangan Seruni ke Desa
150 Mengajak Mira tinggal bersama
151 Fira hamil
152 Pencuri sebenarnya
153 Laras di fitnah
154 Ingin pinjam mobil
155 Rencana mestop uang jatah
156 meminta bantuan pada Reza
157 Bertengkar
158 Narti mencoba menghasut Bagas
159 Menolak dijodohkan
160 Resepsi pernikahan Ines dan Alex
161 Gendhis belum bisa move on
162 Puspa berusaha membujuk Heny
163 seperti roller coaster
164 dengan tegas menolak
165 Mahar lima ratus ribu
166 memaksakan ingin mengadakan resepsi
167 Pinjam uang
168 berkunjung ke rumahnya Farhan
169 Minta dinikahi secepatnya
170 Tidak menginginkan anak-anak Farhan
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Calon Suami Lumpuh
2
Ejekan dari keluarga Part 1
3
Ejekan Dari Keluarga Part 2
4
Sifat keluarga besar yang di Luar Nurul
5
Hinaan dari Mantan
6
Akad Nikah Semua Orang Syok!!!
7
Tidak Ada Pelet!
8
Denok Kepo Uang Mahar Asli atau Palsu
9
Penasaran Dengan Pemilik Rumah Mewah
10
Melihat Rumah Baru
11
Obrolan Beni Dan Dirga
12
Pindahan
13
Tak Bisa Berkata-kata
14
Mega Terlalu Percaya Diri
15
Kejutan dari Dirga
16
Gendis mempermalukan dirinya sendiri.
17
Denok Shock
18
Dirga Cemburu
19
Anak Konglomerat
20
Identitas Dirga Sebenarnya
21
Memutus Kerja Sama
22
Berkunjung kerumah mertua
23
Bertengkar
24
Reza berusaha mendekati Mentari lagi
25
Peduli
26
Reza dan Gendis bertengkar
27
kebohongan
28
Di fitnah
29
Tamu tak diundang
30
Orang Asing yang tidak Penting
31
Perlawanan !
32
Meminta untuk Gadaikan SK
33
Ancaman Untuk Narti
34
Curiga
35
Mencecar Yanto
36
Mau terapi kembali
37
Narti bikin ulah
38
Di Serang Balik
39
Ines meminta bantuan Bella
40
Ancaman!!
41
Menginap
42
Misi Gagal
43
Di Bohongi Dewi
44
Mencari Cara
45
Di kerjain
46
Di Usir
47
Dirga Mulai Tertarik pada Mentari
48
Ingin Pinjam Uang
49
Sudah Salah, Masih Membela Diri!!
50
Bella di Hukum
51
Kata Sayang!!!
52
Menstalking
53
Kiriman Makana misterius
54
Gendis ketahuan
55
Pajangan Foto Segede gaban
56
Pindahan
57
Kecolongan
58
Gusar
59
Tak Punya Muka
60
Jemput Paksa
61
Bisa Berjalan Lagi
62
Mundur
63
Di fitnah
64
Bella di tolong Mentari
65
Makan malam
66
Menolak untuk membantu Ines
67
acara syukuran
68
Gagal
69
sudah di ujung tanduk
70
Mendatangi Rumah Mertua
71
Rencana Reno dan Soraya
72
Curhat
73
Keguguran
74
Menjenguk Gendis
75
Malam Pertama yang Tertunda
76
Meminta Maaf Pada Bella
77
Menggadaikan Sertifikat Rumah
78
Di Kira Hamil
79
Memeriksa CCTV
80
Tamu yang Mengejutkan
81
Ketahuan
82
Kecewa
83
Gendhis Masih belum berubah
84
Bersikap tegas
85
Bingung mencari bantuan
86
Terkena Adzab
87
Di Gadaikan Adik Ipar
88
Curiga
89
Ke Kota Bersama
90
Menawarkan Perabotan Rumah
91
Berunding
92
Ketahuan
93
Orangtua Ines Datang
94
Minta pertanggungjawaban
95
Grup WA
96
Datang ke kantor
97
Tak Sengaja Bertemu Teman SMP
98
Bernegosiasi
99
Pamer kekayaan
100
Mengantar Bekal Makan Siang
101
Jadi Bahan Hujatan Digrup Alumni
102
Ines sudah tidak waras
103
Tiga Persyaratan
104
Mengembalikan sertifikat
105
Gosip menyebar
106
Bertemu Temen Julid Lagi
107
Reunian
108
Semua orang tercengang
109
Mendatangi Rumah Mentari
110
Bertemu Ines di Mall
111
Alex kembali
112
Rencana perjodohan
113
Di paksa menerima lamaran Alex
114
Senjata makan tuan
115
Tidak percaya
116
Menghindar
117
Diskusi
118
Kembalinya Sang Mantan
119
Beratnya Syarat kedua dan ketiga
120
Rencana liburan
121
Ketemu dua demit
122
Mendorong motor
123
Nenek Lampir
124
Tiga bersaudara pergi ke rumah Bagas
125
Rencana Datang Kereunian Kampus
126
Tegasnya Laras
127
Ketahuan
128
Mempermalukan Ines
129
Pelakor tak punya malu
130
Bergosip
131
kecoak
132
selingkuh teriak selingkuh
133
Ketahuan.
134
Fitnah
135
Cinta boleh tapi jangan bodoh
136
Suka cari-cari masalah
137
Gosip beredar
138
Kehadiran Sang Nenek
139
Ancaman
140
Nenek julid
141
Di ajak ikut Arisan
142
Pamer kekayaan
143
Merasa tersaingi
144
Pertemuan yang tidak sengaja
145
Perdebatan yang cukup alot
146
Membeli perhiasan baru
147
Caper
148
Mencoba mempengaruhi Bagas Kemabli
149
Kedatangan Seruni ke Desa
150
Mengajak Mira tinggal bersama
151
Fira hamil
152
Pencuri sebenarnya
153
Laras di fitnah
154
Ingin pinjam mobil
155
Rencana mestop uang jatah
156
meminta bantuan pada Reza
157
Bertengkar
158
Narti mencoba menghasut Bagas
159
Menolak dijodohkan
160
Resepsi pernikahan Ines dan Alex
161
Gendhis belum bisa move on
162
Puspa berusaha membujuk Heny
163
seperti roller coaster
164
dengan tegas menolak
165
Mahar lima ratus ribu
166
memaksakan ingin mengadakan resepsi
167
Pinjam uang
168
berkunjung ke rumahnya Farhan
169
Minta dinikahi secepatnya
170
Tidak menginginkan anak-anak Farhan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!