Mata Angga terbelalak. Dia reflek berpaling ke samping. Dirinya juga bergegas menutup pintu saat Luna menyuruh untuk melakukan itu.
Luna tampak bergegas mengenakan pakaiannya. Hingga kini buah dadanya tidak terekspos lagi.
Angga sempat mematung sejenak karena tak tahu harus berbuat apa. Dia hanya berharap burungnya tidak bereaksi terhadap pemandangan tak terduga tadi.
Sebelum terjadi, Angga buru-buru berjalan ke dekat lemari. Ia menggantungkan tas ranselnya ke sana.
"Sial!" umpat Angga pelan karena dirinya selalu mengingat bagaimana penampilan seksi Luna tadi. Terlebih dia juga baru saja mendapatkan ciuman pertama yang lumayan panas dengan Elita.
'Sebaiknya aku keluar dulu. Dari pada nanti Luna tahu siapa aku,' batin Angga sembari berbalik ke arah pintu. Namun langkahnya harus terhenti karena Luna sudah ada di hadapan. Gadis itu terlihat memasang ekspresi sangar.
"Mengenai yang kau lihat barusan, tolong rahasiakan itu! Kalau sampai rahasia ini bocor, maka aku akan membuatmu sengsara!" ancam Luna.
Mata Angga membulat saat mendengar ancaman. Dia berpikir, apakah mungkin Luna salah satu orang yang terlibat dengan kematian Silvia? Dari sikap angkuh dan berkuasanya Luna, sepertinya Angga tak bisa membantah.
"Apa menindas orang lain adalah hobimu?" Angga memberanikan diri untuk angkat bicara.
Luna tampak langsung melotot. "Apa maksudmu bicara begitu?" balasnya sambil melipat tangan ke depan dada.
"Biar kutanya. Apa kau mengenal Silvia?" tukas Angga.
Pelototan Luna langsung hilang. Wajahnya berubah jadi pucat.
"A-apa yang kau bicarakan? Siapa Silvia?" tanggap Luna. Dia langsung beranjak kembali ke ranjangnya. Berusaha memasang raut wajah datar.
Angga mengamati Luna. Semua orang benar-benar bersikap aneh saat mendengar nama Silvia disebut. Angga harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Angga naik ke ranjangnya. Ia telentang sambil menatap langit plafon. Dirinya memikirkan bagaimana cara mencari informasi tentang Silvia.
Saat itulah Angga teringat akan pembicaraannya dengan Silvia dulu. Adiknya itu mengatakan kalau dirinya suka pergi ke perpustakaan dan rooftop sekolah.
"Aku akan memeriksanya besok," gumam Angga.
Tanpa sepengetahuannya, sejak tadi Luna menatap tajam dari bawah. Dia juga mengirim pesan pada grup chat geng cleopatra. Luna memberitahu teman-temannya untuk berhati-hati pada Angga.
...***...
Satu malam berlalu. Angga terbangun saat alarm ponselnya berbunyi. Ia bergegas pergi ke kamar mandi.
Saat di kamar mandi, Angga tentu harus bertemu dengan penghuni asrama lainnya. Dia tak karuan rasa karena kebanyakan dari mereka berpakaian minim.
Angga jadi tidak fokus. Apa yang dia lihat akhirnya membuat juniornya lagi-lagi tegak. Angga otomatis berusaha menutupinya sebisa mungkin.
'Sepertinya toilet dan kamar mandi adalah tempat berbahaya untukku,' batin Angga.
Angga lebih dibuat terkejut saat melihat tempat pancuran shower ada banyak, dan hanya dibatasi dengan tirai.
"Apa tidak ada kamar mandi lain?" tanya Angga.
"Sebenarnya ada satu di sebelah. Tapi itu khusus untuk geng cleopatra. Kalau pun kau ingin mandi di sana, dibolehkan saja. Tapi harus menunggu semua anggota geng cleopatra selesai lebih dulu. Dan kau tahu apa yang paling menyebalkan? Mereka mandinya lama sekali. Jadi mandi di sini adalah pilihan terbaik," sahut cewek yang berdiri di sebelah Angga. Dia segera masuk ke salah satu bilik tirai.
"Terima kasih," sahut Angga yang juga sudah mendapatkan giliran untuk mandi.
Angga menelan salivanya satu kali. Jantungnya berdegup kencang sekali. Dia tentu takut jati dirinya sebagai lelaki akan terkuak.
Alhasil Angga memutuskan untuk menunggu kamar mandi sepi. Sampai hanya menyisakan satu orang saja bersama dirinya.
Angga perlahan melepas seluruh pakaian beserta wignya. Dia lalu menyalakan pancuran.
"Hei! Apa kau punya shampo? Kebetulan punyaku habis," suara cewek terdengar dari balik tirai sebelah.
Mata Angga terbelalak. Dia lantas menjawab dengan suara ceweknya. "Ada," sahutnya seraya perlahan menyusupkan shampo ke tirai sebelah.
"Terima kasih," sahut cewek itu.
"Tidak masalah," balas Angga. Sungguh, dia takut sekali kalau cewek itu tiba-tiba membuka tirai.
"Tunggu dulu, suaramu..." kata cewek tersebut. Setelah berucap begitu, dia membuka tirai secara tiba-tiba.
"Aaarrkhh!"
Cewek tersebut langsung berteriak. Dia ternyata adalah cewek perokok yang memergoki Angga naik tembok kemarin.
Sementara itu, Angga juga berteriak seperti cewek tersebut. Ia reflek menutupi burungnya dengan dua tangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments
Mimik Pribadi
Waduhh!! samaran mu ketahuan Ngga,gimana tuh??
2025-01-16
0
Dari
wkwkkw baru juga sehari ketauan ga ..
2025-01-30
0
Naura Sintia
berabe sih KLO nyamar jadi cewek gitu.
2025-01-28
0