Gendis mempermalukan dirinya sendiri.

Gendis menyilangkan kedua tangannya. Sebuah kebetulan mereka bertemu di mall. Dari tatapan Gendis sangat jelas terlihat menyiratkan kebencian.

Semenjak menikah, Mentari benar-benar berubah dari segi penampilan juga.

"Ada apa, Dis?" seorang wanita yang juga berpenampilan modis seperti Gendis menghampirinya.

"Ini loh, San. Ada orang miskin yang sedang belanja di mall. Aku memperingatkan mereka, agar tidak celamitan! dan memegang pakaian disini sembarangan. Karena harganya sangat mahal. Ditakutkan nanti rusak, sedangkan mereka tidak punya uang untuk menggantinya ", jelas Gendis pada temannya yang bernama Sandra.

Mira mengepalkan kedua tangannya saat mendengar apa yang di katakan oleh Gendis. Andai disini bukan di tempat yang ramai, Mira sudah ingin meremas mulut Gendis yang lemes itu.

Sepupunya yang sombong itu, selalu saja berusaha untuk menghina keluarga mereka.

"Apa yang kamu katakan? Kami tidak punya uang?" ucapan Mentari berseru tepat di depan muka Gendis.

"Kenapa? Kamu tidak terima dengan apa yang aku katakan? Kenyataannya memang seperti itu. Kalian itu tidak mampu, jangan sampai merusak barang yang ada disini. Tindakan kalian bisa membuat malu!".

Mentari tidak terima, karena Gendis yang hobinya suka menghina dan merendahkan keluarganya.

"Kita datang kemari tentu saja kami membawa uang. Sepertinya, kamu sangat busuk hati dengan apa yang kamu lakukan! Ingat Gendis, bukan hanya kamu yang bisa belanja disini", timpal Mentari.

"Aku, sedang memperingatkan kalian. Jangan sensi dong! Harusnya kalian berterimakasih padaku!" ujar Gendis yang sama sekali tidak pernah merasa salah dengan apa yang dia katakan pada Mentari dak keluarganya.

"Mengingatkan itu adanya! Sedangkan kamu itu tidak memperingatkan , namun kamu berniat ingin mempermalukan kami. Tapi sayang, sekarang tidak akan mempan lagi!" Mentari menunjuk-nunjuk wajah Gendis.

Membuat wanita yang sedang hamil muda itu melotot.

"Urusi saja kehidupanmu. Jangan pernah mencampuri kehidupanku. Sekali lagi kamu mengetakan hal yang buruk tentang keluargaku, aku akan membalas mu!" ucapan Mentari tepat di hadapan wajah sepupunya, yang rupanya cukup gentar menghadapi sikap tegas Mentari.

Mentari mengajak ibu dan adiknya untuk menjauh.

"Kamu tidak apa-apa?" Sandra bertanya pada Gendis yang terlihat masih terdiam.

"Tidak! Mana mungkin, aku takut dengan mereka. Biarkan saja nanti mereka akan dipermalukan pada bagian kasir, karena tidak bisa membayar belanjaannya .Mereka pikir pakaian disini harga murah? Hahaha...! Bahkan harga satu potong pakaian disini bisa sebanyak gaji Mentari selama dua bulan!"

"Apakah dia, saudara sepupumu yang menikah dengan pria lumpuh?" tanya Sandra.

Gendis yang hobinya menggosipkan tentang Mentari yang menikah dengan pria lumpuh. Seakan dia bangga bahwa Mentari mendapatkan jodoh yang memiliki kekurangan.

"Benar, dia adalah saudaraku yang menikah dengan pria lumpuh. Mereka itu berpura-pura kaya seperti yang aku ceritakan padamu kemarin. Mungkin untuk melancarkan aksi tipu-tipu nya, mereka sengaja membeli pakaian disini agar semakin di percaya!" cicit Gendis.

"Tidak heran lagi! Sekarang banyak orang yang ingin terlihat kaya, namun aslinya melarat. Miris sekali!" imbuh Sandra.

mereka berdua berlalu untuk melihat pakaian kembali.

...****************...

"Maaf kak, kartu ATM ini tidak bisa di gunakan. Karena saldonya nol rupiah", kasir mengembalikan kartu ATM milik Gendis.

