Dengan cepat Luna lepas rambut palsu Angga serta melepas pakaian cowok itu. Dia segera menuntun Angga ke ranjang. Di sana keduanya kembali berciuman bibir.
"Mmph..." Angga bergumam nikmat. Ia tentu begitu terbuai dengan apa yang terjadi sekarang. Apalagi saat buah dada Luna menempel ke tubuhnya. Angga bisa merasakan benda kenyal itu dengan jelas. Ia bahkan bisa merasakan kedua kaki Luna melingkar ke pinggulnya. Cewek itu tak berhenti terus menekan bagian pribadinya di bawah sana.
Nafas Angga sudah memburu. Dia kembali mencumbu payu dara Luna untuk kedua kalinya. Sambil melakukannya, Angga memejamkan mata.
Sementara Luna tampak mendongakkan kepala. Ia menikmati setiap sentuhan Angga.
Saat itu, terlintas dalam pikiran Angga tentang Silvia. Maka terpikirlah dia tentang adiknya itu. Angga merasa apa yang terjadi sekarang salah. Bisa-bisanya dia terbuai dengan kesenangan ketika masalah tentang kematian adiknya belum terselesaikan. Angga juga tak bisa menjamin Luna tidak terlibat dengan kematian Silvia.
Buru-buru Angga berhenti menyentuh Luna. Dia langsung beranjak dari ranjang. Lalu memakai baju dan wignya.
"Hei! Ada apa?" protes Luna dengan dahi berkerut.
"Aku seharusnya tak melakukan ini," ujar Angga yang langsung beranjak pergi dari kamar.
Kali ini Luna tak bisa menghentikannya lagi. Mengingat kepergian Angga terasa begitu tiba-tiba. Cewek itu hanya bisa mematung di tempat. Dia merasa dirinya sudah ditolak, dan Luna cukup terhina dengan hal itu.
Luna segera mengenakan pakaian. Dia merebahkan dirinya kembali ke ranjang dengan perasaan kesal.
Tak lama, Tasya datang. Dia tampak tak berhenti senyum-senyum. Membuat suasana hati Luna jadi tambah buruk.
"Lun! Apa kau tahu? Tadi Yoga mengantarku sampai asrama. Kami berjalan mengendap-endap bareng. Terus pas di tempat gelap kami ciuman. Pokoknya romantis banget," ungkap Tasya yang asyik membicarakan pacarnya.
"Oh iya. Pas di apartemen Yoga, kami melakukannya beberapa kali. Sumpah ya, Lun. Rasanya enak banget kalau melakukannya sama--"
"Kau bisa diam nggak?! Aku nggak butuh cerita nggak pentingmu itu!" potong Luna tegas. Matanya juga tampak melotot. Hingga membuat Tasya langsung terdiam dan menciut.
Di sisi lain, Angga baru selesai menuntaskan masalahnya sendiri. Nafasnya tersengal-sengal setelah melakukan pelepasan yang luar biasa. Perlahan juniornya itu berhenti berdiri tegak.
"Sialan! Hampir saja aku melakukannya," gumam Angga. "Aku harus fokus sama misiku sekarang," lanjutnya. Dia segera mencuci tangan ke wastafel.
Selanjutnya Angga beranjak dari toilet. Dia kembali ke kamar. Di sana Angga melihat Luna dan Tasya telah tertidur.
Angga lantas naik ke ranjangnya. Sebelum tidur, dia menjelajah internet terlebih dahulu. Angga mencari cara bagaimana ngoroknya berhenti. Dia memilih salah satu cara yang ada di internet. Yaitu dengan cara tidur miring ke kanan. Angga harap cara itu terbukti efektif.
...***...
Satu malam berlalu. Matahari menyapa melalui jendela. Angga baru saja terbangun dari tidurnya. Dia segera memeriksa jam dinding. Betapa kagetnya Angga saat waktu sudah menunjukkan jam tujuh lewat.
"Anjir! Aku telat." Angga langsung turun dari ranjang. Ia melihat Luna dan Tasya sudah tidak ada. Maka semakin paniklah Angga.
Karena sudah sangat terlambat, Angga terpaksa tidak mandi. Ia langsung mengenakan seragamnya.
Setelah mengenakan tas ransel, Angga berlari menuju kelasnya. Dia semakin dibuat kaget tatkala melihat guru sudah masuk ke kelas.
Angga reflek menghentikan kakinya. Tatkala Samanta tiba-tiba muncul di hadapan. Ia tampak memegangi sebuah buku di tangannya.
"Lihat yang kutemukan!" seru Samantha.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Saha Weh
waah Nemu apa ya samantha
2025-01-28
0
Yuli a
nemuin apa ya... diary punya Silvia kah...?
2024-09-06
1