Pupil mata Angga membesar. Atensinya otomatis tertuju pada buku yang dipegang oleh Samantha.
"Apa itu?" tanya Angga.
"Ini buku diary Silvia," jawab Samantha dengan nada pelan.
"Benarkah? Apa kau mendapatkannya dari loker?" Angga merasa cukup senang. Setelah beberapa hari berada di sekolah ini, akhirnya dia menemukan petunjuk.
Samantha menjawab dengan mengangguk. Tanpa pikir panjang, Angga ingin mengambil buku itu dari Samantha. Akan tetapi gadis tersebut tak membiarkan. Samantha menjauhkan bukunya dari jangkauan tangan Angga.
"Ini nggak gratis," kata Samantha sembari terkekeh.
"Apa maksudmu? Bukankah kita sudah bekerjasama?" tanggap Angga yang merasa tak habis pikir.
"Aku tahu. Tapi tidak ada larangan kan kalau aku meminta imbalan?" balas Samantha.
"Apa yang kau mau?" tanya Angga. Sungguh, dia akan melakukan apa saja untuk mengungkap kebenaran tentang kematian sang adik.
"Jadilah pacarku!" ujar Samantha seraya tersenyum tipis.
"Apa?!" Angga tentu tak menyangka Samantha akan membuat permintaan seperti itu. "Tapi aku sudah punya pacar," ungkapnya.
"Apa pacarmu itu bersekolah di sini?" selidik Samantha yang sama sekali tak terganggu mengenai fakta bahwa Angga telah memiliki pacar.
"Enggak." Angga menggeleng.
"Kalau begitu apa masalahnya kalau aku jadi pacarmu? Lagian pacar itu kan cuman sementara. Nggak kayak hubungan suami istri. Yang suami istri aja bisa pisah," cetus Samantha. Dia satu langkah lebih dekat ke hadapan Angga.
"Sebaiknya kita bicara di tempat aman. Aku sudah terlalu terlambat untuk masuk kelas," imbuh Angga.
"Kalau begitu, ikut aku!" Samantha meraih tangan Angga. Dia membawa cowok itu beranjak ke tempat aman. Dimana guru tidak bisa mengetahui keberadaan mereka.
Samantha berniat membawa Angga ke rooftop. Kini keduanya sedang berada di dalam lift.
"Kau dengan pacarmu yang sekarang ini, apa sudah lama pacarannya?" celetuk Samantha.
"Baru aja sih," sahut Angga datar. Dia mendengus kasar. Sebenarnya Angga merasa bingung karena Samantha tiba-tiba mengajaknya pacaran. Mengingat mereka baru saja kenal.
"Kenapa kau ingin aku jadi pacarmu? Aneh banget. Masa cewek secantik kau nggak ada pacar," tukas Angga.
Samantha tersenyum sambil mengaitkan anak rambutnya ke daun telinga. Ia tentu senang mendengar Angga menyebut dirinya cantik.
Memang Samantha terbilang cantik. Tubuhnya tinggi dan langsing. Ia memiliki rambut pendek sebahu yang selalu digerai. Kulitnya putih bersih. Namun Samantha tidak sefeminin cewek lainnya di sekolah. Sepertinya cewek itu memilih bergaya sesuka hatinya saja.
"Kau pikir mudah bagi cewek yang bersekolah di sini pacaran? Enggaklah! Jadwal di sini kan ketat. Terus kebanyakan cowok pada minder sama kami. Karena kebanyakan murid di sini berasal dari anak-anak orang kaya. Orang seperti Luna saja susah dapat pacar. Yang kutahu dia sering pergi ke klub malam untuk main-main sama cowok," jelas Samantha panjang lebar.
Lift berdenting saat tiba di lantai yang dituju. Angga dan Samantha lantas keluar dari lift.
"Lalu kau? Apa kau anak orang kaya juga?" selidik Angga.
"Bisa dibilang begitu. Tapi aku tidak mau ditanya terlalu banyak mengenai keluargaku. Jadi jangan banyak tanya tentang hal itu. Mengerti?" balas Samantha. Dia berjalan lebih dulu di depan. Samantha membuka pintu menuju rooftop. Dalam sekejap dirinya dan Angga sudah berada di tempat tertinggi di sekolah itu.
"Oke. Jadi sekarang bisakah kau berikan buku itu padaku?" pinta Angga.
"Tentu saja. Tapi sebelum itu, cium aku!" sahut Samantha.
Angga lagi-lagi dibuat kaget akan permintaan Samantha. Sepertinya cewek-cewek di sekolah itu haus belaian lelaki.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Saha Weh
waw cewek nya haus semua kayanya nih
2025-01-28
0
lupa nama
Samantha agak laen ya, jd curiga 🤔
2024-09-06
1
Ass Yfa
disini yg dimangsa cuma Angga karna cuma dia cowok disekian banyak cewek
2024-09-06
4