Gendis langsung shock! Mana mungkin tidak ada saldonya. Jelas sang suami memberikan kartu ATM padanya dan memerintahkan untuk belanja sepuasnya.

"Maaf kak, kartu ini memang tidak ada saldonya" ucap kasir kembali.

Gendis menatap Sandra yang sedang menunggu dirinya. Sandra sudah membayar belanjaannya terlebih dahulu.

Gendis kesal dengan apa yang dikatakan oleh kasir. Kenapa bisa ATM yang diberi suaminya

tidak ada saldo sama sekali. Dengan cepat Gendis merogoh tasnya mengambil ponselnya untuk menghubungi Reza.

"Halo, Mas!" panggil Gendis saat sambungan teleponnya dia angkat Reza.

"Kenapa kamu telpon? Nanti saja, Mas sedang bekerja!" ucap Reza yang hendak mengakhiri sambungan teleponnya.

"Tidak bisa Mas! Kamu harus mendengarkan aku!" bentak Gendis agar suaminya tidak memutus panggilan telponnya.

"Oke, lima menit. Tunggu sebentar, Mas mau menjauh dari yang lain", ujar Reza.

Gendis kembali menoleh pada kasir dan pengunjung yang lain menatapnya.

Dia sedikit menjauh dan membiarkan yang lain membayar terlebih dahulu.

"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Reza saat berada di tempat yang sunyi.

"Mas, aku sekarang berada di mall. Kartu ATM yang kamu berikan padaku itu tidak ada saldonya, Mas! Aku malu sekali karena mau membayar barang belanjaan pada kasir, tapi saldo di ATM mu saldonya nol!" jelas Gendis sembari menahan sesak agar tidak menangis.

Kejadian ini membuatnya tidak tahan. Karena ini sama saja di permalukan di tempat umum.

"Mas, lupa bilang padamu sayang. Kalau Mas tidak jadi mengirim uang ke ATM itu. karena uangnya dipinjam Mama!" jelas Reza.

Emosi Gendis semakin menggelegar. Jika, Reza saat ini ada dihadapannya. Gendis pasti sudah murka.

"Apa? Di pinjam Mama. Sejak kapan kamu meminjamkan uang pada Mamamu tanpa izin dariku? Sekarang, aku yang harus menanggung malu dari perbuatanmu!" pekik Gendis.

Tingkahnya semakin menjadi pusat perhatian. Sandra jadi malu sendiri melihatnya.

"Mama lebih butuh uang itu, dia mau membeli mobil baru. Mama meminta bantuan Mas untuk memberikan tambahan uang DP", jelas Reza.

Hati Gendis semakin sakit mendengar jawaban Reza. Mama mertuanya mau membeli mobil baru. Sedangkan dia sudah beberapa kali meminta agar di belikan mobil dan rumah. Namun, mertua Gendis tidak pernah mewujudkan keinginan Gendis. Justru saat ini Mama mertuanya yang mendapatkan mobil baru itu.

Gendis frustasi dan ingin membanting ponselnya. Namun ia berusaha untuk meredam emosinya. Tangan Gendis meremas ponselnya dengan kuat. Ia menghela nafas panjang.

Gendis mendekati Sandra. Ia berniat untuk meminjam uang.

"San, aku pinjam uangmu dulu boleh? Nanti suamiku akan menggantinya. ATM yang diberikan kepadaku bermasalah!" bisik Gendis meminta bantuan Sandra.

"Maaf aku tidak bisa membantumu!" Sandra langsung menolak.

"Ayolah, San. Sekali ini saja! Kamu pasti punya uang untuk membayar belanjaan ku. Hanya 10 juta saja", Gendis memohon.

Akan tetapi, Sandra bukanlah teman yang mudah meminjamkan uang pada orang lain. Sekalipun itu adalah teman dekatnya.

"Kamu kembalikan saja pakaian itu, daripada memaksa membelinya. Aku tidak punya uang sebanyak yang kamu minta!" jawab Sandra.

"Kamu ini pelit sekali, kenapa tidak percaya sekali padaku? Kamu kan tahu, jika suamiku itu polisi dan mertuaku sangat kaya raya. Jadi uang 10 juta itu kecil bagi mereka!" ucap Gendis menyombongkan diri .

