Cewek yang memergoki Angga tampak memunculkan kepalanya saja dari balik tirai. Mengingat sepertinya dia juga sedang dalam keadaan bugil seperti Angga.
Sadar kalau dirinya dan cewek itu berisik, Angga buru-buru membekap mulut cewek tersebut. Menurutnya itu lebih baik dibanding suara teriakannya nanti malah menarik perhatian banyak perempuan lain.
Mata cewek itu terbelalak. Kini dia bisa melihat jelas belalai Angga.
"Tenanglah!" kata Angga seraya melirik ke pintu. Memastikan tidak ada orang yang datang.
Setelah merasa aman, Angga melepaskan mulut cewek tersebut. Lalu menutup penglihatan cewek itu dengan tirai. Angga pun bergegas melanjutkan mandinya.
"Kau punya burung," tukas cewek tersebut. Wajahnya terlihat syok sekali. Tanpa diduga, dia kembali menengok Angga dari balik tirai.
"Itu benar. Jadi aku mohon, rahasiakan tentang ini ya. Karena aku punya misi yang harus dilakukan di sekolah ini," ungkap Angga.
"Misi apa?" tanya cewek tersebut.
"Aku tidak bisa bilang." Dahinya berkerut karena merasa kalau ada yang mengamati. Benar saja, cewek di sebelahnya tadi kembali mengintip.
"Hei!" tegur Angga yang langsung mengambil handuk. Kemudian dia lilitkan handuk tersebut ke pinggang.
"Jadi kau cowok?" tanya cewek itu dengan wajah tak bersalah sama sekali. Dia mengamati Angga dengan serius.
"Bukankah sudah jelas? Kenapa kau menatapku begitu. Seperti tidak pernah lihat cowok saja," balas Angga.
"Bisa dibilang begitu. Kau tahu sendiri sekolah ini khusus perempuan. Kalau pun ada cowok, ya cuman kakek tukang bersih itu," ungkap sang cewek.
"Oke. Bisakah kita bicaranya nanti saja? Aku belum selesai mandi. Lagi pula ini sudah siang, kita bisa terlambat." Angga berusaha mengusir cewek itu secara halus.
"Kau benar!" cewek itu lantas berhenti menengok Angga. Dia menyalakan shower dan meneruskan mandinya.
Angga mendengus kasar. Dia sekarang terpaksa harus berurusan dengan cewek perokok itu.
"Oh iya. Kenalkan aku Samantha. Kau bisa memanggilku Sam!" ujar Samantha.
"Kau bisa memanggilku Anggi," sahut Angga.
"Anggi? Kau yakin itu namamu?" tanggap Samantha.
"Panggil saja begitu agar kau terbiasa," ujar Angga.
Setelah mandi, Angga mengenakan wignya kembali. Ketika keluar kamar mandi, dia melihat Samantha berdiri menunggunya.
"Wow... Kau terlihat cantik sekali," puji Samantha sambil terkekeh.
"Apa kau mengejekku? Padahal kita baru kenal," timpal Angga dengan suara berbisik. Itu karena dia sedang memakai suara lelakinya.
"Ada banyak hal yang harus kita bicarakan bukan?" sahut Samantha.
"Tapi sepertinya nanti saja. Kita sudah terlambat ke sekolah!" Angga mempercepat langkahnya.
"Kamarmu ada dimana?" tanya Samantha sembari berusaha menyamakan langkahnya dengan Angga.
"Di atas!"
"Nomor berapa? Siapa teman sekamarmu?"
"Nomor 17. Aku sekamar dengan Luna dan Tasya."
"Apa?!" Samantha kaget mendengar Angga satu kamar dengan Luna dan Tasya. Dia sampai dibuat berhenti melangkah karena itu. Hingga dirinya harus rela ditinggal oleh Angga.
"Aku akan menemuimu di kantin nanti!" seru Samantha. Tepat sebelum Angga benar-benar pergi. Setelah itu, dia tersenyum miring. Samantha sepertinya sangat senang dengan keberadaan Angga.
Di waktu yang sama, Angga baru saja masuk ke kamar. Di sana dia melihat Tasya tampak gelisah. Gadis itu tampak mencari-cari sesuatu. Padahal Tasya sudah mengenakan seragamnya.
Angga mencoba tak peduli. Dia hanya ingin segera mengenakan seragamnya secepat mungkin.
"Eh, ada kau!" tegur Tasya. Dia membuat langkah Angga terhenti.
"Kenapa?" tanya Angga.
"Aku kehabisan pembalut. Apa aku boleh minta punyamu?" ujar Tasya. Menatap penuh harap.
"Pe-pembalut?" Mata Angga meliar. Sebagai cowok, mana mungkin dia punya pembalut. Menyentuhnya saja tidak pernah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Mimik Pribadi
Lucu bngt sumpah ,udh dri kpn mau baca judul novel ini tapi lgi2 teralihkan judul lain,ternyata menarik 🥰
2025-01-16
0
Tiara Bella
hahaha kocak bacanya.....
2025-01-14
0
Ass Yfa
pembalut Ga.... punya ngga 😂😂😂
2024-09-01
1