"Maaf Gendis, sekali lagi aku tidak bisa membantumu. Terserah kamu mau bilang apa!" Sandra lalu pergi meninggalkan Gendis begitu saja.

Gendis tidak menyangka bawa Sandra begitu tega pada dirinya. Tenan yang tak bisa di andalkan. Dia yakin bahwa sandi memiliki banyak uang.

Mentari beserta ibu dan adiknya menuju kasir. Kedatangan mereka menarik perhatian Gendis. Mira menyodorkan kartu berwarna hitam pada kasir. Membuat kedua bola mata Gendis langsung melotot. Kartu hitam itu hanya dimiliki nasabah prioritas.

kenapa bisa Mira memilikinya?

Terpopuler

Comments

febby fadila

febby fadila

mending minta pinjaman sama mentari aja deee 😂😂

2024-12-08

0

Les Tary

Les Tary

Ed dah masa diATM gendis ga ada duitnya ga tahu kan tinggal di hp banking😭

2024-11-05

1

lihat semua
Episodes
1 Calon Suami Lumpuh
2 Ejekan dari keluarga Part 1
3 Ejekan Dari Keluarga Part 2
4 Sifat keluarga besar yang di Luar Nurul
5 Hinaan dari Mantan
6 Akad Nikah Semua Orang Syok!!!
7 Tidak Ada Pelet!
8 Denok Kepo Uang Mahar Asli atau Palsu
9 Penasaran Dengan Pemilik Rumah Mewah
10 Melihat Rumah Baru
11 Obrolan Beni Dan Dirga
12 Pindahan
13 Tak Bisa Berkata-kata
14 Mega Terlalu Percaya Diri
15 Kejutan dari Dirga
16 Gendis mempermalukan dirinya sendiri.
17 Denok Shock
18 Dirga Cemburu
19 Anak Konglomerat
20 Identitas Dirga Sebenarnya
21 Memutus Kerja Sama
22 Berkunjung kerumah mertua
23 Bertengkar
24 Reza berusaha mendekati Mentari lagi
25 Peduli
26 Reza dan Gendis bertengkar
27 kebohongan
28 Di fitnah
29 Tamu tak diundang
30 Orang Asing yang tidak Penting
31 Perlawanan !
32 Meminta untuk Gadaikan SK
33 Ancaman Untuk Narti
34 Curiga
35 Mencecar Yanto
36 Mau terapi kembali
37 Narti bikin ulah
38 Di Serang Balik
39 Ines meminta bantuan Bella
40 Ancaman!!
41 Menginap
42 Misi Gagal
43 Di Bohongi Dewi
44 Mencari Cara
45 Di kerjain
46 Di Usir
47 Dirga Mulai Tertarik pada Mentari
48 Ingin Pinjam Uang
49 Sudah Salah, Masih Membela Diri!!
50 Bella di Hukum
51 Kata Sayang!!!
52 Menstalking
53 Kiriman Makana misterius
54 Gendis ketahuan
55 Pajangan Foto Segede gaban
56 Pindahan
57 Kecolongan
58 Gusar
59 Tak Punya Muka
60 Jemput Paksa
61 Bisa Berjalan Lagi
62 Mundur
63 Di fitnah
64 Bella di tolong Mentari
65 Makan malam
66 Menolak untuk membantu Ines
67 acara syukuran
68 Gagal
69 sudah di ujung tanduk
70 Mendatangi Rumah Mertua
71 Rencana Reno dan Soraya
72 Curhat
73 Keguguran
74 Menjenguk Gendis
75 Malam Pertama yang Tertunda
76 Meminta Maaf Pada Bella
77 Menggadaikan Sertifikat Rumah
78 Di Kira Hamil
79 Memeriksa CCTV
80 Tamu yang Mengejutkan
81 Ketahuan
82 Kecewa
83 Gendhis Masih belum berubah
84 Bersikap tegas
85 Bingung mencari bantuan
86 Terkena Adzab
87 Di Gadaikan Adik Ipar
88 Curiga
89 Ke Kota Bersama
90 Menawarkan Perabotan Rumah
91 Berunding
92 Ketahuan
93 Orangtua Ines Datang
94 Minta pertanggungjawaban
95 Grup WA
96 Datang ke kantor
97 Tak Sengaja Bertemu Teman SMP
98 Bernegosiasi
99 Pamer kekayaan
100 Mengantar Bekal Makan Siang
101 Jadi Bahan Hujatan Digrup Alumni
102 Ines sudah tidak waras
103 Tiga Persyaratan
104 Mengembalikan sertifikat
105 Gosip menyebar
106 Bertemu Temen Julid Lagi
107 Reunian
108 Semua orang tercengang
109 Mendatangi Rumah Mentari
110 Bertemu Ines di Mall
111 Alex kembali
112 Rencana perjodohan
113 Di paksa menerima lamaran Alex
114 Senjata makan tuan
115 Tidak percaya
116 Menghindar
117 Diskusi
118 Kembalinya Sang Mantan
119 Beratnya Syarat kedua dan ketiga
120 Rencana liburan
121 Ketemu dua demit
122 Mendorong motor
123 Nenek Lampir
124 Tiga bersaudara pergi ke rumah Bagas
125 Rencana Datang Kereunian Kampus
126 Tegasnya Laras
127 Ketahuan
128 Mempermalukan Ines
129 Pelakor tak punya malu
130 Bergosip
131 kecoak
132 selingkuh teriak selingkuh
133 Ketahuan.
134 Fitnah
135 Cinta boleh tapi jangan bodoh
136 Suka cari-cari masalah
137 Gosip beredar
138 Kehadiran Sang Nenek
139 Ancaman
140 Nenek julid
141 Di ajak ikut Arisan
142 Pamer kekayaan
143 Merasa tersaingi
144 Pertemuan yang tidak sengaja
145 Perdebatan yang cukup alot
146 Membeli perhiasan baru
147 Caper
148 Mencoba mempengaruhi Bagas Kemabli
149 Kedatangan Seruni ke Desa
150 Mengajak Mira tinggal bersama
151 Fira hamil
152 Pencuri sebenarnya
153 Laras di fitnah
154 Ingin pinjam mobil
155 Rencana mestop uang jatah
156 meminta bantuan pada Reza
157 Bertengkar
158 Narti mencoba menghasut Bagas
159 Menolak dijodohkan
160 Resepsi pernikahan Ines dan Alex
161 Gendhis belum bisa move on
162 Puspa berusaha membujuk Heny
163 seperti roller coaster
164 dengan tegas menolak
165 Mahar lima ratus ribu
166 memaksakan ingin mengadakan resepsi
167 Pinjam uang
168 berkunjung ke rumahnya Farhan
169 Minta dinikahi secepatnya
170 Tidak menginginkan anak-anak Farhan
Episodes

Updated 170 Episodes

1
Calon Suami Lumpuh
2
Ejekan dari keluarga Part 1
3
Ejekan Dari Keluarga Part 2
4
Sifat keluarga besar yang di Luar Nurul
5
Hinaan dari Mantan
6
Akad Nikah Semua Orang Syok!!!
7
Tidak Ada Pelet!
8
Denok Kepo Uang Mahar Asli atau Palsu
9
Penasaran Dengan Pemilik Rumah Mewah
10
Melihat Rumah Baru
11
Obrolan Beni Dan Dirga
12
Pindahan
13
Tak Bisa Berkata-kata
14
Mega Terlalu Percaya Diri
15
Kejutan dari Dirga
16
Gendis mempermalukan dirinya sendiri.
17
Denok Shock
18
Dirga Cemburu
19
Anak Konglomerat
20
Identitas Dirga Sebenarnya
21
Memutus Kerja Sama
22
Berkunjung kerumah mertua
23
Bertengkar
24
Reza berusaha mendekati Mentari lagi
25
Peduli
26
Reza dan Gendis bertengkar
27
kebohongan
28
Di fitnah
29
Tamu tak diundang
30
Orang Asing yang tidak Penting
31
Perlawanan !
32
Meminta untuk Gadaikan SK
33
Ancaman Untuk Narti
34
Curiga
35
Mencecar Yanto
36
Mau terapi kembali
37
Narti bikin ulah
38
Di Serang Balik
39
Ines meminta bantuan Bella
40
Ancaman!!
41
Menginap
42
Misi Gagal
43
Di Bohongi Dewi
44
Mencari Cara
45
Di kerjain
46
Di Usir
47
Dirga Mulai Tertarik pada Mentari
48
Ingin Pinjam Uang
49
Sudah Salah, Masih Membela Diri!!
50
Bella di Hukum
51
Kata Sayang!!!
52
Menstalking
53
Kiriman Makana misterius
54
Gendis ketahuan
55
Pajangan Foto Segede gaban
56
Pindahan
57
Kecolongan
58
Gusar
59
Tak Punya Muka
60
Jemput Paksa
61
Bisa Berjalan Lagi
62
Mundur
63
Di fitnah
64
Bella di tolong Mentari
65
Makan malam
66
Menolak untuk membantu Ines
67
acara syukuran
68
Gagal
69
sudah di ujung tanduk
70
Mendatangi Rumah Mertua
71
Rencana Reno dan Soraya
72
Curhat
73
Keguguran
74
Menjenguk Gendis
75
Malam Pertama yang Tertunda
76
Meminta Maaf Pada Bella
77
Menggadaikan Sertifikat Rumah
78
Di Kira Hamil
79
Memeriksa CCTV
80
Tamu yang Mengejutkan
81
Ketahuan
82
Kecewa
83
Gendhis Masih belum berubah
84
Bersikap tegas
85
Bingung mencari bantuan
86
Terkena Adzab
87
Di Gadaikan Adik Ipar
88
Curiga
89
Ke Kota Bersama
90
Menawarkan Perabotan Rumah
91
Berunding
92
Ketahuan
93
Orangtua Ines Datang
94
Minta pertanggungjawaban
95
Grup WA
96
Datang ke kantor
97
Tak Sengaja Bertemu Teman SMP
98
Bernegosiasi
99
Pamer kekayaan
100
Mengantar Bekal Makan Siang
101
Jadi Bahan Hujatan Digrup Alumni
102
Ines sudah tidak waras
103
Tiga Persyaratan
104
Mengembalikan sertifikat
105
Gosip menyebar
106
Bertemu Temen Julid Lagi
107
Reunian
108
Semua orang tercengang
109
Mendatangi Rumah Mentari
110
Bertemu Ines di Mall
111
Alex kembali
112
Rencana perjodohan
113
Di paksa menerima lamaran Alex
114
Senjata makan tuan
115
Tidak percaya
116
Menghindar
117
Diskusi
118
Kembalinya Sang Mantan
119
Beratnya Syarat kedua dan ketiga
120
Rencana liburan
121
Ketemu dua demit
122
Mendorong motor
123
Nenek Lampir
124
Tiga bersaudara pergi ke rumah Bagas
125
Rencana Datang Kereunian Kampus
126
Tegasnya Laras
127
Ketahuan
128
Mempermalukan Ines
129
Pelakor tak punya malu
130
Bergosip
131
kecoak
132
selingkuh teriak selingkuh
133
Ketahuan.
134
Fitnah
135
Cinta boleh tapi jangan bodoh
136
Suka cari-cari masalah
137
Gosip beredar
138
Kehadiran Sang Nenek
139
Ancaman
140
Nenek julid
141
Di ajak ikut Arisan
142
Pamer kekayaan
143
Merasa tersaingi
144
Pertemuan yang tidak sengaja
145
Perdebatan yang cukup alot
146
Membeli perhiasan baru
147
Caper
148
Mencoba mempengaruhi Bagas Kemabli
149
Kedatangan Seruni ke Desa
150
Mengajak Mira tinggal bersama
151
Fira hamil
152
Pencuri sebenarnya
153
Laras di fitnah
154
Ingin pinjam mobil
155
Rencana mestop uang jatah
156
meminta bantuan pada Reza
157
Bertengkar
158
Narti mencoba menghasut Bagas
159
Menolak dijodohkan
160
Resepsi pernikahan Ines dan Alex
161
Gendhis belum bisa move on
162
Puspa berusaha membujuk Heny
163
seperti roller coaster
164
dengan tegas menolak
165
Mahar lima ratus ribu
166
memaksakan ingin mengadakan resepsi
167
Pinjam uang
168
berkunjung ke rumahnya Farhan
169
Minta dinikahi secepatnya
170
Tidak menginginkan anak-anak Farhan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!